Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Absurd Family


__ADS_3

"Belom diterobos kok udah keluar darah?" tanya Alan dengan polos.


Theresia memelototkan matanya, "Yaa ampun! Maaf Aa, tanggal terlarang!"


Gubraaaagghhhhh.......!!!


Malam pertama tentunya menjadi hal yang paling dinantikan oleh pasangan pengantin baru. Tapi sepertinya semesta sedang tidak berpihak pada Alan, surga dunia yang sudah dilihatnya ternyata menyemburkan lahar yang membuat Alan tak bisa berkutik. "Astaga, udah ngiler gue! Gimana nasibnya ini si akang?" batin Alan sambil menunduk.


Theresia keluar dari dalam kamar mandi dengan perasaan bersalah, "Maaf ya, A! Aku lupa kalo tanggal segini bakalan kedatangan tamu," lirih Theresia.


Alan memaksakan senyuman di wajahnya, "Gak apa-apa sayang, lain kali bilang sama tamu nya kalo gak di undang gak usah datang!"


Haah? Mana bisa, itu kan tamu bulanan! Kecuali Rere bunting, baru kaga dateng! Alan.. Alan...


"Yaudah kamu tidur gih, istirahat!" titah Alan lalu beranjak dari tempat tidur. Theresia mengerenyitkan dahinya, "Lho, Aa mau kemana?"


Alan menghela nafasnya, "Ngelonin dulu, kasian si akang udah bangun dari tadi, pegel hormat grak terus! Mesti di tidurin dulu!" ucap Alan sambil menunjuk sesuatu yang sejak tadi tak kunjung kendor.


Oh my God!


Wajah Theresia bersemu merah, melihat 'si akang' yang menurutnya itu menyeramkan sekaligus menggelikan. Cukup lama Alan berkencan didalam kamar mandi, dia memutuskan untuk berendam demi mengurangi hasrat nya yang sudah memuncak. "Maaf Mbak Shinzu, aku gak tertarik bermain denganmu. Aku gak mau kecebongku terbuang sia-sia," gumam Alan menengok pada sebuah merk body wash.


Tok.. Tok.. Tok..


"Aa! Lagi ngapain sih di dalem? Kok lama banget, kalo si akang gak tidur-tidur biar Rere kelonin!"


Alan mengacak rambutnya frustasi, "Udah kok, sebentar ya!" teriak Alan. Sungguh istrinya itu sangat menggemaskan, tapi dia harus menahan semuanya sampai seminggu kedepan. Alan beranjak dan segera memakai handuknya, untung saja dia berendam dengan air hangat.


"Nih, minum dulu teh manis angetnya. Nanti bisa-bisa Aa sama si akang jadi pilek!" ucap Theresia.


"Haaaahhh?? Pilek??" Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh cobaan berat bagi Alan. Terlebih saat ini sang istri tengah berbaring menggunakan baju tidur berbahan satin yang mencetak jelas bentuk tubuhnya.


Helaan nafas keluar dari mulut Alan, "Sabar ya, Kang! Seminggu lagi kita puasin makan kue legit, tanpa selai stroberry tentunya," batin Alan.


Dia ikut merebahkan diri disamping Theresia, lalu memeluk istrinya itu dengan erat. "Aku cinta sama kamu, Aa. Maaf malam ini aku belum bisa melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri," lirih Theresia.


"Gak apa-apa yank! Nanti kan bisa di rapel, sehari tujuh kali," ucap Alan dan mendapat cubiitan dari sang istri. "Minum obat aja sehari tiga kali, emoh lah sehari tujuh kali. Bisa-bisa aku ngesot nanti!"


Alan tertawa terbahak-bahak, "Kata siapa kalo sehari tujuh kali bikin jalan ngesot? Bukan ngesot lagi, tapi mungkin kamu gak akan bisa bangun," bisik Alan.


"Ckck, nyebelin! Teh Alana yang bilang, katanya kalo pertama kali anuan itu sakit. Sekali aja katanya ampe susah jalan, apalagi sampe tujuh kali. Aduh gak kebayang deh aku!" Theresia menutupi wajahnya dengan tangan.


Alan terkikik geli, "Inget si Mail, aku jadi inget ucapan si Ain! Waahh ternyata kutukan dia manjur, aku jadi kebanjiran pabrik fanta di malam pertama! Liat aja besok aku bejek-bejek dia!" kesal Alan.

__ADS_1


Cukup lama saling bercerita hingga membuat keduanya mengantuk, mereka tertidur nyenyak sambil saling berpelukan.


* * *


Suara adzan subuh berkumandang, Alan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Meskipun sedang dalam halangan, bukan berarti Theresia berleha-leha. Dia sudah bangun dan membersihkan diri, dia juga menyiapkan kebutuhan suaminya. Theresia membuatkan kopi dan camilan kecil untuk sang suami. "Indahnya pagi ini, dibuatin kopi sama istri," ucap Alan sambil mencium pipi sang istri.


Sejenak Alan terdiam melihat penampilan sang istri, Theresia menyadari itu. "Aku mau jadi istri yang mampu mejaga kehormatan suaminya, dosaku sudah terlalu banyak dan aku gak mau kalo Aa harus menanggung semua dosa-dosaku. Bimbing aku menjadi istri sholeha ya, A!"


Hati Alan menghangat dia menganggukkan kepalanya dan membawa sang istri kedalam pelukannya. Dia beruntung memiliki istri seperti Theresia, walaupun sejak awal tujuannya berbeda. Tapi kali ini semuanya berubah, Theresia adalah jawaban hidupnya. Alan bertanggung jawab sepenuhnya pada sang istri, rasa cinta terhadap Theresia pun semakin bertambah.


Pukul 7 pagi, Theresia dan Alan memutuskan untuk pergi ke Restoran hotel. Perut keduanya sudah berdemo minta diisi. Ternyata, keluarga besar mereka pun sebagian sudah ada disana. Ada yang sedikit berbeda dari Theresia, kini dia memakai hijab dan gamis dengan warna yang senada. Sungguh keluarga mereka sangat bahagia, Ummi Ulil menghampiri menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Masha Allah, menantu Ummi cantik banget!" pelukan hangat dirasakan oleh Theresia, kemudian dia teringat pada Mami dan Papi nya yang kini telah tiada.


Tangis haru pun dirasakan oleh Baba dan juga Alana, "Alhamdulillah, Re! Semoga istiqomah ya, kita sama-sama belajar!" Alana pun memeluk erat kakak iparnya itu. Sedangkan Alan memberengut kesal, sebab istrinya itu melupakan dirinya.


"Ckck! Gosah lebay! Enak aja kalian peluk-peluk istri Aa," kesal Alan menarik Theresia kedalam pelukannya. Sontak hal itu membuat Ummi Ulil dan Baba Jafran mengomel. "Kamu itu kan semaleman udah peluk-peluk, ngadonin, ngulenin, maraton! Masa iya gak puas!" kesal Baba Jafran.


Mendengar ucapan sang Baba, Alan menjadi semakin kesal. Pandangannya beralih pada Husain yang tengah asyik makan omelete dan nasi goreng. "Tuh! Gara-gara Bupati gesrek, pake kutuk-kutuk sumpah-sumpahin segala!"


"Uhuukk... Uhukkk...." Husain yang ditunjuk oleh Alan tiba-tiba tersedak. "Pelan-pelan Papoy, ampe keselek gitu!" Alana memberikan minum untuk sang suami.


"Kok gue? Emang gue ngapain?" tanya Husain dengan polosnya.


Alan menjitak kepala Husain dengan sendok, "Lu kemaren sumpahin gue apa? Kesel gue, Allah kabulin tuh sumpah lu! Sekarang tarik lagi dah sumpah serapah itu, gue keseellllll!!"


"Bhahahahahaha!!" Walaupun meringis, Husain tertawa terbahak-bahak ketika mengingat sumpah nya terhadap Alan. "Rasain lu! Kaga enak kan kebanjiran pas lagi sedep-sedepnya! Mampoooosss! Hahahahaha!"


Mendengar ucapan Husain, mereka menahan tawanya. Alan melihat itu dan memberengut kesal, sedangkan Theresia menunduk malu. Alan mengapit kepala Husain dengan ketiaknya. "Tarik kaga sumpah lu! Kalo kaga gue pitesin nih leher lu!"


Bugh!


Alana meninju lengan sang kembaran, "Lepasin laki gue! Enak aja mau lu pitesin, gimana judulnya entar anak gue! Lagian lu aneh-aneh aja si, sekalipun sumpahnya ditarik emang tu pabrik berhenti bocornya? Kan kaga! Sabar napa, gue aja gara-gara elu sebulan baru unboxing! Kita itu satu bali, mungkin elu juga unboxing nya......."


Alan membekap mulut Alana, "Kaga usah sumpahin gue! Lu bedua emang sama aja ye, seneng banget liat gue menderita!"


"Heh, lu mau bikin istri gue kehabisan nafas!" pekik Husain mencubit pinggang Alan. Sedangkan sang empu tak mau mengalah, akhirnya terjadilah aksi cubit-cubitan diantara Husain, Alan dan Alana.


Astaga!


Cyra dan Thoriq yang baru saja turun merasa heran, Cyra mengerenyitkan dahinya. "Astaga, Mas! Lihat absurd family! Pagi-pagi udah pake acara cubit-cubitan!" keduanya terkekeh melihat hal itu.


"Stooopppp!!!" suara Ummi Ulil yang melengking membuat mereka segera menutup telinganya, untung saja seluruh restoran itu di reservasi khusus untuk pemilik hotel.

__ADS_1


"Lu kebangetan ya! Astagpirulloh, maneh teh udah pada tua tapi kok ya bocah banget! Maul, lu kaga malu di liatin sama para pegawai? Jangan sampe ya ada berita 'Pemilik hotel main cubit-cubitan gara-gara gagal ngadonan ulen'. Kamu juga Bang! Piraku Bupati pecicilan, malu sama warga atuh! Gustiiiii.... lila-lila darah tinggi gue teh!" omel Ummi Ulil dengan panjang kali lebar kali tinggi.


Mereka semua memegang kepalanya yang terasa pusing, "Ajaib emang emak gue! Bisa ngomel dalam tiga logat dan bahasa, Indonesia, betawi dan sunda disatuin! It's so amazing!" gumam Alan.


Prok.. Prokk.. Prokkk...


"Terbaik emang istri Baba ini, udah lah dari pada ngomel-ngomel mending kita makan!" ajak Baba Jafran.


Canda tawa terdengar sepanjang acara sarapan pagi mereka. Hanya Ayah Fahri, Husain dan Mirda yang tidak bersuara. Sebab sejak dulu aturan dirumah mereka itu dilarang berbicara ketika makan.


Ada buncahan perasaan bahagia dari hati Alan, apalagi ketika melihat Theresia dan Cyra tersenyum dan tertawa lepas. Dia berjanji akan menjaga keduanya dengan baik, Theresia istrinya dan Cyra adalah sahabatnya sejak dalam kandungan.


"Kalian kan dapet tiket liburan dari Bang Mirda, gak jadi berangkat dong? Kan pabriknya masih banjir!" ledek Husain.


Alan mendelik kesal, "Jadilah! Kan di Bali bukan cuman mau ngadon doang, liburan atuh liburan! Refresh otak, kalo pabrik bocor kan masih bisa naik gunung!" ucap Alan tersenyum menyeringai.


"Halah, situ repot sendiri entar! Udah panas-panas keringetan naik gunung, tapi kaga bisa ngadem menikmati lembah bawah! Yang ada ya, itu uler belingsatan sendiri didalam kandang! Kalo mau, lewat lembah yang atas! Tapi harus tanya dulu sama istri lu, mau apa kaga!" celetuk Baba Jafran.


'Astaga! Se-absurd inikah mertuaku,' batin Theresia. Wajahnya kini sudah memerah karena sejak tadi di goda oleh keluarganya.


Pikiran Alan melayang jauh, 'lembah atas? oh my god!'. Alan menatap sang istri, lalu senyum-senyum sendiri. Dia mengerti kini yang di ucapkan oleh sang Baba. "Apa kaga akan kepenuhan kalo masuk lembah atas?" celetuk Alan membuat Theresia membulatkan matanya.


'Suamiku.. Oh suamikuu... Ingin ku sumpal mulutmu itu dengan bibirku!' batin Theresia. Eh.......


Suasana semakin tidak kondusif, sebagian dari mereka yang mengerti bahasa absurd itu memutuskan untuk pergi saja. "Mamoy, kita ke kamar yuk! Bahaya disini, takut si dedek terkontaminasi!" bisik Husain.


"Mas, kuping aku sakit, gerah! Kayaknya jalan-jalan di taman enak, daripada dengerin keluarga absurd ini!" bisik Cyra. Thoriq setuju, dia menggandeng tangan sang istri. "Pikiran Mas jadi travelling, yank! Berasa dapet ilham kalo kamu lagi halangan," bisik Thoriq.


Wohooooo... Virus absurd family sudah menyebar kemana-mana... Apakah kalian juga terkontaminasi, reader???? πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜


* * * * *


ADA YANG RINDU SAMA RINDU GAAAKK???


Maaf kemaren Rindu sibuk di dunia nyata, hingga tak bisa menyapa para readers semua..


Jangan kecewa, ya!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2