
DEMI KALIAN AUTHOR UP 4 BAB HARI INI 🥲❤
jangan lupa LIKE DAN COMMENT YAA ❤❤❤
Coba kasih hastag #TEAMMIRDA #TEAMCHANDRA
SEMOGAA SUKAAAAK 🤗
salam dari othor sengklek, Rindu ❤
* * * * *
Mirda menatap sendu wajah Elmira yang sedari tadi sedang bercanda tawa bersama adiknya. Teringat kembali kejadian 15 Tahun yang lalu, dimana Mirda pertama kali melihat wajah Elmira.
~ Flashback 15 Tahun Yang Lalu
Siang hari yang cukup terik di Jogjakarta, Radiansyah Mirda bocah berusia 12 Tahun merengek pada Bundanya untuk dibelikan sepatu bola. Rayan begitulah sapaan bocah yang tengah merengek itu. Akhirnya sang Bunda menyerah dan mengajak Rayan untuk kesebuah pusat perbelanjaan. Rayan sangat bahagia, karena keinginannya selalu dituruti oleh sang Bunda. Ayah Rayan merupakan salah satu Polisi Militer yang saat ini sedang bertugas di Lebanon. Jadi dia tinggal di Jogjakarta hanya bersama ibunya, dan dirumah dinas.
Setelah puas mendapatkan keinginannya, Rayan meminta Bundanya untuk bermain sebentar di Timezone. Baru saja Rayan bermain satu permainan, dia tertarik pada gadis manis yang sedang bermain bersama adik laki-lakinya. Dia terus menatap gadis kecil itu, dan secara tak sengaja pandangan mata mereka bertemu. Tapi tak lama kemudian, terdengar suara tembakan.
Dorrr! Doorrrr!!
"Rayan! Ayo kita pergiiii!" teriak Bundanya menarik Rayan untuk pergi darisana.
"Bunda, aku takut!" ucap Rayan sambil berlari bersama Bundanya.
"Kita sembunyi disini! Bunda udah gak kuat lari!" ucap Bunda Rayan sambil menarik putranya itu untuk bersembunyi dibawah tangga darurat yang tertutupi barang bekas.
Samar-samar mereka mendengar suara tangisan anak perempuan, Rayan menatap kearah bawah tangga yang berada diseberangnya. Dia melihat gadis kecil itu dalam gendongan laki-laki yang dia sangka sebagai Ayah dari gadis kecil tersebut. Laki-laki itu menyembunyikan anaknya, tanpa dia sadari ada penjahat dibelakang mereka.
"Itu mereka! Bawa anak itu, dan habisi dia!" ucap salah satu penjahat.
""Papaaaa!! Papaaa!! Tolong Kakak!! Baba!! Ayah!!" teriak gadis kecil itu.
Rayan dengan refleks akan keluar dari sana, tapi Bundanya mencegah.
"Diam disini! Bunda gak mau kamu kenapa-kenapa!" bisik Bundanya sambil memeluk.
"Kasian dia, Bunda." lirih Rayan sambil terus melihat laki-laki itu dipukuli.
"Bunda tau, tapi keselamatan kita saat ini jauh lebih penting." ucap Bundanya.
Braaakkkk!!
Tempat persembunyian mereka diketahui oleh para penjahat itu, mereka menarik paksa tubuh Rayan hingga dia dilemparkan ke tembok. Untung saja sebelum mereka semakin menyiksa Rayan dan Bundanya, beberapa anggota Polisi dan Tentara datang. Pada akhirnya, Rayan dan Bundanya harus menjadi saksi dalam kejadian tersebut.
Rayan melihat gadis kecil tadi, dia masih dalam gendongan laki-laki berseragam loreng sama seperti sang Ayah. Dia diobati oleh perawat dalam ambulance, karena kejadian tersebut memakan beberapa korban luka yang merupakan warga sipil.
"Apa penjahat itu mau menculiknya?" batin Rayan bermonolog sendiri.
__ADS_1
Setelah mendapat perawatan, Rayan bersama Ibunya pulang. Mereka beristirahat setelah melakukan video call bersama Ayahnya. Namun siapa sangka, pagi harinya kabar duka datang dari tanah Lebanon. Sang Ayah gugur dalam tugasnya, Rayan menangis meraung-raung ketika Bu Danki memberikan kabar duka tersebut. Sedangkan Sang Bunda masih terdiam, mencoba mencerna hal yang disampaikan oleh Bu Danki.
Rumah Dinas yang ditempati oleh Keluarga Rayan, dipenuhi oleh banyak prajurit yang mengucapkan kabar duka. Termasuk Kapten Chandra Udayana Devandra, yang menjadi rekan sang Ayah di Tanah Lebanon. Sangat kebetulan, saat itu Chandra yang akan kembali ke Jakarta mendapatkan telepon dari Lebanon dan mengatakan beberapa rekannya gugur dalam melaksanakan tugas.
Chandra menghampiri Rayan yang masih menangis memeluk foto sang Ayah.
"Jangan menangis, kamu harus tumbuh menjadi laki-laki yang kuat seperti Ayahmu," ucap Chandra membuat Rayan mengangkat kepalanya menatap Chandra.
"Ayah Gorila! Ayah Rayan gak pergi kan?" lirih Rayan menatap Chandra.
Hatinya meringis melihat tatapan sendu Rayan, Chandra mengusap kepala Rayan.
"Ayah Rayan sudah bahagia di Surga, sekarang Rayan harus selalu mendo'akan Ayah Rayan! Jadilah anak yang mampu membanggakan Ayah!" ucap Chandra memeluk Rayan.
"Sekarang Rayan gak punya Ayah!" lirih Rayan diiringi dengan isak tangisnya.
"Ayah Gorila juga Ayahnya Rayan kan?" ucap Chandra dan Rayan mengangguk.
Chandra dan Ayah Rayan adalah prajurit satu Letting, mereka bersahabat sejak saat itu. Bahkan Ayah Rayan selalu berada disisi Chandra, apalagi ketika saat-saat terpuruknya. Setelah prosesi pemakaman selesai, Rayan harus menelan pil pahit. Sang Bunda terus menerus menangis histeris, hingga dokter menyatakan bahwa Bundanya mengalami shock berat dan bisa berujung depresi.
Rayan terus menangis, meratapi nasib kedua orangtuanya. Karena Ayah Rayan dan Bundanya tidak memiliki kerabat lagi, maka Chandra membawa Rayan ke Jakarta untuk dia rawat. Chandra benar-benar memperlakukan Rayan seperti putranya sendiri. Karena keterbatasan waktunya, Chandra memakai jasa pengasuh untuk menemani dan mengawasi Rayan ketika dia bertugas jauh.
Waktu terus berlalu, kini Rayan sudah berusia 17 tahun. Dia ingin meneruskan impian sang Ayah untuk menjadi seorang Abdi Negara. Malam itu, tak sengaja Rayan melihat foto Elmira yang jatuh dari dalam dompet sang Ayah.
"Ayah Gorila? Siapa gadis kecil ini?" tanya Rayan menunjukkan foto itu.
"Hehehehe udah kebiasaan, Ayah Gor... Mm sekarang jawab, siapa dia?" tanya Rayan.
"Dia? Perempuan berharga buat Ayah!" ucap Chandra sambil melihat foto Elmira.
"Dia anak Ayah? Kok Rayan gak tau?" selidik Rayan menatap Chandra.
"Bukan, dia perempuan yang Ayah cintai," ujar Chandra membuat mata Rayan melotot.
"Konyol ya? Ayah jatuh cinta sama perempuan yang cocok dijadikan anak! Matanya indah, setiap orang yang melihatnya pasti akan jatuh cinta," ujarnya lagi.
Rayan hanyut dalam pikirannya sendiri, dia kembali mengingat-ngingat foto gadis kecil itu.
Deg!
'Bukankah dia gadis yang dulu akan diculik itu' batin Rayan.
"Kamu sudah siap untuk seleksi besok?" tanya Chandra membuyarkan lamunan Rayan.
"Siap dong! Rayan kan udah siapin fisik dan mental biar bisa lolos seleksi. Biar Rayan bisa bikin Ayah bangga, dan bikin Bunda bangga sama Rayan," ucap Rayan tersenyum.
"Baguss! Kamu harus jadi seorang prajurit yang berguna bagi bangsa dan negara! Sekarang sana sholat isya dulu!" titah Chandra pada Rayan.
"Ayah juga Sembahyang sana, udah lama Ayah gak Sembahyang di Pura!" ucap Rayan.
__ADS_1
Chandra dan Rayan hidup seatap dengan agama yang berbeda. Namun, mereka saling menghormati agama masing-masing dan saling mengasihi. Hingga kini, kondisi Bunda Rayan masih dalam kondisi yang sama dalam keadaan depresi. Sebelum melakukan seleksi, Rayan meminta restu pada Bundanya. Meskipun tak pernah ada tanggapan apapun, tapi Rayan tetap meminta do'a pada Bundanya.
"Bunda, do'akan Rayan ya! Semoga Rayan bisa lolos seleksi," ucap Rayan sambil mencium punggung tangan, pipi dan serta kening sang Bunda.
Setelah melewati seleksi, dari 1000 orang Rayan masuk dalam urutan ke 15 dari 100 orang. Dia bersujud untuk mengucapkan syukur, masih dalam perasaan bahagia Rayan mencoba menghubungi Chandra. Tapi belum dia menghubungi sang Ayah, pesan dari salah satu suster Rumah Sakit membuat senyum bahagia Rayan pudar. Mereka mengabarkan jika Bunda Rayan meninggal, karena melompat dari atas gedung.
Bagai ditusuk belati Rayan menangis tersedu-sedu, membuat para pelatih menghampiri Rayan. Bahkan teman disebelahnya, terus menenangkan Rayan.
"Kenapa kamu menangis?" tanya sang Pelatih.
"Siap! Ibu, ibu saya meninggal." lirih Rayan sambil menatap kertas hasil lolos seleksi.
"Innalillahi wa inna illahi rojiun, kamu harus tegar! Seorang prajurit akan selalu dihadapkan dengan kematian! Buatlah Ibumu bangga dengan lolos seleksi ini!" ucap sang Pelatih.
"Siap! Terimakasih Komandan!" ucap Rayan masih dengan sesegukkan.
"Siapa namamu?" tanya sang Pelatih.
"Siap! Radiansyah Mirda." jawab Rayan.
"Baiklah, Mirda! Sekarang kamu boleh menangis, tapi setelah ini kamu harus bangkit! Jadilah seorang prajurit yang mampu membanggakan Ayah dan Bundamu! Kamu mengerti, Mirda?!" ucap sang Pelatih memberikan dukungan.
"Siap! Laksanakan!" ucap Rayan yang kini berganti panggilan menjadi Mirda.
Rayan menatap pusara Bundanya, masih terlintas rasa kecewa dalam hatinya.
"Jangan bersedih, Ayah Gorila akan selalu ada disampingmu Rayan!" ucap Chandra menepuk bahu Rayan.
"Mirda, namaku Mirda. Rayan sudah mati, terkubur bersama Bunda." ucap Rayan dengan ekspresi datar. Bahkan dia pergi meninggalkan Chandra begitu saja.
~ Flashback Off
Sejak hari itu, panggilan Rayan sudah mati. Seperti perasaannya yang menjadi dingin, setelah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Mirda berbeda dengan Rayan, bahkan Chandra tak mampu berkata apa-apa ketika melihat perubahan dari anak mendiang sahabatnya itu. Rayan benar-benar serius menjalani pendidikannya. Hingga akhirnya dia terpilih menjadi salah satu ajudan Mayor Jenderal Fahri Putra Pratama.
Husain menepuk bahu Mirda yang sejak tadi melamun diambang pintu.
"Om Mirda! Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Husain.
"Siap nona! Emmm maksudnya Husain!" jawab Mirda salah tingkah.
Husain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ajudan sang Ayah yang sudah dikenalnya selama 3 tahun ini.
* * * * *
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1