
🌺
🌺
"Kamu sudah lihat pengumuman kelulusan?" Piere kembali dengan dua cup minuman dingin di tangan.
Mereka sengaja mengambil jam istirahat di sore hari agar bisa dengan tenang mencari tahu informasi terbaru dari kampus.
"Belum, ini baru mau." jawab Amara yang menerima satu minuman untuknya. "Kamu sendiri bagaimana?"
"Belum." Piere menggelengkan kepala, kemudian dia duduk tak jauh dari gadis itu.
"Kalau begitu kita lihat sama-sama?" ucap Amara setelah melihat jam di layar ponselnya.
"Boleh. Tapi ngomong-ngomong, hari ini kau sering sekali melihat jam. Ada apa?" Pria itu kemudian bertanya. Pasalnya seja tengah hari teman sekelasnya itu tampak gelisah.
"Tidak apa-apa."
"Apa ada masalah?" Piere meyakinkan.
"Tidak ada. Hanya sedang menunggu seseorang." Amara pun menjawab.
"Siapa? Pria yang semalam?"
Amara hanya tersenyum.
"Dia salah satu tamu yang aku bilang tempo hari, yang memberiku tip besar itu lho."
"Oh ya?"
"Ya."
"Bagus, dia memang baik."
"Apa dia pacarmu?"
Amara malah tertawa.
"Aku serius bertanya."
"Umm ... sebenarnya, mantan."
"Mantan?" Piere membeo.
"Ya, aku putus dengannya sebelum pindah ke Paris."
"Dua tahun yang lalu?"
"Ya."
"Why?"
"Karena perbedaan prinsip."
Tawa Piere menyembur begitu saja setelah mendengar perkataan gadis di sampingnya.
"Kenapa tertawa?"
"Aneh sekali anak muda sepertimu putus hubungan karena masalah prinsip? Kuno sekali."
Amara terdiam.
"Prinsip mana yang berbeda di antara kalian?" Kemudian Piere bertanya lagi.
"Masalah pekerjaan." Terlanjur juga, pikirnya. Sekalian saja dia bercerita kepada pria itu.
"Hmm ... apa masalahnya? Sepertinya dia pria yang sukses?"
"Justru itu, aku takut dia menjadi terlalu sukses sehingga nanti akan melupakan aku dengan mudah."
"Apa katamu?" Piere kembali tertawa.
"Aku serius, dan rasanya tidak enak meiliki anggota keluarga yang terlalu sukses seperti itu."
"Sebentar, aku sedang berbicara denga siapa sih ini? Memangnya kau ini anak siapa?" Piere mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak penting."
__ADS_1
"Apakah orang tuamu terlalu sibuk sehingga kamu membenci hal seperti itu? Kau kekurangan kasih sayang karena mereka terlalu sibuk bekerja?"
Amara tampak berpikir.
Kekurangan kasih sayang? Sepertinya tidak. Dia mendapatkan itu dari semua orang. Ayahnya selalu melimpahinya dengan cinta yang begitu besar bahkan di saat paling sulit sekalipun. Pria itu selalu berusaha memberinya kasih sayang yang meski dia sangat sibuk. Dan dirinya pun ingat siapa yang selalu ada sejak dia bisa membuka mata hingga memejamkannya di malam hari. Meski sering ditinggalkan karena pekerjaan tapi pria itu selalu berusaha ada untuk dirinya.
Perpisahan kedua orang tua mungkin menjadi hal paling menyakitkan yang dia alami bahkan di saat dirinya belum terlalu mengerti. Tapi orang-orang di sekelilingnya selalu berusaha membahagiakannya. Sampai-sampai mereka selalu memperlakukannya bagai seorang ratu.
"Tapi lihat, inilah hasilnya." Piere menunjuk Amara dari atas ke bawah.
"Kau bisa ada di sini karena jerih payah orang tuamu. Waktu yang mereka gunakan untuk mencari uang mengantakanmu ke salah satu kampus paling bergengsi di Paris, dan kau mengeluh untuk itu? Rasanya tidak logis sekali."
"Apakah mereka memperlakukanmu dengan tidak baik? Maksudku, apa mereka mengabaikanmu karena pekerjaan yang kau sebut terlalu sukses itu?"
Amara menggelengkan kepala.
"Apa kau kekurangan kasih sayang mereka?"
Gadis itu menggeleng lagi.
"Lalu apa masalahnya? Mereka melakukan itu agar kau bisa seperti ini. Aku tahu mungkin orang tuamu bukan orang sembarangan. Mereka pasti semacam orang penting makanya bisa menyekolahkanmu ke Paris. Dan kau tahu, apartemen tempatmu tinggal bukanlah tempat sembarangan juga. Itu adalah hunian paling di idamkan oleh sebagian besar anak muda Paris seperti aku. Yang mampu tentunya. Bukan seorang mahasiswa jalur bea siswa seperti aku yang hidupnya pas-pasan dan harus bekerja paruh waktu untuk menyambung hidup." Piere tertawa pelan.
"Kau pasti lahir di keluarga yang makmur sehingga bisa kuliah di luar negri dengan fasilitas seperti itu. Dan aku yakin pekerjaan yang kau ambil buka karena kau membutuhkannya, melainkan hanya untuk mengisi waktu luang."
Amara kehilangan kata-kata.
"Benar kan apa yang aku katakan?" Piere memiringkan kepala untuk melihat wajah gadis itu lebih jelas.
Amara kemudia mengangguk.
"Sudah kuduga." Pria itu tertawa. "Berkali-kali kau mengatakan, bahkan pekerjaan pegawai di resort papamu tidak seberat di sini. Dan itu sudah membuktikan seberapa sukses orang tuamu. Dan kau mau mengeluh soal itu? Yang benar saja!"
"Tapi masalahnya ...."
"Waktu mereka berkurang denganmu?"
Amara terdiam lagi.
"Kau pikir apa? Adakah kesuksesan tanpa pengorbanan? Tidak nona! Hidup ini soal pilihan. Kalau kau ingin sukses, maka kau harus mengesampingkan keluargamu. Tapi bukan berarti kau melupakan mereka. Tapi memang ada yang harus menjadi prioritas agar hidupmu berhasil. Dan ini adalah resikonya. Tapi lihat apa yang kau dapat sekarang?"
"Piere!!"
Kemudian pria itu tertawa.
"Semua orang punya prinsipnya sendiri-sendiri. Dan jika mereka harus selalu menyesuaikannya denganmu agar kalian bisa hidup berdampingan, lalu apa gunanya sekolah?"
"Maksudmu?"
"Sekolah itu agar kita pintar, berwawasan luas, dapat ilmu yang bermanfaat baik bagi diri kita maupun untuk orang lain. Juga untuk bersaing dalam mencapai mimpi dan kehidupan lebih baik. Dan apa sudah aku katakan juga jika tidak semua orang terlahir dari keluarga kaya, yang bisa mendapatkan segalanya dengan mudah? Sebagian besar dari kami bahkan harus berjuang keras demi kehidupan yang lebih baik di masa depan. Setidaknya untuk kami sendiri, dan akan lebih baik lagi jika bisa menjamin kehidupan orang lain juga. Setelah berkeluarga, misalnya. Apalalagi laki-laki, kau harus bertanggung jawab atas kehidupan orang lain meski perempuan yang kau cintai lebih mampu darimu. Karena harga diri laki-laki itu terletak pada pekerjaannya."
"Kamu bicara begitu seolah kamu pernah berumah tangga?" Amara menyela.
"Tidak selalu harus mengalaminya untuk mengetahui sesuatu. Pengalaman orang lain pun bisa jadi pelajaran." Piere menjawab. Dan pria ini selalu bisa mematahkan argumentasi yang dilontarka Amara.
"Contohnya ayahku." lanjutnya, kemudian dia terkekeh.
"Hum?"
"Ibuku meninggalkannya karena dia gagal dalam bidang pekerjaan. Padahal dia pria yang rajin dan tekun. Hanya karena dia tidak berhasil menjadi manager di sebuah percetakan menjadikan ibuku memilih untuk pergi."
"Ironis bukan? Bahkan rasa cinta pun akan pudar seiring waktu, apalagi jika keadaanmu tak sesukses orang lain. Kita ini hidup di zaman materialistis, di mana segala hal di nilai dengan uang. Mau sekuat apa pun tetap tidak bisa menghindar karena itulah kenyataannya. Maka ayahku mengatakan, sukseslah dulu sebelum mengejar perempuan. Karena setelah sukses, maka perempuanlah yang akan mengejarmu."
"Peribahasa aneh apa itu?" Amara tertawa.
"Peribahasa ayahku." Piere pun ikut tertawa.
"Jadi sebenarnya kau ini beruntung. Semua orang menyayangimu, meski cara mereka berbeda. Dan pria yang mencintaimu ingin berjuang agar dia pantas untukmu. Jadi sudah sepantasnya juga kau untuk bersyukur. Bukan malah menolak apa yang sedang dia lakukan. Hal konyol apa itu?"
Amara masih tertawa, namun dia merasa pikirannya seperti tercerahkan.
"Kamu tahu Piere, ayahmu beruntung memiliki anak sepertimu. Selain kamu rajin dan tekun juga pintar, kamu juga terbuka untuk banyak masalah dan memandangnya daru sudut yang berbeda." Dia merangkul pundak pria itu.
"Memag, baru tau ya? Selama ini kemana saja?" Piere dengan bangganya.
"Dan sepertinya selama ini aku memang salah."
"Salahnya di mana?"
__ADS_1
"Memandang segala yang dia perjuangkan sebagai pemaksaan, padahal dia sedang memantaskan diri." Wajah Galang berkelebat di pelupuk mata.
"Aku rasa selama ini dia minder."
"Minder katamu?"
"Ya."
"Dia selalu merasa malu kalau aku ajak ke rumah menemui Papa. Seolah papaku akan memandang apa yang dia miliki, padahal nggak seperti itu." Amara tersenyum bangga membayangkan segala usaha yang Galang lakukan.
"Dia tidak lahir seperti aku, dia bahkan membiayai kuliahnya sendiri sebagai mekanik ... dia ikut Kak Rania waktu itu."
"Benarkah?"
"Ya. Bukankah dia hebat?"
"Hebat sekali, dia keren!"
"Dan aku tidak menyadarinya selama ini bahwa apa yang dia lakukan adalah bentuk perjuangannya untukku?"
"Nah, sekarang mengerti kan maksudku?" Piere menujuk wajah gadis itu sambil tertawa.
"Ya, aku mengerti."
"Bagus. Jangan jadi gadis dungu yang tidak tahu bersyukur!" Dia menyentuh pelipis Amara dengan ujung telunjuknya.
"Iya iya, aku mengerti!"
"Nah sekarang, ayo kita lihat apakah kita lulus atau tidak?" Pria itu mengeluarkan ponselnya.
Dia kemudian masuk ke website kampus mereka dan mencari informasi soal kelulusan yang sore itu di umumkan.
Matanya dia fokuskan pada daftar ratusan mahasiswa yang seangkatan dengannya. Dan pandangannya membulat seketika saat namanya terpampang di daftar mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik.
"See? Ini aku!" Piere menunjuk tabel nama di layar.
"Mana, mana?"
"Namamu juga ada!"
Amara merebut benda pipih itu dari Piere, dan memang benar. Dia pun kenemukan namanya di daftar kelulusan.
"Aku lulus!" Gadis itu berteriak kegirangan.
"Kamu juga lulus!"
"Kita lulus!" Mereka berdua sama-sama berjingkrak seperti orang gila. Kemudian berpelukan karena begitu gembiranya.
Ucapan-ucapan kegembiraan mereka lontarkan, dan keduanya terhanyut dalam euphoria tersebut sehingga tanpa sadar dua orang ini berkali-kali saling memeluk dan memuji antara satu sama lainnya.
"Umm ... maaf." Amara melepaskan rangkulan ketika dia menyadari sesuatu.
"Aku terlalu gembira!" Piere pun berujar.
Gadis itu kemudian memalingkan wajah ketika dia merasa ada seseorang di sekitar, namun tak ada yang dia temukan.
"Ada apa?" piere melihat ke arah tatapan mata Amara.
"Tidak apa, rasanya tadi ada orang di sana?" gadis itu menunjuk ke dekat bangunan hotel.
"Mana? Tidak ada."
"Makanya."
"Yang penting kita sudah lulus!" Ujar Piere lagi, kemudian mereka tertawa.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Hadeh, cuma gitu doang Kang dudul pundung? Ah, kalau kata Anya mah nggak asik! 😂😂
cus lah like komen sama hadiahnya kirim lagi. 😄😄
__ADS_1