Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 96. Tugas Baru


__ADS_3

Setelah menjabat sebagai Komandan Kompi, kini tugas dan tanggung jawab Fahri bertambah. Gisya selalu mendukung penuh tugas suaminya. Seperti hari ini, Fahri akan melaksanakan Bakti Sosial untuk korban bencana alam. Gisya bersama Ibu Persit lainnya yang mengkoordinasikan pendistribusian bantuan. Meskipun saat ini Gisya sedang mengandung, tapi tidak mengurungkan semangatnya.


Fahri menatap wajah istrinya yang nampak lelah, sudah waktu jam makan siang. Tapi kegiatan tersebut belum selesai.


"Bun, jangan terlalu lelah. Inget dedek bayi butuh asupan, makan siang dulu." ucap Fahri.


"Sebentar lagi, Yah. Itu Bu Rama juga masih repot." jawab Gisya.


"Sekarang! Zaydan tolong bantu bereskan." pinta Fahri.


"Siap! Laksanakan Danki." jawab Zaydan.


Mau tidak mau, Gisya mengikuti keinginan suaminya. Untungnya, ibu-ibu Persit yang lain mengerti akan kondisi Ibu Danki nya tersebut.


"Bang, jadi gak enak sama Ibu-ibu yang lain. Febri juga masih kerepotan disana, masa aku pergi gitu aja." Kesal Gisya pada suaminya.


"Mereka ngerti kok, lihat itu Bu Galih. Dia juga sama sedang hamil, mereka pun mengerti karena pernah mengalami." Ucap Fahri yang tidak ingin dibantah.


Anak-anak terpaksa mereka titipkan pada Ayu, karena tidak mungkin mereka dibawa. Acara telah selesai, kini Gisya sedang mengadakan pertemuan dengan seluruh anggota Persit Kompi C. Besok akan diadakan acara pembagian sembako bagi warga sekitar.


"Mohon ijin, Bu Danki. Bagaimana kalo kopi digantikan dengan telur 1/4kg? Saya rasa mereka lebih membutuhkan telur dibandingkan dengan kopi." Usul Bu Rama.


"Usulan saya tampung, bagaimana dengan yang lain? Apa ada usulan lain?" tanya Gisya.


"Ijin Bu, apa tidak akan pecah? Takutnya saat dibagikan telurnya pecah. Bagaimana jika dihilangkan saja, tidak ada kopi ataupun telur. Biasanya dulu Bu Danki menggunakan uangnya untuk membeli konsumsi untuk penyelenggara. Mungkin Bu Rama baru kali ini mengikuti kegiatan Persit. Jadi beliau tidak tau menau mengenai bakti sosial." Ucap Bu Amir dengan sinis.


Gisya mengela nafasnya, kini tugas dan tanggung jawabnya pun bertambah. Karena dalam Kompi C ini ada beberapa Ibu Persit yang bekerja, hingga mereka jarang mengikuti kegiatan Persit. Gisya tidak ingin ada perkubuan antara yang bekerja dan tidak bekerja, baginya semua sama saja.


"Begini saja Bu Rama dan Bu Amir, kita ganti saja dengan uang untuk membeli telur. Saya rasa itu tidak apa-apa, akan saya usulkan kepada Bu DanYon." Ucap Gisya.


"Ijin Bu, begitu lebih baik Bu Danki. Kami semua menyetujui." Ucap Bu Sarah.


Bu Amir menatap Bu Sarah dengan tatapan tajam. Gisya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka. Sedangkan Febri sama sekali tidak berani bersuara, karena dia tidak ingin menjadi sasaran kejulidan Bu Amir. Selesai pertemuan, Febri dan Gisya pulang bersama-sama dengan berjalan kaki. Beberapa dari mereka saling berbisik mengenai keputusan Gisya yang mereka rasa kurang puas.


Bu Amir dan Bu Iyus terus saja membicarakan Gisya dan Febri, yang tanpa sadar mereka berdua ada dibelakangnya.


"Bu Danki yang sekarang lebih sok tahu, mereka berpihak pada orang-orang yang jarang mengikuti kegiatan Persit. Ini gak adil!" ucap Bu Amir yang kesal.


"Iya Bu Danki yang baru ini kan lebih muda dari kita, harusnya dia mengikuti usulan kita. Bukan malah mengambil jalan lain." kesal Bu Iyus.


Gisya mulai kesal mendengar penuturan mereka, dengan langkah sedikit cepat dia ingin menegur kedua anggotanya itu.


"Ekhhemm...!" Gisya berdehem dan mengagetkan keduanya.


"Eh, Ijin Bu. Ibu Danki mau pulang Bu?" tanya Bu Iyus gugup.


"Ibu-ibu juga akan pulang kan? Begini Bu Amir, Bu Iyus. Saya tidak bermaksud untuk tidak menghargai Ibu-ibu sekalian, saya hanya ingin adil pada semuanya. Disini saya tidak ingin ada perselisihan, tidak ada kubu-kubu. Kita semua ini satu, Persit Kartika Chandra Kirana. Bagaimana jika posisi Bu Amir dan Bu Iyus berada diposisi Bu Rama dan Bu Sarah? Mereka itu dokter dan guru, wajar saja jika mereka jarang menghadiri setiap kegiatan. Tapi jangan lupakan partisipasi mereka dalam mengajar anak-anak Ibu di TK Kartika dan dalam pemeriksaan anak-anak dalam kegiatan posyandu di Kompi C." ucap Gisya memberikan penjelasan pada anggotanya dengan tutur kata yang lembut.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Danyon dan Bu DanYon sedang berjalan berkeliling Batalyon dan mereka mendengar setiap ucapan Gisya. Fahri tersenyum penuh bangga mendengar ucapan istrinya itu.


"Saya rasa, kehadiran Bu Danki bisa merubah sedikit demi sedikit tingkah dan prilaku yang kurang baik dari para Ibu Persit." ucap DanYon dengan senyuman diwajahnya.


"Siap! Semoga istri saya dapat membimbing semua anggota dengan baik. Mohon bimbingannya dari Bu DanYon." tutur Fahri.


"Bu Danki tidak memerlukan bimbingan, tapi pengawasan. Kita lihat apa yang akan dilakukan Bu Iyus dan Bu Amir kali ini." ucap Bu DanYon meminta Fahri dan suaminya melihat dari kejauhan.


Bu Amir tidak terima dengan ucapan Gisya, dengan menggebu-gebu dia membalas setiap ucapan yang Gisya lontarkan.


"Mohon ijin Bu, tanpa mengurangi rasa hormat. Kami yang tidak bekerja, memprioritaskan kegiatan Persit. Tapi enak sekali mereka yang jarang mengikuti tapi usulan mereka dipertimbangkan. Bahkan usulan kami saja tidak Ibu pertimbangkan." kesal Bu Amir.


"Begini Bu Amir, untuk konsumsi penyelenggara saya sudah menyiapkan seluruhnya. Bahkan Bu Zaydan sendiri yang akan membuatkan konsumsi untuk semuanya. Jangan mengkhawatirkan itu, ingat Bu Amir! Sikap seorang istri prajurit tidak seharusnya bersikap seperti ini. Persit harus menjaga nama baik suaminya." ucap Gisya penuh ketegasan.


Tanpa menjawab ucapan Gisya, Bu Amir pergi melengos begitu saja. Mereka yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Iyus merasa kikuk sendiri.


"Mohon ijin Bu, saya mohon maaf atas kesalahan saya." ucap Bu Iyus.


"Tidak apa-apa Bu Iyus, tapi saya mohon untuk kedepannya jangan ada kejadian seperti ini ya. Kita ini sama-sama seorang istri prajurit, ingat nama baik suami yang harus kita jaga. Istri prajurit juga harus bertutur kata yang baik dan sopan. Memang Istri yang baik belum tentu bisa menaikan pangkat dan Jabatan suami, tapi istri yang dipandang tidak baik oleh atasan bisa mempengaruhi komando atas dalam menentukan jabatan suami." ucap Gisya dengan lembut membuat Bu Iyus malu sendiri.


"Ijin Bu, saya mengerti. Sekali lagi maafkan kesalahan kami ya, Bu Danki. Kalo begitu saya pamit Bu, Assalamu'alaikum." ucap Bu Iyus berpamitan.


"Walaikumsalam." jawab Gisya dan Febri.


Febri merasa sangat bangga dengan sikap sahabatnya itu, dia menggandeng tangan Gisya dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Ih! Kalo berdua mah santei aja, geli aku kamu panggil gitu." kesal Gisya.


"Hahahahaha, jadi kita ada tombol On Off nya ya! Saat jadi sahabat dan atasan." ucap Febri sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ketawanya biasa aja! Kita dilingkungan Batalyon Neng." ucap Gisya mengingatkan.


"Yaa Allah, kelepasan Bun!" bisik Febri.


Gisya memaksa Febri untuk singgah terlebih dahulu dirumahnya, karena dia ingin melakukan videocall bersama Yuliana sang Ulet Bulu yang mereka rindukan. Video Call pun tersambung, anak-anak sangat antusias melihat Maul dan Mail.


In Call


"Halloooooo Umiiii, Haloo anak-anak tuyuuulll....." ucap Febri melambaikan tangannya.


"Hallooooo Mama Udaaanggg, Mama Chacha Maricha HeyHey! Abis acara ya? Bajunya kompakan ijo-ijo! Anak-anak lagi apa?" tanya Yuliana.


"Ain agi mam es clim mi!" ucap Husain.


"Cyla uga mam es clim banak-banak mi! Mauy cama Maiy gi apa?" antusias Cyra.


"Ain acep banet Mbun! Cyla uga lutu banet, Ayana anen banet!" ucap Alana.

__ADS_1


"Cylaa atiik, anen Mauy ndaa?" tanya Alan alias Maul.


"Aduh satu-satu dong ngomongnya! Kepala Ummi pusing," kesal Yuliana.


"Kangen ngomel-ngomelnya kamu deh, Lil!" lirih Febri.


"Asli kangeen banget! Pulang dong..." rengek Gisya.


"Hush! Nanti deh pas si Chacha mini's launching, aku balik Bandung!" ucap Yuliana.


"Gih sana balik Bandung! Orang kita di Jogjaa!" ketus Gisya.


"Hehe mohon maap nih bumil, I'm forget! Seriously!" ucap Yuliana.


"Dih mentang-mentang di luar Nagreg kamu, Lil! Pake bahasa enggres!" ledek Febri.


"Hey meskipun di Singapore, tapi bahasa kami tetap Endonesa Sunda ya!" ucap Yuliana.


"Baba terbang Mi?" tanya Quera yang tiba-tiba muncul.


"Yaa Allah si kutil! Kaka bikin Ummi kaget!" kaget Yuliana.


"Hehehe maaf Mi, Baba terbang Mi?" tanyanya lagi.


"Kamu kangen Baba yaaa? Si Baba lagi beli makan dulu, nanti Ummi telpon lagi kalo Baba udah pulang ya." ucap Yuliana.


"Heleh, masak! Bukan beli-beli." ucap Gisya.


"Disini gak ada tempe, tahu, kangkung, jengkol dan kawan-kawannya tau! Hayam deui hayam deui! Pokoknya aku balik kesana kita ngaliwet, Fix!" ucap Yuliana.


"Okelah siap Sultan Dago! Yaudah, kita mau istirahat dulu ya! Assalamualaikum Ummi." ucap mereka serempak.


"Walaikumsalam! Byee Persit kembar! Byee anak-anak tuyuulll." balas Yuliana.


End Call


Kerinduan dalam dada mereka semakin membuncah, untung saja dijaman ini mereka dapat melakukan panggilan video. Hingga rasa rindu mereka sedikit demi sedikit terobati.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2