
Sejak pagi buta, Husain sudah berada dirumah Alana, dia berniat menjemput sang kekasih karena hari ini mereka akan ikut menjemput Mirda yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Tapi sebelum berangkat, mereka akan menjenguk para korban kecelakaan kemarin. Karena Alana dan salah seorang Polisi bernama Rama yang menjadi walinya.
Alana tampak cantik dengan menggunakan celana jeans longgar dan blouse selutut, ditambah dengan hijab bermotif bunga lily pemberian Husain.
"Abang ngeliatinnya gitu banget!" SahutAlana yang gugup.
"Kamu cantik!" satu kata melucur dari mulut Husain, membuat pipi Alana bersemu merah.
"Ish! Masih pagi udah gombal aja!" ucap Alana mencubit pinggang Husain.
"Aw! Lagii dong," goda Husain membuat Alana semakin malu.
Ketika mereka sedang menikmati keromantisan, tiba-tiba suara deheman membuat keduanya terperanjat kaget.
"Ekheeemmmmm......!"
"Astaghfirulloh, Baba! Bikin kaget aja!" kesal Husain sambil memegang dadanya.
"Ck! Berani kamu Bang marah sama Camer?" tanya Baba Jafran songong.
"Haaaaa? Marmer? Apaan tuh, Ba?" tanya Alana yang heran membuat Husain tertawa.
"Dasar budeg! Camer woy bukan marmer!" kesal Baba Jafran.
"Yaa Allah si Baba! Anak sendiri dikatain! Dahlah malesin! Kuy kita capcus, Bang! Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu," ucap Alana sambil menarik tangan Husain.
Baba Jafran memberengut kesal mendengar ucapan Alana.
"Dasar anak semprul! Anak siapa sih?!" kesal Baba Jafran sambil meninju angin.
"Ya anak situlah! Kan modelannya juga kaya situ!" ucap Ummi Ulil lalu melewati suaminya begitu saja, dia sengaja menggoda suaminya dengan menggunakan daster diatas lutut.
"Allahuakbar! Bini guee mulus bener! Mumpung anak-anak kaga ada, bisa kali!" ucap Baba Jafran yang sangat antusias.
Diam-diam, Baba Jafran berjalan mengendap-endap. Dia ingin segera memeluk sang istri yang tengah memasukan cucian kedalam mesin cuci.
"Ummi....... Bikin adonan yuk!" ucap Baba Jafran sambil memeluk sang istri.
"Ish! Dah tua juga masih doyan ngadon! Malu sama anak!" ketus Ummi Ulil.
"Eh jangan salah, Mi. Biarpun udah tua, tenaga Baba mah masih kaya seumuran si Maul! Gak percaya?!" goda Baba Jafran mencium pipi Ummi.
"Percaya! Tapi masalahnya..." ucapan Ummi terpotong oleh Baba.
"Apa? Anak-anak gak ada dirumah, Mi! Si Maul lagi dibogor, si Mail dah pergi! Aqeela juga lagi di Rumah Uti nya, jadi aman!" ucap Baba Jafran dengan antusiasnya.
"Masalahnya Ummi lagi PMI!" ketus Ummi Ulil.
Duaaarrrrr!
Tubuh Baba Jafran menjadi lemas setelah mendengarkan ucapan istrinya itu.
"Kalo lagi PMI ngapain pake baju daster seksi!" gerutu Baba Jafran.
"Sengaja! Manasin doang, udah lama gak dipanasin kan?!" goda Ummi Ulil sambil menoel dagu suaminya yang tengah memberengut kesal.
"Huft! Dikata punya gua motor mesti dipanasin segala!" kesal Baba Jafran saat sang istri pergi begitu saja.
Kita kembali pada pasangan Alana dan Husain, saat ini Alana tengah menyelesaikan administrasi para korban. Meskipun sang pelaku sudah bertanggung jawab, tapi Alana tetap saja ikut memberikan sumbangan pada para korban yang kebanyakan siswi SMP itu. Kali ini Alana sedang menandatangani surat pernyataan, bahwa kasus ini diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
Alana menandatangani berkas sebagai seorang saksi, tentu saja bersama Iptu Rama.
"Hari ini kita sama-sama menandatangani berkas saksi, siapa tau si kemudian hari kita sama-sama menandatangani buku nikah," ucap Iptu Rama mambuat Husain kepanasan.
"Hahaha! Pakpol ini bisa aja, tapi sayangnya saya bukan orang yang senang di gombalin!" ucap Alana yang tak menanggapi ucapan Iptu Rama.
"Tapi kamu memang aamiinku yang paling serius!" ucap Iptu Rama.
__ADS_1
Ucapan Iptu Rama kali ini membuat Alana terdiam, sekilas dia menatap Husain yang berdiri didepan pintu.
"Sayang, sudah selesai? Kita harus ke Batalyon sekarang!" ucap Husain membuat Iptu Rama menoleh kearah pintu.
"Ssya permisi ya! Assalamu'alaikum," ucap Alana namun Rama menahan tangannya.
"Sebelum namamu tertera dalam buku nikah bersamanya, aku masih bisa menggapaimu nona Alana," ucap Iptu Rama dengan senyum diwajahnya.
"Lepas! Sayangnya saya tidak pernah tertarik!" ketus Alana sambil menghempaskan tangan laki-laki itu.
Husain sangat kesal, ingin rasanya dia menghajar laki-laki itu. Tapi mengingat dia adalah seorang calon Bupati, maka Husain sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Aku cuman sayang sama Abang," ucap Alana ketika keduanya sudah berada di mobil.
"Abang percaya itu sayang, yang Abang gak percaya laki-laki itu!" kesal Husain.
"Tenang ya, Abang sayangku," ucap Alana membuat Husain tersenyum.
"Coba bilang sekali lagi dong, duhhh seneng bener Abang!" goda Husain.
"Ish! Gak ada siaran ulang!" ucap Alana yang sudah sangat malu.
"Yaudah Abang ngambek lagi deh!" ucap Husain berpura-pura merajuk.
"Ish! Jangan ngambek, ABANG SAYANGKU!" ucap Alana dengan pipi yang memerah.
"Aaaahhh, andaikan udah halal! Abang cium kamu," celetuk Husain membuat Alana memelototkan matanya.
"Wahai laki-laki yang paling ku sayangi, apa gak salah?! Lu udah cium bibir gua dua kaliiii wooyyyyyy!!" ucap Alana dalam hatinya.
* * *
Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya, seorang gadis sedang bersenandung ria dibawah guyuran shower. Pagi ini sangatlah cerah, secerah hati Elmira yang akan menjemput pujaan hatinya. Menurut kalender, kepulangan Lettu Radiansyah Mirda adalah hari ini. Karena Elmira sudah memberi tanda pada kalendernya. Dengan riang gembira Elmira membersihkan tubuhnya, setelah itu dia memilih-milih baju yang akan digunakan olehnya.
Kini Elmira sedang berada didepan lemari yang berukuran cukup besar.
"Hmm, gamis yang ini gak cocok!" ucap Elmira sambil melempar gamisnya.
"Aargghhh!! Aku harus pake yang manaa!" Elmira kesal sendiri, padahal bajunya begitu banyak.
Ceklek
Suara pintu terbuka, namun Elmira sibuk sendiri hingga tak menyadari jika sang Bunda sudah berada didalam kamarnya.
"Ah! Aku harus telpon Alana, ya Alana! Dia pasti punya koleksi gamis terbaru," ucap Elmira lalu berbalik untuk mengambil ponselnya dan......
"Astaghfirullohaladzim, Bundaaaaaa! Kageeettt tau!" teriak Elmira sambil memegang dadanya karena sangat kaget.
"Kamu gak denger suara pintu kebuka? Bunda udah lama tau disini!" ucap Bunda Gisya sambil melipat kedua tangannya didada.
Elmira tersenyum canggung, dan mulai memunguti gamisnya satu persatu.
"Udah biarin aja, nanti biar Mbak Inah yang beresin! Sekarang duduk!" titah Bunda Gisya.
"Maaf, Bun. Abis Kakak bingung, mau pake baju yang mana," ucap Elmira menunduk.
"Bunda tau! Makanya Bunda kesini, kalo gak di susulin kamu sampe jam 4 sore terus aja berkutat soal baju," sahut Bunda Gisya sambil mengelus rambut putrinya itu.
"Kakak pengen tampil cantik depan Abang," lirih Elmira dan Bunda Gisya mengangguk.
Bunda Gisya membuka sebuah paperbag, didalamnya ada sebuah gamis. Dulu gamis itulah yang digunakan oleh Bunda Gisya saat menjemput Ayah Fahri.
"Nih, coba Kakak pake baju ini," pinta Bunda Gisya sambil menyerahkan gamisnya.
"Wahhh, lucu banget, Bun! Gamis siapa ini?" tanya Elmira sambil memakai gamisnya.
"Ini gamis Bunda, dulu Bunda pakai buat ngejemput Ayah. Kakak, sebagai istri prajurit kita harus siap. Karena kepulangan suami kita, bisa jadi hanyalah jasad tak bernyawa," ucap Bunda Gisya sambil mengusap bahu Elmira.
__ADS_1
Deg!
Jantung Elmira berdegup kencang, perasaannya menjadi tak karuan. Sudah dua bulan ini, Mirda memang tak pernah menghubunginya. Elmira mengerti, karena disana Mirda sedang berjuang. Bahkan banyak berita di televisi mengabarkan jika banyak prajurit yang gugur. Tapi Elmira tidak mau mendengar atau melihat berita itu. Yang dia pikirkan, Mirda pasti akan pulang dengan selamat.
Tubuhnya terasa sangat lemas, dia terduduk sambil memegangi gamisnya.
"A-apa maksud Bunda?" tanya Elmira menatap Bundanya itu.
"Tadi ada yang kasih kabar ke Ayah, kalo ada beberapa prajurit yang gugur disana. Dan akan pulang hari ini," lirih Bunda Gisya.
"Bang Mirda akan jadi bagian yang baik-baik saja, Bunda!" ucap Elmira menahan airmatanya.
"Iya sayang, sekarang kamu siap-siap ya! Kita jemput Mirda sama-sama," ucap Bunda Gisya.
Semuanya sudah duduk manis didalam mobil, tentu saja dengan wajah yang sangat tegang. Terlebih ketika Elmira melihat Monik, ajudan sang Bunda yang terlihat sembab. Dia tau bagaimana kedekatan Monik dan Mirda, mereka sudah seperti Adik Kakak. Pikiran Elmira pun kembali melayang jauh. Jantungnya sudah berdebar tak karuan.
Kini mobil sudah memasuki kawasan Batalyon, Elmira melihat banyak sekali orang disana. Mereka mencari sang prajurit, yang mengabdikan hidupnya untuk negara.
"Bun, itu Ibu itu kenapa digotong sama Om-om yang lain?" tanya Indira.
"Mungkin anak/suaminya gugur dimedan perang, karena itulah resiko yang harus kita terima sebagai istri atau keluarga seorang prajurit," jawab Bunda Gisya.
"Adek gak mau punya suami Tentara, Bun. Adek takut," ucap Indira membuat Elmira semakin tak karuan.
Deg! Deg! Deg!
Ingin rasanya Elmira segera berhambur keluar, tapi sayangnya antrean kendaraan mssuk sangat banyak. Belum lagi pengecekan setiap kendaraan yang masuk, dan beberapa prosedur lainnya. Dia sudah melihat Alana dan Husain yang sedang berdiri disamping gedung Aula. Elmira semakin lemas ketika melihat Alana dan Husain menunduk lesu.
Mobil sudah diparkirkan, Elmira segera berhambur keluar dan menghampiri Bagja. Salah satu junior Mirda yang sangat dekat dengannya.
"Om Bagja! Dimana Abang?!" tanya Elmira pada Bagja yang tengah menunduk lesu.
"Sabar sayang! Om Bagja kaget kalo Kakak gituin," ucap Bunda Gisya menenangkan.
"Sekali lagi aku tanya ya, Om! Dimana Abang?!" teriak Elmira yang semakin membuat Bagja menunduk lesu. Bahkan Sweta yang berada digendongan Indira menangis kencang.
Bagja mulai bangkit, dia mengambil sesuatu dari tas yang berada dibelakangnya. Dan dia memberikan itu pada Elmira. Seketika Elmira terduduk lesu, dan menangis.
"Apa ini maksudnya, Om?! Kenapa kamu kasih baju dinas Abang ke aku?! Apa ini?! Dimana Abang?!" teriak Elmira membuat semua netra tertuju padanya.
"Tenang sayang, tenang! Udah jangan nangis, Nak," lirih Bunda Gisya.
"Nggak Bun! Abang pasti pulang! Dia gak akan tinggalin Kakak kan, Bun? Kita mau nikah, Bun. Abang pasti nepatin janjinya!" ucap Elmira yang semakin menangis.
Meski tidak tega, Bagja melangkahkan kakinya mendekati Elmira.
"Kalo Teteh gak tenang, Bagja gak akan bawa Teteh ngeliat Bang Mirda!" tegas Bagja.
"Aduh, aku gak tega liatnya, Bang!" bisik Alana yang ikut terisak pada Husain.
"Mau gimana lagi, Alana. Semua sudah jalannya begini," ucap Husain menunduk lesu.
Setelah dirasa tenang, Elmira bangkit dan meminta Bagja membawanya menemui Mirda.
"Antarkan aku bertemu Bang Mirda, entah dalam keadaan hidup ataupun mati. Aku harus menemuinya! Jadi aku minta tolong Om Bagja, antarkan aku!" lirih Elmira.
"Baik Teh, ikut Bagja sekarang!" ucap Bagja dan Elmira mengangguk patuh.
Sambil memeluk baju sang calon suami, Elmira berjalan mengikuti Bagja. Tentu saja dengan airmata mengalir dipipinya. Karena bukan seperti ini yang dia pikirkan. Mereka kini sudah sampai didepan sebuah Aula, perlahan tapi pasti Elmira para penjaga membuka pintu selebar-lebarnya. Elmira menjatuhkan tubuhnya, ketika melihat apa yang ada didepannya.
"Abaaaanggggggg......."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤