Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Konferensi Meja Bumi


__ADS_3

Husain dan Alana kini tengah duduk berdampingan, mereka sedanh di interogasi bak seorang tersangka. Setelah celetukan Alan kemarin, Bunda Gisya dan Ummi Ulil meminta semuanya untuk berkumpul. Karena Elmira masih dalam masa perawatan, maka Bunda Gisya meminta Indira untuk menemani sang Kakak dirumah sakit.


Bunda Gisya dan Ummi menatap tajam keduanya, sedangkan Baba dan Ayah sedang asyik menikmati wajah istri mereka yang menurut mereka menggemaskan.


"Hari ini kita mengadakan Konferensi meja Bumi!" bisik Alan pada Cyra.


"Haaaa? Maksudnya?" bisik Cyra yang tak mengerti.


"Konferesi omelan dan jeweran Bunda sama Ummi," ucap Alan membuat Cyra tertawa terbahak-bahak.


Netra mereka semua kini menatap Alan dan juga Cyra, hingga membuat mereka terdiam.


"Kalian ngetawain apa?" ketus Ummi pada sang anak.


"Eh, enggak Mi, itu tadi si Alan...." ucapan Cyra terhenti karena Alan menyikut lengannya.


"Itu tadi si Cyra dikelitikin sama Aa, Mi!" bohong Alan hingga Cyra melotot kearahnya.


"Duduk manis dan jangan berisik!" titah Ummi Ulil dan mereka berdua mengangguk patuh.


Ummi Ulil menatap Husain dan Alana secara bergantian.


"Jadi bisa kalian ceritain gimana judulnya? Kok mau kawin gak bilang dulu sama kedua orangtua kalian?" tanya Ummi Ulil sambil melipat kedua tangan didada.


"Nikah, Lil! Kawin kawin, emang mereka kambing!" ketus Bunda Gisya.


"Monyet mereka mah, Bun!" celetuk Alan mendapat jeweran dari sang Baba.


"Jangan masuk ke kandang singa!" bisik Baba dan Alan mengangguk patuh.


Husain dan Alana menghela nafasnya, niat mereka hanya ingin menikah sederhana saja.


"Gini, gini ya, Bunda, Ummiku sayang. Aku sama Abang, memang niat menikah minggu depan. Kita cuman pengen akad dulu, Mi, Bun," ucap Alana pada keduanya.


"Kenapa akad doang? Emang kamu nabung sama si Abang?" ketus Ummi Ulil.


"Iya Ummi, aku sama Abang udah nabung," sahut Alana membuat Ummi Ulil dan Bunda Gisya melotot tajam kearah keduanya.


"Udah berapa bulan?!" bentak Ummi Ulil membuat Alana menunduk.


Baba Jafran tak terima, dia menghampiri Husain dan menarik kerah bajunya.

__ADS_1


"Udah berapa bulan?! Cepet bilang!" geram Baba Jafran.


"Se-sebelas bulan, Ba!" gugup Husain sambil ketakutan.


"Haaaaaa?? Sebelas bulan?" ucap para orangtua berbarengan.


"Tunggu! Kalian nabung begini?" tanya Ummi Ulil sambil menyatukan kedua tangannya.


Alana dan Husain melotot melihat keduanya.


"Astaghfirulloh, kalian pikir kita gak punya iman apa?" kesal Husain pada mereka.


"Yaa maaf! Kan kita sebagai orangtua khawatir," lirih Bunda Gisya.


"Kita kira tuh nabung yang onoh, makanya kita snewen. Maaf, ya!" sesal Ummi Ulil.


"Makanya ya, kalo punya otak itu jangan ngeres! Pantes aja Aa otaknya ngeres, orang nurun dari Ummi sama Baba," celetuk Alan membuat kedua orangtuanya menatap kesal.


"Itumah emang otak kamu udah terkontaminasi! Enak aja nyebut turunan," ketus Baba Jafran.


Mereka kembali ingin mendengar penjelasan Alana dan Husain, sebab waktu yang mereka katakan itu sudah mepet.


"Sekarang kalian jelasin, sejelas-jelasnya! Jangan sampe ada miss komunikasi kaya tadi lagi, jangan lupa pake bahasa manusia yang baik dan benar!" titah Ayah Fahri.


"Oke!" jawab mereka serempak.


Husain menggenggam tangan Alana, lalu menatap kedua orangtuanya sambil tersenyum.


"Begini semuanya, Abang sama Alana udah setuju buat akad nikah dulu minggu depan. Acaranya sederhana aja, cukup keluarga kita sama kerabat deket yang dateng. Abang udah nabung, dan Abang ingin akad nikah ini adalah hasil jerih payah Abang sendiri. Sebagai laki-laki, nantinya Abang akan menjadi seorang pemimpin rumah tangga. Dan InshaAllah jika Allah mengizinkan, Abang juga akan menjadi seorang pemimpin daerah. Bukannya Abang tidak menghormati Ummi, Bunda, Ayah dan Baba, bukan! Tapi Abang cuman pengen, akad nikah ini hanyalah jerih payah Abang. InshaAllah, setelah selesai pemilihan baru Abang dan Alana akan mengadakan resepsi pernikahan. Itupun rencananya Abang ingin mengadakan pesta rakyat, dimana semua warga Abang bisa ikut merayakannya," tutur Husain menjelaskan panjang lebar.


Bunda Gisya menitikkan airmatanya, ketika mendengar penjelasan Husain.


"MashaAllah, anak Bunda udah dewasa," lirih Bunda Gisya.


"Camanku, Yaa Allah! Ummi tersentuh, Nak," ucap Ummi Ulil. "Tuh! Kamu tuh harusnya kayak si Abang, A! Dia mah bisa mikir sejauh itu, lah kamu? Soal bisnis mah, juara! Ummi akuin, tapi naha meni soal jodoh kamu harese! Udah ada Neng Rere, eh belom mau diajak kawin!" sindir Ummi Ulil pada Alan.


"Ummi, kan tau sendiri yayank Aa mah masih kuliah! Sabar napa, Mi. Suruh si Mail aja dulu, biar spesies sejenis Ummi berkurang satu dirumah," ucap Alan dengan santainya.


"Dasar budak gelo! Emang Ummi teh manusia purba, pake disebut spesies sagala!" kesal Ummi Ulil menjitak kepala Alan.


"Yaa Allah, cocok banget jadi judul sinetron ratapan anak tiri," Alan berucap seolah teraniaya.

__ADS_1


Mereka tertawa bahagia, Ayah Fahri menatap sang putra dengan penuh rasa bangga.


"Ayah bangga sama kamu! Tapi ingat, resepsi pernikahan nanti biarkan Ayah dan Baba membantu kalian. Bukan berarti kami tidak menghargai jerih payah kalian, tapi anggaplah semuanya yang kami berikan ini sebagai kasih sayang dari orangtua terhadap anaknya. Jadi kalian berdua tidak boleh menolak," tegas Ayah Fahri.


"Makasih banyak ya, Ayah!" ucap Alana berhambur memeluk Ayah Fahri.


"Dasar anak durjanah, Baba kamu ini woy!" kesal Baba Jafran berkacak pinggang.


"Hm, siapa ya?" goda Alana membuat Baba mencebik kesal.


"Ck! Kamu gak tau apa, ngadonin kamu itu butuh perjuangan pagi, siang, sore dan malam! Giliran udah terbentuk, kamu malah begini. Sungguh kamu, ter-la-lu," ucap Baba Jafran membuat mereka semua tertawa.


Akhirnya, Husain dan Alana sudah mendapat persetujuan dari keluarganya. Tinggal menghubungi yang lain, yang kini tinggal diluar kota.


"Cyra! Kamu nanti hubungin Mama Eby, ya! Kita cuman mau semua catering kamu sama Mama Eby yang atur," pinta Alana.


"Siap bossque! Huaaa kalian jadinya ngelangkahin aku," rengek Cyra memeluk Alana.


"Hehehe, maaf ya! Lagian gak lama kan jaraknya, dua bulan lagi kan?" tanya Alana dan Cyra mengangguk.


"Yaa Allah sabarkanlah diriku yang masih menanti ini, atau bukakanlah pintu hati kekasihku agar cepat mau dikawinin, Yaa Allah," ucap Alan berdo'a hingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Bunda Gisya dan Ummi Ulil menatap putra putri mereka yang kini tengah bercanda tawa.


"Ca, alhamdulillah kita besanan! Ucapan aku dulu jadi kenyataan, ya. Aku bahagia banget, Ca. Ikatan persahabatan orangtua kita, berlanjut hingga ke anak cucu. Semoga sampai Jannah nanti, ya," ucap Ummi Ulil dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Lil. Aku juga gak nyangka bakalan besanan sama kamu. Emang gak semua keluarga selalu berhubungan darah, seperti kita ini. Waktu yang paling menyenangkan adalah saat kita bercengkrama, menjaga hangatnya kebersamaan menggulirkan banyak detik dalam keceriaan. Persahabatan kita dilandasi keihlasan dan kasih sayang, dan telah melahirkan keabadian dalam kebersamaan," ucap Bunda Gisya memeluk sahabatnua itu.


Sedangkan Husain, kini dia tengah menatap wajah cantik sang calon istri. Dia tidak menyangka akan jatuh cinta pada gadis seperti Alana. Gadis pecicilan dan tak pernah mau diam, sejak kecil Husain sangat tidak suka pada Alana. Tapi pada akhirnya cinta yang membuatnya takut kehilangan Alana.


"Kamu adalah alasanku tetap menjaga hati dan terus memperbaiki diri. Jiwaku hanya melihatmu dan berkata ‘akhirnya aku menemukanmu setelah ku mencari sekian lama'. Aku tidak mau sebuah akhir yang bahagia. Aku ingin selamanya bahagia bersamamu karena aku tak akan pernah mau kita berakhir. Di luar sana memang banyak yang lebih baik. Namun, sesederhana apa pun dirimu, engkau tak tergantikan dengan siapa pun, Ariella Alana Putri Maulani," batin Husain.


* * * * *


Siapa yang mau bantuin othor? Mau hajatan lagi ini...


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2