
Waktu tak terasa terus berjalan, sudah seminggu ini Zaydan dan Febri tinggal dirumah Gisya bersama Yuliana. Hari ini Zaydan berpamitan pada Febri dan yang lainnya untuk kembali terlebih dahulu ke Jogja untuk mengurus surat pengajuan pernikahan mereka. Namun Cyra tidak mau lepas dari Papanya itu.
"Cyra harusnya jadi anak Ummi! Dari bayik nempel gitu kaya ulet bulu." celetuk Jafran.
"Dibujukin Ba anaknya! Bukan malah diledekin begitu!" kesal Yuliana pada suaminya itu.
"Cyra anak Baba yang Soleha, yuuk sama Baba, Nak. Nanti kita jalan-jalan liat pesawat. Maul sama Mail juga ikut lohh!" bujuk Jafran dan Cyra menggelengkan kepalanya.
Fahri tertawa melihat cara membujuk Jafran, akhirnya dia mendekati putri mendiang sahabatnya itu. Fahri mengusap lembut kepala Cyra digendongan Zaydan.
"Cyra sayang, Ayah mau tanya dong! Cyra sayang gak sama Papa Idan?" tanya Fahri.
"Tayang dong Ayah!" jawab Cyra sedikit kesal.
"Kalo gitu Cyra mau gak bobok sama Mama sama Papa? Kan Papa boboknya selalu sama Ayah sama Baba." ucap Fahri pada bocah kecil itu.
"Mau Yah! Cyla mau bobok cama Mama Papa." antusias Cyra sambil memeluk Zaydan.
"Kalo gitu, Papa Idan harus pulang dulu ke Jogja. Biar nanti Cyra bisa bobok bertiga sama Mama Papa. Kalo enggak nanti Papa gak akan bobok sama Cyra." ucap Fahri.
Akhinya Cyra mau melepaskan pelukannya pada Zaydan. Dia meminya Fahri untuk menggendongnya. Gisya tersenyum ketika melihat cara suaminya membujuk Cyra.
"Anak pinter! Ngerti aja soal bobok mah, kalo Papanya tuh ingetnya cara ngadonin! Iya gak Papa Zaydan?" goda Jafran pada Zaydan.
"Dasar Baba museum! Yang dipikirin kamu tuh ngadon-ngadon aja sih Ba!" kesal Yuliana.
"Museum? Bersejarah dong Mi! Yuukk ulangi sejarah adonan si kembar!" godanya lagi.
"Susah ngomong sama orang yang dalem otaknya adonan doang mah!" ledek Fahri.
Mereka mengantarkan Zaydan ke Bandara, Cyra mulai anteng bersama anak-anak yang lain. Sejak tadi pagi, Gisya terus mengalami mual-mual. Padahal dia akan segera disibukkan oleh pernikahan adik tersayangnya.
"Kamu gak apa-apa Ca? Muka kamu pucet kayak gitu." tanya Jafran.
"Iya Ca, kamu pucet banget. Masih pusing?" tanya Yuliana.
"Bunda gak apa-apa sayang? Kita langsung pulang aja ya, biar nanti Ebiw sama Ulil yang beli kain buat seragam mah." ucap Fahri.
Belum Gisya menjawab, tubuhnya sudah tumbang. Gisya pingsan dipelukan suaminya.
"Mbuunnnn!" teriak Quera dan Husain ketika melihat Bundanya tumbang.
"Yaa Allah Caca!! Ayo cepet bawa kerumah sakit Bang!" panik Febri lalu menggendong anak-anak menuju mobil.
Mereka membawa Gisya kerumah sakit terdekat, Fahri terus mendampingi istrinya. Sementara anak-anak dibawa oleh Yuliana dan Jafran, apalagi Quera belum bisa berjalan. Febri dan Fahri menunggu Gisya di IGD, kemudian dokter datang setelah memeriksa keadaan Gisya.
"Alhamdulillah, tidak ada yang harus di khawatirkan Pak. Selamat, istri anda sedang mengandung. Usia kandungannya baru menginjak 5 minggu, makanya Ibu masih mengalami mual-mual. Dan sepertinya bapak harus extra menjaga kandungan Ibu, saya melihat beberapa lebam di area perut Ibu. Tapi sejauh ini kondisi kandungannya baik-baik saja. Setelah sadar Ibu diperbolehkan pulang, saya akan memberikan resep vitamin dan penguat kandungannya." ucap dokter menjelaskan.
"Yaa Allah, alhamdulillah. Terimakasih dokter." jawab Fahri.
__ADS_1
Febri dan Fahri sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Gisya. Setelah sadar, Fahri membawa Gisya untuk pulang kerumahnya. Ternyata semua orang sudah berkumpul disana, mereka sangat khawatir dengan kondisi Gisya.
"Gimana keadaan kamu sayang? Baik-baik aja kan?" tanya Bunda Syifa khawatir.
"Teteh baik-baik aja kan? Jangan bikin senam jantung mulu kenapa sih Teh! Sumpah deh, Uqi gak mau Teteh kenapa-kenapa." ucap Syauqi memeluk kakak tercintanya itu.
Fahri tersenyum menatap Gisya, dia mengusap lembut kepala istrinya itu.
"Selamat ya Bunda, Uqi. Sebentar lagi akan ada Chacha mini's." ucap Fahri yang membuat semua orang disana terkejut lalu bergembira.
"Aku hamil lagi, Yah?" tanya Gisya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang, Ain bakalan jadi Abang. Dan Kaka Rara bakalan punya adik baru." ucap Fahri.
"Holeee!! Ain adi Abang, Ain munya dedek bayi! Mana Mbun dedeknya?" antusias Husain.
Bunda Syifa kembali memeluk putri kesayangannya itu.
"Alhamdulillah sayang, semoga kamu dan bayimu akan selalu sehat ya! Abang Ain harus sabar nunggu dedeknya keluar dari perut Bunda. Abang Ain harus jagain Bunda, dedek dan Kak Rara ya, kalo Ayah pergi tugas. Jadi Abang Ain gak boleh cengeng dan nakal lagi ya!" ucap Bunda Syifa pada cucu kesayangannya itu.
"Iya Oma, Ain gak akal-akal. Cuel deh!" ucap Husain membuat mereka tertawa.
Febri dan Yuliana menghampiri sahabatnya itu, mereka sangat bahagia dengan kehamilan kedua Gisya ini. Dan mereka berjanji akan menjaga Gisya.
"Selamat ya Ca, alhamdulillah Allah kasih amanat lagi buat kamu. Dijaga kondisinya ya, aku janji bakalan selalu ada disaat kamu butuh aku." ucap Febri.
"Kita kapan panen, Mi?" goda Jafran pada istrinya itu.
"Kapan-kapan! Itu tuyul dua aja kamu kepuyengan apalagi nambah satu!" kesal Yuliana.
Mereka tertawa mendengar percakapan dua sejoli yang absurd itu.
"Ini baru nama KEMAL." ucap Gisya tertawa bahagia.
"Haaahhh? Kok kemal?" heran Yuliana dan Jafran.
"Kebahagiaan Maksimal!" jawab Gisya dan Fahri dengan nada tinggi.
"Yaa Allah! Buset dah si Ayah sama si Bunda! Untung ini gendang telinga gak konser! Bisa-bisa budeg ini Baba!" ucap Jafran.
Seminggu berlalu, semua orang kini sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan Syauqi dan Syaina. Jafran sudah berangkat terbang kembali, begitupun juga dengan Fahri. Dia sudah mulai melaksanakan tugasnya. Demi untuk bisa menghadiri pernikahan adik tercintanya yang akan dilaksanakan bulan depan.
Gisya sedang menuliskan daftar keperluan apa saja yang akan diperlukan untuk seserahan. Pernikahan Syauqi akan digelar dengan adat Sunda dan Palembang. Mengingat Syaina adalah orang Palembang dan Syauqi asli orang Sunda.
"Teh, kok banyak banget sih seserahannya." tanya Syauqi yang pusing melihat daftar itu.
"Ini belum seberapa Malik! Makanya kamu tanyain sama Ina, berapa nomer sepatunya, ukuran bajunya, ukuran dalemannya, ukuran jari buat cincinnya. Jadi kita bisa bantuin kamu tuh buat belanjain semuanya." ucap Yuliana.
"Ukuran sepatu 37, ukuran baju S atau M, ukuran BH 34B." ucap Syauqi dengan polosnya.
__ADS_1
Mereka yang mendengarnya menatap tajam kearah Syauqi.
"Heh Malik! Kok kamu bisa tau ukuran BH si Ina?! Kamu gak nyimpen saham duluan kan? Atau kamu ngasih DP duluan?!" tanya Yuliana dengan tatapan tajamnya.
"Uqiiiii! Kamu gak macem-macem kan?!" tanya Gisya yang sudah kesal.
"Ayo jawab Syauqi Maliiiiiikkkk!" kesal Febri pada Syauqi.
"Eh, eh tunggu dulu! Kenapa ini Uqi berasa jadi tersangka gini? Gini ya ibu-ibu rempong! Enak aja, Uqi belum ngasih DP atau tanam saham duluan ya! Gini-gini juga Uqi masih menjaga harkat martabat calon istri Uqi. Dan satu lagi, Uqi gak macem-macem kok! Cuman satu macem doangan!" ucap Syauqi yang kesal.
Gisya semakin mendelik tajam kearah adiknya itu, hingga Syauqi menghela nafasnya.
"Teteh-teteh dan Ibu-ibuku tersayang, Uqi tau ukuran daleman Ina itu karena waktu Ina nginep dirumah Bunda itu daleman terpampang nyata didepan mata Uqi. Masa Bunda gak inget?! Dulu kan Bunda yang jemur itu daleman diatas seragam Polisi Uqi, ya otomatis Uqi sempet ngeliat itu ukuran wadahnya!" kesal Syauqi.
"Ohhh iya, Bunda lupa! Maaf ya Malik anak kesayangan Bunda." ucap Bunda Syifa sambil menahan tawanya mengingat kejadian itu.
Syauqi menghela nafasnya kembali, sungguh berurusan dengan ibu-ibu ini jauh lebih memusingkan dibanding memikirkan biaya pernikahannya.
"Waiitttt! Kamu ngebayangin dong Malik apa yang ada didalam wadahnya?" goda Yuliana sambil mencolek-colek dagu Syauqi.
"Idih colek-colek, emangnya sabun! Sedikitlah, namanya juga lakik." jawab Syauqi.
"Aduh gawat! Udah ngebayangin, mana bawa-bawa sabun. Harus disegerakan ini mah Bunda, Darurat!" ucap Yuliana yang semakin menggoda Syauqi.
Wajah Syauqi sudah memerah karena malu oleh ucapan Yuliana dihadapan Bundanya.
"Dah ah! Daripada diledekin terus, mending Uqi samperin Ina! Siapa tau bisa langsung lihat apa yang ada didalem wadahnya!" kesal Syauqi yang beranjak pergi.
"Malliiiiiiiiikkkkkkkkk!!!" teriak semua ibu-ibu itu.
"Allahuakbar! Ampunn deh ini emak-emak, bisanya main keroyokan kaya hujan!" kesal Syauqi lalu berlari meninggalkan mereka.
"Awas kamu macem-macem Uqi! Itu uler kadut Bunda bikin asem manis!" teriak Bunda Syifa yang entah didengar atau tidak oleh Syauqi.
Mereka menggeleng-gelengkan kepala dan menahan tawa mendengar ucapan Bunda Syifa. Namun kemudian Syauqi menampakkan kepalanya saja mengagetkan mereka.
"Sorry Bunda, Uler Cobra bukan Uler kadut!" teriak Syauqi.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Syauqi dan kemudian melanjutkan pembicaraan mereka mengenai pernikahan Syauqi.
* * * * *
Maaf Baru Up πβ
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1