My Only One

My Only One
Memori Dan Kesempatan


__ADS_3

*


*


Amara meletakkan coklat panasnya di meja, tepat di samping laptop yang masih menyala padahal waktu sudah sangat larut. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya setelah terjeda percakapan dengan orang tuanya di tanah air.


Kertas, buku, dan alat tulis masih berserakan dan dia tidak berniat untuk merapikannya. Toh besok juga masih dibutuhkan.


Kini perhatiannya tertuju pada ponsel pintarnya yang tergeletak begitu saja, yang kemudian dia ambil. Lalu menyalakannya dan segera masuk ke aplikasi media sosial yang akhir-akhir ini dia gunakan.


Mencari hal-hal menarik yang mungkin akan memunculkan ide-ide baru untuk tugas dan apa pun yang kini tengah di pelajari. Terutama yang berhubungan dengan makanan, food vloger dan semacamnya.


Tapi perhatiannya juga teralih pada satu storry sebuah akun yang lewat di beranda. Tentu, akun yang sangat dia kenal dan memang selalu di lihatnya, meski dirinya tidak pernah berkomentar ataupun mengirimkan pesan.


"Terkadang aku lupa, kalau aku ini bukan siapa-siapa." Caption yang Galang tulis di sebuah video sederhana yang menampilkan pemandangam malam di langit Jakarta.


"Dan aku mencoba memantaskan diri setelah aku menyadarinya." Kalimat yang pria itu tulis di video berikutnya, yang menampilkan kegiatannya berkeliling kota dengan motor cross kesayangannya.


"Tapi ternyata itu tidak cukup." Kalimat pada storry selanjutnya yang menampilkan foto siluet dirinya yang sedang duduk di atas motor besarnya.


Amara menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. Bahkan waktu dua tahun tidak cukup membuat dirinya merasa biasa saja pada setiap hal yang Galang ungkapkan. Seperti halnya pria itu yang selalu membuat postingan-postingan yang berhubungan dengan perasaannya.


Bukankah itu cukup jelas? Mereka berdua sepertinya masih memiliki perasaan yang sama. Tapi masing-masing memiliki ego dan cara berbeda untuk menjalani sesuatu. Yang tampaknya tidak akan pernah berhasil untuk membuat keduanya berjalan bersamaan.


Galang yang begitu ambisius terhadap segala sesuatu, dan dirinya yang memiliki banyak pilihan dan kesempatan untuk mewujudkannya. Namun tampaknya itu tak membuat mereka menjadi sepemikiran. Malah keduanya semakin lama menjadi semakin tak sejalan.


Tapi mengapa sulit sekali untuk saling melupakan? Dirinya tahu mereka begitu berbeda dari sisi mana pun, tapi tetap saja hatinya terus tertaut kepada pria itu.


Sekarang, biarkan saja dia dengan perasaannya, dan aku dengan perasaanku. Jika memang harus bersatu, bukankah akan selalu ada cara untuk bersama? Meski banyak perbedaan dan ketidak samaan dalam memahami sesuatu, maka Tuhan akan selalu memberikan jalannya bukan?


Lalu Amara menekan tombol unfollow pada kolom pengaturan. Dan semudah itu dia memutuskan, hanya untuk melihat dan membuktikan sejauh apa takdir akan mempertemukan mereka kembali. Mungkin dengan cara yang lain dan kesempatan berbeda.


Good bye my love.


Menjadi postingan terakhir yang mungkin akan Galang lihat setelah ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Om Galang!!" Dua anak kecil berlari ke arahnya begitu Galang keluar dari ruang interview pada lewat tengah hari itu.


Pria itu berhenti berjalan kemudian berbalik. Tampak Rania berlari di belakang dua anak kembarnya, seperti biasa.


"Hey?" Galang menyambut mereka bertiga.


"Sibuk Pak?" Rania segera menyapanya begitu jarak mereka sudah dekat. Sementara Anya dan Zenya menghambur memeluk kaki pria itu.


"Baru selesai. Kalian dari mana?" Galang berjongkok untuk mensejajari tinggi kedua bocah itu.


"Sekolah." Anya menjawab.


"Oh iya." Pria itu tertawa saat mengenali seragam taman kanak-kanak yang mereka kenakan.


"Kamu kapan pulang?" Lalu dia bertanya kepada sahabatnya.


"Semalam." Rania pun menjawab.


"Di Brazil naik podium lagi?" Kemudian Galang bangkit.


"Gitu deh."


"Sombong!" Galang sambil tertawa.


"Kamu emangnya nggak nonton balapannya ya?"


"Nggak sempat Bu. Aku kan sibuk?"


"Ah aku lupa. Kamu kan asisten suamiku ya?"


"Itu tahu?"


"Iya iya PaK Asisten, maaf." Rania mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Mommy pulang bawa piala yang gede banget. Bikin raknya jadi penuh deh Om. Nggak ada tempat lagi." Anya menginterupsi.


"Masa?"


"Iya, kayaknya harus beli lagi."


"Ya beli aja, apa susahnya?" Galang berujar.


"Tapi rumah jadi makin sempit, banyakan rak yang isinya piala Mommy semua." Zenya menimpali.


"Ya beli lagi rumah yang lebih besar, yang lebih luas biar nggak sempit." Galang dengan entengnya.


"Tuh kan, kata Om Galang juga beli lagi rumah Mommy, biar nggak sempit." Anya kepada ibunya.


"Apaan? Terus rumah yang itu mau di kemanain?"


"Ya jadiin tempat piala aja."


"Ogah, nanti mubadzir. Orang kita seringnya tidur di rumah Opa." Rania menjawab.


"Tapi kan kadang pulang juga ke rumah?"


"Nanti aja gimana Papi." Ibu dan anak itu beradu argumen.


"Terus kalian dari sekolah langsung kesini?" Lalu Galang menyela percakapan mereka.


"Iya, kata Momny biar papi ingat pulang siang."


"Memangnya mau kemana?"


"Nggak ke mana-mana, cuma mau sama papi aja."


"Oh, okelah kalau gitu. Mau barengan ke atas?" Tawar Galang kemudian.

__ADS_1


"Mau. Ayo?" Anya segera meraih tangan Galang dan menariknya ke arah lift. Sementara ibu dan saudara kembarnya dia tinggal di belakang.


"Dih, dia lupa sama kita Zen?" Rania menggiring putranya mengikuti dua orang di depan.


***


"Hallo tante Clarra?" Seperti biasa, Anya menyapa siapa pun yang ditemuinya terlebih dahulu.


"Hallo sayang? Mau bertemu papi?" Perempuan itu bangkit dari kursinya.


"Iya dong. Papi lagi sibuk?"


"Nggak terlalu. Baru saja selesai rapat di bawah."


"Oke." Anya belum melepaskan genggaman tangannya dari Galang, yang kemudian dia tarik masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.


"Hai Cla?" Rania turut menyapa sekertaris sekaligus sepupu suaminya itu.


"Hai Ran? Apa kabar? Aku dengar kamu baru pulang dari Brazil?"


"Begitulah."


"Selamat, kamu jadi juara lagi."


"Hmm ... makasih."


"Aku dengar juga kalian sedang mempersiapkan pembalap baru ya?"


"Ya, kurang lebih begitu. Nggak mungkin aku terus yang balapan kan? Harus ada yang gantiin."


"Iya, benar. Perlu regenerasi kan?"


"Iya."


"Hey Zenya, kamu pulang sekolah?" Clarra kemudian menyapa anak laki-laki yang stengah bersembunyi di belakang Rania. Dia memang tidak se ramah Anya, dan Zenya pun tidak terlalu banyak bicara seperti saudara kembarnya.


"Iya Tante." Anak itu menjawab.


"Kamu menjemput mereka Ran?"


"Iya, mumpung di rumah. Biar oma opanya bebas tugas." Rania sambil tertawa.


"Ya udah, aku masuk dulu ya?" Perempuan itu kemudian melenggang ke arah ruang kerja suaminya.


"Silahkan."


"Dah Tante Clarra." Zenya melambaikan tangannya, yang di jawab senyuman oleh sekretaris ayahnya itu.


"Aku kira kalian kesininya nanti sore?" Dimitri menyambut kedatangan anak dan istrinya.


"Tanggung, malas kalau bolak-balik ke rumah." Rania merangkul sang suami yang datang mendekat.


"Begitu ya?"


"Hmm ... sekalian mau laporan."


"Laporan kalau hari ini Anya di panggil kepala sekolah."


"Duh? Kenapa?"


"Dia melawan anak laki-laki yang mengganggu Zenya."


"Apa?"


"Anya memukul anak itu sampai hidungnya berdarah."


"Hah?" Dimitri menoleh ke arah putrinya yang segera bersembunyi di belakang Galang.


"Kenapa kamu begitu?" Lalu pria itu bertanya.


"Dia mau pukul Zenya. Ya aku pukul duluan."


"Kenapa dia mau pukul Zenya?"


"Karena Zenya nggak mau ngasih pinjem mainannya."


"Kenapa harus di pukul?"


"Dari pada Zenya yang dia pukul?"


"Astaga."


"Duh, kayak inget siapa ya ini?" Galang berguman sambil menahan tawa.


"Terus bagaimana?" Dimitri beralih kepada Rania.


"Nggak gimana-gimana. Aku udah minta maaf, terus antar anak itu sama ibunya ke rumah sakit untuk berobat, takutnya dia gegar otak."


"Masa sampai begitu?"


"Ya kan kita nggak tahu, mungkin pukulannya Anya keras makanya hidungnya berdarah. Dari pada jadi masalah nantinya ya aku milih tanggung jawab ajalah."


"Terus ibunya tidak marah?"


"Ya marah lah, anaknya berdarah gitu. Si Anya hampir kena jewer kalau aku nggak datang tepat waktu. Udah Anya jelasin kenapa dia sampai berani mukul juga ibu itu nggak terima. Setelah aku ajak kerumah sakit sambil ngobrol panjang lebar baru dia tenang."


"Apa yang kamu obrolin?" Galang menyela percakapan.


"Banyak."


"Misalnya?"


"Ya itu tadi, minta maaf."


"Tumben minta maaf, biasanya bela diri sekeras-kerasnya?"

__ADS_1


"Ya kali aku lawan dia? Nggak sepadan lah. Biarin aja."


"Terus masalahnya bagaimana?"


"Ya damai. Kan udah aku beresin."


"Segampang itu?"


"Ya gampang lah, kenapa harus di bikin susah? Tinggal minta maaf, terus tanggung jawab."


"Yakin beres? Nanti si Anya berulah lagi?" Galang kembali menyela.


"Yakin, soalnya Anya udah janji. Iya kan?" Rania menoleh kepada putrinya yang masih bersembunyi di belakang Galang. Dan anak itu segera mengangguk.


"Masa?" Galang pun ikut menoleh.


"Iya Om."


"Nggak yakin. Jangan-jangan nanti kamu gitu lagi?"


"Nggak akan, sumpah." Anya mengacungkan kedua jarinya.


"Kalau dia nggak gangguin Zenya lagi. Tapi kalau masih gangguin ya nggak tahu."


"Dih, anak lima tahun udah bisa bilang gitu? pinter bener!" Galang mengusak puncak kepala Anya.


"Jangan begitu Anya!" Dimitri kepada putrinya.


"Kan udah aku bilang ...."


"Iya tahu, tapi jangan begitu. Tidak baik."


"Iya Papi." Anak itu menunduk dengan raut menyesal.


"Promise?" Dimitri memiringkan kepalanya.


"Promise Papi." Anya menganggukkan kepala.


"Good girl!" pria itu mengusap pipi putrinya.


Kemudian dering ponsel Dimitri menginterupsi percakapan tersebut, dan nomor Satria lah yang memanggil.


"Ya Pih?" Dia segera menjawabnya.


"Kita harus terbang ke Moscow, kondisi Ded terus menurun sejak semalam."


"Apa?"


"Bawa anak dan istrimu, Papi tunggu di bandara."


"Tapi aku ada ...."


"Tidak ada waktu lagi, serahkan pekerjaanmu kepada Galang, karena Andra akan ikut kita."


"What?"


"Cepat Dim!"


"Ba-baik Pih."


"Kenapa?" Rania bertanya setelah suaminya mengakhiri panggilan.


"Kita harus ke Moscow sekarang juga."


"Apa?"


"Kondisi Ded menurun."


"Oh, ...."


"Cepat Zai, Papi dan Mama sudah menunggu di bandara."


"Aku harus ikut?"


"Ya, dan anak-anak juga. Come, Anya!" Dimitri mengulurkan tangannya kepada sang putri.


"Dan kamu, ambil alih pekerjaanku selama kami di Moscow." ucapnya kepada Galang.


"Saya Pak?" Galang menunjuk dirinya sendiri dengan rasa terkejut.


"Ya, siapa lagi? Kamu kan asistenku. Sudah tugasmu seperti itu."


"Tapi ada Pak Andra?"


"Om Andra ikut dengan kami ke Moscow, jadi mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan semua pekerjaanku kamu yang menangani." Dimitri menegaskan perintahnya.


"Semua Pak?"


"Iya."


"Tapi ...."


"Tidak ada waktu untuk banyak bicara, kami harus segera pergi." Dimitri segera menggiring anak dan istrinya keluar. Sementara Galang tertegun di ruangan itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Duh, ada apa dengan Ded?


simak terus kelanjutannya, dan jangan lupa like komen dan hadiahnya.

__ADS_1


lope lope sekebon 😘😘


__ADS_2