My Only One

My Only One
Fokus


__ADS_3

🌺


🌺


Vita memeluk Clarra begitu erat saat dia tiba di rumah mereka pada tengah hari. Dan tak ada yang mereka katakan selain menangis. 


"Jangan lagi berbuat begitu Nak, kamu membuat Mama dan Papa khawatir." 


"Sudah aku katakan aku tidak mau bertemu lagi dengan mereka." Clarra menjawab.


"Iya, Mama tau. Maaf. Seharusnya Mama lebih mendengarkanmu dari pada Larra."


"Mama tahu keadaanku baik-baik saja sebelum bertemu dia. Tapi setiap kali dia datang, aku selalu merasa tidak tenang."


Vita menganggukkan kepala.


"Maaf." Perempuan itu setengah berbisik.


"Aku mau istirahat, aku lelah." ucap Clarra seraya melenggang ke kamarnya di lantai atas.


"Iya, baik. Istirahatlah."


"Keadaannya memang rumit Pak." Galang dan Fahmi duduk di paviliun dan bercakap-cakap seperti biasa.


"Ya, kadang saya merasa gagal. Sebagai dokter saya mampu mengobati orang lain, tapi sebagai ayah tidak bisa menyembuhkan anaknya sendiri."


"Sepertinya Clarra terlalu banyak memendam masalahnya sendirian. Dia juga terlalu keras kepada dirinya sendiri. Dia menolak siapa pun yang datang mendekat, dan membuat jarak dengan semua orang."


"Memang. Padahal kami berusaha sebaik mungkin agar bisa membuatnya merasa aman. Setidaknya setelah Larra menemuinya saat dia kelas tiga SMA. Sebelum itu dia baik-baik saja. Pertemuan dengan ibunya, dan kenyataan bahwa dia bukan anak kandung kami sepertinya menjadi pukulan paling keras yang tidak bisa dia terima. Meski yakin kasih sayang kami melebihi apa yang dia tahu."


Galang mengangguk-anggukkan kepala.


"Tapi kedekatannya denganmu sedikit merubah sikapnya. Setidaknya dia tahu harus ke mana jika mengalami serangan emosi seperti kemarin."


"Ya, itu sedikit melegakan."


"Dulu, saat awal dia tahu bahwa Larra adalah ibunya, dia sering pergi ke tempat yang tidak kami tahu. Pulang setelah dua hari kemudian, lalu mengurung diri di kamar. Atau terkadang kami menemukannya pingsan karena dia terlalu keras belajar dan lupa untuk memperhatikan keadaannya sendiri."


"Itu sangat membuat frustasi." Fahmi mengusap wajahnya sendiri.


"Apa hubungan kalian serius?" Pria paruh baya itu kemudian mengalihkan topik pembicaraan.


Galang mendongak.


"Saya harus bertanya soal ini. Kalian sering pergi bersama, dan keadaannya memang lebih baik setelah dekat denganmu."


"Soal itu …."


"Saya harap hubungan kalian bukan hanya keisengan semata. Kalian sudah sama-sama dewasa dan bukan saatnya bermain-main."


Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Jangan tegang begitu, saya hanya bertanya." Fahmi tertawa seraya menepuk pundak pria muda di dekatnya.


"Saya hanya memastikan jika putri kami bersama orang yang tepat. Yang akan menjaganya dan memastikan keadaannya baik-baik saja."


"Saya tidak tahu, apakah saya orang yang tepat untuk Clarra, tapi …."


"Tidak ada yang tahu, hanya saja saya harus tahu bahwa siapa pun yang dekat dengan Clarra tidak akan menyakitinya."


"Umm …."


"Dia sudah kehilangan banyak hal. Pria yang dicintainya menikah dengan sahabatnya, lalu sahabatnya meninggal, kemudian saat dia akan kembali bersama dengan pria itu malah terhalang restu orang tua karena kehadiran ibunya." Fahmi menggelengkan kepala.


"Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini." Pria itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Larra bahkan tidak mau menyerah meski selalu mendapat penolakan dari Clarra. Berbagai cara dia lakukan untuk mendekat tanpa peduli kondisi anaknya sendiri. Tidak percaya ada orang seperti itu di dunia ini."


"Mungkin seharusnya kita mengatakan kepada Bu Larra agar tidak lagi menemui Clarra Pak. Kita harus memberi tahu jika kehadirannya mengganggu Clarra."


"Kami sudah melakukannya, tapi Larra tidak mau mengerti."


"Memang sulit menghadapi orang seperti itu."


"Ya, kamu benar."


"Mungkin kita harus memikirkan cara lain?"


"Apa?"


"Belum tahu, nanti kita pikirkan. Atau sebaiknya bicara kepada Pak Satria saja soal ini?"


"Kenapa harus bicara kepada Satria? Dia tidak ada hubungannya dengan ini."


"Bu Larra sendiri yang menyangkut pautkan urusan Clarra dengan Pak Satria. Jadi mungkin harus ada yang kita lakukan soal itu."


"Entahlah, … kami merasa kalau tidak seharusnya kami membawa Satria dalam urusan ini. Dia tidak seharusnya tahu."


"Kalau Bu Larra sudah keterlaluan, mungkin kita perlu mengatakannya kepada Pak Satria."


"Kami merasa tidak enak. Tidak seharusnya melibatkan orang lain dalam hal ini."


"Bukanya Pak Satria itu sepupu Bu Vita?"


"Ya, memang. Tapi tidak seharusnya juga kita membawa masalah ini kepada Satria. Dia pun memiliki keluarga yang harus di pikirkan."


"Tapi tidak ada salahnya kalau dicoba. Nanti saya yang bicara kepada Pak Satria."


"Ah, aneh sekali. Dia sepupu kami tapi saya bahkan merasa segan kepadanya."


"Seharusnya tidak begitu Pak."


"Memang." 


"Baiklah, kalau begitu mungkin saya harus ke sana sekarang." Galang bangkit.


"Ke mana? Ke rumah Satria?"


"Ya. Saya yakin Bu Larra nantinya akan kembali lagi menemui Clarra. Dan saya rasa itu tidak baik untuk mentalnya. Maka kita harus melakukan sesuatu soal itu."


"Kamu yakin?"

__ADS_1


"Iya, dia sepertinya ngotot sekali. Saya curiga ada motifasi lain dibalik kedatangannya sekarang. Apa lagi membawa pria yang dia sebut sebagai ayahnya Clarra. Padahal sebelumnya tidak seperti itu."


"Hmm …." Fahmi mengangguk-anggukkan kepala.


"Kalau begitu saya pergi. Pak Satria sudah saya beri tahu, dan beliau meminta saya untuk menemuinya." Galang menatap layar ponselnya ketika sebuah pesan masuk.


"Kamu sudah memberi tahu dia?"


"Ya, maaf. Tapi memang sepertinya itu harus."


"Baiklah, terserah kamu saja."


"Saya pamit. Tolong katakan kepada Clarra saya pergi."


"Ya, baik."


Lalu Galang pun segera meninggalkan tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria itu tiba di kediaman Nikolai hanya dalam waktu tiga puluh menit saja. Suasana di rumah besar itu tampak ramai karena semua cucunya memang sedang berkumpul. Tidak terkecuali Rania bersama dua anak kembarnya.


"Ngapain kamu ke sini?" Rania bertanya begitu Galang tiba.


"Aku ada urusan dengan Pak Satria."


"Ada apa?"


"Kamu kepo."


"Dih? Sombongnya!"


"Om Galang, Om Galang! Mau jemput aku ya?" Anya berlari begitu mengetahui kedatangan pria itu.


"Nggak, kamu ke geeran!" Galang menjawab.


"Ih, … Kirain mau jemput aku?"


"Om mau ketemu Opa."


"Yaahhh …."


"Kenapa juga harus jemput kamu? Om ada urusan tahu?"


"Sekarang hari Minggu kan?" anak itu bertanya.


"Iya."


"Mau ke tempatnya Kak Ara!" rengek Anya.


"Hah?"


"Kalau Minggu Kak Ara nyuruh kesana. Katanya aku bisa makan es krim sepuasnya."


"Ish! Es krim terus di pikirannya." Rania menggerutu.


"Benar begitu?"


"Sampai-sampai dia nahan diri makan es krim di sini. Demi es krim di kedainya Ara."


"Masa?"


"Serius. Gara-gara Ara juga sih yang janjiin gitu."


"Janji apa?"


"Kalau setiap hari minggu Anya ke sana, dia akan siapin es krim khusus untuknya."


"Benarkah?"


"Hu'um." Rania mengangguk lagi.


Galang terdiam dan berpikir.


"Tunggulah, Om mau bicara dulu dengan Opa." Galang kepada Anya, yang membuat gadis kecil itu berjingkrak kegirangan.


***


"Larra memang tidak berubah." Satria meletakkan wadah berisi makanan ikan peliharaannya. Kemudian dia duduk di kursi tak jauh dari kolam tempatnya menikmati waktu luang dihari tua.


"Dan seperti dugaanmu, jika dia memang memiliki motif lain."


"Benar?" Galang pun duduk di kursi tak jauh darinya.


"Ya. Beberapa bulan ini dia sering bolak-balik Jakarta-Batam dengan alasan yang berbeda-beda. Dan alasan utamanya adalah untuk menemui putrinya."


"Bapak mengawasi Bu Larra?"


"Sebenarnya sudah lama tidak. Dia sudah dengan kehidupannya sendiri dan tidak berbuat macam-macam yang membahayakan keluargaku. Tapi kegiatannya akhir-akhir ini cukup mencurigakan."


Galang mengerutkan dahi.


"Mungkin perpisahannya dengan suami barunya menjadi motifasi dia mendekat kepada Clarra."


"Apa?"


"Kamu tahu, satu kebohongan akan membuat seseorang kembali membuat kebohongan lainnya untuk menutupi perbuatannya di awal. Dan jika di awal saja kamu sudah berbuat culas, maka hanya itulah yang bisa kamu lakukan untuk bertahan hidup. Sehingga kamu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan ketika orang terdekatmu mengetahui akan kebohongan itu. Alih-alih mengaku bersalah dan memperbaiki diri, kamu malah kabur dan mencari hal lain sebagia tempatmu berindung."


Galang mendengar dan mencerna setiap kalimat yang pria itu ucapkan.


"Dan itu yang sedang Larra lakukan."


"Dia punya niat buruk kepada Clarra?"


"Ya. Sepertinya dia tidak bisa bersikap jujur kepada siapa pun termasuk suaminya sendiri. Yang dia lakukan hanya memikirkan dirinya dan bersenang-senang setiap kali ada kesempatan. Padahal usianya sudah tidak muda lagi. Sementara pria manapun tidak akan tahan jika seorang perempuan selalu bersikap seperti itu."


"Dan aku rasa sekarang sasarannya adalah Clarra, ketika suaminya mencampakannya lagi."


"Dia tahu, Clarra memiliki segala yang dibutuhkannya untuk menopang hidup. Jadi alasannya memang kuat mengapa dia terus mendekat meski Clarra tetap menolak. Perlu kamu tahu juga jika aku memberikan Clarra aset yang cukup agar dia bisa menopang kehidupannya sendiri begitu dia lahir. Tidak lama setelah aku dan Larra resmi bercerai. Seharusnya itu haknya, tapi karena dia kabur dan meninggalkan anaknya sendiri yang baru lahir, jadi aku putuskan untuk meberikan hak itu kepada Clarra yang saat itu dalam pengasuhan Vita. Dan aku rasa inilah motif Larra sebenarnya."


"Tapi Clarra itu anaknya sendiri."

__ADS_1


"Tidak ada pengaruhnya bagi Larra, karena yang penting baginya adalah kehidupannya sendiri." 


"Bisa-bisanya seorang ibu berbuat seperti itu?"


"Bagi Larra tidak ada yang mustahil. Selama dia bisa melakukan apa pun, segalanya masih mungkin."


Galang menggelengkan kepala.


"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Pria itu kemudian bertanya.


Sementara Satria menatapnya untuk beberapa saat.


"Kamu ini serius dengan Clarra ya? Aku lihat kamu sepeduli itu kepadanya. Bahkan hal seperti ini pun kamu berniat mengurusinya?"


Galang hampir saja menjawab.


"Tapi itu bagus. Bertanggung jawab atas apa yang kamu pilih adalah tindakan dewasa. Dan aku harap kamu tidak akan mengecewakan siapa pun."


"Kalau bisa, tangani masalah ini dulu sendiri bagaimana pun caranya. Jika kamu tidak bisa, katakan saja. Kita akan gunakan cara lain untuk mengurusnya."


"Bapak bersedia membantu?"


"Tentu saja, mereka itu keluargaku. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan?"


"Baik. Saya akan mengurusnya."


"Bagus." Satria bangkit.


"Kalau begitu saya pergi Pak?"


"Ya, pergilah."


"Baik." Galang pun undur diri.


"Hey Galang?" Satria kembali memanggilnya.


"Ya Pak?" Pria itu menghentikan langkah sebelum mencapai pintu.


"Fokus pada apa pun yang kamu pilih setelah ini. Jangan sampai melakukan kekeliruan." Satria tanpa memalingkan perhatian dari kolam ikan peliharaannya.


Galang tertegun sebentar, lalu dia mengangguk meski masih mencerna apa yang pria itu katakan.


***


"Om udah ngobrolnya sama Opa?" Anya sudah berdiri di depan pintu begitu Galang melewati lorong penghubung antara ruang tengah dan pintu belakang. 


"Apa sih Anya?" Pria itu bereaksi.


"Katanya mau ajak aku ke tempat Kak Ara?" Anak itu dengan matanya yang berbinar penuh harap. Dia bahkan menunggu selama Galang dan sang Kakek bercakap-cakap di halaman belakang.


"Astaga! Kirain Anya udah lupa." Galang menepuk kepalanya sendiri.


"Om kan udah janji?"


"Kapan? Om nggak janji?"


"Tadi sebelum ketemu Opa?"


"Nggak!"


"Ahh, … Om nggak asik!" Anya dengan raut kecewa.


"Om ada urusan lah." Galang melenggang keluar dari rumah.


"Tahu gitu tadi ikut Om Daryl aja aku kesananya." gumam anak itu.


"Apa?" Pria itu kemudian berbalik.


"Eh, Om Darren kan ada ya? Kenapa nggak ajak Om Darren aja." Anya hampir berlari ke arah tangga, namun Galang menahannya.


"Memangnya Om Daryl ke tempatnya Kak Ara?" Pria itu bertanya.


"Iya, kata Om Darren pulang jogging langsung ke sana." Anya menjawab.


"Hmm …."


"Om Darrennn!" Anya berteriak.


"Eh, kenapa teriak-teriak?"


"Aku mau ajak Om Darren ke tempatnya Kak Ara. Pasti mau. Nggak nyebelin Kayak Om Galang!" Anak itu berujar.


"Apa kamu bilang?"


"Iya, Om nyebelin ahh …." Anya hampir kembali berlari menuju tangga.


"Eh, … kok gitu?"


"Habisnya …."


"Ya udah, ayo pergi."


"Hum?"


"Bilang Mommy kamu sana!"


"Beneran?"


"Iya. Cepat!"


"Yeayyyy! Mommy! Aku mau pergi ikut Om Galang!!!" Anya berlari menuju ibunya di ruang keluarga.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Jiah, ... Anya mah, bikin tanggul Ambyar 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2