Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Lampu Hijau


__ADS_3

Semua orang kini tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan Elmira dan juga Mirda. Mereka sudah membagi tugasnya masing-masing. Tugas mengenai urusan catering sudah diserahkan pada Mama Febri dan juga Cyra. Gaun pengantin dan seragam keluarga sudah diurus oleh Alana dan juga Ummi Ulil. Sedangkan souvenir, semuanya Alan yang mengatur. Mirda juga membuatkan seragam untuk seluruh sahabat dekatnya. Dan orang yang bertugas membagikan undangan adalah Carel, Indira, si Kembar empat dan juga Aqeela. Kini mereka sudah membelah diri seperti amoeba, menjadi 2 kelompok.


Carel dan Indira seperti tak dapat dipisahkan, sebab hanya dengan Carel lah dia bisa sesuka hati bercerita. Meskipun usia Carel berada dibawahnya, tapi Indira nyaman.


"Ini undangan banyak banget si! Ayah tuh kan banyak ajudannya, ngapain nyuruh anak-anaknya nganterin undangan sebejibun ini!" gerutu Carel.


"Yee! Ini tuh undangan diluar kantor Ayah, ini tuh temen-temen deket mereka plus temen-temen Kak Rara. Udah jangan ngedumel, biar cepet kelar!" ketus Indira.


Mereka sudah sampai didepan rumah yang cukup besar, Indira dan Carel turun dari mobil.


"Kak Dira! Qila tunggu dimobil yak! Panas!" keluh Aqeela.


"Kaga ada ya! Turuuuunnnn!" tegas Carel membuat Aqeela berdecak kesal.


"Ck, ngapain rame-rame si! Nganterin satu undangan doang," kesal Aqeela.


"Kalo masih pada ribut aku laporin Ayah!" ancam Indira membuat keduanya terdiam.


Ting tong ting tong


Indira memencet bel yang ada diluar gerbang, tak lama kemudian pintu gerbang terbuka dan nampaklah seorang security disana.


"Ada yang bisa saya bantu non, den?" tanya sang security.


"Ini saya mau menitipkan undangan dari Mayor Jenderal Fahri untuk....." ucapan Indira menggantung seperti cucian belum kering karena ucapan seseorang.


"Hai cantik! Tau aja rumah gua disini," ucap Athaya membuat Indira sebal.


"Ini pak! Pokoknya saya titip aja undangannya, permisi! Ayok Car...." Saat Indira berbalik dia tak menemukan Aqeela maupun Carel disana.


Sepanjang perjalanan, Indira mencebik kesal. Pasalnya Aqeela dan Carel pergi begitu saja meninggalkannya disana. Karena sibuk berdebat, Indira sampai tak mendengar deru suara mobil milik Carel pergi dari sana.


"Jangan manyun mulu dong! Kan gua anterin lu ini," ucap Athaya.


"Ck, aku kan ga minta dianterin! Kamu aja yang maksa," kesal Indira.


"Anggep aja ini date pertama kita sebagai temen?" sahut Athaya dan Indira tidak menjawabnya.


Mobil melaju begitu saja dan Indira tak menyebutkan kemana mereka akan pergi.


"Mampir butik sebentar ya! Gua ngambil pesanan Abah sama Nenek dulu," pinta Athaya.


"Hmm, boleh anterin aku balik dulu gak? Soalnya aku juga mesti ke butik.... Lho! Kok kamu tau aku harus ke 'Ariela Boutique'?" kaget Indira.


"Hebat ya gua! Peramal," ucap Athaya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mereka berdua berjalan beriringan, keduanya tampak serasi karena warna pakaian mereka yang senada. Hal itu membuat Athaya tampak tersenyum.


"Kalian saling kenal?" itulah pertanyaan pertama yang muncul dibenak Alana.


"Temen kampus," jawab Indira singkat.


"Oh temen kampus yang kata kamu nyebelin plus gila itu?" tanya Alana dengan polosnya.


"What?!" kaget Athaya lalu menatap tajam Indira.


Alana tersenyum melihat kedekatan Athaya dan Indira, meskipun bisa dikataka mereka itu seperti Tom&Jerry. Tak lama kemudian, datanglah Husain mengajak untuk makan siang.


"Abang?!" kaget Indira dan Alana bersamaan.


"Kenapa? Kaya liat jurig aja!" kesal Husain ketika melihat Athaya disana.


"Lebih serem dari jurig!" ketus Indira menatap sang Abang.


"Makan siang yuk, sayang!" ajak Husain sambil merangkul pinggang Alana.

__ADS_1


"Hoek! Mual Adek denger kulkas 25 pintu ngomong gitu," ucap Indira.


"Syirik aja bocil! Pulang gih, ngapain disini?" ketus Husain.


"Abang! Gak boleh gitu, Dira tadi ditinggalin Carel. Untung dia dianterin Athaya kesini, kalo enggak gimana coba?" ucap Alana membuat Husain melotot.


Perlahan dia melihat Athaya yang tersenyum hambar, sepertinya laki-laki itu salah tingkah.


"Kalian berdua udah makan siang?" tanya Husain pada Indira dan Athaya.


"Belum, Bang," jawab Athaya.


"Belom lah! Gimana mau makan? Orang tadi baru sampe sini langsung dieksekusi sama sang wartawan," kesal Indira pada Alana yang terus bertanya.


"Dia bisa cerewet juga kalo sama keluarganya," batin Athaya.


"Yaudah yuk kita makam siang, biar Abang traktir kalian!" ucap Husain tanpa sadar membuat Indira bersorak senang.


"Yeeee! Makasih Abang," ucap Indira memeluk Husain.


"Andaikan, gua yang lu peluk," batin Athaya.


Mereka memasuki restoran Suki & BBQ, dimana semua keluarganya tengah berkumpul. Indira memelototkan matanya tak percaya, sebab dia membawa Athaya kesana.


"Ekhemmm! Itu yang bening-bening seger siapa, Dek?" tanya Bunda Gisya.


"Ck! Apaan yang bening?! Sayur oyong?!" kesal Ayah Fahri yang cemburu.


"Allahuakbar si Fahri! Udah tuwir juga masih cemburuan," celetuk Baba.


"Kaya situ kaga aja, Ba! Bukannya lebih parah ya?" ledek Ayah Fahri.


"Stop! Baba sama Ayah kenapa jadi debat? Ini namanya Athaya, temen kampus Dira sekaligus anaknya Kyai Abdul Rahardian. Ayah sama Baba tau kan?" tanya Alana.


"Haaaaaa? Serius kamu? Jadi kamu cucu nya Atok Danang?" tanya Baba Jafran.


Athaya merasa risih, sebab sejak tadi mereka terus menatap kearahnya sambil tersenyum.


"Kenapa Ayah Bunda lu dari tadi liatin gua mulu," bisik Athaya pada Indira.


"Gak tau! Udah gak usah dipeduliin, makan aja!" bisik Indira tanpa menoleh.


"Bun bukannya buat bridesman nya kurang ya? Gimana kalo Athaya aja?" tanya Elmira sambil menatap sang Bunda.


"Uhuukkk! Uhhuuuukkkk!" Athaya dan Indira tersedak bersamaan.


"Kita makan dulu! Baru ngobrol," ucap Bunda Gisya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Mulaii... Mulaiii.. Mau ngapain lagi sih keluarga somplak ini," keluh Indira dalam hatinya.


Mereka memperhatikan Athaya yang tampak selalu mendahulukan Indira, dia selalu memberikan daging pertama yang dia bakar untuk Indira. Kini mereka semua sudah selesai makan, dan berbincang-bincang hangat.


"Jadi kita semua berkumpul disini untuk membicarakan hari H pernikahan Kakak dan Bang Mirda yang tinggal menghitung hari. Apa semuanya udah siap dan selesai?" tanya Bunda Gisya pada mereka satu persatu dan mereka menjawabnya.


"Alhamdulillah, pokoknya setelah acara selesai kita liburan ke Bogor sama-sama!" ucap Ayah Fahri membuat mereka semua bersorak bahagia.


Seperti biasa, para anak muda selalu memisahkan diri dari para orangtua.


"Athaya, mau kan jadi bridesman? Kasian Indira gak ada pasangannya," ucap Elmira.


"Apaan si, Kak! Kan ada si biang kerok noh!" ketus Indira menatap Carel.


"Sorry dorry morry! Gua sama Aqeela, wlee!" ledek Carel membuat Indira sangat geram.


"Awas ya lu! Dasar Carel gila!" ucap Indira sambil melemparkan botol kosong.

__ADS_1


"Aduh!" Athaya memegang kepalanya yang tertimpuk Indira.


"Hahahahahaaha! Sial banget lu, 2x ditimpuk si Dira!" Celetuk Carel membuat Indira semakin kesal.


Dia menghampiri Athaya dan tanpa sadar mengelus kepalanya.


"Sorry ya! Gak sengaja!" ucap Indira sambil mengelus kepala Athaya.


"Elus terus, Dek! Siapa tau keluar jin!" goda Husain pada sang adik.


"Astaghfirullohaladzim!" ucap Indira saat sudah sadar, lalu menghampiri Elmira yang sedang menggendong Sweta.


"Jadi gimana, Athaya?" kali ini Bang Mirda yang bertanya.


"Saya bersedia, Kak," ucap Athaya membuat mereka tersenyum, lain halnya dengan Indira.


"Lampu hijau tuh! Gass terus," bisik Alana membuat Athaya tersenyum senang.


Selesai makan mereka semua kembali ke rumah Ayah Fahri untuk membawa seragam keluarga yang sudah disiapkan oleh Alana. Dengan paksaan sang Bunda, Indira akhirnya mengijinkan Athaya untuk ikut kerumahnya. Kini Athaya sedang duduk bersama para laki-laki lainnya, meskipun canggung dia ikut bergabung disana. Sejak pertama bertemu, Athaya memang sudah jatuh hati pada Indira. Dan ketika kedua orangtua Indira memintanya mendampingi, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Athaya.


Ayah Fahri semakin menyukai Athaya, sebab dia orang yang sopan dan mudah berbaur.


"Jadi kamu sama Dira satu kampus? Sama Carel juga dong?" tanya Papa Zaydan.


"Iya Om, saya cuman punya dua temen dikampus. Carel sama Dira aja, untuk yang lain saya gak nyaman. Karena pas di Turki, temen saya cuman Kak Alana aja," ucap Athaya.


"Berteman itu tidak boleh pilih-pilih, tapi untuk pergaulan tentu saja harus memilih. Jangan sampai kamu terjebak dalam pergaulan yang tidak benar," ucap Ayah Fahri.


"Itulah yang saya hindari, Om. Saya lebih baik menghindari hal-hal yang bisa menjerumuskan saya," ucap Athaya membuat Fahri tersenyum.


Tak terasa mereka berbincang hingga waktu sholat maghrib pun sudah tiba. Mereka melaksanakan sholat maghrib berjama'ah.


"Alan! Kali-kali jadi imam dong," ucap Baba Jafran membuat Alan nyengir kuda.


"Lain kali ya, Ba! Jama'ahnya kebanyakan, gimana kalo calon anggota keluarga baru aja! Majuuu lu, Ta!" ucap Alan sambil mendorong Athaya kedepan.


Siapa sangka Athaya tersenyum dan mengangguk, dia berdiri di saf depan setelah Mirda mengucapkan Iqomah. Lantunan ayat suci Alqur'an yang diucapkan oleh Athaya membuat hati Indira bergetar, tanpa sadar airmata meluncur begitu saja dipelupuk matanya. Apalagi ketika Athaya melantunkan do'a-do'a dipenghujung sholatnya. Mereka semua sangat kagum pada sosok Athaya, dan berharap jika Athaya adalah jodoh putri mereka.


Selesai sholat, kini mereka sudah berada dimeja makan. Athaya tak diijinkan pulang sebelum mengisi perutnya.


"Athaya mau makan sama apa?" tanya Alana.


"Sama sayur mau?" tanya Bunda Gisya.


"Ini aja oseng labu, enak tau! Belum pernah nyoba kan?" tanya Elmira.


"Apaan sih kalian ini?! Tinggal ambil piringnya, taro makanannya satu persatu didalam sini! Udah selesai, nih makan," ucap Indira sambil memberikan sepiring penuh makanan.


"Cieee.. Dira udah kasih lampu ijo, cieee....." ledek Alana membuat Indira tersadar dan wajahnya bersemu merah.


Indira kemudian duduk sambil tergugup, sedangkan Athaya tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi mau surat Ar-Rahman apa surat Al-Mulk?" bisik Athaya.


"Dua-duanya!" bisik Indira yang kesal.


"Tunggu sampe lulus, ya!" bisik Athaya lagi.


"Eh!" Indira tak lagi menjawabnya, sebab dia sibuk mencerna perkataan Athaya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2