
Dalam ambulance Alan terus menggenggam erat tangan Theresia. Dia tidak menyangka akan melihat Theresia dalam kondisi seperti ini. Rasanya baru kemarin mereka bertaruh untuk menunjukkan jika mereka sudah memiliki pasangan.
"Ijem lu harus bangun! Gua mau tunjukin sama lu kalo gua udah punya cewek! Lu harus bangun ijem!" ucap Alan tak hentinya mengelus kepala Theresia.
Ambulance sudah sampai di Rumah Sakit, Alan dengan sigap mendorong brangkar yang membawa Theresia. Saat sudah disana, Alan dicegah oleh suster.
"Harap tunggu diluar Pak, pasien akan segera kami tangani. Sekarang Bapak tolong urus administrasinya," pinta suster tersebut.
"Oke sus, tapi saya mohon selamatkan dia ya, suster," ucap Alan memohon.
"Dokter akan melakukan yang terbaik, Pak," ucap suster lalu meninggalkan Alan.
Dengan segera Alan menyelesaikan administrasi Theresia, kemudian dia ingat jika dompet dan ponselnya didalam mobil. Alan menjambak rambutnya frustasi.
"Nih, cepet beresin pembayarannya! Lu bikin malu!" ucap Lula memberikan dompet dan ponsel milik Alan. Dengan segera Alan membayar semuanya.
"Thanks ya, La. Sorry gua ninggalin lu, gua panik!" ucap Alan dengan nada pelan.
"Gak apa-apa, gua ngerti kok! Lu udah mulai suka ya sama dia?" tanya Lula.
"Nggak! Gua gak suka sama dia, tadi gua cuman kasian aja," ucap Alan gengsi.
"Lu gak bisa bohongin gua," ucap Lula membuat Alan menoleh.
Lula tersenyum, lalu dia memberikan sesuatu pada Alan.
"Gua nemuin foto ini di belakang spion tengah, gua ngerti perasaan lu karena gua juga ngerasain hal itu Alan. Mungkin lu gak pernah sadar, tapi gua emang sayang sama lu. Itu salah satu hal yang bikin gua nerima buat jadi pacar pura-pura lu. Tapi gak apa-apa, gua gak berharap lu bales perasaan gua, karena gua tau siapa pemilim hati lu," ucap Lula.
Deg!
Hati Alan sedikit meringis, bagaimana bisa orang yang selama ini dia anggap sahabat baik ternyata memiliki perasaan cinta padanya.
"Gua pamit ya," ucap Lula lalu beranjak berdiri kemudian tangan Alan menahannya.
"Maafin gua, La. Gua gak maksud buat nyakitin hati lu," ucap Alan menatap Lula.
"Hahaha santai aja! Gua gak apa-apa, gua balik ya! Jagain Rere baik-baik," ucap Lula menepuk bahu Alan. Dan dengan cepat dia berjalan meninggalkan Alan, dengan tetesan airmata dipipinya yang sudah tak bisa tertahan.
Alan lalu menghubungi Thoriq, tapi sayang sekali panggilannya ditolak.
"Sialan! Kemana sih Mas Thoriq malah direject!" kesal Alan.
"Ah! Cyra ya Cyra!" ucap Alan lalu memanggil Cyra.
In Call
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ada apa Alan?" tanya Cyra yang setengah sadar.
"Walaikumsalam! Tolong hubungi Mas Thoriq! Bilangin kalo Rere kecelakaan, ini aku di Rumah Sakit nemenin dia!" ucap Alan membuat Cyra tersentak.
"Apa?! Rere kecelakaan?! Tunggu aku kesana sekarang! Kirim lokasinya!" ucap Cyra.
End Call
Lalu Cyra mulai menelepon Thoriq, satu pangilan, dua pangilan, tidak ada yang dijawab.
"Mas Thoriq! Kamu kemana sih, Mas?!" lirih Cyra yang sangat panik.
Cyra mencoba mengubungi kembali, daann......
"Hallo sayang! Kamu akhirnya hubungin Mas!" antusias Thoriq.
"Mas! Bukan itu yang harus kita bahas sekarang! Mas harus secepatnya ke Rumah Sakit!" ucap Cyra dengan suara yang keras.
"Kamu kenapa sayang?! Kamu baik-baik aja kan?!" panik Thoriq.
"Rere kecelakaan Mas! Dari tadi si Alan ngehubungin kamu, tapi kamu reject terus!!" kesal Cyra saat mendengar ucapan Alan.
"Apa?!!" kaget Thoriq sampai membuat ponselnya terjatuh.
"Hallo Mas! Mas! Hallo!" panik Cyra ketika panggilannya terputus.
"Mas bagaimana keadaan Rere?!" tanya Cyra dan Thoriq menatap Cyra.
"Rere... Rere... Rere koma," lirih Thoriq lalu menangis memeluk Cyra.
"Yaa Allah, Rere!" ucap Cyra lalu dia memeluk Thoriq dengan sangat erat.
"Kamu harus kuat, Mas. Kita harus berdo'a untuk kesembuhan Rere," lirih Cyra.
Alan masih tertunduk lesu, masih jelas diingatannya ketika Theresia terlelap dipangkuannya. Dia tak bisa lagi menatap mata indah Theresia dan dia tak bisa melihat lagi tawa cerianya. Beribu rasa bersalah berkecamuk dalam diri Alan, merasa bersalah tehadap Theresia dan juga Lula.
Tak lama Alan teringat tentang surat-surat yang diberikan oleh Theresia, dan dia segera memberikannya pada Thoriq.
"Mas, sebelum dibawa ke Rumah Sakit, Rere titip ini," ucap Alan sambil memberikan tas.
"Yaa Allah Rere! Kayaknya dia udah tau tujuan Mami," lirih Thoriq.
"Maksud Mas apa?" tanya Cyra sambil menatap Thoriq.
"Mami kembali pada kami hanya untuk harta Papi, semuanya sudah atas nama Rere. Mungkin tadi Rere mendengarkan pertengkaran Mas sama Mami," lirih Thoriq.
__ADS_1
"Yaa Allah, Mas!" ucap Cyra lalu memeluk Thoriq kembali.
"Cyra, Mas mohon simpan surat-surat ini dengan baik. Cuman kamu yang saat ini bisa Mas percaya, sayang," pinta Thoriq dan Cyra mengangguk pelan.
Kini mereka bertiga sedang duduk didepan ruang ICU, dimana Theresia dirawat. Benturan keras dikepalanya membuat Theresia kehilangan kesadaran dan dalam keadaan koma. Alan sudah mengabarkan hal ini dalam grup keluarga mereka, hingga kini mereka semua datang ke Rumah Sakit untuk memberikan dukungan pada Thoriq.
Thoriq merasa beruntung berada ditengah-tengah mereka, keluarga yang hangat dan harmonis. Lalu dia menatap Cyra yang kini tengah menggenggam erat tangannya.
"Tolong pikirkan lagi, Mas sungguh mencintai dan membutuhkanmu, Cyra," lirih Thoriq.
Cyra tidak menjawab, dia sungguh dilema. Dia belu memahami semuanya yang terjadi. Selain Cyra, rasa dilema juga tengah dirasakan oleh Alan. Sedetikpun dia tidak pernah meninggalkan Theresia, dia terus menjaganya, mengajaknya bicara dan berharap semua itu akan membuat Theresia kembali membuka matanya.
Ummi Ulil menghampiri putranya yang saat ini sedang tertunduk lesu, disamping ruangan Theresia. Wajahnya terlihat sangat pucat dan sembab.
"Aa kenapa? Aa sakit?" tanya Ummi Ulil dan Alan menggeleng.
"Aa ngerasa jadi laki-laki pengecut, Ummi. Aa sudah menyakiti hati orang lain, hanya demi rasa gengsi dari perasaan Aa sendiri," lirih Alan menunduk.
"Maksud Aa gimana? Coba cerita sama Ummi," pinta Ummi Ulil.
"Aa sayang Rere, Mi. Tapi Aa gengsi, sekarang Aa udah minta Lula jadi pacar Aa buat nunjukin sama Rere kalo Aa punya pacar. Saat itu juga, pas Rere kecelakaan Lula bilang kalo dia sayang sama Aa, Mi," lirih Alan frustasi.
Sebagai orangtua, Ummi Ulil mengerti perasaan putranya itu. Dia mengelus rambut putra kesayangannya itu dan memeluknya.
"Yang harus Aa lakukan sekarang adalah memberikan keputusan. Rasakanlah, siapa yang sudah memiliki hati Aa. Jangan sampai Aa menyakiti mereka lebih jauh," ucap Ummi.
"Tapi Aa gak tau, Mi. Apa Rere punya perasaan yang sama dengan Aa atau enggak," lirih Alan yang sudah tak bisa menahan tangisnya.
"Do'akan Rere cepet sembuh! Udah ah jangan cengeng! Masa anak si Baba nangis gara-gara cinte! Gak level la yaw!" celetuk Ummi Ulil membuat Alan tertawa.
"Ummi mah!" kesal Alan merengek.
Dengan penuh kasih sayang, Ummi Ulil terus menasehati Alan.
"Aa dengerin Ummi, jangan pernah menjadi laki-laki yang mudah berucap tapi selalu lalai dalam kata menepati. Wanita itu sifatnya penunggu, dia bisa terlihat biasa sama kamu dan dia bisa terlihat diam tanpa kamu. Padahal jauh dalam hatinya, dia menunggu apa yang pernah kamu katakan padanya dulu. Jadi menurut Ummi, kamu harus menyelesaikan urusan kamu dengan Lula. Bagaimanapun dia adalah sahabat baik kamu, dan jangan lupa kalo Aa salah. Karena Aa dan Lula tidak bisa bersama, benteng penghalang kalian terlalu tinggi sayang. Apapun itu, akan selalu ada yang harus dikorbankan," ucap Ummi.
Tanpa merka sadari, Lula sejak tadi mendengarkan pembicaraan Alan dan Ibunya.
"Kamu, adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan. Apapun penjelasan dan alasannya kehilangan akan selalu terasa begitu menyakitkan. Kata-kata itu memang sakit ku dengarkan, tapi apa daya yang bisa aku lakukan selain ikhlas dan menerima kenyataan. Seenggaknya aku ingin kita seperti air dan minyak, walaupun tak bisa bersatu tapi kita bisa berdampingan," ucap Lula sambil menggenggam kalung salib ditangannya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤