Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Berpisah Kembali


__ADS_3

"Dirga hampir mati, Ra! Untung saja keluarganya berasal dari keluarga yang bergelimang harta, sampai akhirnya dia menjalani operasi kedua. Dan itu bertepatan dengan hari pertunangan kamu sama Athaya, sama sekali Dirga gak pernah mengkhianati cinta kamu. Dia cuman gak mau kamu terus bersedih, dia lebih memilih merelakan kamu untuk tersenyum bersama oranglain. Asalkan senyuman kamu itu masih dia lihat, sebesar itulah cinta Dirga untukmu. Sampe kami dilingkungan Militer ini, tau semua cerita cinta kalian,"


"Fika menjauhi kamu atas permintaan Kakaknya, Athaya. Dia sampai menangis setiap hari, kamu sama dia itu satu paket. Maka ketika kalian terpisah, semuanya terasa hampa. Athaya bahkan meminta Fika untuk berpisah dariku, dia bener-bener gak mau kehilangan kamu, Ra!"


Pada akhirnya, Indira memberikan kesempatan pada Athaya untuk membuka hatinya. Setelah pertemuannya dengan Panji, Indira pun kini lebih mengerti seberapa besar rasa cinta Athaya dan seberapa besar cinta Dirga untuknya. Dia menatap kedua cincin yang disematkan oleh kedua pria itu, cincin yang Athaya sematkan dijari manis tangan kirinya dan cincin yang Dirga sematkan dijari manis tangan kanannya.


"Dia menyematkannya dijari manis tangan kirimu, dan aku menyematkan cincinku dijari manis tangan kananmu! Kamu mengerti maksudku?"


Indira menghembuskan nafasnya dengan kasar, ada sedikit kebahagiaan dihatinya. Walaupun dia masih dilanda dilema.


"Hmm, memang apa artinya?" gumam Indira sambil menatap cincin yang diberikan Dirga.


"Dek! Ngelamun aja! Ngapain sih?" tegur Elmira sambil membawa Ibam digendongannya.


"Astaghfiruloh! Kaget, Kak!" pekik Indira. "Mmm, Kak boleh nanya sesuatu gak?" dengan sedikit gugup, Indira berani bertanya.


"Boleh, mau tanya apa sih adik cantikku ini?" tanya Elmira dengan lembut.


"Kalo cowok kasih cincin terus dipasangin dijari manis tangan kanan, emang artinya apa?" Demi apapun Elmira gemas pada adiknya yang polos itu.


Elmira tersenyum, dia melihat cincin dijari manis tangan kanan Indira.


"Dek, kadang cincin itu identik dengan sebuah status. Athaya menyematkan cincin dijari manis tangan kiri kamu, artinya kalian sudah bertunangan. Tapi kalo sepert Kakak yang memakai cincin dijari manis tangan kanan artinya Kakak sudah berstatus menikah. Kamu ngerti kan?" jawab Elmira.


Blush


Wajah Indira berubah menjadi merah karena malu, kini dia mengerti maksud dari ucapan Dirga. Karena lelah, Indira segera berpamitan untuk beristirahat. Elmira menatap punggung Indira yang mulai menjauh.


"Aku kakak perempuan, anak paling besar. Aku ingin memastikan Dira memiliki segalanya, bahkan jika aku tidak punya apa-apa. Aku terlalu menyayangimu, Dek. Itu yang terpenting, kebahagiaanmu," batin Elmira.


* * *


Waktu terus bergulir, tak terasa hari ini tepat hari ke tujuh kepergian Oma Syifa. Bunda, Ummi, dan Mama Febri sudah wara wiri sejak pagi tadi. Mereka mempersiapkan segalanya sendiri. Sebab para tamu yang hadir, banyak sekali. Yang artinya, banyak yang mendo'akan Oma Syifa.


Syauqi menatap sang Kakak dengan tatapan penuh kesedihan, kini dia mengerti bagaimana kasih sayang Oma Syifa terhadap mereka.


"Uqi, kamu butuh sesuatu?" Bunda Gisya menghampiri adiknya itu.


"Aku butuh Bunda, Teh," lirih Syauqi, Bunda Gisya mendekap tubuh sang adik. Bagaimanapun kehilangan orangtua adalah kepedihan yang luar biasa.


"Tegar, Uqi! Teteh ada buat kamu, hanya kamu adik Teteh satu-satunya! Kalo kita gak saling menguatkan, akan bagaimana jadinya? Mulai saat ini, Teteh adalah pengganti Bunda dan kamu pengganti Ayah. Kita harus terus saling melengkapi dan menyayangi,"

__ADS_1


Semua orang turut menitikkan airmatanya, termasuk si gesrek Alan.


"Demi apa, udah seminggu ini stock ingus gue gak habis-habis!" celetuk Alan.


"Njir! Orang mah nangis yang keluar airmata, lu mah ingus! Bisa gitu yaa? Hueeekkk," ucap Thoriq memandang Alan jijik.


"Gak gitu konsepnya kang Mas! Duh gemes gue lama-lama, untung calon Kaka ipar lu! Aduh," gumam Alan berkomat-kamit.


"Kamu ngapain komat-kamit begitu?" bisik Theresia ditelinga Alan.


"La illahaillallah! Astaghfirulloh, kamu kaya dedemit aja! Kaget tau," kesal Alan.


"Kurang ajar! Ngatain gue dedemit, mau emang lu kawin sama dedemit?! Dahlah maleesssss....!" Theresia mengumpat Alan.


Fiuuuhhhh


Alan menghembuskan nafasnya kasar, sudah dipastikan jika calon dedemit, eh calon istrinya itu merajuk.


"Aduh! Kalo udah berurusan sama makhluk bernama wanita, pasti bakalan panjang! Curiga lagi dateng tuh si tamu sialan," gerutu Alan yang berjalan mengejar sang kekasih.


Theresia menyibukkan diri untuk bergabung bersama Indira, Alana, Cyra dan juga Elmira.


"Kesel! Masa aku dibilang dedemit, udah dandan cantik-cantik begini," kesal Theresia.


"Bhahaha, kamu harus siapin stock sabar yang banyak buat ngadepin si Alan! Dia kan emang mulutnya los, kagak punya rem!" Alana tertawa melihat calon Kakak iparnya itu.


"Huft! Nasib ya nasib," rengek Theresia membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Pengajian sudah berlangsung dengan khidmatnya, mereka mengirim do'a untuk Oma Syifa. Selesai pengajian, mereka berkumpul untuk makan bersama-sama.


"Ca, maaf ya! Aku sama Mas Zaydan harus balik ke Jogja, maaf aku gak bisa nemenin kamu. InshaAllah ada waktu, kami pasti bakalan sering kesini," ucap Mama Febri sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.


"Gak apa-apa, Biw! Hati-hati dijalan, ya. Jangan lupa kabarin kita kalo udah sampe, jaga diri kamu baik-baik," Bunda Gisya memeluk erat tubuh Mama Febri.


"Dah ah! Jangan pada cengeng begitu, kita ini cuman berpisah buat ketemu lagi! Ah bener kata si Aa, stock ingusku gak abis-abis," celetuk Ummi Ulil.


Bunda Gisya bersyukur memiliki sahabat baik seperti mereka, setidaknya dia merasa tidak sendirian. Satu persatu dari mereka berpamitan, Ummi Ulil dan Baba Jafran juga harus kembali ke Bogor. Paman Syauqi dan keluarganya kembali ke Garut. Cyra dan Thoriq juga Alan dan Theresia pun berpamitan. Untuk sementara waktu, Alana dan Elmira akan menemani Bunda Gisya dirumah. Sedangkan Indira harus kembali ke Sukabumi, sebab dia harus melanjutkan KKN nya setelah izin selama seminggu.


Karena tak memungkin kan untuk meninggalkan sang istri, Ayah Fahri meminta sang menantu untuk mengantarkan Indira ke Sukabumi. Akhirnya Mirda yang ditemani oleh Husain yang mengantarkan Indira kesana.


"Nak, jaga diri disana. Jangan lupa makan, jangan lupa sholat dan do'akan Oma. Kabarin Bunda selalu, ya." Bunda memeluk erat putri bungsunya itu.

__ADS_1


"Bunda juga ya, jaga kesehatan! Jangan nangis terus, InshaAllah Oma sudah bahagia di Surga Allah, Bun!" gadis itu mengelus punggung sang Ibu yang bergetar karena menangis.


Setelah mengantarkan satu persatu kerabatnya, Bunda Gisya berdiam diri dikamar. Sedangkan Ayah Fahri masih menemani beberapa kerabatnya yang belum pulang. Bunda Gisya menatap lekat foto kedua orangtuanya itu.


"Ayah dan Bunda itu layaknya pelita sebagai penerang hidup Caca. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut jalan. Dan sebagai semangat yang menjadi motivasi Caca untuk tetap kuat untuk terus melangkah maju. Ya Allah, haramkan wajah Bunda dan Ayahku dari disambar oleh api neraka. Karuniakan untuk mereka surga tanpa hisab," batin Bunda Gisya memeluk erat foto itu.


Ceklek


Suara pintu terbuka, nafas Ayah Fahri tercekat ketika melihat sang istri sedang menangis dalam diamnya. Semua itu terlihat dari tubuhnya yang bergetar menahan isakkan.


"Sudah sayang, jangan menangis," Ayah Fahri menarik istrinya itu kedalam pelukannya.


"Aku berharap aku bisa mengatakan kehilangan Bunda menjadi lebih mudah, tetapi ternyata tidak. Aku masih merindukannya setiap hari, Bang. Aku rindu senyumnya, suaranya, canda tawanya, pelukannya. Aku rindu cara Bunda membuat segalanya terasa lebih baik. Aku sangat merindukannya, Bang." kini bukan hanya Bunda Gisya, tapi Ayah Fahri pun ikut menangis.


Oma Syifa adalah sosok yang paling penting bagi Fahri. Sejak pertemuannya dengan sang mertua, Fahri merasa dijadikan sebagai anak bukan menantu. Selain itu, Oma Syifa sangat berjasa bagi kehidupannya. Sebab beliau yang merawat Elmira, disaat titik terendah dalam kehidupan Ayah Fahri.


"Bun, ini bukan selamat tinggal karena dimanapun Bunda berada, Bunda akan selalu ada di hatiku, dihati kami anak cucu Bunda," batin Ayah Fahri menatap foto sang mertua.


Kehilangan seorang ibu adalah rasa sakit yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Hampir tidak mungkin untuk beranjak dari ingatan kehilangan wanita yang mengorbankan kebahagiaan dalam hidupnya sendiri sehingga kamu bisa memiliki yang lebih baik. Cinta seorang ibu benar-benar tak tergantikan.


Kamu tidak dapat melihat udara, tetapi kamu membutuhkannya untuk bernapas dan udara itu selalu ada. Demikian juga keluarga, mungkin tidak selalu terlihat, tetapi kita saling membutuhkan dan akan selalu ada. Keluarga adalah kompas yang membimbing kita. Itu adalah inspirasi untuk mencapai ketinggian yang luar biasa, dan kenyamanan kita ketika kita kadang-kadang goyah.


Yuukkk... Sayangi semua keluargamu, selagi kita masih berada dibawah langit yang sama.


* * * * *


Maaf untuk beberapa hari kedepan jika othor telat Up 🙏🙏


Othor lagi Demam, batuk pilek! 🤧


Cuaca lagi jahat banget, huhuhu...


Jaga kesehatan ya para reader ❤


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2