
Semalaman ini Elmira tidak bisa memejamkan matanya, dia terus teringat kondisi sang Ayah yang disebabkan oleh dirinya. Pukul lima pagi, terdengar suara mobil berhenti didepan gerbang. Elmira segera turun dengan tergesa-gesa. Yuliana melihat Elmira berlari segera menegurnya.
"Pelan-pelan, Kak! Nanti kamu jatoh." teriak Yuliana namun tak didengar Elmira.
Dengan rusuh, Elmira membuka pintu dan tersentak kaget ketika orang yang berada didepannya adalah Mirda bukan sang Ayah dan Bundanya.
"Ayah dimana, Om Mirda? Gimana kondisinya?" tanya Elmira yang khawatir.
"Komandan mengalami serangan jantung, dan saat ini harus mendapat perawatan di Rumah Sakit." ucap Mirda dengan wajah datarnya.
"Apaa?! Bang Fahri kena serangan jantung? Kenapa? Kapan?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Yuliana.
Mirda menjelaskan kejadian semalam dan kondisi atasannya itu pada Yuliana dan Jafran yang baru saja datang. Semalam dia menginap dirumah Ummanya bersama dengan Alan dan Alana. Jafran menatap kearah Elmira dengan tatapan penuh rasa kecewa.
"Elmira? Oh bukan, Quera biar Baba sedikit jelaskan mengenai masalalu kamu." ucap Jafran yang membuat Elmira menunduk sedih. Tak ingin mengganggu, Mirda berniat untuk pergi dan memberikan ruang untuk mereka bicara.
"Kamu diem aja disini, biar jadi saksi kalo saya yang ceritain semua masalalu anak ini." ucap Jafran.
Hati Elmira terasa remuk, Baba yang sangat humoris dan menyayanginya bahkan berani mengucapkan kata seperti itu.
"Baba! Ini bukan hak kita buat ceritain semuanya," ucap Yuliana menahan semuanya.
"Gak apa-apa, Bun. Biar dia tau, dan gak usah berontak terus meminta kebebasan. Itu kan yang kamu mau, Gelya Quera Feodora?" sahut Jafran membuat buliran bening terjatuh dipipi Elmira.
Sebenarnya Jafran tidak tega, tapi mendengar Fahri terkena serangan jantung membuat emosi Jafran mulai mendidih. Karena dia ingat betul, bagaimana Fahri mempertaruhkan dirinya dan keluarganya demi keselamatan Quera.
"Dia bukan Ayah kandungmu, dan kamu tau itu. Papamu si Abrakadabra itu menitipkan kamu pada Fahri. Dan dengan sukarela serta penuh kasih sayang, Fahri membawamu masuk kedalam keluarga ini. Tapi apakah ini balasan darimu, Kak?" lirih Jafran menatap Elmira yang masih tertunduk.
Berbeda dengan Mirda yang cukup kaget mendengar ucapan Jafran. Dia hanya terus mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Jafran.
"Saat kamu SD, kamu diincar oleh keluarga Papa kandungmu. Agar mereka bisa mendapatkan harta peninggalan Papamu, kalo saja Fahri dan Chandra tidak menyelamatkanmu mungkin saja kamu tidak akan bisa hidup hingga sekarang. Dan alasan dia mengganti namamu, karena Ayahmu tidak ingin kamu menjadi incaran mereka. Bahkan Ayahmu terpaksa mengirimmu ke Palembang, bersama Oma yang seharusnya tinggal bersama anaknya bukan bersama besannya" ucap Jafran yang masih kesal.
Yuliana terus mengusap lengan suaminya itu, berharap Jafran menghentikan semuanya.
"Cukup, Ba! Kasian Elmira!" ucap Yuliana sambil merengek pada suaminya.
"Nama Gelya Quera Feodora itu pantang diucapkan, karena mungkin saat ini mereka masih mengincarmu. Sungguh, Ayahmu sangat memprioritaskan dirimu dibanding dengan anak kandungnya sendiri. Karena dia merasa harus bertanggung jawab atas dirimu, dia sangat menyayangimu layaknya anak kandung, Elmira!" ucap Jafran dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ma-maaf, Baba." lirih Elmira menghapus setiap tetes airmata dipipinya.
"Kamu memang seperti burung dalam sangkar, tapi sangkar yang dibuat Ayahmu itu untuk melindungi dirimu Kak. Sekarang semua terserah padamu, mau mematuhi aturan Fahri atau hidup sesuai keinginanmu yang ingin bebas," ucap Jafran meninggalkan Elmira.
"Maafin Baba, ya Kak." ucap Yuliana membawa Elmira dalam pelukannya.
"Baba gak salah, Mi. Kakak yang salah." lirih Elmira yang menangis sesegukkan.
Husain mendengar percakapan mereka, dia merasa sedikit kecewa dengan Elmira. Husain segera membangunkan Indira dan mengajaknya untuk pergi kerumah sakit.
"Adek bangun! Kita kerumah sakit sekarang, Ayah kena serangan jantung!" ucap Husain membangunkan Indira dengan bisikan karena takut membangunkan sepupu-sepupunya.
__ADS_1
"Apa?! Ayah kenapa?" panik Indira sambil meraih jilbab yang berada disampingnya.
"Jangan banyak tanya dulu, kita minta tolong Om Mirda!" sahut Husain menarik lengan adiknya itu.
Melihat kedua adiknya turun membawa tas milik sang Ayah, membuat Elmira menghampiri keduanya dan menahannya.
"Tunggu! Kakak mau ikut." ucap Elmira dan Husain mengangguk ragu.
Tanpa mengganti bajunya, Elmira ikut bersama adik-adiknya ke Rumah Sakit. Airmata tak henti-henti keluar membasahi pipinya. Mirda dapat melihat semua itu dari kaca spion mobilnya. Dengan langkah gontai, Elmira berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan dimana sang Ayah dirawat. Ketika kedua adiknya tergesa-gesa masuk kedalam ruangan, Elmira malah berhenti tepat didepan pintu.
Elmira merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri. Gisya yang menyadari kehadiran Elmira, segera menuntunnya untuk masuk kedalam.
"Ayah nanyain Kakak terus," ucap Bunda Gisya membelai lembut lengan Elmira.
"Ma-maafin Kakak, Bun. Gara-gara Kakak, Ayah..." Elmira menangis tersedu-sedu.
"Semuanya bukan salah Kakak, udah jangan nangis." ucap Bunda Gisya mengusap airmata dipipi putrinya itu.
Perlahan Elmira melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang sang Ayah.
"Ayah, maafin Kakak. Semuanya salah Kakak, maafin Kakak ya Ayah." lirih Elmira.
"Kakak gak salah, Ayah aja yang terlalu lemah dan sudah tua!" ucap Fahri.
"Ayah gak lemah, Ayah selalu jagain Kakak. Maafin Kakak, Ayah," ucap Elmira yang mulai terisak dan memeluk tubuh Ayahnya.
"Udah jangan nangis! Masa calon dokter cengeng." ledek Fahri pada putrinya itu.
"Bun, aku mau nemuin Cyra dulu." pamit Husain pada Bundanya.
"Biar Kakak temenin!" ucap Elmira sambil menuntun Husain.
"Mirda! Tolong jaga anak-anakku." ucap Fahri memberikan tugas.
"Siap! Laksanakan!" jawab Mirda lalu mengikuti Husain dan Elmira.
Mereka kini sudah sampai di Rumah Sakit jiwa, dilihatnya Febri dan Zaydan sedang saling berpelukan menatap Cyra yang masih histeris.
"Mama... Papa.." ucap Husain dan Elmira bersamaan.
"Yaa Allah, Kakak!" teriak Febri berhambur memeluk Elmira. "Cyra, Kak. Diaaa...."
"Kakak tau, Ma. Ijinkan Kakak dan Ain temui Cyra," pinta Elmira.
"Cyra masih sering berteriak ketakutan, Kak." lirih Febri memeluk Elmira.
"Tunggu sampai Cyra tenang, baru kalian masuk." ucap Zaydan.
Elmira dan Husain menunggu didepan ruangan Cyra.
__ADS_1
"Carel gimana, Pa?" tanya Husain pada Zaydan.
"Carel udah dirumah om Uqi, semalam dia langsung dibawa pulang." jawab Zaydan.
"Kapan kejadiannya, Pa?" lirih Elmira sambil mengusap bahu Febri.
"Dua hari yang lalu, Cyra kekeh ingin jadi Polwan. Dia ingin menjadi seorang Abdi Negara seperti alamrhum Papa Andi. Berkali-kali Alana mengingatkan, tapi Cyra sangat keras kepala. Bahkan dia sampai tarik dana 28 juta untuk diberikan sama bajingan itu." ucap Zaydan yang masih sangat kesal jika mengingat bajingan yang berani melukai putrinya.
"Alana bahkan yang menyelamatkan Cyra, untungnya Cyra belum sampai pada tahap disetubuhi. Bahkan Alana terluka, kakinya tergores pisau dan harus dijahit 15 jahitan." isak Febri dalam pelukan Elmira.
Deg!!
Husain tersentak, perasaan bersalah terus muncul dibenaknya. Dia kembali mengingat sikap bar-bar dan sikap konyol Alana saat bersamanya. Elmira mengajak Husain untuk masuk menemui Cyra.
"Cyra," panggil Elmira menghampiri Cyra yang terduduk dipojok ruangan.
"Kakak! Abang!" lirih Cyra menatap keduanya. "Pergi! Pergi! Aku kotor! Aku kotor!"
Elmira dan Husain berhambur memeluk Cyra, meskipun dia memberontak.
"Denger! Denger Cyra! Kamu masih suci! Alana sudah menyelamatkan kamu!" teriak Husain mencoba menenangkan Cyra.
"Istighfar, Cyra! Lihat kasian Mama dan Papa!" ucap Elmira mengusap punggung Cyra yang sedang dipeluk oleh Husain.
"Cyra takut, Bang. Cyra takut." lirih Cyra dalam pelukan Husain.
"Tenang, Abang ada disini." ucap Husain sambil memeluk erat tubuh Cyra.
Tanpa mereka sadari, Alana menyaksikan semuanya. Hatinya bagai ditusuk sembilu, tapi dia tetap berusaha untuk menegarkan hatinya. Dia berjalan untuk menemui mereka.
"Are you okay?" tanya Alan pada kembarannya itu.
"I'm okay twins!" ucap Alana sambil mengulas senyum dibibirnya.
"Pinter banget sembunyiin perasaan!" gumam Alan sambil mengikuti langkah kembarannya itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnyaa??
* * * * *
Maaf yaa kalo gak suka sama alur ceritanya..
Ini cuman imajinasi othor aja πβ
Yang nanya soal Chandra, nanti yaa.. Akan ada lanjutannya..
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€