My Only One

My Only One
Tugas Galang


__ADS_3

*


*


Gerimis kecil mengiringi pemakaman pada hampir siang waktu Moscow. Sang ayah, Rudolf Nikolai menghembuskan napas terakhirnya beberapa jam setelah Satria, putra satu-satunya bersama seluruh keluarganya tiba di rumah sakit pada tengah hari sebelumnya. Keadaannya yang terus menurun sejak dua hari belakangan memang sudah dokter prediksi. Apalagi sehari sebelumnya, pria yang usianya sudah lebih dari seratus tahun itu sempat mengalami serangan jantung.


Semua anggota keluarga, kerabat dan sanak saudara juga kolega menghadiri acara pemakaman tersebut dalam suasana berkabung yang cukup dalam.


Apalagi dengan kedua cucu kembarnya, yakni Darren dan Daryl yang memang menetap bersamanya di sana. Keduanya tampak begitu terpukul, dan harus Sofia tenangkan. Mereka memang begitu dekat dengan sang kakek sejak masih kecil.


Satria menatap proses penguburan jenazah itu dalam diam. Berkali-kali dia menyeka sudut matanya yang basah. Meski mulut berkata ikhlas, namun hatinya tidak seperti itu. Siapa pun akan merasa jika ini terlalu cepat, dan tidak ada seorang pun yang menginginkan perpisahan. Tapi karena memang waktunya sudah tiba, maka tak ada siapa pun di dunia ini mampu menghalanginya.


Sofia mengusap punggung suaminya. Pria itu memang cukup terpukul juga, pasalnya mereka sempat berbincang, dan tidak menyangka jika hari itu adalah waktunya.


Banyak hal yang Nikolai katakan kepada anak dan cucunya. Juga sempat memeluk dua cicit kesayangannya, seperti halnya kepada anak-anaknya Dygta. Mereka benar-benar berkumpul pada hari terakhir itu. Membuatnya bisa pergi dengan tenang meninggalkan keturunannya yang akan menjadi pewaris dari segala yang dia miliki.


"Tetaplah bersama keluargamu apa pun yang terjadi. Karena merekalah satu-satunya yang akan mendukung di saat kau terjatuh dan terpuruk." Kalimat-kalimat yang dia ucapkan di tengah keluarganya memang selalu membekas akhir-akhir ini.


"Jaga semua yang telah kita bangun. Jangan sia-siakan siapa pun yang menemani kita sejak dari bawah, karena merekalah yang pertama kali akan mengulurkan bantuan di saat kita dalam kesulitan."


"Jangan lupa, jika Ded sangat mencintai kalian dengan segenap perasaan. Kalian adalah harta yang paling berharga untuk Ded." Dia dengan terbata-bata berbicara dalam rangkulan Dimitri, yang tidak meninggalkannya sedikitpun sejak mereka tiba.


Cucu yang paling sering bertengkar dengannya itu menjadi pendamping paling setia di saat paling akhir, hingga nyawa terlepas dari raga, dan dia pergi untuk selamanya.


***


"Mulai sekarang rumah akan selalu sepi." Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran sofa, ruang keluarga yang selalu menjadi tempat mereka berkumpul dan membicarakan banyak hal.


"Tidak ada lagi yang akan berteriak mengajak jalan pagi." Darren menimpali. Mengenang hari-hari mereka dengan sang kakek. Meski sudah di usia senja, Nikolai cukup aktif. Setidaknya dia selalu berolah raga dengan jalan-jalan pagi di sekitar mansionnya yang luas itu, sekedar untuk membuat tubuhnya selalu bugar.


Meski pada akhirnya, menurunnya kondisi jelas tak dapat dihindarkan lagi karena faktor usia.


Upacara pemakaman dan segala macamnya berakhir pada saat hari menjelang malam, dan kerabat terakhir pergi.


"Dan tidak akan ada lagi yang mengomelimu Kak." lalu dia menoleh kepada Dimitri yang sama-sama terdiam.


"Walau bagaimana pun, memang sudah pada waktunya. Kita hanya bisa menerima hal ini dengan ikhlas, meski sulit." Satria berujar.


"Padahal kemarin Ded masih mengomel karena aku sering telat pulang." Daryl mengingat saat terakhirnya dengan sang kakek.


"Kenapa sampai sering telat pulang?" Sofia menyahut. Berusaha mengalihkan perhatian agar kesedihan tidak terlalu mereka rasakan.


"Pekerjaanku sangat banyak Mom. Tahu sendiri di pabrik bagaimana. Apalagi sekarang sedang ada peningkatan produksi dan kualitas. Aku harus ikut turun tangan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Kalau kecolongan, bisa langsung di tutup pabrik kita." jawab putra keduanya.


"Darren?"


"Aku di hotel, tidak terlalu menyita waktu. Selain tuntutan karyawan untuk naik gaji."


"Kalian sama-sama sibuk ya?"


"Begitulah ...."


"Apa ada masalah yang tidak bisa kalian tangani di sini?" Satria bergabung dalam pembicaraan.


"Sejauh ini masih bisa Pih. Hanya saja, di sini memang lebih ketat dari negara lain. Semua usaha ada di bawah pengawasan pemerintah. Tidak tunduk aturan sedikit saja, bisa berakhir bisnis kita."


"Tapi kalian bisa bertahan? Kalau tidak, kita jual aset saja. Pindahkan semua ke Indonesia agar kita tetap berkumpul dan kalian bisa bergabung di Nikolai Grup pusat."


"Bisa Pih, bisa. Tidak separah itu juga. Kalau kita taat aturan semuanya aman, pemerintah menjamin kok."


"Kalian yakin?"


"Yakin Pih. Prospeknya cukup bagus, sayang kalau kita lepas begitu saja."


"Tapi Ded sudah tidak ada."


"Tidak apa-apa. Usahanya masih ada, dan banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya kepada kita. Kalau di jual, mereka belum tentu akan mendapatkan hal yang sama seperti ketika masih dengan kita. Papi tahu, setiap pengusaha memiliki kebijakannya sendiri. Dan Nikolai Grup salah satu yang paling baik terhadap karyawan."


"Begitu?"


"Ya."


"Baiklah, terserah kalian."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadwalnya apa hari ini Cla?" Galang baru saja tiba, dan dia segera masuk ke dalam ruangan Dimitri di mana Clarra sudah berada di sana.


"Ingat dengan pertemuan dengan perwakilan dari Taiwan di Hotel Indonesia?"


"Oh, pertemuan itu ya?"

__ADS_1


"Hmm ... Satu jam lagi akan di mulai, jadi kita harus pergi sekarang." Clarra melihat jam tangannya.


"Sekarang?"


"Ya." jawab Clarra.


"Dengan kamu juga?"


"Memangnya siapa lagi yang akan mendampingimu di sana? Ya aku lah. Yang menemani Dimitri juga aku."


Galang tampak menghembuskan napasnya.


"Kenapa? Tidak mau pergi dengan aku ya?"


Pria itu menggelengkan kepala, kemudian tersenyum.


"Terus kenapa?"


"Aku hanya lega, aku pikir pergi sendiri."


"Tidak mungkin. Aku harus selalu ada di setiap pertemuan kerja sama dengan perusahaan mana pun. Apalagi kamu yang menggantikan Dimitri."


"Itu bagus."


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang?"


"Baik." Clarra memberikan sebuah kunci kepada Galang.


"Apa ini?"


"Kunci mobilku. Kita nggak mungkin pergi ke sana dengan motor kamu kan? Aku lupa nggak memakai celana panjang." Clarra menunjuk dirinya sendiri yang hari itu mengenakan kemeja fit in berwarna biru muda dan rok beberapa senti diatas lutut. Memamerkan kaki jenjangnya yang indah.


"Umm ... waktu itu ke Bandung kamu bisa? Malam-malam lagi?" Galang tergelak. Ingat dengan kejadian beberapa minggu sebelumnya saat perempuan di depannya memaksa ikut dengannya berkendara ke Bandung sepulang kerja.


"Itu beda tahu?"


"Sama saja Cla."


"Masa aku dengan pakaian begini naik motor kamu yang tinggi itu?"


"Siapa suruh pakai rok pendek? Kenapa nggak pakai celana saja sih? Kan lebih leluasa bergerak."


"Nggak pakai apa-apa maksudnya?" Pria itu tertawa.


"Galang ish!"


"Bercanda Cla."


"Pokoknya cepat kita pergi. Malu kalau membuat mereka menunggu." Clarra mengingatkan.


***


"Kamu yakin aku bisa menangani pertemuan ini?" Mereka tidak langsung turun dari mobil setelah tiba di area parkir hotel tempat pertemuan itu di adakan.


"Yakin. Bukankah kamu sering menemani Dimitri?" Clarra menyiapkan segala yang dia butuhkan untuk pertemuan hari itu.


"Ya, sebagai asisten."


"Tapi kamu berada di sana selama Dimitri bekerja. Melihat dan mendengar apa yang dia lakukan. Dan bukankah kamu juga sudah belajar soal ini dengan Pak Arfan? Lalu apa yang kamu takutkan?"


"Aku tidak takut."


"Lalu?"


"Aku hanya ...."


"Gugup?"


Galang menganggukkan kepala.


"Ini pertama kalinya aku menggantikan Pak Dimitri, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Atau bagaimana memutuskan hal yang benar. Bagaimana jika aku salah?"


"Hal pertama memang selalu menjadi yang paling sulit. Tapi apakah kamu tahu, bahwa itulah yang akan merubah cara pandangmu akan segala hal. Mengubah cara kerjamu, dan segala yang akan kamu lakukan nantinya. Jadi, janganlah ragu. Hanya lakukan seperti yang kamu lihat dan sudah kamu pelajari. Aku yakin kamu bisa." Clarra membesarkan hatinya.


Galang menatap perempuan itu dalam diam.


Wajahnya selalu terlihat tenang namun bersemangat. Selalu mejalani pekerjaannya dengan cakap dan penuh percaya diri. Dia memang sangat frofesional dan penuh tanggung jawab.


"Jadi tunggu apa lagi? Ayo kita selesaikan pertemuan ini, dan membuat bosmu bangga karena kamu bisa di andalkan?" ucap perempuan itu lagi dengan semangat.

__ADS_1


"Kamu percaya kepadaku Cla?" Galang berujar.


"Tentu saja. Ayo, semangatlah!" Clarra menepuk pundaknya untuk menyemangatinya.


Yang tentu saja memang membuat Galang merasakan semangat dan kepercayaan dirinya naik beberapa kali lipat.


Lalu mereka berjalan ke dalam hotel dan segera menuju ruang pertemuan yang sudah di tentukan sebelumnya.


Keduanya berhenti di depan pintu yang masih tertutup. Namun keduanya tahu bahwa orang yang di maksud sudah tiba beberapa saat yang lalu dari informasi yang Clarra terima.


Galang menghirup dan meghembuskan napasnya beberapa kali. Meski sudah sering menemani Dimitri melakukan pertemuan seperti ini, tapi dia belum pernah menjadi pembicara atau bernegosiasi. Hanya sekedar mendampingi, dan memastikan segala yang atasannya perlukan tersedia.


"Kamu pasti bisa Lang!" Clarra kembali menyemangatinya.


"Hmmm ...." Pria itu sudah mengetuk pintu, lalu hampir menekan pegangannya ketika Clarra menghentikannya.


"Sebentar Lang."


"Apa lagi?"


"Ini." Clarra mengulurkan kedua tangannya ke arah Galang, yang membuat pria yang hampir beusia 26 tahun itu cukup terkejut.


"Kamu mau apa?" Galang mundur dua langkah ke belakang.


"Dasimu!" ucap Clarra.


"Apa?"


"Dasimu miring!" Clarra maju hingga jarak mereka cukup dekat.


Dia segera meraih bagian atas dasi yang terlilit di bawah kerah kemeja rekannya itu. Membenahinya hingga Galang terlihat cukup rapi.


"Kamu tahu, kesan pertama bagi investor itu cukup bisa mempengaruhi keputusan mereka. Selain kecakapanmu dalam berbicara, penampilanmu juga penting." Clarra menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya itu.


"Nah sudah rapi." Dia mengusap helaian dasi, lalu pundak Galang untuk membuat jasnya lebih rapi lagi.


"Umm ...." Galang membeku.


"Kamu sudah siap menemui investor sekarang." Lalu Clarra tersenyum.


"Kamu suka begitu kepada Pak Dimitri ya?" Namun Galang berujar.


"Apa? Tidak. Bercanda ya? Dia akan marah kalau aku melakukannya." Clarra menjawab.


"Lalu kenapa kepadaku kamu melakukan itu?"


"Kan sudah aku kasih tahu kalau dasimu miring?" Mereka mulai berdebat.


"Jangan salah faham ya? Aku hanya memastikan semuanya baik. Lagi pula Dimitri selalu rapi, jadi aku nggak harus merapikannya juga."


Galang mencebikkan mulutnya.


"Mati kamu kalau Si Oneng tahu?" lalu dia bergumam.


"Apa sih kamu ini? Selama ini aku nggak pernah berani begitu kepada Dimitri."


"Masa?"


"Terserah kalau kamu nggak percaya."


"Kenapa kepadaku kamu berani?"


"Karena kamu singel. Kalau punya pacar aku nggak akan berani. Apalagi punya istri. Bisa salah faham kan?"


"Duh?"


"Sudah, ayo cepat kita masuk." Clarra membuka pintu, kemudian menyapa mereka yang sudah berada di dalam.


Dia melebarkan pintu sehingga Galang pun bisa masuk. Kemudian keduanya duduk di kursi yang sudah tersedia, dan memulai pertemuan pada hari itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


nah nah nah ... ada apa ya setelah ini? 🤔🤔🤔


like komen hadianya kirim terus ya?

__ADS_1


lope lope sekebon 😘😘


__ADS_2