
Dengan derap langkah yang cepat, Jafran menghampiri Ummanya yang saat ini sedang mengobrol bersama Bunda Syifa.
"Umma! Liat nih kelakuan menantu Umma." ucap Jafran yang membuat Nadia kaget.
"Anak jurig ya kamu A! Salam dulu kalo datang tuh!" kesal Umma Nadia yang membuat Fahri dan Syauqi yang baru datang tertawa.
"Cemburu menguras bak mandi itu teh Umma judulnya." celetuk Syauqi.
"Diem kamu Malik! Umma, liat masa Ulet pucuk aku nempel sama lakik." rengek Jafran sambil memperlihatkan foto Yuliana.
Umma Nadia yang sudah mengetahui rencana menantunya, tertawa dalam hati.
"MashaAllah, ini mah gambaran keluarga bahagia banget!" ucap Umma yang membuat Jafran memelototkan matanya.
"Umma macam apa yang ngomong gitu! Liat menantu Umma deket-deket sama yang bukan mahramnya!" kesal Jafran.
"Hih sok-sokan kamu, A. Apakabar kamu yang kemaren niat poligami?" ledek Umma.
"Noh kan! Makan tuh Karma, emang enak!" ledek Syauqi.
"Yang enak mah Korma! Manis-manis legit." goda Fahri.
"Dasar keluarga sengklek, malah ngeledekin! Aku mau berangkat ke Jogja, mau aku susul itu Ulet pucuk sama anak tuyul!" ucap Jafran penuh dengan emosi.
Mereka menahan tawanya ketika melihat amarah Jafran. Fahri menemani Jafran untuk pergi ke Jogja. Sekalian dia mengurusi kepindahan tugasnya kesana. Sedangkan Umma Nadia beserta yang lainnya akan menyusul. Sepanjang perjalanan menuju Jogja, Jafran hanya diam. Terlihat amarah yang membuncah diraut wajahnya.
"Istighfar, Ba. Mudah-mudahan mah yang kamu lihat tidak sesuai kenyataan. Siapa tau mereka ketemu gak sengaja kan disana. Positif thingking ajalah." ucap Fahri.
"Enak bener ente ngomong! Pulen! Ini hati sakitnya minta ampun, Ri." kesal Jafran.
Fahri tertawa puas dalam hatinya melihat Jafran. Setelah sampai di Jogja, Fahri sengaja mengulur waktu untuk menemui Gisya. Pasalnya istrinya itu belum selesai mempersiapkan kejutan untuk sang merpati. Fahri baru saja memberikan berkas-berkas untuk kepindahannya.
"Lama banget sih, Ri! Kapan ini kita kesananya!" kesal Jafran.
"Sabar dong, Ba. Ini surat-surat baru kelar, sekarang makan dulu! Laper!" ucap Fahri.
"Wah ente bener-bener ya, Ri. Lagi begini gimana bisa makan!" ucap Jafran emosi.
"Yaudah gih samperin aja sendiri kalo tau alamatnya! Aku mah lapar, butuh asupan energi. Butuh tenaga buat tenangin orang patah hati." ucap Fahri meninggalkan Jafran.
Mau tidak mau, Jafran mengikuti Fahri. Pasalnya baik Gisya ataupun Febri tidak ada yang mau mengangkat telponnya. Jafran terus menggerutu dalam hatinya.
"Cepetan sih makannya! Lama banget, biasanya juga tuh huap gede!" kesal Jafran.
"Baba jangan marah-marah, nanti Baba lekas tua. Ayah mah selow orangnya," jawab Fahri dengan nyanyian yang membuat Jafran semakin kesal.
"Yaa Allah tabahkanlah hati hamba dalam menghadapi orang-orang macam dia! Kalo boleh suruh keselek aja, biar mati cepet!" ucap Jafran yang emosi.
"Amit amit! Dasar merpati sengklek! Pamali do'ain orang begitu!" kesal Fahri.
"Makanya cepetan FPP! Lama amat sih, si amat juga gak betah lama-lama!" ucap Jafran meninggalkan Fahri.
Sesuai skenario, Zaydan berpura-pura jika motor yang digunakannya mogok. Bagai angin segar bagi Jafran, setengah berlari dia menghampiri Zaydan.
"Idaaaannnn!!" teriak Jafran yang membuat Zaydan menoleh.
__ADS_1
"Loh, kok Baba bisa ada disini? Bukannya masih terbang?" tanya Zaydan.
"Panjang ceritanya! Niat pulang cepet pengen nyusul istri, gak taunya dapet shock terapi. Kamu tau kan dimana istriku?" tanya Jafran pada Zaydan.
Belum juga Zaydan menjawab, Fahri menghampiri mereka. Dia mengajak Zaydan mengobrol mengenai tugas dan kesatuan mereka yang baru. Jafran yang merasa terabaikan memukul bamper motor yang ada dihadapannya hingga patah.
"Anterin sekarang atau enggak!" ucap Jafran penuh amarah.
Akhirnya Zaydan dan Fahri mengantarkan Jafran ke TKP. Disana semuanya sudah berkumpul, termasuk Umma, Bunda dan Mami Lia. Jantung Yuliana berdegup kencang ketika mendengar bahwa sang suami sudah menuju ke tempat kejutan. Terpaksa mereka mempercepat kejutan untuk Jafran, karena Jafran pulang lebih cepat. Dan itu semua diluar dugaan mereka.
Jafran mengerenyitkan dahinya, ketika mereka memasuki area Floating Resto Sleman. Suasana disana sungguh menenangkan, pikiran Jafran mulai melayang kemana-mana. Secepat kilat dia turun dari mobil dan mulai mencari keberadaan istrinya. Zaydan dan Fahri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Langkah Jafran terhenti, ketika melihat istri dan kedua anaknya sedang berdiri ditengah jembatan pengubung menuju saung-saung tempat makan. Yuliana menebar senyuman terbaiknya dihadapan sang suami. Perlahan Jafran menghampiri istrinya itu, langkahnya semakin cepat dan dia berhambur memeluk Yuliana.
"Ummi nakal! Kenapa mau cari pengganti Baba? Apa Ummi mau balas dendam?" ucap Jafran terisak dalam pelukan istrinya.
"Ba, itu ingus nanti nempel dibaju Ummi!" ucap Yuliana berusaha melepaskan pelukannya.
"Bodo amat! Ummi itu hanya milik Baba, sampe kapanpun!" tegas Jafran.
Umma Nadia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya.
"Heh anak durjanah! Mau pelukan aja disono?" teriak Umma Nadia.
Jafran melepaskan pelukannya dan menatap sekeliling, dilihatnya seluruh keluarganya ada disana. Termasuk kedua mertuanya yang sedang bertugas diluar negri. Lalu dia menatap tajam pada Fahri dan Zaydan juga Gisya dan Febri.
"Selamat Ulangtahun merpatiku sayang, suamiku, Baba dari anak-anakku. Semoga semakin bertambahnya usia, Baba semakin dewasa dan bisa menyikapi segala hal dengan penuh kesabaran. Ummi sayang Baba, barakallah suamiku." ucap Yuliana sambil menggenggam kedua tangan suaminya itu.
Dengan cepat, Jafran membawa Yuliana dalam pelukannya.
"Hih suami durjanah! Salah sendiri pulang kecepetan!" ucapp Yuliana.
"Niat Baba mau kasih kejutan ke Ummi, malah Baba yang terkejut. Makasih banyak ya, sayang." ucap Jafran sambil mencium kening istrinya itu.
Namun, moment romantis mereka harus terhenti karena kedua anak mereka.
"Angan tium-tium Ummi!" kesal Alan sambil menarik baju Jafran.
"Peyuk Ayana, Baba! Angan peyuk Ummi!" kesal Alana menarik celana Jafran.
"Yaa Allahu Robbi, lagi romantis ini anak tuyul ganggu aja. Yaudah sini Mail, Baba gendong!" ucap Jafran pada putrinya.
"Ayana! Butan Maiy!" kesal Alana menggeplak pipi Babanya.
"Aduh! Sakitt tau! Baba umpanin kamu buat ikan tau rasa!" gemas Jafran.
Dia berjalan menghampiri Ummanya dan memeluknya.
"Terimakasih Umma, Aa beneran terkejut dengan semuanya. Maafin Aa belum jadi anak yang baik buat Umma. Do'akan Aa selalu ya, Umma." lirih Jafran.
"Do'a Umma selalu menyertai kamu, Nak. Jadilah pemimpin rumah tangga yang sabar, semakin tinggi padi semakin kencang angin menerjangnya. Sebagai kepala rumah tangga, kuatkan imanmu. Jangan sakiti istrimu, bahagiakan dia. Maka rezeki akan terus mengalir untukmu." ucap Umma.
Setelah itu dia menghampiri dua pasang anak manusia yang sedang tertawa terbahak-bahak. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran Jafran disana.
"Bagus ya! Bagus banget! Berhasil bikin Baba esmosi dan jantungan!" kesal Jafran.
__ADS_1
"Sorry deh Ba! Gantian ya bikin jantunganya. Selamat Ulangtahun Baba, semoga yang belum tercapai segera tercapai. Pokoknya seluruh untaian do'a yang baik, aku dan Bang Fahri ucapkan untukmu Ba." ucap Gisya.
"Iya Ba, Met Ultah ya! Semakin tua makin dewasa ya, jangan semakin tua semakin jadi! Do'anya sama kaya yang lain, jadi gak usah kusebut ya!" ucap Febri.
Jafran berhambur memeluk keduanya, yang sejak kecil tumbuh bersama-sama. Namun kedua lelaki itu segera menarik pasangan mereka.
"Enak aja maen peluk-peluk, aku aja belum bisa peluk!" ucap Zaydan menarik Febri.
"Kasian anakku engap! Gak perlu peluk-peluk." ucap Fahri memeluk istrinya.
"Dasar bucin! Itu pelukan sahabat loh ya, giliran situ aja boleh peluk-peluk!" kesal Jafran.
"Mohon maaf, sudah terverifikasi halal!" ucap Fahri mencium kening istrinya.
Mereka berkumpul bersama, tertawa riang gembira. Tak tanggung-tanggung, mereka menyewa empat saung untuk makan-makan keluarga mereka.
"Mami seneng, kamu harus selalu bahagiain anak Mami." ucap Mami Lia pada Jafran.
"Itu pasti Mi, do'akan kami selalu ya. Dimanapun Mami dan Papi berada." pinta Jafran.
"Tanpa diminta pun, Mami dan Papi akan selalu mendo'akan kalian. Ngomong-ngomong pemeran utama di foto itu siapa?" tanya Mami.
"Itu suaminya pegawai Ebiw, Mi. Mereka juga yang bantuin ngasuh anak-anak, betah banget anak-anak kalo sama mereka." jawab Febri.
Jafran menepuk jidatnya, sungguh dia merasa bodoh dengan tingkahnya.
"Terus kemana mereka? Kenapa gak diajak?" tanya Jafran.
"Emoh lah, kita suruh balik toko. Takut kamu sruduk kan bahaya Ba!" jawab Gisya.
"Heh bumil! Emangnya ane banteng apa sradak sruduk! Kalo kagak lagi bunting, ane pitesin deh itu leher!" kesal Jafran.
"Hmmm.. Berani pitesin leher istriku, jadi makanan buaya kamu Ba!" ucap Fahri.
Mereka tertawa melihat ekspresi wajah Jafran yang terkejut.
"Ampun Kapten! Gak berani saya," ucap Jafran sambil mengelus tangan Fahri.
"Hilih, ngapain elus-elus tangan! Lagian kalo dikasih ke buaya mereka gak akan suka daging kamu, Ba!" ucap Fahri yang membuat Jafran terheran.
"Loh, maksudnya gimanaa?" tanya Jafran.
"Kanibal dong! Masa buaya makan daging buayaa! Hahahahaaha." Fahri tertawa terbahak-bahak.
"Sialan! Kapten kampret kamu, Ri." kesal Jafran.
Kebahagiaan tersendiri bagi mereka bisa berkumpul dan tertawa bersama seperti ini. Sebelum jarak dan waktu yang memisahkan kebersamaan mereka.
* * * * *
Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..
Ini hanya imajinasi Author aja ππβ
Dukung terus Author yaa β€
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€