
Mirda tersentak kaget ketika mendengarkan cerita Elmira mengenai Ayah Gorilanya.
"Jadi bagaimana kabar mereka sekarang?" tanya Mirda pada Elmira.
"Mereka baik-baik saja, Bang. Mereka selalu menanyakan kamu, setahun yang lalu waktu mendengar kalo Kontingen Garuda yang betugas dari Kongo sudah kembali, mereka langsung kesini. Tapi mereka kecewa pas tau kalo Abang langsung berangkat satgas ke Papua," ucap Elmira sambil menahan airmatanya.
"Apakah kamu juga mencariku, Elmira?" tanya Mirda dengan lembut.
Pertanyaan yang diucapkan oleh Mirda membuat Elmira menangis terisak.
"Dasar laki-laki bodoh! Jelas aku mencarimu, bahkan aku berlari mengejar bis yang membawamu ke Bandara! Bahkan aku mendapatkan luka ini!" ucap Elmira sambil menunjukkan bekas luka di kepalanya.
"Apa maksudmu, Elmira?" tanya Mirda yang panik lalu mendekati Elmira.
"Jaga jarak aman, Bang!" tegur Husain saat melihat Mirda mendekati Kakaknya.
"Ish! Diem aja napa sih," kesal Alana menepuk Husain.
Mirda kembali duduk ke tempatnya, dia melihat Elmira yang tersenyum sambil menangis.
"Aku tertabrak motor waktu terus mengejar kamu, Bang. Tunggu! Aku bahkan punya ini, dan beberapa barang lainnya," ucap Elmira sambil mengeluarkan kalung bertuliskan nama Mirda. Kalung yang biasa dimiliki para tentara.
"Dapat darimana kamu, Dek?" tanya Mirda sambil memegang kalung itu.
"Dari Barak, aku mendapatkannya dari sana, Bang. Aku tau perasaanmu juga dari sana, sayangnya semuanya terlambat. Waktu aku ke Barak, mobil yang membawamu baru saja pergi. Aku datang kesana dengan baju berlumuran darah," ucap Elmira terisak.
"Kata Bunda, dia kabur 2x demi mengejar kamu, Bang!" ucap Husain.
Refleks Mirda berhambur memeluk erat Elmira, dia sudah tak bisa lagi menahannya. Dia tidak peduli jika akhirnya dia akan dihajar oleh keluarga Elmira.
"Maafkan aku, Elmira. Maafkan aku," lirih Mirda memeluk Elmira.
"Aku cuman mau kamu tau isi hatiku, Bang. Kamu yang berhasil membawa seluruh hatiku, aku cuman punya kamu dalam pikiranku, Bang. Hanya kamu, dan gak pernah ada yang lain," ucap Elmira terisak dalam pelukan Mirda. Elmiran terus menghisap aroma tubuh Mirda yang sangat dia rindukan.
Elmira melepaskan pelukannya, kini mereka duduk bersampingan dan saling menggenggam dengan erat seolah tak ingin dipisahkan lagi.
"Hal apalagi yang masih mengganggu pikiran Abang?" tanya Elmira.
"Mm, siapa Faza? Dan Sweta? Apakah semua hal yang ada dipikiranku itu benar? Aku frustasi memikirkan semua itu, Elmira. Terlebih saat mendengar percakapan kalian tadi, hatiku sakit, Dek," lirih Mirda tertunduk lesu.
"Aku akan menceritakan siapa Sweta, Bang," ucap Elmira lalu dia menarik nafasnya.
Flashback On
Persidangan kasus Elmira akhirnya selesai, berkat Faza mereka berhasil memenangkan kasus itu. Dan kini hak untuk Elmira sudah kembali ditangannya.
"Terimakasih, Mas. Kamu sudah membantu aku," lirih Elmira.
"Aku senang bisa membantumu, Elmira. Bolehkah aku berbicara sesuatu padamu?" tanya Faza sambil menatap manik mata Elmira.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Mas?" tanya Elmira.
"Apakah aku boleh singgah dihatimu? Aku mulai mencintaimu, Elmira," ucap Faza.
Deg!
Elmira tersentak mendengar ungkapan hati Faza, dengan halus Elmira menolaknya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menerimamu, kamu terlalu baik untukku," lirih Elmira.
"Jangan jadikan hal itu sebagai alasan, Elmira. Apa aku harus menjadi orang jahat agar kamu mau menatapku," ucap Faza dengan tegasnya.
"Maaf Mas, sudah ada oranglain dalam hatiku," lirih Elmira.
"Aku lebih menerima kejujuranmu ini, Elmira. Aku akan selalu mendo'akanmu agar hidupmu bahagia," ucap Faza lalu meninggalkan Elmira begitu saja.
Faza yang patah hati melajukan mobilnya kesebuah Club yang berada di jalan Braga. Dia melampiaskan rasa sakit hatinya dengan meminum-minuman keras hingga mabuk berat.
"Kenapa kamu menolakku, Elmira. Aku ini kaya, tampan, dan aku mencintaimu!" teriak Faza saat mengingat kejadian tadi siang.
Karena mabuk berat, sang waiters membuka ponsel Faza dan menghubungi orang terakhir yang dihubungi oleh Faza. Dan orang itu adalah 'Sweet Angel' yaitu Elmira.
In Call
"Asalamualaikum, Mas Faza," ucap Elmira.
"Maaf mbak, pemilik ponsel ini mabuk berat! Tolong bisa bawa dia?" tanya waiters itu.
"Yaa Allah, tunggu saya pak! Saya segera kesana," ucap Elmira.
End Call
Elmira sedang mendapat tugas jaga malam saat itu, dengan terpaksa dia menaiki taksi untuk membawa Faza keluar dari sana. Semua orang menatap Elmira, pasalnya dia gadis berjilbab tapi masuk kedalam sebuah club. Setelah melihat Faza, Elmira meminta sang waiters untuk membawanya kedalam mobil.
__ADS_1
"Terimakasih, Pak. Ini untuk Bapak," ucap Elmira sambil memberikan tips.
"Sama-sama, Mbak," jawab waiters itu.
Dengan terpaksa Elmira membawa mobil itu, tak berapa lama Faza sadar dari mabuknya. Dia terus meracau, membuat Elmira sedikit ketakutan.
"Kamu disini, Elmira? Apa kamu sudah bisa menerimaku?" racau Faza.
"Ah sepertinya aku mabuk berat, my Sweet Angel ada disampingku sekarang," ucap Faza sambil menyandarkan tubuhnya pada Elmira.
"Mas sadar, Mas! Ini kita dijalan!" sentak Elmira yang ketakutan.
Braaaaakkkkkk!!
Elmira merasa menabrak seorang perempuan yang sedang membawa bayi kecil digendongannya. Sontak hal itu membuat Elmira tersentak, seluruh tubuhnya melemas. Dia segera turun dan melihat kondisi perempuan itu.
"Yaa Allah, apa yang sudah aku lakukan?!" panik Elmira saat melihat tubuh wanita itu.
Elmira segera menelepon ambulance untuk membawanya kerumah sakit, Elmira terfokus pada bayi mungil yang terbungkus oleh baju bekas. Bahkan tali ari-arinya masih menggantung bersama bali nya.
"Yaa Allah, astaghfirullohaladzim!" teriak Elmira.
Saat ambulance datang, Elmira segera membawa mereka ke Rumah Sakit. Tidak lupa dia mengabari keluarganya, terutama Paman Syauqi. Karena Elmira merasa dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka. Sedangkan Faza terbaring di IGD karena tak sadarkan diri, pengaruh minuman keras.
"Om Uqi, tolong selidiki ini ya. Ada kamera CCTV dijalan ini, itu bisa menjadi bukti kalo aku yang menabraknya," lirih Elmira.
"Kakak tenanglah, Om Uqi akan minta rekan Om Uqi untuk memeriksa semuanya. Lain kali jika ada kejadian seperti ini lagi, hubungi orang rumah. Mereka pasti sangat khawatir, Kak. Dan satu hal lagi, jangan terlalu dekat dengan Faza. Dia itu anak dari mantan tunangan Bunda kamu dan mantan Ayah Fahri," ucap Syauqi dan Elmira mengangguk.
Tak lama kemudian datanglah seorang suster yang meminta Elmira untuk menemui pasien korban tabrakan itu.
"Dokter El, pasien meminta untuk bertemu denganmu," ucap Suster.
"Baik sus, saya akan segera kesana," ucap Elmira lalu dengan segera berjalan keruangan pasien itu didampingi oleh Paman Syauqi.
Ceklek
Perempuan itu menoleh dengan senyuman diwajahnya, dia menatap Elmira.
"Maafkan saya, Bu. Saya bersalah sudah menabrak ibu," lirih Elmira.
"Mbak gak salah, saya sama sekali tidak tertabrak. Saya lemas karena baru saja melahirkan, dimana anak saya, Mbak?" tanya perempuan bernama Utari itu.
"Bu Utari jangan khawatir, Adek bayi sudah ditangani oleh dokter," ucap Elmira.
"Apa yang Ibu butuhkan? Saya akan mengabulkannya," ucap Elmira.
"Tolong jaga anak saya, Mbak. Suami saya baru saja meninggal, kami anak yatim piatu dan tidak lagi memiliki saudara. Saya titip anak saya, Mbak. Jangan sampai dia tidak merasakan kasih sayang kedua orangtuanya," lirih Utari.
"Ibu jangan bilang begitu, saya akan menjaga Ibu dan putri ibu. InshaAllah semuanya akan baik-baik aja," ucap Elmira dan Utari mengangguk.
Pagi harinya, Faza sudah mulai sadar. Dia membelalakkan matanya ketika melihat Bang Ogem disana sambil menatapnya.
"Astaghfirulloh, Bang Ogem bikin kaget!" kesal Faza.
"Bisa istighfar Pak? Saya kira gak bisa istighfar! Sampe bikin non Rara nabrak orang semalem karena nolongin sampean yang mabok!" ketus Bang Ogem.
"Apa?!! Apa maksud Bang Ogem?!" teriak Faza.
"Tolong jangan buat keributan disini!!" ucap dokter bernama Pamela itu.
Faza segera menghampiri ruang rawat inap perempuan yang dimaksud oleh Bang Ogem. Tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Elmira menangis disana.
"Apa yang terjadi, Elmira?" tanya Faza lalu mendekatkan dirinya pada Elmira.
"Semuanya gara-gara kamu, Mas! Dia meninggal, Mas! Aku yang menyebabkan dia meninggal!" ucap Elmira sambil menangis. Tubuh Faza tiba-tiba melemas.
Tak lama kemudian datanglah Paman Syauqi bersama Dokter.
"Tenanglah, Kak. CCTV membuktikan kamu gak nabrak dia sama sekali, dan dia meninggal karena infeksi pasca melahirkan," ucap Paman Syauqi.
"Tetep aja, Paman. Gimana nasib anaknya?" Lirih Elmira dipelukan pamannya itu.
"Kita bisa berikan dia ke Dinas Sosial," ucap Paman Syauqi.
"Nggak Paman, aku yang bakalan rawat dia! Tolong urus surat adopsinya, Paman," lirih Elmira memohon pada sang Paman.
"Kamu belum menikah, Elmira! Biarkan dia menjadi tanggung jawab dinas sosial," ucap Paman Syauqi.
"Aku gak peduli, Paman! Aku akan minta ijin Ayah buat urus surat adopsinya," ucap Elmira yang kekeh dengan keputusannya.
"Aku juga akan ikut bertanggung jawab atas bayi itu," ucap Faza dan diangguki oleh Elmira.
Akhirnya Paman Syauqi hanya bisa mengikuti keinginan Elmira. Melihat begitu antusiasnya Elmira merawat bayi mungil itu.
__ADS_1
Flashback Off.
Lagi-lagi Mirda termenung mendengar ucapan Elmira, banyak hal yang tak dia ketahui.
"Aku menyesal sudah meninggalkanmu, Elmira," lirih Mirda.
"Jangan menyesali yang udah terjadi, Bang. Aku bahagia bisa merawat Sweta dengan baik. Lagian Mas Faza selalu menolong aku, kita gantian menjaga Sweta," ucap Elmira.
"Apa kamu akan menerima cinta Faza?" tanya Mirda dan membuat Elmira tertawa.
"Bang, Mas Faza itu udah nikah sama dokter Pamela! Kalo aku bisa dan aku mau, dari dulu aku udah terima semua laki-laki yang mendekati aku," ucap Elmira.
"Shombhong amat, Kak!" celetuk Husain.
"Kak kayaknya aku mesti bawa si Abang keluar deh! Jin ipritnya lagi nempel! Aku bawa Sweta juga ya!" ucap Alana sambil menggendong Sweta dan menarik Husain.
Akhirnya hanya ada mereka berdua disana, dengan pintu kamar yang terbuka lebat tentunya. Mirda kembali menatap mata Elmira.
"Apa kamu yang akan menikah dengan Rian?" tanya Mirda dan Elmira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia memegang pipi Mirda dan mengelusnya.
"Bang Rian bakalan nikah sama Afifah, Ayah udah mengadopsi Afifah dan beliau yang akan menikahkan Afifah dengan Bang Rian," ucap Elmira membuat Mirda tersenyum.
"Huft! Akhirnya Abang bisa bernafas lega," ucap Mirda sambil menggenggam tangan Elmira.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat keduanya terperanjat kaget.
"Boleh Ayah gabung?" tanya Ayah Fahri.
"Silahkan, Komandan," ucap Mirda segera berdiri.
"Duduklah disamping putriku, Mirda," pinta Ayah Fahri dan duduk dihadapan keduanya.
Mirda tampak tegang saat berhadapan dengan sang Mayor Jenderal.
"Santailah, aku ingin bicara denganmu sebagai seorang Ayah bukan seorang atasan," ucap Ayah Fahri dan Mirda mengangguk.
"Apa pangkat dan jabatanmu saat ini?" tanya Ayah Fahri.
"Siap! Pangkat saya Letnan Satu dan Jabatan saya Komandan Kompi," jawab Mirda membuat Ayah Fahri dan Elmira tertawa atas jawaban Mirda.
"Abang mau aja dikerjain Ayah," celetuk Elmira.
Wajah Mirda berubah ekspresi, dia baru menyadari jawabannya.
"Saya hanya ingin bertanya, apakah kamu mencintai Elmira?" tanya Ayah Fahri.
"Maaf Pak, atas kelancangan saya yang sudah mencintai putri Bapak," jawab Mirda.
"Jadi benar kamu mencintai putriku? Kalo begitu, panggil aku Ayah seperti Elmira memanggilku," ucap Ayah Fahri yang membuat Elmira dan Mirda saling tatap.
"Apa maksud Ayah?" lirih Elmira menatap sang Ayah.
Ayah Fahri memegang tangan Elmira dan Mirda, lalu menyatukan keduanya.
"Menikahlah, jika kalian saling mencintai. Dan besarkan Sweta bersama-sama, bagaimanapun dia adalah anugerah untuk kita semua. Apa kamu bisa menerima kehadiran Sweta?" tanya Ayah Fahri.
"Saya akan menjaga Sweta dan Elmira dengan segenap jiwa dan raga saya, Pak. Eh, Ayah," ucap Mirda sambil menatap Elmira.
"Ayah gak akan tanya Kakak?" ucap Elmira.
"Ngapain? Orang Ayah udah liat jawabannya, tuh dijidat Kakak ada tulisan 'MILIK MIRDA'. Iyakan?" goda Ayah Fahri membuat wajah Elmira bersemu merah.
"Ayah mah! Makasih ya Ayah, Kakak sayang Ayah," ucap Elmira memeluk sang Ayah.
"Kakak yang harusnya berterimakasih, Kakak udah bawain Ayah mantu idaman! Dan kamu harus selalu ingat Mirda, pergi tugas untuk Negara dan pulang dengan selmat untuk keluarga!" ucap Ayah Fahri dengan tegas.
"Siap Ayah! Mirda akan selalu ingat pesan Ayah," jawab Mirda.
* * * * *
Akhirnyaaaaa.....
Hutang Othor LUNAS... ππππββββ
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1