
Langit pagi ini sedikit mendung, sama seperti suasana hati Gisya. Dia kembali mengingat percakapannya tadi pagi bersama sang suami. Gisya sedang mempersiapkan mentalnya untuk ditinggalkan bertugas oleh Fahri.
"Jadi Abang ikut ditugaskan ke Kongo? Bukan ke Lebanon?" tanya Gisya.
"Iya sayang, Abang ditugaskan disana bersama Bang Dzikri dan beberapa anggota yang lain. Sedangkan Bang Kemal yang dikirimkan ke Lebanon."
"Bukannya di Kongo itu sering terjadi penyerangan Bang?" tanya Gisya khawatir.
Fahri melihat kekhawatiran dimata Gisya, dia mulai memeluk dan mengelus kepala sang istri dengan lembut. Fahri memberi pengertian pada Gisya mengenai tugasnya.
"Abang ditugaskan kesana sebagai Pasukan Perdamaian PBB. Sudah tugas dan kewajiban Abang mengemban amanah tugas itu. Abang minta do'a Adek selalu, supaya Abang bisa pulang ke Tanah Air dengan selamat." pinta Fahri pada sang istri.
"Abang harus pulang dengan selamat! Adek akan selalu nunggu Abang pulang disini. Kalo sempat, Abang harus kasih kabar." isak Gisya dalam pelukan Fahri.
"Sstt.. Udah jangan nangis, Abang pergi cuman 1 tahun sebagai Kontingen Garuda XX. Selalu do'akan Abang, tunggu Abang pulang. InshaAllah kita bisa melewati semuanya sayang." ucap Fahri menenangkan.
Saat Gisya sedang memasak, dia terlalu banyak melamun. Hingga tidak menyadari jika masakannya itu sudah gosong. Mama Risma yang sudah berada disana sejak pagi, dibuat kaget dengan bau gosong dan kompor yang berasap.
"Astaghfirulloh, Caca. Masakannya gosong sayang!" teriak Mama Risma.
"Yaa Allah, maaf Ma." ucap Gisya lalu mematikan kompor yang sudah berasap itu.
"Awwww!" teriak Gisya ketika dia menyentuh wajan panas.
Fahri yang sedang menyiapkan peralatannya tersentak ketika mendengat teriakan istrinya. Dia segera berlari menghampiri Gisya.
"Yaa Allah sayang! Kenapa kamu gak hati-hati, Dek." ucap Fahri sambil mengecap jari istrinya tanpa rasa jijik. "Hati-hati dong, sayang."
Gisya mulai terisak dan memeluk Fahri dengan erat. Risma mampu mengerti perasaan menantunya itu. Karena dulu pun dia pernah mengalaminya.
"Udah bawa Caca istirahat ke kamar, biar Mama yang masak." tutur Risma.
Gisya berjalan dipapah oleh suaminya, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Fahri membaringkan tubuh Gisya, lalu mengecup keningnya.
"Abang jadi berat meninggalkan kamu, Dek." lirih Fahri.
__ADS_1
"Maafin Adek ya, Bang. Sekarang Adek mulai cengeng." ucap Gisya terisak.
"Gak apa-apa, Abang maklumi. Apalagi pernikahan kita baru seminggu, tapi Adek harus ingat nasehat Bu Danyon. Istri seorang prajurit harus kuat dan setia menanti kepulangan suami. Dan Abang yakin, Adek mampu sayang." tutur Fahri.
Fahri dan Gisya menghabiskan waktu mereka bersama hari ini, karena Gisya ingin memuaskan diri bersama suaminya. Mereka jalan-jalan, makan siang bersama hingga Fahri menemani Gisya untuk mengecek Tokonya. Malam ini rumah Fahri lebih ramai, Risma dan Syifa menginap disana agar bisa menemani Gisya melepas kepergian Fahri untuk bertugas. Gisya terus saja memeluk erat tubuh suaminya.
"Kalo kamu nemplok terus kaya gini, bisa-bisa disana Abang gak bisa tidur sayang."
"Biarin, biar Abang cepet pulang." ucap Gisya manja.
"Duh, Abang jadi gemes. Boleh Abang minta hak Abang?" bisik Fahri.
"Malam ini Adek milik Abang, lakukan semua yang Abang mau." ucap Gisya.
"Jangan berisik ya, sayang. Ada Bunda sama Mama." bisik Fahri.
Fahri meluapkan rasa yang bergelora didadanya. Dia ingin mendapatkan sebuah energi kekuatan dari istrinya. Memang sangat berat, tapi demi Tugas Negara dia harus melakukannya.
"Cepet hadir disini ya, sayang." ucap Fahri mengecup perut Gisya.
"Aamiinn, Ayah." bisik Gisya.
Setelah saling melepas rasa rindu, Gisya dan Fahri tidur saling memeluk dengan erat. Karena malam ini adalah malam terakhir mereka tidur bersama.
Suara Adzan Subuh berkumandang, Gisya dan Fahri melaksanakan sholat berjama'ah berdua dikamar milik mereka. Gisya sudah menyiapkan Ransel besar yang akan dibawa oleh Fahri. Dia menyiapkan seragam loreng milik suaminya, sungguh rasanya berat. Tapi Gisya menguatkan dirinya. Mereka semua sudah berkumpul dirumah Fahri, termasuk Yuliana dan Jafran. Gisya terus menempel pada suaminya.
"Ca, ente nempel sama si Fahri begitu udah kaya ulet bulu!" celetuk Jafran.
"Ish! Dasar laki gak peka! Wajar dong kita cewek nempel sama suami sebelum ditinggal tugas. Aku mah mending ditinggal kamu terbang cuman seminggu 2 minggu, lah si Caca ditingg setahun, Ba! Jadi wajar dong!" kesal Yuliana pada suaminya itu.
Jafran menghela nafasnya panjang, sementara yang lain sudah tertawa melihat kelakuan mereka berdua. Tapi semua itu tidak mengurangi kegelisahan hati Gisya.
Kini mereka semua sudah berkumpul di Lapangan Batalyon. Komandan Batalyon melepaskan sekitar 50 prajurit ke Kongo dan 80 prajurit ke Lebanon. Mereka tergabung dalam Kontingen Garuda yang terdiri dari TNI AD, TNI AL dan TNI AU.
"Sebagai pasukan pemelihara perdamaian dunia, TNI membawa misi Negara. Baik dari aspek militer, politik, diplomasi maupun budaya. Berbagai penugasan prajurit TNI dalam misi perdamaian dunia selalu menuai keberhasilan, termasuk pendekatannya kepada masyarakat dalam rangka mendukung pencapaian tugas pokok. Satuan ini selama melakukan tugas tidak ada pelanggaran, dan kembali dalam keadaan selamat semua. Sehingga, salah satu bentuk apresiasi pimpinan TNI. Maka, Batalyon ini berkesempatan untuk melaksanakan tugas operasi dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia di bawah PBB di Negara Kongo selama Satu Tahun. Semoga seluruh prajurit dapat melaksanakan tugas ini dengam baik dan kembali dengan selamat. Ingat! Ada keluarga yang menanti kepulangan kalian ke Tanah Air." ucap Komandan Batalyon.
__ADS_1
Semua keluarga yang mengantarkan tugas, menangis penuh haru. Fahri meminta ijin kepada kedua Ibunya.
"Abang pamit Ma, Bun. Do'akan Abang sehat dan selamat. Jaga kesehatan Mama dan Bunda." Ucap Fahri sambil memeluk kedua Ibunya.
"Kami akan selalu mendo'akan kamu, Nak." ucap Risma.
"Semoga kamu sehat dan kembali dengan selamat. Ingat kami menunggumu." Ucap Syifa.
Fahri lalu mencium kaki kedua Ibunya meminta restu. Lalu dia berpamitan pada Yuliana dan Jafran. Fahri memeluk Jafran dengan erat.
"Aku titip istriku pada istrimu ya. Biarkan mereka saling menjaga dan menguatkan. Hati-hati jika sedang terbang, kita saling mendo'akan." ucap Fahri.
"Ah elah! Ente bikin ane kayak emak-emak deh! Pake ngomong begitu segala. Pokoknya ente harus balik kemari dengan selamat." tutur Jafran dengan isak tangis.
"Baba! Kan jadi sedih Umminya." ucap Yuliana dengan berkaca-kaca.
Fahri lalu menghampiri istrinya yang sedari tadi sudah berdiri dengan gelisah. Dia berhambur memeluk istrinya.
"Jangan menangis sayang, kuatkan dirimu. Abang yakin istri Abang ini perempuan yang tangguh. Selalu do'akan Abang dalam setiap sujudmu. Jaga dirimu baik-baik selama Abang bertugas. Abang akan pulang dengan selamat, tunggu Abang pulang ya sayang." Ucap Fahri lalu mencium wajah istrinya bertubi-tubi.
"InshaAllah Adek akan jaga diri baik-baik, Adek akan selalu setia menanti kepulangan Abang. Pulanglah dengan selamat, Adek akan selalu mendo'akan Abang dalam setiap sujud dan hembusan nafas." ucap Gisya.
Fahri bersujud, dia mencium perut istrinya dan mengusapnya lembut.
"Semoga kamu segera hadir disini, anak Ayah." bisik Fahri.
Kini Fahri sudah masuk kedalam Truk TNI yang akan mengantarkannya pergi bertugas. Gisya terus melambaikan tangannya dengan deraian airmata dipipinya. Gisya diapit oleh kedua Ibunya. Mereka saling menguatkan dan saling mendo'akan.
"Aku akan selalu setia menantimu, prajuritku." ucap Gisya dalam hati.
* * * * * *
Waahhhh... Author SAD lagiii 😭😭
Do'ain Bang Fahri yaa Readerrr...
__ADS_1
Dukung terus Author ya!
Salam Rindu, Author ❤