My Only One

My Only One
Patah Hati


__ADS_3

🌺


🌺


Amara membanting pintu mobil begitu dia tiba di depan ruko yang sepi. Setelah berkendara cukup jauh dari pantai hingga akhirnya sampai ke tengah kota, dia memutuskan untuk kembali ke tempat yang akan dia jadikan kedai untuk memulai usahanya.


Dadanya bergolak penuh amarah namun dia tak mampu melampiaskannya. Segalanya bergulung di dalam dan menguasai perasaan sehingga membuatnya merasa sakit dan sesak di saat yang bersamaan.


Dengan cepat gadis itu melesat ke lantai dua di mana sebuah ruangan yang yang masih kosong berada. Dia jatuh berlutut, kemudian tangisnya pun pecah.


Amara menangis sejadi-jadinya. Perasaannya porak poranda, dan hatinya terasa begitu hancur. Betapa penyesalan begitu menguasainya sehingga tak ada lagi yang mampu dia rasakan selain hal itu.


Keputusannya mengakhiri hubungan dua tahun yang lalu memang berakhir buruk. Dia mengira akan bisa melupakan tambatan hati, namun nyatanya tidak seperti itu.


Perasaannya tetap tertaut kepada pria itu meski mereka terpisahkan jarak dan waktu. Namun keegoisan nya memang mendominasi. Menyebabkan dirinya tak mau memahami keadaan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan Galang sekalipun.


Dia terbiasa mendapatkan apa pun yang di inginkan. Menjalani hidup yang sempurna sebagai Amara yang di ratukan oleh keluarganya, terutama sang ayah. Dan dia terbiasa terbiasa diperlakukan begitu baik oleh semua orang.


Namun nyatanya itu berdampak pada kepribadiannya yang menjadi manja dan mengira bahwa semua hal akan berjalan seperti yang dia inginkan. Karena dia tahu, seseorang akan selalu ada di belakangnya untuk memperbaiki keadaan agar sesuai dengan keinginannya.


Tapi keadaannya berbeda bukan? Kini dia sudah dewasa, dan segala hal tidak selalu seperti apa yang dia mau. Dan kini Amara mengerti.


Benar, semua yang Galang katakan adalah benar. Tentang keegoisannya, tentang keputusannya, dan segala macam yang dia kira akan sesuai dengan keinginannya.


Juga tentang keadaan mereka yang berpisah tanpa penjelasan dan janji apa-apa. Dan pria itu memang bebas untuk menentukan apa saja yang akan dipilihnya. Tidak ada yang salah dengan itu.


Tapi tetap saja, perasaannya tidak bisa menerima.


Gadis itu terus menangis hingga akhirnya dia kelelahan dan tertidur dengan sendirinya dilantai yang dingin tanpa alas. Tenggelam dalam patah hati yang begitu dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang memacu motor crossnya melalui lintasan tanah nan berdebu. Sesekali kubangan berlumpur menjadi rintangan yang membuatnya mengurangi kecepatan. Namun kemudian kembali melesat cepat ketika mendapat kesempatan baik di area tanpa halangan.


Beberapa motor sudah mendahuluinya, membuat pria itu merasa kesal karena posisinya bisa tersingkir dari peringkat tiga besar, bahkan mungkin terlempar dari jajaran sepuluh besar dan tidak bisa menambah piala di rak kamarnya.


Belum lagi rasa sakit di kaki yang menyebabkannya melambat sejak pertama balapan dimulai. Benar-benar mengganggu.


Dan jangan lupakan, ketika wajah marah bercampur sedih Amara yang mendominasi pikirannya sejak semalam. Bahkan ketika dirinya dalam perjalanan ke Bandung setelah mencoba menyusulnya yang ternyata tak dia temukan di rumah orang tuanya yang terletak tak jauh dari pantai tempat mereka berbicara sebelumnya. Setidaknya, dari keterangan penjaga keamanan dia mendapatkan informasi jika gadis itu tak pulang ke rumah.


Kamu kemana Ra? Jangan membuatku merasa bersalah! Galang membatin.


Namun dia tersadar ketika orang-orang berteriak dan menunjuk ke arah depan. Dan Galang terhenyak ketika sebuah batu besar teronggok di tengah lintasan, yang berfungsi sebagai rintangan selanjutnya. 


Dia tak sempat menghindar sehingga membuatnya menekan kedua rem sekaligus dengan kencang yang kemudian menyebabkannya tidak mampu menghindari dari kecelakaan.


Motor yang dikendarainya oleng kemudian jatuh menimpa tubuhnya. Dan menyeretnya hingga kemudian terhenti karena membentur onggokkan tersebut.


Yang tentu saja membuat kegaduhan di area lintasan tanah itu, sehingga orang-orang segera berkerumun untuk melihat keadaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Arfan dan Dygta saling pandang ketika anak gadis mereka tiba di rumah pada hampir siang. Dalam keadaan berantakan dan wajahnya sembab dengan mata yang membengkak. Setelah semalam mendapatkan kabar jika gadis itu akan menginap di ruko yang akan dia jadikan kedai.


"Hai Mom, Pah." Amara menyapa mereka dan berlalu begitu saja menuju tangga untuk mencapai kamarnya di lantai dua.


Dygta hampir saja bangkit untuk mengejarnya dan mencari tahu keadaan putri sambungnya itu, sebelum akhirnya sang suami menahannya.


"Biarkan saja." Arfan berujar.


"Tapi dia sepertinya tidak baik-baik saja." 


"Biarkan saja, tidak usah ikut campur."


"Tapi sayang, kamu bilang semalam dia bertengkar dengan Galang?"


"Iya, biarkan dia menangani masalahnya sendiri dulu. Mana tahu itu yang dia inginkan?"


"Kamu tidak lihat dia barusan?"


"Lihat. Aku bahkan bisa melihat apa yang terjadi semalam, tapi itu bukan urusan kita."


"Tapi Papa?"


"Sudah, dia bukan anak sd yang apa-apa harus kita bantu tanpa diminta. Dia sudah dewasa. Sudah seharusnya dia menangani masalahnya sendiri. Maka biarkanlah begitu, sampai nanti dia yang bicara sendiri."


"Tapi aku khawatir."


"Kamu pikir aku tidak? Bayangkan seperti apa perasaanku ketika mengetahui apa yang terjadi dan membuat anakku menangis. Apa aku tidak sakit?"


Dygta terdiam.


"Tapi tetap saja …." Dygta menghempaskan bokongnya di sofa seperti semula.


"Biarkanlah. Kita tunggu sampai dia bicara sendiri." ucap Arfan lagi.


"Papa …."


"Ara sudah dewasa. Dia harus bisa menangani masalahnya sendiri."


"Hmm … kenapa sih tidak kamu hajar saja Galang sekalian? Malah membiarkan hanya Ara yang menendang kakinya? Membuatku kesal saja!"


Arfan tertawa mendengar ucapan istrinya.


"Malah tertawa. Tidak lucu." Perempuan itu misuh-misuh.


"Sudah aku katakan bukan urusan kita. Itu urusan pribadi mereka kan? Lagi pula rasanya konyol sekali kalau aku mengurusi hal seperti ini."


"Kenapa kamu bilang begitu? Ara itu putrimu, dan seorang pria sedang menyakitinya."


"Menyakitinya apa? Galang tidak berselingkuh, tidak juga mengkhianatinya. Mereka bahkan sudah putus jauh sebelum ini. Apa yang harus aku lakukan?"


Dygta memutar bola matanya.

__ADS_1


"Haknya Galang menjalani hidupnya sendiri, dan haknya juga untuk memilih orang lain. Dia tidak harus terjebak selamanya dengan Ara jika memang tidak mau. Kenapa sih kamu tidak juga mengerti?"


"Ugh! Aku kesal sekali mendengarmu berkata seperti itu!"


Arfan tertawa lagi.


"Dasar laki-laki! Membuat Ara ku menangis, awas saja kalau dia meminta kembali!" Dygta menggerutu.


Arfan menggelengkan kepala, setengah tidak percaya.


"Ara yang putus cinta, kamu yang patah hati. Menyesal Galang tidak menjadi menantumu?"


"Bukan begitu, hanya saja …." Dygta menggantung kata-katanya ketika mendengar langkah tergesa di tangga.


Kemudian mereka menoleh untuk melihat. Dan Amara yang muncul dengan keadaan lebih segar dari sebelumnya.


"Mau pergi lagi?" Dygta memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya Mom. Udah ada yang merespon pengumuman lowongan kerjanya. Aku harus kembali ke kedai."


"Sudah ada yang melamar pekerjaan?"


"Udah, barusan ada beberapa yang ngechat. Mereka udah nunggu di depan kedai."


"Cepat juga ya?"


"Hmm … semua orang lagi butuh kerjaan sekarang. Keadaan lagi nggak baik kan?"


"Benar, benar." Arfan menganggukkan kepala.


"Pergi dulu ya, Mom, Pah." Amara berpamitan.


"Tidak makan dulu kak?"


"Nanti aja di kedai sambil bereksperimen."


"Begitu?"


"Iya."


"Baiklah, hati-hati." Arfan menjawab.


"Oke." Dan Amara pun segera pergi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


waktunya vote gaess.


semoga bisa crazy up lagi😉


__ADS_2