
🌺
🌺
“Ayo, aku temani kamu pulang? Aku di belakang seperti biasa.” ucap Galang sebelum mengenakan helmnya.
“Tapi hujan.” Clarra menatap langit yang mulai menurunkan titik-titik air kecilnya. ”Kenapa tidak ikut aku saja?” Kemudian dia menawarkan.
“Kalau ikut di mobil kamu, besok aku ribet.” Galang menjawab.
“Memangnya mobil kamu rusak parah sampai-sampai besok masih tidak bisa dipakai?”
“Sebenarnya tidak juga sih.”
“Memang apanya yang rusak? Aneh sekali mobil baru sudah rusak?” Clarra tetap mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.
“Hanya bannya saja.”
“Apalagi hanya ban? Tinggal diganti dengan yang baru, beres.”
“Aku simpan dulu saja lah, nanti kalau keadaannya sudah aman baru aku pakai lagi.” tanpa sengaja kalimat itu terlontar dari mulutnya.
“Apa?” Clarra hampir saja mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
“Umm … maksudku, nanti kalau aku mau.” Pria itu tersenyum. “Cepatlah naik, sebelum hujannya benar-benar turun.” katanya lagi, dan dia benar-benar mengenakan helmnya.
Mereka melaju beriringan dengan Galang dengan motornya yang berjalan di belakang mobil Clarra.Â
Hujan memang turun tidak terlalu lebat, namun cukup membuat cuaca pada sore hari itu menjadi lebih sejuk dari biasanya. Bahkan cenderung dingin diikuti hembusan angin yang cukup kencang.
Dan seperti biasanya, kemacetan di area itu tentu saja tidak terelakan di setiap jam pulang semua kantor yang hampir bersamaan. Dan kepadatan memang selalu terjadi di sepanjang jalan di wilayah bisnis Jakarta itu. Namun karena hujan, suasana tidak segaduh biasanya.Â
Dan dalam kepadatan jalanan pada sore itu, pemandangan tak biasa menjadi satu-satunya hal yang mengalihkannya dari hujan yang mulai turun.
Ketika melihat keadaan kedai Amara yang cukup sepi di jam biasanya tempat itu ramai. Mungkin hujan juga berpengaruh karena membuat orang-orang enggan mampir ke tempat itu.
Dan Galang menghentikan laju motornya tepat di depan kedai tersebut saat kendaraan lain juga berhenti karena lampu merah di perempatan jalan menyala. Sementara mobil Clarra berada di samping kanannya.
Tentu saja pemandangannya dari sini sangatlah jelas, sampai-sampai dirinya tak harus menoleh secara terang-terangan untuk dapat melihat keadaan di dalam kedai yang cukup sepi. Hanya terdapat beberapa pengunjung saja yang berteduh di dalam sana, dan selebihnya hanya pegawai yang mengisi waktunya dengan membereskan beberapa hal.
Juga Amara yang tampak duduk di dekat jendela dengan laptop menyala, dan seorang pria asing di seberangnya. Mereka tampak membicarakan banyak hal.
Oh, tunggu! Itu bukan pria asing, dan Galang cukup mengenalnya. Maksudnya dia ingat pria itu yang pernah dilihatnya berada di sebuah hotel di kota Paris bersama Amara.
Apa yang dia lakukan disini? Batinnya, dan dia berusaha menahan diri. Meski dadanya mulai bergemuruh dan hatinya bergejolak. Namun Galang berusaha mempertahankan kesadarannya mengingat posisinya saat ini.
Huh, move on move on kepalamu! Baru melihat dia bicara dengan pria lain saja kau sudah kalang kabut. Padahal kalian sudah saling merelakan.
Iyakah?
Dia yang merelakan, sementara aku?
Lalu pria itu menoleh ke arah kanan di mana Clarra berada. Perempuan yang hampir dua bulan ini menjadi kekasihnya.
Kau ini gila ya? Lalu dia apa? Bukankah kau sudah membuat komitmen dengannya? Jangan jadi pecundang seperti ini! Satu sisi batinnya berbicara.
Lalu Galang menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya.
Lampu merah di depan berubah hijau, dan perlahan kendaraan mulai bergerak seperti semula. Dan mereka melanjutkan perjalanan pulangnya pada sore itu.
🌺
🌺
"Apa hujannya memang selalu selebat ini ya?" Piere menatap keluar jendela di mana air yang turun dari langit itu terlihat sangat lebat dari yang pernah dia lihat.
"Kadang-kadang. Setelah ini separuh kota akan banjir, dan semua orang tidak bisa ke man-mana. Selanjutnya, tidak ada siapa pun yang datang." Amara menutup laptop dan membereskan catatannya.
"Sayang sekali ya, tapi alam memang tidak bisa kita prediksi." Dan pemuda Paris itu menyesap coklat panasnya yang dia bawa barusan.
"Hmm … dan terkadang itu yang menjadi kendala bagi pengusaha kecil yang ingin memulai bisnis. Seperti halnya aku."
"True, true."
"Tapi bagaimana perkembangannya dilihat dari awal kamu membuka kedai ini?"
"Cukup baik. Meski sesekali ada penurunan di hari-hari tertentu, tapi secara keseluruhan semuanya baik. Namanya juga jualan, ya pasti naik turun lah."
Piere tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, bagaimana kabar ayahmu? Dia tinggal dengan siapa kalau kamu pergi? Apalagi sejauh ini? Apa dia akan baik-baik saja?" Amara mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia baik. Ayahku mandiri. Dia sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri sejak ibuku pergi, ingat?"
"Iya sih, hanya saja apakah saudaramu ada yang dekat?"
"Tidak juga, setelah berkeluarga kami benar-benar terpisah. Bahkan yang tinggal dalam satu kota pun belum tentu saling mengunjungi."
"Wow, begitu?"
"Ya, memangnya disini tidak ya?"
"Tentu saja tidak. Kau bahkan masih bisa tinggal di rumah keluargamu meski sudah menikah."
"Benarkah?"
"Ya."
"Bagaimana bisa?"
"Ya, kalau belum mapan secara finansial kamu masih bisa tinggal dengan orang tuamu."
Piere tertawa.
"Bagaimana bisa kita tinggal dengan orangtua bersama pasangan kita? Rasanya itu aneh sekali. Aku saja sudah dewasa seperti ini tapi masih tinggal dengan ayahku rasanya tidak benar. Sementara teman-temanku sudah fokus pada hidup mereka sendiri."
"Tidak, di sini biasa."
"Bagaimana kamu bisa mandiri jika keadaannya seperti itu?"
"Entah, mungkin bisa mandiri kalau mereka sudah mau mandiri."
"Bisa juga ya seperti itu?"
"Di sini biasa."
Pria itu terkekeh sambil menggelengkan kepala, lalu kembali meminum cokelat hangatnya.
"Ardi? Kayaknya nggak akan ada tamu lagi deh." Amara melihat jam di layar ponselnya.
Sudah jam delapan malam dan kedai itu sudah benar-benar sepi.
__ADS_1
"Mau tutup?"
"Gimana ya? Kalau clossingnya sekarang nggak apa-apa kan? Mumpung hujanya berhenti. Kasihan kalian kalau nanti pas pulang hujan-hujanan?"
"Aku sih terserah Kakak."
"Ya udah, kalian bertiga beres-beres aja dulu, satu orang clossing ya? Kalau nanti ada yang datang gampang lah." ucap Amara yang memeriksa keadaan diluar yang memang sudah benar-benar sepi. Selain kendaraan yang berlalu lalang di di jalan raya, tidak ada siapa pun yang mendatangi tempat tersebut.
Sepertinya hujan memang membuat semua orang enggan keluar rumah lagi setelah beraktifitas.
"Baik Kak." Ardi yang bersama ketiga rekannya segera membagi tugas.
"Oh ya, apakah kedai ini punya cctv?" Piere kembali berbicara setelah Amara selesai dengan urusan pegawainya.
"Aku rasa tidak." Gadis itu melihat ke setiap sudut ruangan.
"Kenapa tidak?"
"Aku rasa itu tidak penting."
"Bahkan untuk keamanan?"
"Di sini aman Piere."
"Are you sure?"
"Ya, di gedung depan ada sekuriti, dan di samping kita juga. Belum lagi setiap malam selalu ada patroli khusus. Jadi aku rasa kita tidak membutuhkannya. Apa lagi aku juga tinggal di sini kan?"
"Kamu tahu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi sebelum kejadian buruk terjadi lebih baik kita mengantisipasinya."
"Memangnya apa yang mungkin terjadi? Kamu ada-ada saja?"Â
"Aku serius. Semua tempat usaha, apa pun bentuknya sebaiknya memiliki alat pengawas. Kita tidak tahu kan apa yang mungkin terjadi."
"Begitu?"Â
"Ya."
"Kamu pikir kita perlu memasang cctv?"
"Perlu."
Amara berpikir sebentar.
"Nanti aku yang pasang. Kamu beli saja barangnya."
"Memangnya kamu mengerti soal instalasi cctv dan semacamnya?"
"Tahu."
"Masa?"
"Kamu tidak tahu ya, kalau selain bisa memasak aku juga bisa mengerjakan hal lainnya."
"Oh ya?"
"Percayalah."
"Hmmm …" Amara memicingkan mata.
"Serius. Agar lebih aman." Piere meyakinkan.
"Baik, akan aku pikirkan."
"Iya, nanti setelah pesanan untuk rumah sakit selesai."
"Harus lebih cepat …."
"Yes Monsieur! Aku pasti membelinya. Agar kamu bisa memasangnya, oke?"Â
"Pintar." Piere pun tertawa. "Baiklah, kalau begitu sepertinya aku juga harus pulang?" Pria itu bangkit.
"Bisa pulang sendiri? Tidak akan tersesat?"
"Tidak akan. Sekali saja aku melewati jalan itu aku sudah hafal. Lagi pula, aku bisa menggunakan gps tahu?" Dia menunjukkan ponselnya yang sudah menyala.
"Tapi hati-hati. Gps bisa salah juga."
"Aku tinggal menghubungimu kalau itu terjadi." Piere tertawa lagi.
"Baiklah. Atau kalau mau kamu bisa pulang bersama Ardi dan Raka. Sepertinya mereka lewat wilayah itu juga." ucap Amara yang melihat pegawainya sudah siap untuk pulang.
"Baik, aku akan melakukannya."
"Oke." Lalu para pegawai itu pun segera keluar dari kedai yang sepi sebelum nantinya hujan terlanjur kembali turun.
Dan Amara memeriksa beberapa hal, kembali memastikan semuanya sudah aman seperti biasa, ketika mendengar pintu depan terbuka dan tertutup dengan cepat.
"Tu as rete quelque chose, Piere? (apa ada yang ketinggalan Piere?)." Dia berjalan cepat ke depan.
"Ou avez-vous oblie le chemin du retour? (atau kamu lupa jalan pulang?)." katanya, sambil tertawa.
Namun dia tertegun ketika orang yang dimaksud bukanlah Piere, melainkan Galang yang berdiri di dekat pintu dengan keadaan pakaiannya yang basah kuyup.
Amara melihat keluar jendela, dan hujan memang kembali turun dengan lebatnya.
"Kakak dari mana? Kenapa malam-malam begini malah kesini? Mana hujan lagi?" Dia berjalan menghampiri.
Amara memindai keadaan pria itu yang jaketnya begitu basah dan masih mengalirkan titik-titik air. Apalagi celana yang benar-benar menempel pada kaki panjangnya.
"Aku … habis dari bengkel. Kebetulan lewat jadi …"
"Tunggu sebentar." Amara memotong kata-katanya.
Dia kemudian berlari ke lantai dua, dan kembali dengan cepat seraya membawa sehelai handuk yang kemudian dia berikan kepada Galang.
"Buka jaketnya, ini basah banget sih? Sengaja ya hujan-hujanan? Gimana kalau sakit?" Gadis itu menarik lepas jaket yang melapisi tubuh Galang.
"Dalamnya juga basah lagi? Gimana sih Kakak ini?" omelnya dan dia mengusap punggung pria itu pelan-pelan.
Menyentuh kemeja yang juga sama besarnya seperti pakaian luarnya.
"Pakai motor ya? Kenapa nggak pakai mobil? Udah tahu musim hujan?" Amara melihat lagi ke arah luar di mana motor hijau milik Galang terparkir.
"Mobilku masih di bengkel, jadinya …"
"Apanya yang rusak? Waktu itu bukannya bannya ya?" Dia menyampirkan handuk ke tubuh Galang, lalu mengusap punggungnya.
"Hmm …."
Namun kemudian Amara menghentikan kegiatannya, lalu segera mundur dua langkah ke belakang ketika dia menyadari sesuatu.
__ADS_1
Galang pun menoleh, kemudian memutar tubuh.
"Sebaiknya Kakak meminta seseorang untuk mengantar pakaian. Atau mau aku pesankan?" Amara agak ragu.
"Aku mau suruh orang dari Nikolai Grup saja, lebih dekat." Galang mengeluarkan ponsel dari bagian dalam saku jaketnya lalu melakukan panggilan.
"Oke."
Lalu tak lama kemudian datang seorang pria dengan tergopoh-gopoh menembus hujan, menyerahkan bungkusan besar yang dia bawa dari gedung di sisi lain blok itu. Dan segera pergi tanpa menunggu perintah lagi.
"Kakak bisa ganti baju diatas." ucap Amara.
"Apa boleh?"
Gadis itu menganggukkan kepala. Kemudian dia segera mengantarkan Galang ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Dia memindai seluruh ruangan yang dindingnya di dominasi warna hijau tosca yang cerah. Yang juga dihiasi beberapa ornamen khas perempuan. Lalu menggantung pula tirai berwarna ungu muda yang menambah kesan manis pada ruangan yang tidak terlalu besar itu.
Beberapa foto dan pajangan menjadi pengisi tembok sehingga membuat keadaannya sedikit meriah di dalam sana.
Galang mendengus pelan ketika di mengenali beberapa barang. Sebagian merupakan pemberiannya saat mereka masih berhubungan dan Amara membawa seluruhnya ke tempat itu. Sepertinya dia memang menciptakan dunianya sendiri yang tidak akan disentuh oleh orang lain.
"Kakak?" Amara mengetuk pintu dari luar ketika setelah beberapa lama Galang tak turun.
Yang pada kenyataannya, pria itu malah asyik menikmati suasana ruangan tersebut begitu dia selesai membersihkan diri dan berpakaian.Â
Dia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat sementara dirinya duduk di tepi ranjang milik Amara.
"Kakak?" Gadis itu mengetuk lagi. Meski ragu, tapi dia terpaksa melakukannya.
Galang bangkit seraya merapikan kemeja, lalu mengenakan jasnya untuk menghalau rasa dingin yang semakin lama semakin mendominasi udara di sekeliling.
"Ya, aku sudah selesai." jawabnya.
Perlahan-lahan Amara menekan handle pintu dan mendorongnya hingga benda tersebut terbuka lebar. Lalu tampaklah pria itu dalam balutan celana panjang dan kemeja yang dilapisi jas abu-abu tanpa mengancingkannya terlalu rapi. Karena memang bukan waktunya untuk bekerja.
"Umm … mungkin Kakak mau makan dulu? Nanti aku buatkan. Setelah itu baru pulang." tawarnya, dan dia tak mengalihkan pandangan dari Galang.
"Tidak usah. Sebaiknya aku pulang sekarang." Pria itu pun menjawab.
"Tapi diluar masih hujan." Mereka melirik keluar jendela.
"Tidak selebat tadi." ucap Galang.
"Mm … Baiklah."
"Apakah kamu punya tas plastik atau semacamnya? Aku harus membawa baju basahnya … Dan …." Galang kemudian melirik pakaiannya yang teronggok di depan kamera mandi.
"Ada disini, sebentar." Lalu si pemilik kamar menerobos ke dalam dan menghampiri sebuah lemari di ujung ruangan.
Dia membuka pintu, kemudian mengambil sebuah tote bag berukuran cukup besar dari dalam sana.
"Apa ini bisa?" Dia menunjukkannya kepada Galang.
"Bisa." Dan pria itu mengangguk.
Kemudian Amara memasukkan pakaian basah milik Galang ke dalam tas tersebut.
"Hati-hati Kak, jalannya licin kalau hujan." Lalu dia menyerahkan benda tersebut kepadanya.
"Ya, aku tahu."
Kedua sudut bibir Amara sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman samar.
"Aku mampir hanya untuk melihat keadaanmu."
"Ya, aku baik-baik aja. Terima kasih." Amara menjawab.
"Aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Banyak yang akan melindungimu meski keadaan di luar sana tidak baik-baik saja."
Gadis itu mengerutkan dahi.
"Dan aku hanya …." Galang menggantung kata-katanya.
"Hanya mau melihatmu seperti ini sebelum nantinya harus menjauh."
"Apa?"
"Keadaan mungkin tidak terlalu bagus jadi … aku harus …."
Amara menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.
"Aku harus pulang." sambung Galang yang hampir saja memutar tubuh ketika Amara juga bermaksud mengikutinya keluar dari kamar itu.
Namun kemudian dia kembali berbalik dan membuat mereka bertabrakan. Dan sesuatu terjadi ketika jarak di antara keduanya menghilang.
Dan sesuatu menggerakkannya untuk tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Segera saja dia menjatuhkan tote bag berisi pakaian basahnya dan beralih meraup pinggang ramping Amara, dan menariknya ke pelukan.
"Kakak!" Gadis itu memekik karena terkejut.
"Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri." Galang berbisik, lalu dia mendorongnya ke dekat lemari sehingga Amara tersudut di antara benda itu dan tubuh tingginya.
"Ugh!!"
Pria itu menunduk dan sedetik kemudian dia sudah merebut ciuman dari Amara tanpa aba-aba. Yang kemudian membuatnya segera terhanyut dan tak membiarkan mereka terlepas lagi.
"Mmm …" Gadis dalam kungkungannya terdengar menggumam dan sesekali meronta. Namun Galang tak melonggarkan cengkeramannya sedikitpun.Â
"Kakak!" Amara mendorong dadanya yang hampir menempel dan berusaha untuk menghindar, namun pria itu seperti menulikan pendengaran.
Galang bahkan semakin merapatkan tubuh mereka, dan menahan wajah gadis itu agar tak lagi bergerak dan dia segera memperdalam ciumannya.
"Hmmpp …" Amara merasakan bibirnya bergetar dan cumbuannya yang menggebu-gebu. Dia bahkan mulai terbawa perasaan dan hampir kehilangan akal.
Merasakan sentuhan dan cumbuan pria itu yang kembali mengingatkannya pada begitu banyak kenangan yang pernah mereka lewati bersama.
Tawa yang bahagia, candaan yang ceria, dan segala hal manis yang menjadi satu-satunya hal yang dia ingat dalam kelebatan bayangan di kepalanya.
Kak Galang, kenapa kamu selalu seperti ini? Padahal aku sudah bersusah payah merelakanmu. Tapi kenapa?
Batinnya berkecamuk.
Hatinya menolak, dan suara-suara di kepalanya berteriak kencang mengingatkan.
Namun rupanya, dominasi Galang atas dirinya begitu kuat, sehingga setelah beberapa saat tubuhnya pun menyerah juga.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
Oh My 🙉🙉🙉 awas khilaf!!