My Only One

My Only One
Pacaran


__ADS_3

🌺


🌺


"Zai, apa kamu masih lama?" Dimitri duduk di kursi malasnya di halaman belakang rumah mereka.


Siang sudah menjelang namun Rania tampak masih sibuk dengan dua motor dan peralatan bengkelnya. Teras belakang rumah mereka berubah fungsi menjadi bengkel dadakan setiap kali perempuan itu melakukan pengecekan pada motornya.


"Sedikit lagi." Perempuan itu menjawab.


"Dari tadi kamu bilang sedikit lagi tapi tidak selesai-selesai?" protesnya yang tak mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Ya sabarlah, kalau benerin mesin tuh nggak bisa buru-buru. Bisa gawat nanti."


"Lagi pula kenapa sih tidak minta orang lain saja? kamu punya tim mekanik yang pasti akan mau kalau di suruh untuk melakukan hal seperti ini? Malah di kerjakan sendiri?" Pria itu menggerutu.


"Ya nggak bisa gitu dong, kalau masih bisa aku kerjain sendiri ya kerjain lah. Apa-apa tuh nggak boleh selalu mengandalkan orang lain. Kan bagus kalau kita kerjain sendiri?"


"Masalahnya waktu kita terbuang percuma."


"Percuma apanya?"


"Aku sengaja mengosongkan jadwal untuk hari ini karena ingin dirumah bersama kamu lho?"


"Lah, bukannya memang harus dirumah ya? Ini kan hari sabtu, kamu gimana sih?"


"Masalahnya, aku kan ...."


"Kenapa? Nggak mau ada di rumah? Maunya kerja terus gitu, atau keluar sama klien? Gitu?" Rania menghentikan kegiatannya kemudian menoleh.


"Umm ...."


"Ya udah sana kalau mau pergi?" Rania memekik.


"Padahal udah seneng aku kalau lagi gini ada yang nemenin. Ada yang ngajak ngobrol jadi nggak berasa sendiri terus."


"Duh?" Dimitri cepat-cepat bangkit dari kursinya kemudian menghampiri istrinya itu.


"Tidak begitu Zai."


"Segitu saja kamu merasa rugi yah?"


"Tidak, kamu ngaco." Pria itu berjongkok di depannya.


"Sudah, cepat selesaikan motornya."


"Ini kan juga mau. Kamu protes terus!"


"Iya iya, maaf."


Rania mendelik.


Pria itu kemudian memutuskan untuk duduk di dekatnya. Memperhatikan kelihaian Rania dalam mengutak-atik mesin beroda duanya itu. Dia sudah seperti montir profesional saja.


Bagaimana tidak? Sejak kecil istrinya itu memang sudah mengenal dunia otomotif lebih dari siapa pun. Membuatnya faham dalam segala hal yang berurusan dengan mesin, terutama kendaraan mereka.


Dimitri bahkan tak harus repot-repot pergi ke bengkel untuk merawat kondisi mobilnya. Karena Rania yang akan melakukannya. Dia bahkan yang memberi jadwal perbaikan setiap beberapa bulan sekali.


"Rumah sepi ya kalau anak-anak tidak ada?"


"Iyalah, mereka pergi ya berkurang banyak orang di rumah ini. Suster bisa libur, kerjaan Mbak Leni jadi berkurang, dan satpam juga bisa santai. Nggak harus ikut ngawasin mereka juga. Papi sama Mama memang pengertian."


Dimitri terdiam untuk beberapa lama. Namun kemudian dia teringat sesuatu.


"Hey, Zai?"


"Hum?"


"Kamu waktu kecil, seumuran Anya sudah ikut papamu ke bengkel?"


"Kadang-kadang."


"Kenapa ikut ke bengkel?"


"Dari bayi udah gitu."


"Papa sengaja membawamu ke bengkel?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Mama kan kuliah lagi pas aku udah enam bulan. Ya papa bawa ke bengkel. Kan aku udah cerita?"


"Kenapa tidak meningalkanmu di rumah saja?"


"Akunya nggak mau."


"Kenapa?"


"Kata nenek aku suka rewel kalau nggak papa bawa. Aku kan nggak punya baby sitter kayak Anya sama Zenya."


"Memangnya kalau kamu papa bawa ke bengkel tidak rewel?"

__ADS_1


"Nggak lah."


"Kok bisa?"


"Ya bisa dong, papa kan gendong aku terus." Rania tertawa.


Sementara Dimitri memutar bola matanya.


"Kenapa sih tiba-tiba kamu tanya soal itu?" Rania kembali menoleh kepada suaminya.


"Tidak, hanya mencari bahan obrolan." Dimitri pun tertawa.


"Ish! Kirain kenapa?"


"Cara mainnya anak-anak sekarang dengan kita beda ya?" Dimitri kembali berbicara.


"Beda lah."


"Anya dan Zenya susah di jauhkan dari gadget."


"Gimana kebiasan kita. Kamu megangnya gadget, ya anak-anak juga gitu."


"Hmm ...."


"Mereka nggak ada yang niruin aku kayaknya. Selamat, selamat." Rania tertawa mengingat kelakuannya semasa kecil.


"Memangnya kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, bagus aja. Lagian mana ada anak jaman sekarang yang mainnya kayak aku dulu?"


"Memangnya dulu kamu bagaimana?"


"Kamu nggak akan percaya kalau aku cerita."


"Ceritalah, aku suka mendengar ceritamu. Masa kecilmu seru."


"Memangnya masa kecil kamu nggak seru ya?"


"Seru. Tapi nggak seseru kamu."


"Masa?"


"Iya."


"Aku pas dibawa pindah papa ke komplek itu jadi banyak temen. Beda sama pas masih tinggal dirumah kakek."


"Disana kan anak kecilnya cuma aku. Ada temen paling kalau pas Om Gara nginep. Selebihnya yan sendiri. Tapi setelah pindah baru punya temen. Salah satunya Galang."


"Terus?"


"Apa saja?"


"Yw banyak. Kalau sekarang sih aku yakin nggak ada anak yang mainnya kayak aku. Tempat untuk mainnya juga nggak ada."


"Salah satunya?"


Rania terdiam untuk mengingat.


"Main layangan di depan rumahnya Galang." Lalu dia tertawa. "Atau kadang aku naik ke balkon kamarnya dia biar mainnya lebih asik. Bisa lihat layangan punya orang lain biar aku lawan."


"Sampai segitunya?"


"Seru tahu! Apalagi kalau pas main ke villa Bogor. Lebih seru. Main layangannya di atas genteng, bisa manjat-manjat pohon, main ke hutan, metik jambu, ngambil buah di kebun orang, terus kabur." dia tertawa lagi mengenang masa kecilnya yang penuh keseruan.


Aku tidak pernah main layangan di balkon siapa pun, aku bahkan tidak tahu ada permainan semacam itu dan anak perempuan bisa memainkannya. Huh, betapa mengesalkan sekali! Batin Dimitri saat dia teringat juga ucapan Galang kemarin sore.


"Kamu tumben tanya soal itu?"


"Kan sudah aku bilang biar ada bahan pembicaraan." Dimitri menjawab.


"Oh iya, aku kan nggak ngerti soal bisnis ya? Jadi nggak akan nyambung kalau kamu ngobrol soal itu."


"Ya, seperti itu."


"Nah, selesai!" Rania bereaksi ketika pekerjaannya berakhir.


"Benarkah?"


"Ya." Perempuan itu bangkit.


"Kita coba, apa sudah bagus?" Lalu dia menyalakan mesin motornya.


Rania memutar gas sehingga keluar suara mesin meraung-raung, dan dia mendengarkannya dengan benar.


Perempuan itu tersenyum puas saat merasa pekerjaannya berhasil denga sempurna.


"Ah, ... hade! (Bagus)." katanya.


"Sudah?" Dimitri mendongak.


"Hmm ..." Dan Rania menganggukkan kepala.


"Bagus, berarti kita bisa pergi sekarang?"

__ADS_1


"Pergi ke mana?"


"Ke mana saja. Ayo kita kencan?"


"Kencan?"


"Ya, mumpung anak-anak tidak ada."


Kemudian percakapan itu terjeda ketika asisten rumah tangga mereka muncul.


"Maaf bu, Pak?"


"Ya?" Mereka menoleh bersamaan.


"Semua pekerjaan sudah selesai, makanan juga sudah siap."


"Oke."


"Jadi saya mau pamit."


"Oh, mau pergi sekarang?"


"Iy Bu, anak saya sudah menunggu di depan."


"Oke kalau gitu. Jangan lupa kembali Minggu sore ya?"


"Iya Bu, permisi." Dia pun pergi setelah mendapat jawaban dari Rania.


"Nah kan, semua orang pergi." ucap Dimitri sesaat setelahnya.


"Iya, rumah sepi lagi seperti biasa."


"Sepi?"


"Iya. Eh, nggak deh kan masih ada pak Satpam didepan."


Dimitri pun bangkit dari posisinya.


"Kalau begitu ayo?"


"Mau kencan sekarang?"


"Tidak jadi."


"Terus?"


"Kita ke atas saja."


"Mau ngapain? katanya tadi mau kencan? Pergi keluar kan?"


"Setelah dipikir-pikir, kencannya kita dirumah sajalah."


"Dih? udah buru-buru beresin motornya juga? Tapi ujung-ujungnya tetep dirumah?"


"Nanti kita pergi setelah ini."


"Nggak yakin beneran pergi?" Rania turun dari motornya.


"Kita lihat saja nanti."


"Tuh kan?"


Pria itu tergelak.


"Cepat sana mandi!" Dimitri mendorong Rania ke arah kamar mereka di lantai dua.


"Ngapain mandi? Nanti juga keringetan lagi?"


"Minimal cuci tanganmu, masa mau pacaran tangannya kotor begitu?"


"Dih, pacaran? Kaya abege aja?"


"Ya anggap saja begitu."


"Abege mateng!"


"Suka-suka kamu lah." Kemudian mereka berdua tertawa.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Ini edisi Mama Oneng dan Papi Dimi. Karena malam minggu kemarin mereka nggak up di lapaknya, jadi kita pindahin kesini. Siapa tau ada yang kangen yakan.


Tapi makin deg-degan ini, gimana Kang Dudul sama Ara? huh, lama amat ketemuannya?


Tenang gaess, ... selowwwww 😂😂😂


vote dulu dong, biar naik. Jangan lupa like komen sama hadiahnya juga ya?

__ADS_1


lope lope sekebon 😘😘



__ADS_2