
Maaf Author telat Up 🙏🙏
Soalnya Author sedang perjalanan trip to Semarang..
Harap maklum yaa 🤗❤
* * * * *
Selang infus masih terpasang ditangan mungil seorang gadis kecil berusia 3 tahun. Gelya Quera Feodora, putri dari Abrafo yang harus ditembak tepat didada oleh anak buah ayahnya sendiri. Dia baru saja membuka matanya, setelah berbulan-bulan koma. Fahri dan Gisya setiap hari akan melakukan videocall dengannya. Namun, sudah sebulan ini Fahri dan Gisya lebih sibuk untuk mengurus Baby Ain. Hingga mereka terkadang melupakan keberadaan gadis kecil ini. Dia sungguh tidak mengingat kedua orangtuanya, yang dia tahu adalah Fahri itu Ayahnya dan Gisya adalah Ibunya.
Fahri belum bisa membawa Quera, karena sulitnya mengurusi surat-surat pengadopsian anak. Istri Abrafo sebenarnya adalah orang Sulawesi, hanya saja dia diusir oleh keluarganya ketika menikah dengan Abrafo. Quera pun bisa diajak komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, hanya saja dia selalu ketakutan ketika melihat orang-orang yang berpakaian seragam loreng.
Selama ini, Quera ditemani oleh salah satu rekan Fahri disana. Lettu Chandra selalu menemani dan mengawasi putri kecil itu. Dan hanya kepada Chandra lah, Quera dapat mengatakan segala yang dia rasakan.
"Om Anda, Ayah Mbun beyum epon kaka?" lirih Quera.
"Belum sayang, Rara kangen sama Ayah Fahri sama Bunda Caca?" tanya Chandra.
Gadis mungil itu mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Chandra lalu memeluk Quera, dia mengerti jika Fahri saat ini sedang sibuk mengurusi kelahiran putranya.
Sementara di Indonesia, Fahri baru saja mendapatkan kabar jika Quera sudah diijinkan untuk menjadi anak adopsinya. Pemerintah secara langsung sudah menghubungi Fahri. Akhirnya setelah berbulan-bulan, Fahri merasa lega. Kebahagiaan mereka akan bertambah, terlebih Gisya selalu menanyakan kapan Quera akan tinggal bersama mereka.
"Akhirnya, Quera bisa aku bawa pulang!" ucap Fahri dengan rasa bahagia.
"Alhamdulillah Lettu! Akhirnya semua penantian kalian tidak sia-sia!" ucap Indra.
"Aku ingin memberikan kejutan untuk istriku nanti, tolong minta bantuan pada Bang Dzikri dan Bang Gilang." antusias Fahri.
Gisya masih sibuk mengurusi Baby Ain, kini Toko benar-benar sudah dia pasrahkan pada Syaina calon adik iparnya. Bunda Syifa bahkan sudah sama sekali tidak ikut campur dengan masalah Toko, karena Syauqi melarangnya. Syaina dan Syauqi terus mengembangkan beberapa Toko yang bekerja sama dengan Cafe milik Fahri. Meskipun masih dalam pantauan Abang iparnya itu.
Seperti saat ini, sepulang dari Batalyon Fahri menyempatkan diri untuk mampir dicafenya.
"Bang, 'Fandi Cafe x Caca Bakery' yang di Dago itu udah butuh tenaga kerja lagi. Soalnya mereka kewalahan dengan pengunjung yang membludak di weekend." ucap Syauqi.
"Yaudah nanti kamu koordinasi aja sama Febri baiknya gimana, Abang kan gak paham kalo soal rekruitment itu. Emm, Qiw boleh gak Abang minta tolong?" tanya Fahri.
"Ceilah si Abang! Biasanya juga sok-sok wae! Ada apaan Bang?" tanya Syauqi.
"Hehe, bantu Abang buat kasih kejutan sama Kakakmu! Kan kalo soal kejutan kamu yang paling bisa diandalkan!" ucap Fahri sambil menepuk bahu adik iparnya itu.
"Gampang, semuanya bisa diatur!" tutur Syauqi dengan penuh rasa bangga.
Gadis kecil itu melompat kegirangan diatas kasur rawatnya. Setelah tadi Chandra mengatakan jika dia akan diantarkan untuk bertemu Ayah dan Ibunya.
"Ye! Ye! Ye! Kakak temu Ayah Mbun!" teriak bocah itu kegirangan.
__ADS_1
"Rara senang? Kalo Rara senang sini peluk Om Chandra." pinta Chandra.
Quera langsung memeluk erat Chandra, orang yang selama ini menemaninya.
"Om Anda macih dah menin kakak bobok, anti kakak bobona cama Ayah Mbun cama dedek Ain." celoteh gadis kecil itu membuat Chandra menangis bahagia.
"Kakak Quera harus jadi anak yang hebat, harus jadi kakak yang baik buat dedek Ain. Disana Quera harus bersikap sopan seperti apa yang Om Chandra bilang. Dan satu hal lagi, jangan lupa sama Om ya. Om sayang kakak Rara." lirih Chandra.
"Angan angis Om Anda, kakak ga upa Om Anda. Macih ya Om Anda." ucap Quera.
Setelah melewati beberapa persidangan, karena Fahri merupakan seorang Abdi Negara jadi banyak sekali prosedur yang harus dia lewati. Akhirnya dia bernafas lega ketika keputusannya adalah jika Fahri boleh mengadopsi Quera dengan catatan bahwa mereka dalam pengawasan penuh pihak PBB. Sedangkan Abrafo masih menunggu untuk di eksekusi mati.
Semuanya sudah diatur dengan baik oleh Dzikri, Gilang dan juga Syasya couple. Kini mereka sedang menyiapkan kejutan kembali untuk Gisya. Fahri meminta ijin untuk pergi bertugas selama satu minggu.
"Bun, Ayah harus pergi tugas ke Jakarta. Kurang lebih sih satu minggu, Bunda gak apa-apa kan kalo Ayah tinggal?" tanya Fahri pada istrinya itu.
"Ayah sayang, tugas Bunda kan memang menanti kepulangan Ayah. InshaAllah Bunda gak apa-apa, kan sekarang ada jagoan kita yang nemenin Bunda." ucap Gisya.
Fahri tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya itu.
"Makasih ya sayang, udah mau setia nemenin Ayah." ucap Fahri mengecup bibir istrinya.
"Sama-sama Ayah sayang, yang penting Ayah janji akan pulang dengan sehat dan selamat. Ada Bunda sama jagoan yang selalu nungguin Ayah." jawab Gisya membalas kecupan itu.
"Sabar ya Ayah! Belum 40 hari, belum boleh buka puasa!" ledek Gisya.
Terkadang Gisya selalu merasa bahagia ketika Fahri terus merengek seperti anak kecil padanya. Seketika Gisya mengingat jika dia sudah jarang menghubungi Quera. Gadis kecil yang sudah membuatnya jatuh cinta hanya dengan melihat fotonya saja.
"Yaa Allah Ayah! Bunda lupa, udah lama banget gak telpon Rara!" ucap Gisya.
"Gak apa-apa Bun, dia pasti ngerti kalo Bundanya lagi repot ngurusin adiknya. Nanti Ayah coba hubungin Chandra." tutur Fahri.
"Pokoknya Ayah harus hubungin Chandra! Bunda gak mau ya sampe Rara ngerasa terlupakan dengan kehadiran baby Ain." ucap Gisya penuh penekanan.
"Gak akan sampe gitu sayang. Rara pasti ngerti kok!"
Hari ini Quera akan diterbangkan dari Kongo menuju Indonesia. Tentu saja dengan pengawalan penuh dan tentunya diantarkan oleh Chandra. Didalam pesawat Militer, Quera terus memeluk erat Chandra. Dia ketakutan melihat banyak sekali yang memegang pistol laras panjang ditangannya.
"Rara jangan takut, mereka semua teman Om Chandra. Mereka semua baik sayang. Mulai sekarang Rara gak boleh takut. Ayah Rara baju dinasnya sama seperti Om Chandra dan temen-temen Om. Rara paham kan?" tanya Chandra.
"Iya Om Anda." ucap Quera dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah jangan nangis. Sebentar lagi kan Rara ketemu sama Ayah dan Bunda. Masa nangis, nanti Ayah sama Bundanya sedih." ucap Chandra menenangkan.
Jantung Fahri sudah berdebar-debar, kini dia akan menjemput putri adopsinya itu. Fahri terus mondar mandir, membuat Dzikri dan Gilang pusing.
__ADS_1
"Lettu Fahri! Bisa diam? Kepala saya pusing!" ucap Gilang.
"Siap! Maaf Danki, saya hanya gugup." jawab Fahri.
"Tenanglah, putrimu sebentar lagi sampai! Sekarang duduk!" tegas Gilang.
"Siap Danki!"
Tak berapa lama, mulai turunlah rombongan pasukan yang membawa Quera. Mata Fahri berkaca-kaca ketika melihat gadis kecil blasteran Indonesia-Rusia itu.
"Ayaaaaahhhhhhhhhh!!" teriak Quera sambil berlari menuju Fahri.
"Raraaaaaaaa!!" jawab Fahri sambil merentangkan tangannya.
Fahri dan Quera menangis bahagia ketika dapat dipertemukan langsung seperti ini. Bahkan Quera langsung memeluk erat Ayahnya itu.
"Ayah kangeeeeennn banget sama Kakak." ucap Fahri.
"Kakak uga anget aya banet banak-banak." jawab Quera berceloteh.
Chandra dapat bernafas lega, kini gadis kecil itu sudah dalam asuhan orang yang tepat.
"Rara, Om Chandra harus pulang lagi. Rara harus ingat pesan Om ya! Harus jadi anak yang pintar, nurut sama Ayah Bunda dan sayang sama dedek bayi ya!" ucap Chandra.
"Iya Om Anda, macih banak-banak Om. Kakak sayang Om Anda." ucap Quera.
Mereka saling berpelukan, hingga akhirnya Fahri mengambil alih Quera.
"Terimakasih Lettu Chandra, terimakasih sudah menjaga putriku." ucap Fahri.
"Siap! Itu sudah kewajiban saya Bang! Tolong jaga dia baik-baik." pinta Chandra.
Fahri menganggukkan kepalanya dan memeluk Chandra.
* * * * *
Siapa yang nungguin Queraa??
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1