My Only One

My Only One
Ego


__ADS_3

🌺


🌺


Galang menghentikan cumbuan di saat tedengar isakan dari mulut Amara. Kemudian dia memundurkan kepala untuk menciptakan sedikit jarak diantara mereka berdua. Cengkeramannya pada tubuh gadis itu pun melonggar dengan sendirinya. Lalu secara perlahan tubuh semampai itu pun melorot hingga terduduk di lantai.


Galang pun bersimpuh di hadapannya, kemudian dia meraih kedua tangan gadis itu. Meski sempat mendapat penolakan, namun dia berhasil menenangkannya.


“Kakak lebih egois dari aku.” Amara setengah berbisik. 


Galang tak bereaksi, namun malah mengeratkan genggaman tangannya pada gadis itu.


“Aku sudah merelakan Kakak untuk pergi dengan siapa pun, tapi kenapa Kakak malah seperti ini? Yang Kakak lakukan itu kejam!” Amara menarik sebelah lengannya dengan keras sehingga terlepas dari genggaman Galang.


“Sebenarnya Kakak ini maunya apa sih? Terus berusaha menemui aku tapi masih tetap bersama Kak Clarra. Kakak mau menyakiti aku? Mau balas dendam? Apa permintaan maafku nggak ada artiya untuk Kakak?”


“Ra!” Galang berusaha kembali meraih tangannya yang terlepas.


“Dengan bersikap kayak gini, nyatanya Kakak sudah menyakiti aku! Lalu gimana nanti kalau Kak Clarra tau? Dia jiga akan sakit hati, terus aku yang disalahin!”


“Sekuat-kuatnya aku, setegar-tegarnya aku, dan setangguh-tangguhnya aku, tetap saja aku ini manusia biasa. Aku juga punya hati, aku punya perasaan yang sulit untuk ditolak, apalagi dihilangkan. Aku butuh waktu yang nggak sebentar untuk merelakan segala hal yang nggak mungkin jadi milik aku. Kakak ngerti nggak sih?” Amara mendorong dada Galang dengan keras sehingga pria itu terhuyung ke belakang, dan dia pun jatuh terduduk di depannya.


“Aku ini sakit! Dan aku sedang mencoba menyembuhkan rasa sakit ini biar semuanya bisa pulih. Dan setelah aku bisa pelan-pelan menerima semuanya, Kakak malah terus kembali dan mencoba mendekat. Terus aku harus gimana? Kapan aku sembuhnya?” Dia setengah berteriak.


Galang bergeser untuk kembali mendekat, meski Amara terus mendorongnya. Dan kekuatannya jelaslah tidak sepadan. Sama kuatnya dengan perasaan yang kini terus menyeruak di dalam dada.


“Nggak mau! Kakak lebih baik pergi aja, aku nggak mau ketemu Kakak lagi!”


“Ara!” Galang terus merangsek ke hadapannya dan berusaha menghilangkan jarak di antara mereka.


“Mungkin ideku untuk tetap berteman adalah salah. Mungkin seharusnya kita musuhan aja biar Kakak  nggak terus balik ke sini. Dan mungkin juga seharusnya aku nggak pulang. Karena keputusan itu jelas-jelas salah.” Amara mulai menangis.


Sementara Galang tidak menyerah untuk memeluknya sehingga akhirnya Amara melemah dan dia berhasil mendapatkannya. Dia membenamkan gadis itu di pelukannya, dan mendekapnya begitu erat.


“Aku benci Kakak! Aku nggak mau ketemu Kakak lagi! Aku benci Kakak!” ucap Amara, namun kini tak ada penolakan. Sebaliknya, dia membalas pelukan pria itu tak kalah eratnya.


Amara menangis di dada Galang seperti itu adalah tangisan terakhirnya bersama pria tersebut. Namun sesaat kemudian dia memundurkan kepala sambil mendorong Galang agar menjauh.


“Mulai sekarang aku mohon, Kakak nggak usah datang lagi kesini. Mau itu sama Kak Clarra, bawa Anya, atau sama keluarganya  Kak Rania sekali pun. Aku nggak mau ada sesuatu lagi terjadi antara kita, karena pada kenyataannya kita sama-sama nggak bisa menahan diri.” katanya, dan itu sukses meremukkan hati Galang untuk ke sekian kalinya.


“Jalani apa yang sekarang Kakak jalani, yang menjadi pilihan Kakak. Dan biarkan aku menjalani apa yang aku percayai. Tanpa harus melihat lagi bagaimana kita dulu.” Amara merasa tenggorokkannya seperti tercekat.


“Ra, aku hanya ….”


“Stop. Jangan katakan apa pun lagi, karena memang seharusnya nggak seperti itu.” Gadis itu berusaha bangkit.


“Sekarang keluarlah, dan lakukan seperti yang Kakak katakan. Pulanglah, dan jangan lagi berusaha untuk datang apalagi mendekat. Karena aku nggak akan pernah menganggap  Kakak ada kalau itu terjadi.”


Galang merasakan hatinya runtuh seketika. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Seperti biasa, emosi selalu bisa menguasainya seperti tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain berbuat seperti itu. Semuanya terasa benar ketika dia mengedepankan perasaannya, tanpa berpikir bagaimana selanjutnya setelah ini.


Amara berdiri menjauh, kemudian menghentakkan sebelah kakinya dengan sebelah tangan yang menunjuk ke arah pintu.


“Pergi, atau aku panggil polisi. Rasanya nggak lucu kalau orang kedua di Nikolai Grup harus ditahan dengan tuduhan menyusup ke sebuah ruko dan mengganggu penghuninya.”


Pria itu mendongak.


“Belum lagi kemarahan Papa yang nggak akan pernah memaafkan Kakak seumur hidup.”


Galang menggigit bibirnya keras-keras, dia tak menyangka sedikitpun jika Amara akan berkata demikian kepadanya. Namun tak ada pilihan lain, dia harus pergi.

__ADS_1


Kemudian Galang bangkit, dan dengan langkah gontai dia menuju pintu. Sebentar dia berhenti di tangga pertama, lalu menoleh ke kamar yang pintunya masih terbuka, yang tak lama kemudian Amara banting dengan keras sehingga benda itu segera tertutup. Dan pria itu pun memutuskan untuk pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Piere keluar dari persembunyiannya dibawah tangga setelah yakin Galang benar-benar pergi dan Amara tak keluar lagi dari kamarnya. Dia menghembuskan napas lega karena tak harus memergoki mereka berdua yang dalam perkiraan awal Arfan akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.


Setelah menerima panggilan telfon dari Arfan atas laporan pengintai di seberang gedung, Piere bergegas kembali ke kedai padahal saat itu dia baru saja tiba. Mendapatkan kabar jika Galang datang dan dirinya harus bisa mengantisipasi apa pun yang mungkin akan terjadi di antara dua sejoli itu.


Dan benar saja, keduanya telah berada di kamar Amara di lantai atas saat dirinya tiba. Seperti yang telah dikatakan oleh Nania sebelum dia pulang, jika Galang datang dalam keadaan basah kuyup. Dan Piere hampir saja mendobrak pintu untuk menghentikan apa pun yang terjadi seperti yang di perintahkan Arfan. Namun pada akhirnya dia berhenti di detik terakhir ketika mendengar tangis dan racauan gadis itu.


Dan yang terjadi adalah Piere yang malah mendengarkan perdebatan di antara dua orang yang masih saling mencinta, namun masih sama-sama mempertahankan keegoisan mereka. Pemuda itu berdiam diri di dekat pintu kamar Amara sampai perdebatan terhenti setelah teman sekelasnya itu mengusir Galang.


Piere jelas mengerti segala yang mereka katakan, sehingga membiarkan saja keduanya, terutama Amara untuk menyatakan apa pun yang ingin dikatakan. Kemampuan berbahasanya memang tidak diragukan setelah dia mempelajarinya selama satu bulan penuh begitu Arfan merekrutnya pasca dia lulus kuliah.


Dan merupakan keberuntungan juga karena tak membuatnya bertindak gegabah sehingga bisa menghindarkannya dari rasa malu dan kegagalan misinya dalam menjaga gadis itu.


“Aman Pak.” Pesannya kepada Arfan.


“Kau yakin?”


“Ya. Galang sudah pergi.”


“Kau memukul kepalanya terlebih dahulu sebelum dia pergi?” Pesan balasan dari Arfan, membuat Piere sedikit menahan tawa.


“Tidak sempat Pak.”


“Ah, kau lambat.”


“Lalu saya harus apa sekarang?”


“Terserah padamu sajalah, asal jangan mendekati Ara.” Balasan Arfan lagi.


“Saya tidak berani Pak.” Piere tampak memutar bola matanya.


Pemuda itu mendengus. "Baru niat." batinnya.


"Nah, lalu sekarang Ara bagaimana?” pesan dari Arfan lagi.


Piere menajamkan telinga.


“Sepertinya Ara sedang menangis. Cukup kencang terdengar dari sini.”


“Baiklah, biarkan saja dia begitu.”


“Bapak tidak akan datang untuk menenangkannya? Mungkin dia butuh ayahnya?”


“Kau ini bodoh atau apa? Kalau aku datang, nanti penyamaranmu ketahuan dan aku yakin Ara akan membencimu begitu tahu kalau kau mendapat tugas dariku.”


“Ohh, baik Pak.”


“Sekarang cepat pulang, biarkan yang lain menggantikanmu!”


“Baik.” Lalu Piere pun segera pergi setelah memastikan segalanya aman dan mengunci pintu depan kedai rapat-rapat.


***


Galang memacu ninja hijaunya secepat yang dia bisa. Berniat segera pulang ke apartemen miliknya agar bisa merenung dan benar-benar memikirkan segala tindakannya selama ini. Yang jelas-jelas telah membuatnya benar-benar salah ara.


Segala kesalah fahaman yang terjadi, yang bermuara dari rasa cemburu. Dan rasa memiliki yang begitu kuat terhadap Amara membuatnya kehilangan akal setiap kali mereka berada di situasi seperti itu.

__ADS_1


Dirinya jelas lebih mengedepankan ego daripada logika, yang akhirnya membuat situasinya menjadi semakin runyam. Dan ya, keadaan menjadi semakin rumit saja karena ditambah permasalahan Clarra. 


Ah, Clarra … maaf aku telah mengecewakanmu. Batinnya, dan dia mulai berpikir lagi.


Mengingat interaksi yang berbeda antara dirinya dengan Amara, dibandingkan interaksinya dengan Clarra yang seperti bumi dan langit.


Dirinya bahkan tidak pernah menunjukkan sikap yang lebih dari perhatian saja kepadanya. Meskipun semua orang sudah tahu hubungan di antara mereka. Sementara Amara? Jangan ditanya lagi, segalanya terbukti setiap kali mereka bertemu.


Lalu apa sebutan perasaanmu untuk Clarra?


Galang menggelengkan kepala, merasa tak percaya dirinya ada di situasi seperti ini. 


Hujan kembali turun dengan lebat, mengiringi perjalanan Galang pada malam yang sepi. Tentu saja, siapa pun tak akan ada yang mau berada di jalanan dalam situasi seperti itu. Hanya dia saja yang nekat menembus derasnya air yang turun seperti yang dilakukannya tadi karena merasa perlu menemui Amara sebelum menyelesaikan urusan Clarra. Yang mau tidak mau dirinya harus terlibat di dalamnya.


Lalu sebuah mobil muncul dari arah kanan, mensejajari laju motornya yang memelan.


Awalnya biasa saja, namun kendaraan roda empat itu tidak menambah kecepatan atau menguranginya. Hanya tetap berada di sisi kanannya seperti ingin mereka bersama melalui jalanan itu.


Namun ketika Galang menambah kecepatan, maka mobil tersebut menambah kecepatannya pula.


"Apa yang …." Baru saja pria itu berpikir, namun mobil tersebut malah lebih mendekat lagi kepadanya. 


Semakin lama semakin dekat sehingga tersisa jarak beberapa senti meter saja. 


Alarm bahaya di kepala Galang berdenging nyaring, dan dia segera menyadari ada sesuatu yang janggal. 


Dia hampir saja menambah kecepatan untuk menghindar, namun mobil itu sudah terlebih dulu memepetnya ke pinggir sehingga motor yang dikendarainya oleng.


"Hey!" Galang berteriak.


Beberapa kali pengemudi mobil melakukan hal yang sama, dan Galang yang terus mencoba menghindar. Tapi dia gagal. Sehingga akhirnya mobil benar-benar menyenggol motor yang sama-sama melaju kencang itu, dan menyebabkannya hilang keseimbangan kemudian terguling dan menyeret Galang sejauh beberapa meter ke tengah japan raya.


Mobil berhenti setelah berhasil menjatuhkan motor Galang, dan tak lama kemudian seorang pria berpenutup wajah turun.


Galang yang sebelah kakinya berada di bawah motor besar itu segera membuka helm. Dia sadar, saat ini sedang ada dalam bahaya. Dan keadaannya benar-benar tidak baik. Lalu dia ingat ucapan Arfan pada percakapannya tempo hari.


Ah, sial! Gumamnya saat pria berpakaian hitam dan berpenutup wajah itu sudah berada di depannya.


Galang mendongak sehingga wajahnya dijatuhi air hujan yang masih terus  semakin lebat. Lalu dia berusaha menarik kakinya yang masih tersangkut dibawah motor untuk kemudian perlahan bangkit.


Namun dia tidak siap ketika pria di depannya melayangkan tendangan ke wajah sehingga membuatnya terhuyung kembali ambruk ke aspal yang tergenang.


Dan tanpa memberinya waktu untuk bangkit, pria itu kembali melayangkan tendangan dan pukulan ke tubuh Galang.


"Ugh!!"


Sebuah tendangan bersarang di perut. Kemudian tendangan lainnya mengenai mengenai punggung. Dan terakhir, pria itu menginjakkan kakinya di belakang kepala Galang dan menekannya dengan keras sehingga membuatnya sempat kehilangan napas karena menghirup genangan air hujan.


Lalu pria berpakaian hitam itu menunduk dan berbisik di telinga Galang. 


"Sekali lagi kau menghalangi kami untuk mendekati Clarra, maka akan aku pastikan nyawamu tidak selamat." katanya, yang kemudian kembali melayangkan tendangan di wajah Galang.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


ayo ramaikan lagi. jangan lupa like komen dan hadiahnya. ngamuk boleh, protes apa lagi. yang menghujat aja aku persilahkan kok. tapi kontribusinya sama novel ini harus seimbang juga sama hujatan kalian dong. 😜😜


alopyu sekebon😘😘


__ADS_2