Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Aku Pasti Kembali


__ADS_3

Waktu keberangkatan telah tiba, Mirda harus meninggalkan Elmira karena tugas nya terhadap negara. Sejak semalam, Indira dan Bunda Gisya menginap di asrama Elmira. Sebab mereka ingin menemani Elmira mengantarkan Mirda. Kemungkinan, Indira akan menemani Elmira untuk tinggal di asrama selama Mirda bertugas. Kini Mirda sudah siap dengan ransel yang cukup besar dipundaknya. Sedangkan sang istri masih terus bergelayut manja pada dirinya.


Entah hormon kehamilan, atau memang Elmira terlalu bersedih. Sejak semalam airmatanya selalu turun begitu saja.


"Sudah sayang, jangan nangis! Abang jadi gak mau pergi kalo kamu kaya gini terus, Abang gak akan tenang bertugas nantinya," ucap Mirda mengusap airmata sang istri.


"Kamu tuh kenapa sih, Bang?! Masa kamu mau pergi, aku gak boleh nangis! Wajar dong kalo aku nangis!" kesal Elmira membuat Mirda menepuk jidatnya.


"Cup cup cup sayangnya Abang, udah ya! Kita sarapan dulu, kasian adek bayi kelaperan nantinya," Mirda menggandeng tangan sang istri menuju meja makan.


Kini mereka berempat tengah sarapan bersama, Elmira masih enggan beranjak dari sisi suaminya. Hingga Mirda harus kerepotan, karena makan sambil digelayuti sang istri dan memangku putri kecil mereka, Sweta. Bunda Gisya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Elmira, dia teringat kembali masa dulu ketika sering ditinggalkan bertugas oleh sang suami.


Suara mobil yang berhenti didepan rumah membuat mereka menghentikan aktifitas sarapan pagi mereka. Indira membuka pintu, dan terkejut melihat seseorang yang dia kenal. Ternyata yang datang adalah sang Ayah, Husain bersama Athaya dan juga keluarga Alan dan Alana.


Baba Jafran menyelonong masuk begitu saja, dan dia tertawa ketika melihat Mirda tengah kerepotan menyuapi sang istri dan Sweta.


"Hahahaha, jadi keingetan dulu nih! Waktu si Ayah mau berangkat tugas, noh Bunda kamu nempel kayak ulet keket persis banget kayak kamu, Kak!" Baba Jafran berucap sambil tertawa terbahak-bahak.


"Babaaaa!" kesal Elmira. "Bang, jahat tuh Baba malah ngetawain aku!" ucap Elmira sambil menangis membuat Mirda semakin snewen.


"Yaa Allah si Baba! Bini orang malah dibikin nangis, tanggung jawab tuh!" celetuk Alan.


"Iyatuh! Tanggung jawab, udah tau mau ditinggalin suaminya! Malah kamu bikin nangis, Ba!" ucap Ummi Ulil membuat Elmira semakin menangis.


Bunda Gisya menatap kedua pasangan suami istri itu dengan tatapan tajam.


"Kalian berdua! Kebiasaan mulutnya gak punya rem! Mending diem aja deh," kesal Bunda Gisya sambil menenangkan putrinya itu.


"Lho, emangnya aku salah ngomong ya?" tanya Ummi Ulil dengan polosnya.


"Huft! Yaa Allah punya camer gini amat yak! Begini loh Ummiku sayang, Ummi kan bilang begini 'udah tau mau ditinggalin suaminya', ya otomatis lah si Kaka nangis! Hadeuhh, darah tinggi aku yank! Ampuuun!" ucap Husain membuat Ummi Ulil melotot.


"Heh caman durjanah! Itu kamu juga ngomong begitu, si Kakak gak nangis tuh," Ummi Ulil berkacak pinggang menatap Husain.


"Yaa Allah, ampun deh! Abang gak ikutan ah!" Sahut Husain sambil mengangkat kedua tangan diatas lalu pergi duduk bersama sang Ayah.


Karena Sweta ikut menangis, Indira membawanya untuk berkeliling komplek asrama militer disana. Tentu saja Athaya berada dibelakangnya, sebab dia mengikuti Indira.


"Sini gantian aja bawa Sweta nya," pinta Athaya namun Indira menggelengkan kepalanya.


"Gak usah, ini udah mulai anteng kok Swetanya," tolak Indira.


"Lu kok ngehindarin gua terus, Dira! Ada apa?" tanya Athaya.


"Gak apa-apa, lagian siapa juga yang ngehindar," jawab Indira cuek.


"Kenapa lu nolak buat gua ajak ketemu Abi sama Umma?" tanya Athaya lagi.

__ADS_1


"Please, Athaya! Aku lagi gak mood buat debat sama kamu," ketus Indira lalu berjalan dengan cepat.


Saking cepatnya berjalan, Indira tak melihat jika ada batu cukup besar didepannya.


"Awas Dira!" teriak Athaya.


Tubuh Indira mulai terhuyung kedepan, dan....


Buukk!


Lagi-lagi seseorang menyelamatkan Indira, dia jatuh dipelukan seorang Tentara bersama Sweta digendongannya.


"Kenapa pertemuan kita selalu seperti ini?" ucap laki-laki itu.


Suara itu!


Indira mendongakkan kepalanya, dan benar saja dia adalah Dirga. Laki-laki yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Mata Indira dan mata Dirga bertemu, dan jantung Indira semakin berdegup kencang.


"Mata itu! Aku masih mengingatnya, apa mungkin dia?" batin Indira.


Belum Indira mengatakan sepatah kata, Athaya berlari menghampirinya.


"Dira! Lu gak apa-apa kan?" tanya Athaya yang khawatir.


"Gak apa-apa, aku baik-baik aja!" ucap Indira melepaskan pelukannya dengan cepat.


"Alhamdulillah, syukurlah," ucap Athaya namun tak dihiraukan Indira.


Dirga menatap kepergian Indira bersama Athaya, perasaannya terasa aneh.


"Syafa, kamu masih tidak berubah, kamu masih ceroboh," batin Dirga.


* * *


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, seluruh pasukan yang akan diberangkatkan sudah berkumpul di Lapangan Batalyon. Para istri prajurit atau biasa disebut Persit menghantarkan kepergian suaminya untuk bertugas. Suara isak tangis sudah biasa terdengar, sebab suami atau anak mereka akan berjuang dimedan pertempuran. Mereka hanya bisa berdo'a semoga semuanya bisa kembali dengan selamat.


Elmira masih enggan melepaskan pelukannya dari sang suami, Mirda terus mendekap tubuh istrinya sambil sesekali mengusap perut Elmira yang sudah mulai terlihat membuncit. Rasanya sangat berat, tapi ini semua adalah resiko yang harus mereka tanggung. Elmira terus menghirup aroma tubuh sang suami, yang kini menjadi candu.


Mirda mengangkat dagu sang istri, dan mengusap airmatanya.


"Jangan bersedih, jangan terus menangis sayang. Abang janji, sebisa mungkin Abang akan terus mengabari kamu. Bulan depan dedek empat bulanan, Abang akan mendo'akan darisana. Abang pergi untuk kembali sayang," ucap Mirda mengecup kening sang istri.


"Abang harus kembali, Abang pasti kembali dan itu adalah kewajiban Abang untuk bertahan hidup. Apapun yang terjadi, selalu ingatlah kami yang menantimu dirumah! Ingat kami Bang! Karena tanpamu, kami hanyalah burung tanpa sayap," lirih Elmira dan kembali memeluk suaminya itu.


Mirda melepaskan pelukannya, dan beralih memeluk Ayah mertuanya dengan erat.


"Kamu adalah kebanggan saya, Mirda! Kamu adalah kebahagian anak dan cucu saya, jadi tugasmu adalah berjuang untuk negara dan kembali dengan selamat!" ucap Ayah Fahri.

__ADS_1


"Saya akan kembali dengan selamat, Ayah. Saya titipkan istri dan anak-anak saya pada Ayah, tolong jaga mereka selama saya pergi," ucap Mirda sambil menangis.


"Tanpa kamu minta, Ayah akan menjaga mereka dengan segenap jiwa dan raga!" tegas Ayah Fahri.


Mirda beralih pada sang Bunda, yang kini tengah menangis sambil menggendong Sweta. Mirda bersujud dikaki Bunda Gisya.


"Bunda, ridhoi Abang untuk pergi bertugas. Abang titipkan istri dan anak-anak Abang, sesuai permintaan Bunda, do'akan Abang kembali dengan selamat," ucap Mirda terisak.


"Bangun, Nak. Do'a Bunda selalu menyertaimu, ingatlah istri dan anakmu disetiap nafasmu. Mintalah kekuatan pada Allah, jangan khawatir kami akan menjaga Elmira dan Sweta dengan baik," ucap Bunda Gisya.


Sweta merentangkan tangannya, Mirda menggendong Sweta lalu menciumi seluruh wajah putrinya itu. Sweta tersenyum bahagia.


"Sweta Elmirda Fazamela, putriku. Tumbuhlah dengan baik ya, do'akan Baba secepatnya kembali dengan selamat. Jaga Bubu sama dedek bayi, ya sholeha," ucap Mirda sambil memeluk dan menciumi tubuh mungil putrinya itu.


"Allahu si Abang, udah ah sini Sweta nya! Baba gak kuat liatnya, masa merpati meleleh," celetuk Baba Jafran membawa Sweta dalam gendongannya.


"Ummi, Baba titip mereka semua ya! Mereka adalah harta paling berharga dalam hidup Abang," ucap Mirda memeluk Ummi dan Baba bersamaan.


"Jangan khawatir Abang, mereka aman bersama kami. Pergilah, dan kembalilah dengan selamat. Ingat do'a kami selalu menyertaimu, Bang!" ucap Ummi Ulil.


Elmira masih saja menangis dipelukan sang Ayah. Mirda kembali menghampiri dan memeluknya sekali lagi, sebab truk yang akan membawa mereka sudah tiba.


"Jangan menangis sayang, Abang mohon. Tersenyumlah!" pinta Mirda namun Elmira semakin menyelusupkan wajahnya di dada bidang Mirda.


"Abang harus janji, Abang bakalan pulang dengan selamat!" isak Elmira dan Mirda mengangguk sambil mengusap kepala Elmira.


Pelukan itu terlepas, Mirda berjongkok dan menciumi perut Elmira.


"Dedek harus jadi anak yang baik, jangan ngerepotin Bubu selama Baba gak ada! Dan do'akan Baba, agar bisa kembali sebelum kamu lahir kedunia ini. Baba mencintaimu, dedek adalah salah satu alasan Baba untuk tetap hidup," bisik Mirda.


"Jagalah dirimu baik-baik sayang, sebisa mungkin Abang akan menghubungi kamu. Jangan terlalu mengkhawatirkan Abang, jaga baik-baik anak kita. Abang pasti kembali," ucap Mirda lalu menciumi seluruh wajah Elmira dan segera pergi menuju truk.


Elmira sebisa mungkin tersenyum, walaupun lelehan airmata itu terus mengalir dipipinya.


"Hati-hati Bang! Aku mencintaimu, suamiku!" teriak Elmira ketika mobil sudah melaju.


"Abang juga mencintaimu, Elmiraku! Tunggu Abang!" teriak Mirda melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Mirda, Elmira terduduk lesu dan tak sadarkan diri.


"Yaa Allah, Elmira!!" teriak Bunda Gisya dan Ayah Fahri.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2