Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Kembali seperti semula


__ADS_3

Sakitnya buah hati adalah luka tersendiri bagi orangtua, bagaimanapun mereka akan melakukan segala hal demi kesembuhan sang anak. Begitupun dengan Elmira dan juga Mirda, hati mereka terluka ketika melihat bayi berusia hampir 8 bulan itu terkulai lemah diatas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat yang menempel ditubuhnya.


Ibam adalah pelipur lara bagi kedua orangtuanya yang kini dalam masa menahan keegoisan masing-masing. Elmira terlalu bersikukuk tak ingin memakai uang yang menurutnya haram. Dan Mirda dengan sebuah harga diri yang tak ingin diinjak oleh sang istri, karena ketidakberdayaan dan ketidakmampuan nya untuk membayar biaya perawatan sang anak yang kini tengah bertaruh nyawa.


Hubungan yang dulu sangat kokoh, kini mulai retak diterpa badai. Keduanya saat ini hanya memikirkan kesembuhan Ibam, tanpa mereka sadari kini sudah menjauhkan diri masing-masing.


"Bang, makan dulu. Tadi aku masak di apartemen," ucap Elmira sambil memberikan sekotak bekal.


"Terimakasih, kamu udah makan?" tanya Mirda dan Elmira menggelengkan kepalanya.


Airmata kini sudah tak tertahan lagi, "Gak usah berterimakasih, seolah kita ini dua orang asing, Bang. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Yang terjadi pada Ibam semua itu salahku, aku siap menerima semua keputusan kamu!" lirihnya.


Hati Mirda sedikit tersentak, Elmira masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi Mirda masih saja bersikap dingin pada Elmira. "Duduklah, kita makan bersama!"


Elmira menggelengkan kepalanya, "Jangan menciptakan sebuah kenangan yang mungkin akan membunuhku di kemudian hari. Makanlah, Bang! Aku permisi."


Sakit!


Itulah yang dirasakan oleh kedua insan manusia yang saling mencintai itu. Elmira keluar dari ruang rawat inap anaknya, dia berjalan menyusuri setiap lorong hingga terhenti disebuah taman. Elmira menangis tersedu-sedu, mengeluarkan setiap isi hatinya. Bukan ini yang dia mau dan dia inginkan, Elmira lemah tak berdaya. Dia butuh sandaran, sementara sang suami kini tak bisa lagi menjadi sandaran baginya.


"Semuanya yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diulang kembali, Kak!"


Elmira menghentikan tangisnya dan mendongakkan kepalanya. Alan berdiri didepannya, wajahnya terlihat sangat lelah. Dia mendudukan diri disamping Elmira dan menatap keatas langit.


"Perjalanan Indonesia-Rusia itu selam 16 jam kurang lebih, kami berjuang disana demi menjual berlian berharap sebuah keajaiban bagi Ibam. Mungkin memang Bang Mirda salah, karena tidak meminta izin dulu sama Kakak. Tapi menurut gue yang lebih salah itu lo, Kak. Keegoisan lo yang bikin semuanya menjadi rumit. Kita lelah, Kak. Sama kaya lo yang lelah jagain Ibam 24 jam setiap harinya. Disaat seperti ini, kita seharusnya saling menggenggam erat untuk saling menguatkan. Bukan saling mencoba melepaskan, perbaikilah keretakan itu sebelum pecah. Karena setelah pecah, mau lo perbaiki seperti apapun semuanya gak akan balik kaya semula," ucap Alan membuat Elmira kembali tersedu-sedu.


"Allah.. aku bersalah pada suamiku, sedangkan aku tau kini ridho mu ada dalam ridho suamiku," batin Elmira.


Elmira menutup kedua matanya, dia semakin menangis tersedu-sedu. Hingga dia merasakan sebuah pelukan hangat dipinggangnya.


"Maafin Abang, El. Maafin ketidakmampuan Abang untuk merawat Ibam, kalian semua adalah harta berharga bagi Abang. Jujur saja, Abang kecewa, El. Kamu sudah melukai harga diri Abang sebagai seorang laki-laki dan seorang pemimpin rumah tangga. Abang melakukan semua ini atas persetujuan Ayah, tidak mungkin Abang gegabah melakukan semua itu sendiri."


Deg!


Elmira memeluk erat tubuh Mirda, dia membutuhkan semua itu saat ini. "Aku yang harusnya minta maaf sama Abang, semuanya hanya karena keegoisan aku. Mungkin Alan benar, Papa menitipkan semua itu bukan tanpa sebab. Papa pasti gak mau, jika kelak menantunya melakukan hal yang sama sepertinya. Maafin aku, Bang. Jangan tinggalin aku dalam kondisi apapun. Aku butuh kamu, Bang!"

__ADS_1


"Abang berkata seperti itu saat emosi, sama sekali gak ada niatan dihati Abang buat ninggalin kamu. Susah payah Abang mendapatkan cinta kamu, El. Dan Abang gak akan melakukan hal bodoh dengan melepaskan kamu. Mari kita menjadi orangtua yang kuat demi Ibam dan juga Sweta," ucap Mirda mengecup pucuk kepala istrinya itu.


Dikejauhan sepasang mata yang memperhatikan keduanya tersenyum senang.


"Akhirnya ya, A! Mereka damai!"


Alan memekik kaget, "Astaghfirullohaladzim! Si Ummi kebiasaan kaya dedemit aja ngagetin! Gimana kalo jantung Aa copot! Udahmah kawin dilangkahi, masa iya gak jadi kawin karena serangan jantung!" kesal Alan.


Mendengar putranya menggerutu seperti itu membuat Ummi Ulil menitikkan airmatanya. Alan menjadi gelagapan, "Ah elah, malah nangis lagi! Ngapain nangis sih, Mi! Aa kan gak ngapa-ngapain, Ummi mah kaya anak gadis yang dilecehkan aja," celetuk Alan.


Pletak!


"Auuwww...! Sakit Ummi! Orangtua siapa sih, nyebelin banget!" ucap Alan mencebik kesal.


Ummi Ulil tak menjawab, dia memeluk erat tubuh putranya itu. "Maafin Ummi ya, A. Ummi salah tempo hari, Ummi udah nampar muka Aa yang mulus semulus pan*tat bayi," lirih Ummi.


"Astaga, Ummi! Masa muka Aa disamain sama itu!" kesalnya, tapi kemudian dia juga memeluk erat sang Ibu. "Maafin Aa juga ya, Mi. Ridho Allah untuk Aa pada ridho Ummi. Saat itu Aa lelah, Mi. Aa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, Aa hanya ingin mempertahankan keutuhan keluarga yang sudah dibangun sama Uti dan dayang-dayangnya dulu."


Ummi Ulil menangguk, "Ummi bangga sama Aa, meskipun otak Aa gesrek. Tapi Aa adalah orang yang paling bisa diandalkan oleh keluarga ini."


Hingga sebuah toyoran hinggap dikepalanya, "Anak kucing lu, A! Ngatain orangtua otaknya seiprit," kesal Baba Jafran yang tiba-tiba muncul.


"Nah.. Nah.. Ini Baba apa jailangkung?! Datang tak diundang pulang tak ditendang!" ucap Alan memanyunkan bibirnya.


Baba Jafran memutar bola matanya malas, "Lu pikir di Singapore ada Jailangkung, yang ada tuh Singakung! Noh patung singa yang geremin pala lu, lagian jadi anak begini amat si lu! Kaga ada manis-manisnya!" toyoran kembali mendarat.


"Ini nih penyebabnya, kepala Aa kebanyakan di toyor makanya jadi be*go! Dah lah, malesin! Aa mau balik Indo, udah kangen sama serabi Rere!" ucap Alan membuat kedua orangtuanya mlotot.


Alan menepuk-nepuk bibirnya sendiri, "Senyumnya Rere, Ba! Mi! Punya kuping itu dipasang yang bener."


"Lu awas ya kalo macem-macem! Baba potong tu uler kadut biar kaga bisa menikmati goa yang lembab dan sempit!" celetuk Baba Jafran yang mendapat jeweran dari sang istri. "Aww.. Aww.. Sakit Mi!"


"Makanya punya mulut jangan lemes kaya banci tongkrongan! Fix, si Aa nurun dari Baba sifat gesreknya!" kesal Ummi Ulil.


"Heh Ulet buluku! Kita itu ngadon berdua, goyang-goyang berdua! Mengarungi lautan cinta berdua, itu kecebong sama telor-teloran bersatu kan kerja keras berdua! Mana ada tuh bilang turunan Baba doang, jelas-jelas lu nya juga dong, Mi! Masa iya-iya, ***-*** berdua yang disalahin Baba doang! Kan yang des*ahan paling kenceng juga elu, Mi!" ucap Baba Jafran panjang lebar.

__ADS_1


"Siapa bilang yang paling kenceng itu, Ummi! Bukannya Baba? Yang sampe bilang, 'Awh baby.. Enak baby..' iya kan? Mau ngelak apalagi, Hah?!


Alan membulatkan matanya ketika mendengar ucapan absurd dari kedua orangtuanya. "Astaga, orangtua gua fix gesrek semua! Ah Ummi, bikin gue jadi travelling aja!" batin Alan.


Keduanya melihat Alan yang senyum-senyum sendiri, "Heh! Ngelamunin enggak-enggak ya, lu!" ucap Baba Jafran mencoba membuyarkan lamunan Alan.


"Siapa bilang, cuman bayangin iya-iya aja kok," jawabnya sambil senyum-senyum sendiri.


Pletak!


"Sampe hari H kawinan, lu kaga boleh balik ke Indo! Bisa jebol duluan gawang anak orang kalo begini caranya," ucap Baba Jafran membuat Alan melotot.


"Enak aja! Aa masih punya........."


Mulutnya segera dibekap oleh sang Baba, "Jangan kebanyakan ngomong lu, kepala Baba pening! Belum juga tersalurkan, malah makin pening dengerin ocehan lu!"


Kini semuanya kembali membaik, Elmira dan juga Mirda tengah fokus untuk kesembuhan putranya. Mereka pun berjanji akan saling menjaga dan menguatkan satu sama lain. Tentu saja hal itu membuat Ayah Fahri dan Bunda Gisya tersenyum penuh kelegaan.


"Akhirnya, Bang. Semuanya kembali lagi seperti dulu, kita emang harus berterimakasih sama keluarga gesrek itu. Meskipun ngawur, kadang omongan mereka itu bijak," ucap Bunda Gisya yang kini tengah menatap keluarga mereka.


"Semuanya akan baik-baik aja, yang buruk dimata kita belum tentu buruk untuk diri kita sendiri. Buktinya itu, mereka itu ajaib." ucap Ayah Fahri mencium pucuk kepala sang istri.


Bagai merasa seperti saat muda, Ayah Fari mulai memajukan wajahnya mendekati wajah sang istri. Keduanya mulai dekat.. dan semakin dekat.... hampir saja mendarat, hingga.............


"Woy! Inget umur, inget anak cucu! Maen sosor-sosoran wae kaya soang!"


Taukah para reader siapa yang mengatakan hal itu???? 🀭😁✌


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2