
Hari ini sudah hari ketiga kematian Andi. Tahlilan dilakukan dikediaman kedua orangtua Andi. Fahri sudah harus kembali ke Bandung, begitupun dengan orangtua Febri. Sementara Gisya dan Febri masih akan berada disana hingga hari ke tujuh.
"Dek, Abang harus balik ke Bandung hari ini. Kamu jaga diri baik-baik disini, kabarin Abang kalo ada apa-apa. Jangan lupa jaga kesehatan kamu." tutur Fahri.
"Iya Bang, hati-hati dijalan. Jangan lupa kabarin Adek kalo Abang sudah sampai. Sampaikan permohonan maaf Adek untuk Ina dan Uqi, sementara ini mereka harus saling bantu di Toko." Ucap Gisya.
"Mama titip Ebi ya, Ca. Sebenernya Mama berat meninggalkan dia sendiri, tapi mau gimana lagi. Adik-adik Ebi membutuhkan Mama dan Papa sekarang." tutur Mama Rini.
"Mama tenang aja, Caca akan selalu nemenin Ebi disini."
Gisya mengantarkan Fahri sampai depan rumah, dia berdiri disana sampai taksi yang ditumpangi Fahri dan orangtua Febri sudah tidak terlihat lagi. Gisya kembali masuk kedalam Rumah, dia menghampiri Febri yang saat ini sedang terbaring sakit. Berhari-hari tidak makan membuat tubuhnya lemah, saat ini Febri sedang di infus oleh Adik perempuan Andi yang merupakan seorang Bidan Desa.
"Gimana kaeadaan Ebi sekarang Ana?" tanya Gisya.
"Em, gini Mbak Caca. Sepertinya Mbak Febri masih mengalami shock, badannya juga lemes banget. Kalo besok masih begini, kita harus bawa ke Rumah Sakit." jelas Ana.
Gisya sangat khawatir dengan kondisi Febri yang seperti ini, begitupun juga dengan Ana dan kedua orangtua Andi. Gisya sedang membuatkan bubur untuk Febri, Ana yang memiliki perasaan mengganjal dihatinya mencoba untuk mengatakannya pada Gisya.
"Mbak, boleh Ana bertanya sesuatu?" tanya Ana.
"Boleh Ana, apa yang mau kamu tanyakan?"
"Sebenarnya saat Ana memeriksa Mbak Febri, ada sesuatu yang Ana rasakan. Sepertinya Mbak Febri sedang mengandung." Ucap Ana berhati-hati.
Gisya menjatuhkan spatula karena kaget, pikirannya melayang.
"Astaghfirulloh, bagaimana bisa Ana? Yaa Allah, Febrii." lirih Gisya.
"Ini baru perkiraan Ana, Mbak. Makanya Ana menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Rumah Sakit. Kalo benar Mbak Febri mengandung, kondisinya seperti sekarang bisa membahayakan janinnya." tutur Ana menjelaskan.
Tanpa berfikir panjang, Gisya dan Ana membawa Febri ke Rumah Sakit. Karena kedua orangtua Andi sedang berangkat ke Magelang untuk membawa barang-barang milik Andi yang masih tertinggal disana. Febri terheran melihat Ana dan Gisya, tapi karena tubuhnya lemas dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sesampainya dirumah sakit, Febri dibawa ke IGD dan melakukan sejumlah test.
"Keluarga Ibu Febri." panggil Dokter. Gisya dan Ana menghampiri Dokter.
"Ya dok, bagaimana keadaan Febri sekarang?" tanya Gisya.
"Mbak siapanya? Saya harus berbicara dengan suaminya." ucap Dokter.
Gisya terdiam karena dokter menanyakan suami, Gisya benar- benar tidak berkutik.
"Saya adiknya Dok. Kebetulan suaminya baru saja meninggal 3 hari yang lalu. Bagaimana keadaannya?" tanya Ana.
__ADS_1
"Pasien masih merasa shock, tubuhnya sangat lemah. Untung saja bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Saat ini Ibu Febri harus mendapatkan perawatan. Silahkan mengurus administrasinya didepan." Tutur Dokter menjelaskan.
Tubuh Gisya lemas, mendengar penjelasan Dokter. Dia bingung, Andi sudah pergi meninggalkan sahabatnya itu untuk selama-lamanya. Ini bukan hal yang mudah dipahami.
Setelah menyelesaikan administrasi, Febri sudah dipindahkan ke Ruang Perawatan. Gisya selalu setia mendampingi Febri. Saat ini Febri benar-benar membutuhkan perhatian.
"Ca, aku haus." Lirih Febri.
Gisya menghampiri Febri dan memberikannya segelas air putih. Febri menghabiskan air yang diberikan oleh Gisya.
"Makasih ya, Ca. Maaf aku ngerepotin kamu." ucap Febri lemah.
"Biw, kamu sama sekali gak ngerepotin aku. Aku seneng bisa selalu ada disamping kamu. Kamu harus kuat Biw, aku akan selalu ada buat kamu."
"Maafin aku ya, Ca. Aku lemah tanpa Mas Andi, rasanya aku gak sanggup menghadapi semua ini sendirian." Lirih Febri.
"Kamu gak sendiri, Biw. Masih ada aku, Ulil, Jafran, Bang Fahri, masih ada orangtua kamu dan keluarga kita disamping kamu."
Gisya terus menguatkan Febri, sementara ini Gisya masih bingung akan bicara dengan siapa. Ana sedang mengambil segala keperluan Febri dan Gisya selama dirumah sakit. Rasanya dia ingin memberitahukan kondisi Febri pada orangtuanya. Tapi mengingat kondisi Febri yang sedang mengandung, Gisya mengurungkan niatnya. Saat dia sedang termenung, dia mendapatkan pesan dari Yuliana yang sedang dalam perjalanan menuju ke Semarang bersama Jafran suaminya.
โ๏ธ Ulet Pucuk ๐
Ca, aku sama Jafran lagi mau take off ke Semarang. Tolong kirimkan alamat Rumah Andi dan nama tempat pemakamannya.
Andi di makamin di TMP Giri Tunggal. Sementara kamu jangan kerumah Andi, kamu datang aja ke Rumah Sakit Telogorejo.
Setelah mengirim pesan kepada Yuliana, dia mencoba menghubungi Fahri. Tapi sepertinya Fahri sedang sibuk, sudah ketiga kalinya Gisya menelpon tapi tidak kunjung diangkat. Sebenarnya Fahri sedang membuka paket yang dikirimkan oleh Rizal, bersama dengan surat yang dititipkan oleh Almarhum Andi. Sungguh, Fahri merasa kaget dengan surat dan isi paket itu.
* * *
Assalamualaikum Sahabatku Fahri,
Sebelum melaksanakan tugas, aku ingin memberitahumu sesuatu.
Aku takut terjadi sesuatu sama aku ketika aku menjalankan tugas.
Maaf aku melakukan ini, karena aku tidak mau terlibat dosa yang lebih besar lagi.
Setelah melamar Febri, aku dan dia sama-sama hampir saja melakukan dosa besar. Tapi karena kami saling mencintai, kami memutuskan untuk menikah Siri. Aku tidak bisa menahan hawa nafsuku. Aku merasa bersalah kepada kedua orangtua kami, tapi kami benar-benar melakukan itu dengan kesadaran penuh.
Jika sesuatu terjadi padaku, aku titipkan Febri padamu dan Gisya. Aku hanya takut, benihku akan tumbuh dalam rahim Febri ketika aku meninggalkannya. Tapi semoga saja, surat ini tidak sampai padamu, Ri.
Jika kamu sudah membaca surat ini, tandanya aku sudah berada di tempat lain bersama kedua orangtua dan kakakku. Terimakasih sudah menjadi sahabat terbaikku Fahri. Semua kenangan indah kita, akan ku bawa bersama tanah yang menguburku.
__ADS_1
Surat-surat dan Foto dalam amplop ini adalah bukti bahwa aku dan Febri sudah menikah dan SAH secara Agama. Dan aku titipkan sampel rambutku, jika suatu saat Febri mengandung dan dipertanyakan siapa Ayahnya. Aku adalah orang pertama yang menyentuh Febri. Dan rambut ini akan menjadi buktinya.
Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, Ri. Aku percayakan semuanya padamu.
Salam Rindu, Andi sahabat seumur hidupmu.
* * *
Fahri menangis tersedu-sedu membaca surat itu, sungguh dia tidak menyangka jika Andi akan senekat itu. Kenapa saat lamaran tidak Andi ucapkan jika dia ingin menikahi Febri secepatnya. Saat ini Fahri sedang bingung, sampai panggilan dari calon istrinya pun dia abaikan. Fahri benar-benar membutuhkan ketenangan. Dia bingung, bagaimana menjelaskan kepada kedua orangtua Andi maupun Febri.
Yuliana dan Jafran baru saja sampai di Semarang, mereka bergegas menuju ke Rumah Sakit untuk menemui Gisya. Hati Yuliana sungguh tidak karuan, dia sangat cemas memikirkan kedua sahabatnya itu. Gisya menghampiri Yuliana yang sudah berada didepan Lobby. Dia memeluk erat sahabatnya itu dan menangis tersedu-sedu.
"Gimana keadaan Ebi sekarang, Ca? Kenapa dia bisa masuk Rumah Sakit begini?" Tanya Yuliana yang khawatir.
"Ebi, ha-hamil." Ucap Gisya membuat Yuliana dan Jafran tersentak kaget.
"Hamil?! Kok bisa Ca? Siapa yang ngehamilin? Andi?" Tanya Jafran.
"Aku gak tau, aku bingung. Mau nanya ke Ebi juga kondisinya belum memungkinkan. Kita harus sembunyiin semua ini dulu, sampai Ebi siap cerita." pinta Gisya.
Jafran dan Yuliana setuju dengan keputusan Gisya. Mereka melihat Febri yang tertidur pulas di ranjang pasien. Setelah cukup lama menemani, mereka berpamitan untuk pergi ke Jakarta. Karena Jafran sudah harus bekerja kembali. Mereka menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Andi terlebih dahulu. Jafran membacakan do'a untuk Andi, dia mengelus nisan yang bertuliskan nama Andi.
"Terimakasih kawan, meskipun pertemanan kita singkat tapi semuanya sangat berkesan."
Febri baru saja membuka matanya, dia melihat Ana dan Gisya tidur di sofa. Dia mengelus perutnya, sebenarnya Febri mendengar penjelasan Dokter di IGD tadi.
"Terimakasih, Mas sudah menitipkan dia untuk menemaniku. Aku ikhlas, aku akan mengurus anak kita Mas." tutur Febri.
Gisya dan Ana yang belum benar-benar tertidur, mendengar semua ucapan Febri. Mereka refleks bangun dan menghampiri Febri.
"Jadi bener itu anak Mas Andi, Mbak?" tanya Ana. Febri menganggukkan kepalanya.
"Yaa Allah Ebii, kamu yang kuat yaa." peluk Gisya.
"Tenang aja, Ca. Kami melakukannya dalam hubungan yang halal, kami sudah menikah siri. Kami tidak ingin terjerumus dosa yang lebih jauh." jelas Febri.
Gisya semakin tercengang mendengarkan ucapan Febri.
* * * * *
Mohon maaf apabila ada kesalahan yaa Readeerr ๐
Dukung terus Author ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author โค