
🌺
🌺
"Kenapa pulangnya ke sini?" Amara menatap area gedung apartemen yang mereka masuki.
Setelah bernegosiasi dengan pihak rumah sakit dan berkonsultasi dengan dokter, akhirnya Amara diizinkan pulang juga. Meski ada beberapa syarat yang harus disetujui untuk menjaga kesehatan dan pemulihan pasca operasi di wajahnya, keduanya bisa bernapas lega karena bisa keluar dari rumah sakit. Terutama Amara.
"Memang harusnya ke mana?" Galang terus melaju hingga mobil yang dikendarainya masuk ke basement.
"Nggak ke rumah?"
"Rumah siapa?"
"Papa?"
Pria itu tertawa.
"Kamu mau pulang ke rumah Papa?"
Amara menganggukkan kepala.
"Nanti."
"Kapan?"
"Ya nanti setelah kamu sembuh."
"Nyembuhinnya di sana aja."
"Terus apa gunanya fasilitas yang didapat kalau setelah menikah kita tetap tinggal di rumah orang tua?" Dia menghentikan mobilnya di tempat biasa.
"Lagi pula, ibuku bilang kalau sudah menikah sebaiknya kita tinggal terpisah dengan orang tua. Kalau sudah mampu ya?" lanjutnya, seraya melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuh Amara.
"Emangnya kenapa kalau tinggal sama orang tua?"
"Nggak kenapa-kenapa. Memangnya kamu lihat Papa dan Mommy tinggal di rumah Pak Satria setelah mereka menikah?"
"Nggak. Papa kan punya apartemen kalau di Jakarta. Ya kita tinggalnya di apartemen Papa lah."
"Nah itu maksudnya." Galang turun lalu berjalan memutar ke belakang mobil.Â
Dia menurunkan kursi roda dan beralih ke arah kursi penumpang di mana Amara berada lalu membuka pintu.
"Jadi nggak boleh lagi ke rumah papa ya?"
"Boleh, tapi sesekali."
"Kalau nginep?"
"Boleh, tapi jangan lama-lama."
"Kenapa?"
"Kalau sudah menikah nggak boleh sering-sering menginap di rumah orang tua."
"Masa?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Nanti di rumah sendiri nggak betah. Lagi pula masa sudah menikah sering-sering ke rumah orang tua?"
Amara terdiam.
"Ayo?" ucap Galang seraya meraup tubuh perempuan itu untuk membantunya turun dan mendudukannya di kursi roda.
Dia membenahi pakaiannya, menggunakan penutup kepala dan wajah untuk menyembunyikan perban dan menghindari tatapan aneh kalau-kalau bertemu orang lain.
Keduanya segera memasuki lift terdekat yang segera membawa mereka ke lantai 6 di mana unit yang Galang tinggali berada.
"Selamat datang di rumah?" Galang segera membawanya masuk.
Ruangan yang cukup besar dengan interior klasik di dominasi warna hitam dan coklat khas laki-laki.
Sebuah sofa besar dengan televisi layar datar di depannya menjadi pemandangan yang langsung Amara dapati begitu Galang benar-benar membawanya masuk.
"Di sana dapur dan ruang makan, di sana ruang kerjaku, dan … kamar kita." Galang menunjuk beberapa ruangan.
"Ini pertama kalinya kamu kesini kan?" Pria itu mendorongnya ke arah sofa.
"Mau di sini dulu atau langsung ke kamar?" tawarnya, seraya berjongkok di hadapan Amara.
"Masih tengah hari Kak, masa udah ngajak ke kamar?" Perempuan itu terkekeh.
Galang tertegun.
"Bercanda." ucap Amara yang menepuk pundak suaminya.
"Maksud aku biar kamu istirahat gitu lho? Bukan yang lain-lain."
"Lah, emang maksud aku juga itu Kak? Emangnya apa?"
__ADS_1
"Umm … itu …."
"Otaknya dijaga, biar nggak ngeres Kak."
"Otak aku awalnya bersih, tapi karena kamu jadi sering ngeres, apalagi setelah kita menikah." Galang menjawab.
Amara tertawa.
"Ketawanya jangan keras-keras Neng, kamu kan habis operasi kemarin lusa?"
"Lupa." Perempuan itu menahan tawanya.
Galang pun bangkit.
"Kamu mau pindah ke kursi?" tawarnya kemudian.
"Iya." Amara menganggukkan kepala.
Pria itu kembali membantunya untuk bangkit dan memindahkannya ke sofa panjang di dekatnya.
"Kapan ya tangan sama kaki aku sembuh? Rasanya udah nggak enak banget begini terus?" Amara mengeluhkan keadaannya.
"Nanti juga sembuh. Ini kan sedang pemulihan?" Galang duduk di sampingnya.
"Tapi lama."
"Ini badan, bukannya pohon singkong yang sekali tancap langsung jadi. Butuh proses yang lama agar kamu sembuh dan bisa bergerak bebas seperti sebelumnya. Dan itu nggak mudah."
"Emangnya pohon singkong sekali tancap langsung jadi?"
"Rata-rata seminggu udah tumbuh tunas. Setelah itu jadi daun, cabang sama ranting terus bertambah tinggi. Tapi butuh seenggaknya satu tahun biar bisa dipanen ubi singkongnya."
"Tetep lama."
"Makanya."
"Kakak pernah nanam singkong ya? Kok tahu proses tumbuhnya singkong kayak apa?"
"Dulu ayah sering nanam di depan rumah sebelum ada garasi. Lagi pula kita bisa baca di internet soal itu."
"Iya juga."
"Makanya, jangan pesimis. Kesembuhan itu pasti ada, hanya saja kamu harus bersabar dan terutama tetap semangat." Galang dengan penghiburannya.
"Kakak kok bijak banget sih, aku jadi malu?" Amara menyandarkan kepalanya pada dada pria itu, lalu tangannya menyelinap di pinggangnya.
"Terus aku harus bagaimana? Ikut-ikutan pesimis gitu? Dalam hal ini aku yang lebih dewasa dan sepertinya memang bagianku harus begitu? Masa istriku sedang sakit begini aku malah ikut-ikutan putus asa?" Galang mengusap-usap punggung Amara.
"Sayang sekali aku habis operasi, kalau nggak aku pasti udah cium Kakak sekarang ini." Perempuan itu semakin membenamkan kepalanya ke dada suaminya.
Sedetik kemudian bibirnya mengecup bibir milik Amara yang sedikit terhalang perban yang menutupi wajahnya. Namun di detik berikutnya dia mengecupnya secara bertubi-tubi, lalu memungutnya dengan lembut untuk beberapa saat.
"Hhhh …." Galang berhenti.
"Sepertinya pertahanku harus lebih kuat di sini." katanya seraya menarik diri.
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengganggu." Satu sudut bibirnya tertarik.
"Masa Kakak tega? Aku kan masih sakit?" Amara menatap wajah suaminya.Â
"Masalahnya bukan aku tega atau tidak, tapi apa kamu bisa berhenti untuk bersikap menggemaskan atau tidak?" Galang terkekeh.
"Ngaco! Lagian Kakak nggak ilfeel apa, lihat aku kayak gini? Muka aku aja masih di perban."
"Memang apa masalahnya? Yang aku ingat adalah wajah dibalik perban ini."
Amara menutup mulutnya rapat-rapat. Dia yakin sekarang wajahnya memerah jika tidak terbungkus perban. Karena ucapan pria itu jelas membuatnya merasa wajahnya memanas.
"Kakak gombalannya aneh." Amara menggumam.
"Aku nggak sedang menggombal, kan aku hanya menjawab apa yang kamu katakan?"
"Tapi jawabannya kayak lagi ngegombal."
"Nggak apa-apa lah, aku ngegombalnya sama istri sendiri." Pria itu kembali mengecup bibir Amara, dan kali ini lebih lama.
Degupan jantungnya tentu saja bertambah dua kali lebih cepat saat ini.
Masa harus terjadi saat keadannya yang seperti ini? Dia membatin.
Ah, memangnya kenapa?Â
Lalu ciuman Galang turun ke leher jenjang Amara dan menelusuri bagian atas dadanya yang sedikit terbuka karena ulahnya. Dia bahka sampai mendorongnya sehingga perempuan itu sedikit bersandar pada pegangan sofa.
"Umm … Kak?" Amara sedikit mendorong bahunya.
"Ck! Di rumah sakit bisa, masa di sini nggak bisa?" Pria itu menarik tangannya lalu meremat jemarinya dengan hati-hati.
"Tapi kan …." Galang sudah membuka kancing piyamanya satu-persatu.
"Kakak serius?"
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum.
"Katanya tadi pertahanannya harus kuat, tapi belum lima menit Kakak udah mau tega sama aku?" Amara mengingatkan ucapannya barusan, dan hal itu membuat Galang tertegun.
"Dan nyatanya, aku nggak kuat." Kemudian dia tertawa.
Galang kembali mendekat lalu mengecup bibir Amara. Kedua tangannya sudah menyentuh perut perempuan itu dan merayap keatas hingga dia menemukan dua gundukkan indahnya yang masih berpenghalang.
"Mmm …."
Galang menatap dua bola mata Amara yang berkilauan dibalik perban, dan dia tak pernah bosan untuk melakukannya. Meski wajahnya tidak dapat dia lihat dengan jelas, namun bayangan di dalam kepalanya tetap wajah itulah yang dia ingat.
Pria itu menaikkan bra yang menutupi dada Amara ke atas sehingga tampaklah gundukkan itu dengan jelas. Puncaknya yang sudah mencuat terlihat begitu menggemaskan dan dia tak tahan untuk membiarkannya.
Galang segera melahapnya secara bergantian. Mempermainkanya seperti yang pernah dia lakukan dan merematnya dengan penuh perasaan.
Tubuh Amara terasa mengejang dibawah kuasanya . Tangan kirinya bahkan memeluknya dengan begitu erat seolah tak ingin mereka terlepas.
Galang terus merangsek sehingga jarak diantara mereka benar-benar menghilang. Kedua tangannya terus merayap menyentuh seluruh tubuh Amara yang kini sudah benar-benar terbuka.
Dia tak menghentikan cumbuannya. Namun malah meningkatkannya menjadi semakin gila saja. Kini bahkan bibirnya sudah berada di perut Amara dan dia sedang berusaha melepaskan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Seperti halnya yang dia lakukan kepada dirinya sendiri.
Tubuh perempuan itu menggeliat dan mengerjang. Dia meremat rambut di kepala Galang dengan keras untuk menyalurkan hasrat yang kian menanjak seiring intensitas sentuhannya yang terus meningkat.
Dan Galang baru saja memasukkan senjatanya kepada Amara ketika ponselnya yang teronggok di sudut sofa berdering nyaring.
"Ugh!" Amara menahan perutnya ketika pria itu mulai bergerak di saat dering pada ponsel tidak berhenti meski mereka mencoba mengabaikannya.
"Berhenti Kak!" ucap Amara yang merasakam sedikit sakit pada pusat tubuhnya.
"Aku akan pelan-pelan." Galang berbisik dan kembali bergerak sambil membenahi posisi mereka. Dia menahan kaki kanan Amara yang sedikit menggantung.
"Berhenti dulu! Itu hapenya bunyi terus?" Amara kembali menghentikannya.
"Paling Clarra atau Pak Dimitri." Namun pria itu terus menghentak.
"Mmm … tapi berisik!"
Galang tak merespon.
"Kakak!" Amara merengek dan hal tersebut akhirnya membuat suaminya berhenti.
Napasnya menderu-deru menaha hasrat yang terpaksa harus terjeda. Namun tak urung juga dia meraih ponsel tersebut.
Galang memutar bola matanya saat melihat nama kontak yang tertera. Dan dia merasa gemas karena mertuanya menghubungi di saat yang benar-benar tidak tepat.
"Halo?" Dengan terpaksa dia menjawabnya, tanpa melepaskan pertautan tubuh mereka berdua.
"Kamu membawa Ara pulang?" Suara Arfan terdengar menggelegar.
"Eee … iya Pak." Galang menjawab.
"Kenapa?"
"Ara nya yang mau pulang. Dari semalam dia memaksa."
"Kenapa tidak memberitahu saya?" Arfan bertanya.
"Eee … soal itu … saya lupa."
"Lupa katamu?"
"Kak Ara udah pulang?" Terdengar suara lain dari seberang sana.
"Kami hari ini pergi ke NMC, tapi begitu masuk kalian sudah tidak ada?"
"Apa?"
"Sekarang kalian di mana?" tanya Arfan kemudian.
"Di … apartemen saya Pak." Dan Galang menjawab.
"Baik, sekarang kami ke sana. Adik-adiknya Ara mau bertemu." ucap pria itu yang kemudian mengakhiri panggilan.
"Apa?" Galang menata layar ponselnya untuk beberapa saat.
"Siapa?"
"Papamu."
"Hum?"
"Mereka mau bertemu denganmu."
Mereka saling pandang, kemudian Galang segera menarik diri sehingga pertautan tubuh mereka terlepas. Dia segera berpakaian dan itu juga yang dilakukannya kepada Amara.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1
Nah luuu padahal udah di apartemen 🙈🙈