Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 103. Sikap Elmira


__ADS_3

"Ijinkan saya menjaga Elmira."


Ucapan Chandra berhasil membuat semua orang menatap kearahnya. Perlahan Chandra menghampiri Elmira yang duduk dipangkuan Gisya.


"Princess mau ikut bersama Om?" tanya Chandra pada Elmira.


Gadis kecil itu tidak menjawabnya, dia hanya menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Sebaiknya kita bicarakan besok pagi. Biarkan Elmira istirahat, mereka pasti sangat ketakutan dan kelelahan." ucap Bunda Syifa.


"Bener! Kasian si Kakak pasti masih kebingungan." ucap Jafran.


"Kita istirahat ke kamar ya, Kak." ajak Gisya pada putrinya.


"Kakak mau bobo sama Bunda." lirih Elmira sambil menatap penuh harap.


Malam ini, Gisya membiarkan Elmira untuk tidur bersamanya. Dia ingin memberikan pengertian pada putrinya itu, tentang keputusan yang akan diambil oleh Fahri. Gisya mengusap kepala Elmira dalam dekapannya penuh dengan kelembutan.


"Kakak tau kenapa Ayah mau Kakak tinggal bersama Nenek?" tanya Gisya dan Elmira menggelengkan kepalanya.


"Ayah sangat menyayangi Kakak, Ayah sedih karena banyak orang jahat yang akan melukai Kakak dan adik-adik." lirih Gisya menatap manik mata putrinya itu.


"Kakak mau sama Bunda." ucap Elmira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda juga mau terus sama Kakak, tapi terlalu banyak orang jahat disini sayang. Kalo Kakak sama Nenek dan Kakek, orang jahat gak akan ada yang mau melukai Kakak. Sampai kapanpun, Kakak tetap anak Ayah dan Bunda. Nanti juga Ayah, Bunda, Bang Ain sama Dek Dira pasti akan selalu mengunjungi Kakak kesana." ucap Gisya.


Elmira menangis dalam dekapan Bundanya, hati Gisya sungguh sangat teriris. Di usia yang baru tujuh tahun, Elmira harus banyak menghadapi situasi yang tidak baik. Fahri yang melihat mereka dibalik pintu, ikut menangis pilu.


"Maafkan aku, Abrafo. Aku tidak bisa menjaga putrimu dengan baik." lirih Fahri dengan airmata mengalir dipipinya.


Sementara itu, Jafran dan Yuliana memilih untuk menginap di kediaman Febri. Mereka membiarkan Gisya dan Fahri untuk sama-sama menikmati waktunya bersama Elmira.


"Demi apapun! Sedih banget harus liat Caca diposisi kaya sekarang." lirih Yuliana.


"Aseli, Lil. Aku gak nyangka banget bakalan ngalamin hal kaya tadi. Apalagi Elmira, dia masih sangat kecil buat memahami situasi yang terjadi. Apa nggak bisa, Elmira ikut sama Baba sama Ulil aja, Pa?" tanya Febri pada suaminya.


Zaydan menghela nafasnya, dan dia mulai menceritakan siapa keluarga Abrafo.


"Mau dimanapun, Elmira gak akan pernah aman. Keluarga Abrafo itu dulunya Militer Rusia, tapi mereka terlalu haus akan uang. Hingga melakukan jual beli senjata ilegal, mereka tau harta kekayaan yang ditinggalkan Abrafo itu sangat besar jumlahnya. Dan itu bakalan bisa mereka ambil, kalo Elmira meninggal atau dalam pengasuhan mereka." ucap Zaydan.


"Tapi kan si Chandra udah bikin surat kematian dan lainnya. Dengan begitu mereka bisa ambil harta si Abrakadabra itu kan?!" ucap Jafran dengan penuh emosi.


Yuliana mencubit pinggang suaminya itu dengan kesal.


"Abrafo Baba! Kamu main ganti nama orang aja! Mana udah metong! Mau kamu di gentayangin?" kesal Yuliana pada suaminya itu.


"Yaa Allah! Naudzubillah si Ummi! Minta disumpel bibir itu mulut!" gerutu Jafran.


Febri dan Zaydan saling tatap menahan tawa mereka.


"Mereka itu bukan orang sembarangan, hanya dengan surat kematian tanpa bukti kongkrit lainnya kan mereka pasti gak akan percaya." ucap Febri.


"Betul, Ma. Bahkan mereka membongkar makam palsu yang dibuat oleh Chandra dan Fahri. Itulah makanya kenapa mereka masih mengejar Elmira." tutur Zaydan menjelaskan.


"Tapi kan Mama Risma sama Papa Hari udah terlalu tua buat jagain Elmira. Terus Fabian juga kan pasti sibuk bertugas seperti kalian." sahut Jafran.


"Iya juga ya, Ba! Mmmmm... Aseli, kepala Ummi penat banget! Gak bisa mikir, tapi pengen bantu mikir." ucap Yuliana dengan lesu.


Mereka menundukkan kepala dengan lesu, dan menghela nafas berat.


"Ya bener! Kita cuman bisa bantu do'a, yasin!" ucap Jafran dan mendapat getokan dikepalanya oleh ketiga orang dihadapannya.


"Elmira masih idup! Kutu kupret kamu Ba!" ucap Febri menggebu-gebu.


"Suudzon! Suudzon aja terus! Buat si Abrakadabra yasinan mah!" elak Jafran.


"Halaahhh ngeles mulu! Ngelus kali-kali biar enak!" ucap Zaydan sambil mengajak istrinya untuk masuk kedalam kamar.


"Huuuuu! Lagi bengep juga inget aja sama ngadon!" gerutu Jafran lalu menatap istrinya.


"Apa liat-liat?!" ketus Yuliana sambil menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Matamu bulat-bulat, seperti bola pingpong. Ayo kita gulat, biar cepet penen kecebong!" ucap Jafran sambil menggendong istrinya.


"Baba!! Inget dirumah orang ini!" kesal Yuliana.


"Dimanapun dan kapanpun, gak masalah loveeeee!" bisik Jafran.


Karena merasa tidak enak dengan Fahri, Chandra memutuskan untuk ikut menginap di Barak bersama Hagum. Dia diijinkan untuk menginap disana, Chandra berbaring diteras Barak dan terus menatap Langit.


"Ijin Komandan, apa mau dibuatkan kopi?" tanya Hagum pada Chandra.


"Tidak usah! Apa kamu pernah jatuh cinta, Hagum?" ucap Chandra masih menatap langit.


"Ijin Dan, saya baru saja merasa jatuh cinta." jawab Hagum dengan wajah merona.


"Hmm, apa usianya sama dengan kamu? Lalu agamanya?" tanya Chandra lagi.


"Ijin Dan, kami seiman dan usia kami sepertinya tidak jauh." ucap Hagum.


"Mmmm.. Beruntung sekali kamu, berbeda dengan saya." ucap Chandra yang menghela nafasnya frustasi.


Hagum terdiam, dia tidak lagi berani untuk menjawab ucapan Chandra.


"Kisah cintaku sangatlah rumit, dikhianati istri yang baru saja aku nikahi lalu berpisah. Dan saat ini aku jatuh cinta pada gadis yang tidak mungkin bisa aku miliki. Terlebih, kami ini seamin tapi tidak seiman. Apakah aku harus mengikuti agamanya, agar bisa dipercaya untuk menjaganya?" ucap Chandra lalu menatap Hagum.


"Bisakah kamu memberiku saran? Sebagai adik ataupun sebagai prajurit." pinta Chandra.


Seperti Chandra, Hagum ikut membaringkan dirinya disamping Chandra. Dia pun ikut menatap langit yang indah malam itu.


"Bukankah langit malam ini indah, Bang? Seperti pada langit, kita cukup menikmati keindahannya tanpa harus memilikinya. Dan satu hal lagi Bang, jika pada Tuhanmu saja kamu berani berkhianat. Apalagi padanya? Bagaimana bisa orangtuanya bisa percaya? Terlalu munafik jika kita berbicara cinta tak harus memiliki, tapi terlalu kejam jika kita harus melakukan hal apapun hanya demi cinta. Seorang prajurit dituntut untuk setia dan melindungi Negaranya. Lakukanlah hal yang sama padanya, cukup setia mencintainya dan menjadi pelindungnya. Jadilah perisainya, walaupun tak tampak terlihat dimatanya." ucap Hagum yang membuat Chandra termenung.


Pagi harinya, Gisya masih terlelap tidur karena semalam Dira mengajaknya untuk bergadang. Elmira menatap wajah lelah Bundanya, lalu dia beralih menatap bayi mungil disamping Bundanya.


"Kakak gak mau jauh dari Adek Dira dan Abang Ain. Kakak mau main sama kalian, Kakak takut sendirian." lirih Elmira sambil menggenggam jari mungil adiknya.


"Tapi Kakak gak mau kalian dijahatin orang lagi, Kakak harus pergi kerumah Nenek. Kalian jangan lupain Kakak yaa!"


Fahri yang baru saja pulang apel pagi, mengurungkan niatnya untuk masuk kamar. Dia mendengarkan curahan hati putrinya itu. Sunggu hatinya bagai tercabik-cabik, jika bisa memilih dia akan membiarkan Elmira tetap berada disamping mereka. Tapi demi keamanan keluarganya, Fahri terpaksa harus mengambil keputusan itu.


"Biar Abang bicarakan dulu sama Caca, Bun. Abang gak bisa mengambil keputusan ini dengan sebelah pihak." ucap Fahri menundukkan kepalanya frustasi.


Elmira beranjak dari tempat tidur Bundanya, dia keluar mencari Husain. Dia mengajak Husain masuk kedalam kamarnya. Fahri melihatnya dan mengikuti kedua anaknya itu.


"Abang Ain, sini Kakak mau kasih sesuatu buat Abang." ucap Elmira memanggil adiknya.


"Da apa tata? Angan tata macih akit?" tanya Husain.


"Udah enggak, hidung Abang Ain masih sakit?" tanya Elmira berbalik.


"Nda, dah embuh! Di tyup-tyup Baba, main yu tata!" ajak Husain.


"Abang Ain, Kakak kan harus ikut kerumah Nenek. Abang Ain mau gak bantuin Kakak?" tanya Elmira sambil memegang tangan adiknya itu.


"Ain ngkut ta! Naik cawat taya Baba! Holeee!" girang Husain.


Elmira mengajak Husain untuk duduk, dia menatap adiknya itu.


"Abang Ain gak boleh ikut Kakak, Abang Ain harus jagain Adek Dira sama Bunda! Kalo Abang Ain ikut nanti yang jagain Bunda siapa?" ucap Elmira seperti orang dewasa.


"Anti Abang nda bica main cama tata!" ucap Husain dengan wajah sedihnya.


"Abang Ain kan bisa main sama Cyra, kasian nanti Cyra gak ada temennya. Denger Kakak ya! Abang Ain itu anak laki-laki, harus bisa jagain Dedek Dira sama Bunda. Nanti kalo udah besar, Abang Ain bisa ikut Kakak deh!" ucap Elmira lagi.


Fahri semakin merasakan sesak didadanya, begitupun Gisya yang langsung memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Anakku terlalu kecil untuk mengucapkan kata-kata seperti itu." lirih Gisya.


"Maafin Ayah, Bun. Ayah tidak bisa menjaga kalian dengan baik." isak Fahri dalam pelukan istrinya itu. Chandra yang baru saja datang melihat Fahri dan Gisya menangis.


"Sekuat dan segagah apapun seorang prajurit, pasti akan menangis jika itu menyangkut keluarganya." ucap Zaydan mengagetkan Chandra.


Akhirnya mereka berkumpul diruang tengah rumah Fahri. Chandra sangat tidak sabar menunggu jawaban dari Elmira, gadis berusia tujuh tahun yang pernah dirawatnya.

__ADS_1


"Om Chandra, Kakak mau ikut sama Nenek sama Kakek. Maaf ya Om Chandra." ucap Elmira menatap Chandra.


Chandra terdiam, dia sungguh sangat terhipnotis dengan mata indah Elmira.


"Tatap mata saya!" celetuk Jafran membuyarkan tatapan Chandra.


"Ish si Baba! Diem kenapa sih!" bisik Yuliana pada suaminya itu.


"Abis kayak si Uya Kuya tatapannya, Mi! Untung si Kakak gak mau ikut sama dia, bahaya dunia persilatan kalo kaya gitu!" ucap Jafran.


"Bukan hanya aku yang ngerasain hal itu." batin Yuliana menatap Chandra dan Elmira bergantian.


Dengan berat hati, Chandra mengikuti semua keinginan gadis kecil itu.


"Gak apa-apa princess, yang penting princess selalu sehat dan bahagia ya! Om Chandra pasti akan selalu do'ain kamu." ucap Chandra pada Elmira.


"Makasih ya Om, udah sayang sama Elmira. Sekarang, Om juga harus bahagia dengan kehidupan Om Chandra." ucap Gisya dan dianggukki oleh Elmira.


"Kobe kamu, Ka! Kayak ngerti aja!" celetuk Jafran.


"Allahuakbar! Itu mulut lama-lama di jait!" geram Yuliana.


Kehadiran Yuliana dan Jafran selalu mampu membuat suasana yang tadinya tegang menjadi cair. Mereka bersyukur memiliki sahabat yang layaknya seperti keluarga.


"Nah gini dong! Jangan terlalu serius, udah kaya pilkada aja! Mending juga Pil KB." celetuk Jafran yang membuat semuanya melongo.


"Haaahhhh? Apaasih jauh-jauh ke pilkada sama pil KB!" kesal Febri.


"Tapi kenapa mendingan Pil KB?" tanya Zaydan yang penasaran.


"Iyalah Pil KB mah kalo lupa jadi, nah Pilkada kalo udah jadi lupa!" ucap Jafran yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.


Chandra menatap semua orang yang berada disana.


"Andaikan aku bisa menjadi bagian dari keluarga ini." ucap Chandra dalam hati.


Karena Chandra sudah mendengar keputusan Elmira, dia berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Chandra memeluk erat Fahri.


"Terimakasih, Abang sudah mengijinkanku untuk mengenal kalian. Semoga keluarga Abang selalu dilindungi Tuhan." ucap Chandra memeluk Fahri.


"Kamu juga bagian dari kami, aku yang harusnya berterimakasih. Karena kamu sudah menyayangi putriku seperti putrimu sendiri. Sekarang temukanlah kebahagiaanmu!" ucap Fahri yang menepuk punggung Chandra.


"Aku mencintainya, layaknya kamu mencintai istrimu." batin Chandra.


Lalu Chandra menghampiri Elmira dan membawanya dalam dekapannya.


"Ingat pesan Om ya! Om akan selalu menjaga dan mendo'akan princess, jadilah anak yang baik dan harus nurut sama Ayah Bunda. Om Chandra sayang Elmira." ucap Chandra.


"Kakak juga sayang Om Chandra." lirih Elmira.


Semua orang menitikkan airmatanya, termasuk Gisya dan Febri.


"Takdir terlalu kejam padamu, Chandra." batin Gisya.


"Cinta memang tak mengenal usia, semoga kalian menemukan kebahagiaan." batin Febri.


"Aku akan menjadi perisaimu, Pricess. Meskipun kamu tidak akan pernah bisa melihatku. Aku akan menjadi sayap pelindungmu." batin Chandra.


* * * * *


Karena banyak yang setuju untuk meneruskan SEASON 2 disini. Maka Author akan meneruskannya di Cerita ini.


Beberapa Bab lagi SEASON 1 TAMAT ya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


PROMOSIkan dong NOVEL author kalo kalian sukaaa.❀❀❀


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2