
Bandung pagi ini terasa sangat dingin, semalaman hujan turun. Gisya dan Fahri masih bergelut didalam selimut. Setelah sholat subuh mereka memutuskan untuk menghangatkan diri dengam berpelukan.
"Ayah sayaaanggg banget sama Bunda." bisik Fahri mengecup pipi istrinya.
"Bunda juga sayaaangg Banget sama Ayah." ucap Gisya.
Pukul 6 pagi, Gisya mulai melakukan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Sambil menunggu cucian, dia memasak untuk suaminya. Gisya membuat sayur sop dan tempe goreng tepung yang menjadi favorite suaminya.
"Waahh wangi banget! Bunda makin jago nih masaknya, Abang lama-lama bisa gemuk kaya Bang Gilang." ucap Fahri.
"Mm, gombal! Ternyata Tentara bisa bucin juga ya Bang!" ucap Gisya tertawa.
"Pacaran sama Tentara emang ngeri Bun, tapi setelah menikah yaa beginilah. Abang aja selalu dibilang bucin sama Bunda sama si Ulil!" tutur Fahri.
"Emang Abang bucin! wleee!" ucap Gisya menjulurkan lidahnya.
"Eittss, udah berani yaa ledekin Abang!" tutur Fahri lalu menggelitik istrinya.
"Ampun Abang! Awaas ih Adek mau jemur baju!" ucap Gisya.
"Biar Abang yang bawa, Bunda tunggu aja didepan." pinta Fahri sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
"Dasar Abang!" kesal Gisya.
Hari ini Fahri mengambil cuti, dia ingin mengajak istrinya itu jalan-jalan. Semenjak kejadian Gisya terjatuh, Fahri lebih protektif. Dia selalu mengawasi setiap pergerakan istrinya ketika dirumah. Seperti saat ini, Fahri sedang mengawasi istrinya yang sedang menjemur pakaian.
"Ri, masih jadi mandor kamu? Daripada liatin istri terus, mending lari pagi sama aku sama Rian! Yuk!" ajak Dzikri pada Fahri.
"Iyaa gih sana Bang! Mending lari pagi sama Bang Dzikri. Ngapain sih ngawasin Adek terus, kan Adek udah baik-baik aja." ucap Gisya.
"Enggak! Abang mau nemenin Bunda sama jagoan disini." ucap Fahri.
"Dasar buciiiin!" kesal Dzikri meninggalkan mereka.
Gisya dan Fahri tertawa melihat kekesalan Dzikri. Selesai menjemur, Gisya mulai melipat baju. Fahri dengan setia menemani dan membantu istrinya itu.
"Bun, jam sepuluh nanti kita berangkat ya. Siap-siap dari sekarang!" antusias Fahri.
"Emang mau kemana sih Bang?" tanya Gisya
"Rahasia, pokoknya Bunda dandan yang cantik." bisik Fahri.
Seperti yang Fahri bilang, dia tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Gisya terus menyusuri jalan, mereka memasuki komplek perumahan yang tidak jauh dari Rumah Dinas. Gisya terpaku ketika mereka sampai didepan sebuah Rumah yang cukup dikatakan sebagai Rumah Impian Gisya.
"Ini rumah siapa Bang?" tanya Gisya.
"Masuk yuuukk!" ajak Fahri lalu menuntun istrinya untuk masuk kedalam rumah.
Gisya sangat kagum dengan desain rumah ini, terdapat taman dan gazebo disamping rumah. Belum lagi miniatur kolam ikan yang cukup menyejukkan. Fahri meminta Gisya untuk membuka kunci rumah itu dan Gisya menurutinya.
__ADS_1
"Coba Bunda buka kunci pintunya." ucap Fahri.
Ceklek
"Surpriiiiiseeeeeee!!!!" teriak semua orang.
Gisya tersentak, matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana tidak, kini semua orang ada disana. Termasuk Ibu dan Ayah mertuanya, serta adik iparnya. Ditambah dengan Foto pernikahannya yang besar terpajang di Ruang tamu.
"Abang, ini rumah kita?" tanya Gisya.
"Iya sayang, ini rumah kita dan anak-anak kita nanti." ucap Fahri sambil mengecup pipi dan puncak kepala Gisya.
"Woooyyy! Nyosor aja ente Ri! Kayak soang!" Goda Jafran membuyarkan romantisme yang saat ini sedang terjadi.
"Ih si Baba! Kebiasaan ngerusak suasana, ini lagi genre romance!" kesal Yuliana.
"Huff! Maaf Ummi!" ucap Jafran sambil menghela nafasnya.
"Susiiis nihyee!" ledek Syauqi pada Jafran.
"Bener Qi, sekarang anak Umma jadi Susis! Suami sieun istri!" ledek Umma Nadia.
"Ish! Emang Susis Aa mah Umma, Suami sayang istri!" gerutu Jafran.
"Boleh kita masuk duluuuuu?" tanya Gisya yang kesal dengan perdebatan mereka.
Fahri menuntun Gisya untuk masuk kedalam rumah, tepat di Ruang Keluarga ada Febri dan para bayik yang sedang tertidur. Bunda Syifa dan Mama Risma yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka semua. Fahri mengajak Gisya untuk masuk kedalam kamar yang cukup luas, ada kamar mandi didalamnya. Rumah ini cukup luas, memiliki 3 kamar tidur. Rumah ini tidak bertingkat, tapi posisinya berada diatas. Hingga pemandangan Kota Bandung sedikit terlihat dari sini.
"Apa Adek suka sama rumah ini?" tanya Fahri sambil memeluk Gisya dari belakang.
"Suka banget Abang! Kapan Abang beli rumah ini?"
"Ini salah satu mas kawin dari Abang buat kamu." ucap Fahri.
Gisya tersentak, pasalnya yang dia tau mas kawin yang diberikan suaminya itu adalah satu set berlian dan penginapan yang berada di Bogor.
"Semua ini sudah atas nama kamu sayang, semua milik Abang ini milik kamu dan anak-anak kita nantinya." tutur Fahri.
"Makasih Abang sayang! Makasih atas semuanya sayang." ucap Gisya mengecup bibir Fahri yang berakhir dengan ciuman yang menuntut.
"Astaghfirullohaladzim!" ucap Syauqi saat melihat kedua kakaknya itu.
"Yaa Allah Yaa Robbi Abang! Salah Uqi apaan sih! Apa mesti Uqi liat kalian live begitu muluk!" kesal Syauqi.
"Yee suruh siapa kamu maen nyelonong aja!" ucap Fahri yang tak kalah kesal.
"Disuruh Bunda! Cepetan keluar! Ditungguin juga nih daritadi, malah asik berdua!"
Syauqi keluar dari kamar Gisya dan Fahri dengan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
"Heh Malik! Kenapa tuh muka lecek banget? Kaya baju gak disetrika aja!" ledek Jafran.
"Abis liat soang sosor sosoran!" kesal Syauqi.
Mereka tertawa mendengar ucapan Syauqi, apalagi setelah melihat wajah Gisya yang memerah. Kini mereka mengaji bersama-sama untuk mendo'akan Fahri dan Gisya. Setelah selesai, mereka mengadakan acara barbeque disamping rumah tepatnya di Gazebo.
Bunda Syifa menitikkan airmatanya, dia sangat bahagia melihat putrinya bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas seperti saat ini.
"Tugasmu sudah selesai, sekarang hiduplah dengan tenang Ifa." ucap Umma Nadia.
"Iya Nad, aku sangat lega melihat kebahagiaan mereka. Tinggal nunggu Uqi buat nikahin Ina. Setelah itu hidupku akan benar-benar tenang." tutur Bunda Syifa.
"Jangan lupa selalu minum obatnya! Kamu harus kuat!" ucap Umma Nadia.
"Aku masih ingin menggendong cucu-cucuku, pasti aku akan kuat. Terimakasih untuk tidak membocorkannya pada anak-anak." Lirih Bunda Syifa.
"Belum, bukan tidak. Maka dari itu, kamu harus baik-baik saja." ucap Umma Nadia.
Gisya tertawa lepas ketika melihat Jafran kesulitan untuk menyalakan pembakaran.
"Baba bisa gak sih! Lama banget nyalain api nya!" kesal Yuliana.
"Sabar Mi, sabar! Baba kan gak bisa main api, panas! Bisanya naikin pesawat atau naikin Ummi!" ucap Jafran asal membuat Syauqi tersedak minumannya.
"Ampun! Tolong deh yang berbau +18 itu di skip!" kesal Syauqi.
"Beuuhhh kalo udah ngerasain mah gak akan kamu skap skip!" ucap Jafran.
"Si Aa! Ngeselin banget ngomongin gitu ke bujangan! Gimana kalo Uqi jadi kebelet!" ucap Syauqi sambil melirik kearah calon istrinya.
"Bundaaaaa! Si Malik kebelet kawin!!" teriak Yuliana pada Bunda Syifa.
"Yaa Allah gak lakinya gak bininya! Garelooooo!" kesal Syauqi.
Mereka tertawa mendengar percakapan ketiga makhluk itu.
Gisya menghampiri Bundanya yang sedang bermain dengan Cyra. Dia memeluk erat Bunda yang paling disayanginya.
"Terimakasih Bunda, Caca bahagia. Terus dampingi Caca ya, Bun. Caca masih sangat membutuhkan Bunda." ucap Gisya mengecup pipi Bundanya.
"Pasti, Bunda akan selalu menjaga kamu dan menemani kamu sayang. Bunda akan jadi Oma terbaik buat cucu Bunda." tutur Bunda Syifa memeluk Gisya.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤