My Only One

My Only One
Arkhan


__ADS_3

🌺


🌺


Arfan mengerutkan dahi ketika melihat interaksi antara Arkhan dengan Galang yang baru saja tiba hari itu di kediaman Satria. Putranya setengah berlari menghampiri pria itu dan segera menanyakan banyak hal kepadanya.


“Ara tidak ikut?” Arfan segera bertanya ketika menantunya sudah berada di dekat mereka.


“Barusan agak kurang enak badan , jadi saya tinggal.” Galang menjawab.


“Ara sakit?” Arfan bereaksi.


“Sedikit tidak enak badan, Pak. Mungkin flu. Istirahat seharian mungkin akan pulih.”


“Hmm … Memangnya dia sudah mengerjakan apa saja sampai-sampai terkena flu dan harus istirahat seharian? Makan saja disuapi?"


"Eee ... mungkin efek cuaca Pak?" Galang mengusap tengkuknya yang sedikit menegang.


“Arkhan mau pergi sekarang?” Kemudian dia beralih kepada adik iparnya.


“Oke, ayo ayo Kak? Buruan!” Anak remaja itu tampak tidak sabar.


“Baru jam empat? Masa mau menginap sekarang?” Arfan melihat jam tangannya.


“Ya nggak langsung tidur kan Pah?” Sang anak bereaksi.


“Ya makanya?”


“Kak Ara kan lagi sakit? kasihan kalau ditinggal lama-lama, nanti nyariin?” ucap Arkhan lagi, dan dia segera menarik lengan kakak iparnya menjauh.


“Eee … pamit dulu pak, maaf tidak bisa lama-lama.” Galang berpamitan, apalagi ketika melihat Satria muncul dari dalam rumah.


“Mereka mau ke mana?” tanya Satria.


“Hanya menginap di apartemennya Galang.” Arfan masih menatap putranya yang terlihat bersemangat padahal beberapa hari ini dia tampak murung dan tidak merespon apapun semenjak terakhir kali perdebatan mereka soal motor.


“Tumben?"


“Memang.”


“Tapi bagus juga dia akrab dengan kakak iparnya, ada tempat lain untuk mengadu.” Satria berujar.


“Maksud Bapak?”


“Tidak ada, hanya pendapatku saja. Mungkin kamu terlalu keras kepada putramu.” 


“Apa?”


Satria melenggang kembali ke dalam rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Wow!” Kedua bola mata kelam Arkhan membulat sempurna kala melihat dua motor cross  yang penutupnya baru saja Galang singkirkan. Mereka tak segera naik ke unit apartemennya, melainkan tetap berada di tempat parkir tak jauh dari mobilnya. 


“Baru datang tadi pagi.” ucap Galang.


“Mendekatlah, dan lihat!” Pria itu menyentakkan kepalanya.


Arkhan menurut. Dia menghampiri dua motor yang salah satunya dikenalinya sejak kecil ketika kakak iparnya itu sering berkunjung ke rumah mereka, atau datang menemui Amara di rumah Lita di Bandung. Motor berwarna hijau yang sering dia naiki jika pria itu memarkirkannya di depan rumah. Atau dengan sengaja membawanya berkeliling walau hanya di pantai di belakang rumah mereka.


“Kirain motor ini udah nggak ada?” katanya, yang menyentuh benda itu dengan tangannya.


“Ini buktinya masih ada?” jawab Galang.


“Dan masih bagus?” Remaja itu mengelilingi kendaraan roda dua tersebut dan melihatnya dengan teliti.


“Masih. Terakhir Kakak pakai di turnamen.”


“Dan menang?" Arkhan berjongkok di dekat kuda besi itu.


“Kalah.” Galang tergelak.


“Dih, kirain menang?” Arkhan mendongak.


“Waktu itu terpeleset tahu?”


“Masa crosser bisa terpeleset? Kayak pemula aja Kakak ini?” Cibir Arkhan, kemudian dia juga tertawa.


“Kalau kecelakaan ya kecelakaan, nggak ada hubungannya dengan amatir atau profesional.” Galang membela diri.


“Iya deh, iya. Itu artinya Kakak udah senior? Harus pensiun dong?”


“Apaan? Nggak ada yang namanya senior-senioran. Cuma karena ingat kamu makanya Kakak suruh orang untuk membawanya ke sini."


“Aku pikir Kakak mau ngasih pinjam motor yang baru?” Lalu dia berujar.


“Apa?”


Adik iparnya itu tersenyum sambil menggerak-gerak kedua alisnya ke atas.


“Tidak bisa. Ini juga baru niat.”


“Dih?"


“Memangnya kamu beneran bisa naik motor?” Galang bertanya.


“Kakak ngeledek nih?”


“Ya habisnya, sehari-hari pergi sekolah diantar sopir kan?”


“Lah, di sekolah banyak temen aku yang bawa motor? Kayaknya cuma aku aja deh satu-satunya siswa yang pulang-pergi sekolahnya diantar sopir atau diantar Mama Papa?”


Galang tergelak.


“Nah kan? Kakak juga ngetawain aku?”


“Karena memang lucu.”


“Lucu sebelah mananya? Nyebelin tahu?” Arkhan mendelik sebal.


“Memang sepertinya hanya Papa yang sebegitu ketatnya mengawasi anak-anaknya ya?”


Arkhan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Mana ada anak kelas satu SMA sekolahnya diantar terus? Kalau anak cewek sih mungkin. Nah aku?"


"Ya kenapa nggak bilang Papa kalau kamu sudah tidak mau diantar?"


"Udah."


"Terus?"


"Papa bilang belum waktunya ngelepas aku sendiri."


"Hmm …."


"Serius, nih aku sebenarnya pengen berontak sama Papa tapi …."


"Takut?"


"Bukan takut sih."


"Terus apa?"


"Apa ya?"


Galang tergelak lagi. 


"Jangan coba-coba, atau kamu akan menyesal nanti!"


"Hmmm …."


“Sudah, ayo kita coba?” Galang melemparkan salah satu kunci motornya kepada anak remaja itu.


Arkhan sempat tertegun sebentar, namun kemudian dia tersenyum setelahnya.


Keduanya mengendarai motor keluar dari area apartemen. Galang membiarkan adik iparnya melaju di depan menggunakan motornya yang berwarna hijau itu. Sementara dirinya mengikuti dari belakang dengan motor lainnya.


Sesekaili dia menyusul dan melaju di sisinya untuk memastikan bahwa adik iparnya itu mampu mengendalikan motornya dengan baik. Sebelum akhirnya dia kembali membiarkannya melesat di depan.


Arkhan tertawa lepas seraya membuka helm yang menutupi kepalanya. Mereka berhenti di suatu tempat setelah melewati jalan-jalan utama yang dikenalinya sering menjadi rutenya pulang dan pergi sekolah.


Remaja pria yang baru saja menginjak usia 16 tahun itu terlihat sangat puas dengan hal yang baru saja dilakukannya.


Sebuah pelataran luas pada salah satu gedung bekas menjadi tempat keduanya berhenti pada hampir petang, yang kini berubah fungsi menjadi arena berkumpulnya anak-anak muda dengan segala hobbynya.


"Aku pikir, kalau jadi anak cowok tuh … bebas." Arkhan duduk menekuk kakinya di sebuah sudut, sedangkan Galang membagi perhatiannya pada ponsel yang menyala menerima pesan.


"Karena temen-temen aku gitu." lanjut Arkhan.


"Memangnya kamu merasa nggak bebas?" Galang kemudian memasukkan ponsel ke saku celananya setelah membalas pesan dari Amara yang bertanya di mana dirinya.


Arkhan terdiam.


"Bukannya Papa membiarkanmu memilih sekolah, ekstra kulikuler dan apa pun yang kamu sukai tanpa mendiktemu sama sekali?" Lalu Galang merespon ucapan adik iparnya.


"Iya sih."


"Terus masalahnya di mana?"


"Justru itu, nggak ada masalah." Arkhan tertawa.


"Dih? Mau kena masalah?"


"Terus apa?"


"Apa ya?" Anak itu tercenung. "Aku kayaknya bosen deh? Giniiii melulu? Semuanya teratur rapi, rutinitas yang sama setiap hari dan dengan orang yang sama."


"Kamu maunya bagaimana? Beda-beda gitu?"


"Nggak tahu deh, aku nggak ngerti." Arkhan menggendikkan bahu.


"Mungkin itulah kenapa Papa belum membiarkanmu punya motor sendiri. Selain soal umur yang belum cukup juga karena hal itu. Kamu bahkan belum mengerti dengan dirimu sendiri."


Arkhan menatap wajah kakak iparnya.


"Kita terkadang hanya ingin kemauan kita diikuti tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi. Dan kita juga terkadang tidak melihat masalah dari sudut pandang orang lain, apalagi orang tua. Yang kita tahu hanya soal kita menginginkan atau menyukainya."


"Sekarang, di usia seperti ini masalahmu mungkin hanya perkara izin papa atau kebebasan. Padahal itu hanya sebentar. Tunggu saja nanti setelah dewasa dan kamu bisa dengan bebas melakukan apa yang kamu mau. Orang tuamu bahkan tidak akan melarangmu untuk melakukan apa pun, dan akan membebaskanmu untuk segala hal tidak terkecuali hal buruk. Tapi disaat yang sama tanggung jawabmu akan hal-hal itu akan menjadi sangat besar. Dan kamu tidak akan menyadarinya sampai akhirnya kamu merasa lelah sendiri."


"Dan ketika saat itu tiba, maka kamu akan merasa ingin kembali pada masa-masa seperti ini. Masa ketika orang tuamu masih sangat berperan dalam hidupmu.  Mengatur segala hal, menentukan apa yang baik atau tidak. Memutuskan apa yang harus dilakukan atau tidak. Dan tiba-tiba saja kamu menyesal telah menjadi orang dewasa."


"Masa kayak gitu?" Arkhan terkekeh.


"Coba saja nanti. Karena dewasa bukan hanya sekedar bebas untuk segala hal, tapi juga punya tanggung jawab yang berat. Kakak rasa Papa pasti sudah menerangkan soal itu kepadamu?" Galang balik menatap wajah adik iparnya.


"Kamu ini anak laki-laki pertamanya Papa. Sudah pasti akan menjadi contoh untuk saudara-saudaramu. Jadi memang harus benar-benar mendapat pendidikan yang baik. Contohnya saja kemarin waktu adik-adikmu ikut demo."


"Demo? Demo apaan?"


"Mereka mendiamkan Papa yang tidak menuruti kemauanmu soal motor?"


"Umm …."


"Tidak sadar soal itu ya?"


"Bayangkan bagaimana sedihnya orang tua saat diperlakukan seperti itu oleh anak yang mereka besarkan? Padahal hanya masalah sepele?"


Arkhan mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Papa pasti mampu memberikan apa saja yang kamu mau. Bukankah selama ini juga begitu? Coba ingat apa saja yang sudah Papa berikan untukmu? Dan ingat juga apa yang tidak Papa berikan?"


Arkhan berpikir.


"Ada?"


Arkhan menggelengkan kepala. Sepanjang yang dia ingat memang keadaannya seperti itu. Kedua orang tuanya, terutama sang ayah memang selalu mengusahakan segala hal. Selain karena memang dia mampu, juga terselip pesan di setiap hal yang pria itu berikan kepadanya..


Pesan untuk rajin sekolah, pesan untuk tetap menjadi anak baik, dan pesan-pesan lain agar dirinya tidak terbawa arus. Meski pada kenyataannya, itu sangat sulit karena pergaulan di antara teman-temannya tak sesederhana itu.


"Kamu memang butuh untuk membuktikan diri, jika itu yang mau kamu tunjukkan kepada teman-temanmu. Tapi nanti. Papa memang mampu, dan kalau mau Kakak juga mampu memberikannya, tapi tidak bisa seperti itu juga. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, apa lagi untuk Papa."


Arkhan tidak menjawab ataupun menyanggah segala yang pria itu ucapkan. Dian hanya mendengarkannya berbicara dan berpikir lagi soal kekesalannya selama ini.


Memang tidak dipungkiri bahwa keinginannya sedikit banyak ada pengaruh dari teman-temannya di sekolah. Yang dia lihat tidak mengalami pengawasan dan aturan seketat dirinya.


"Dan ingat juga, kalau kamu ini anaknya Arfan Sanjaya. Papamu tidak akan membiarkanmu bertindak sembarangan apalagi seenaknya. Kamu pikir bisa bebas semudah itu?" Kemudian Galang tertawa.

__ADS_1


"Yeah .. Itu bagian terberatnya Kak." Arkhan ikut tertawa.


"Jadi bersyukurlah, karena tidak semua anak sepertimu dan adik-adikmu. Nanti kalau sudah saatnya, kamu akan mendapatkan kebebasanmu sendiri. Tidak seperti Kakakmu."


"Dih, Kak Ara sih udah enak, udah bebas. Semuanya dibolehin termasuk pergi sama Kakak?"


"Iya dong, kan sudah menikah. Memang seharusnya begitu."


"Cowok juga kalau udah nikah bebas kan ya? Mau ngapain aja, atau pergi ke mana gitu?"


"Begitulah. Eh, maksudnya bebas dalam hal apa dulu?"


"Ya semuanya. Kayaknya gitu kan Kakak juga?"


"Ummm …."


"Apalagi pergi-pergi sama cewek?" Anak itu tertawa.


"Dih, nggak gitu juga? Ya harus ingat istrinya?"


"Iya, maksud aku nggak harus selalu nurutin maunya orang tua?"


"Wah … lebih dari itu."


"Masa?"


"Asli."


"Apa aja?"


"Eee …."


"Selain tinggal bareng sama bobo bareng." Arkhan menaik turunkan alisnya sambil menyeringai.


"Kamu umur berapa tahun tadi?" Galang mengerutkan dahi.


"Enam belas."


"Memangnya sudah mengerti hal seperti itu?"


"Kakak sendiri ngertinya di umur berapa?"


Pria itu terdiam.


"Pasti baru ngerti setelah nikah sama Kaka Ara ya? Hahaha …."


"Dih?"


"Umm … bercanda Kak. Cuma denger doang dari temen-temen." ralatnya kemudian.


"Bohong!"


"Asli."


"Awas loh, kamu dipantau." Galang memperingatkan.


"Apa?"


"Jangan macam-macam."


"Nggak, cuma denger temen-temen aja kalau mereka lagi ngobrol. Aku kan nggak bisa akses apa-apa selain konten game sama belajar."


"Ooo bagus." Galang menepukkan tangannya sambil tertawa.


"Nggak tahu kenapa udah berapa kali ganti hape kayak gitu melulu?"


"Masa? Hahaha …."


"Serius."


"Hapenya siapa yang belikan?"


"Ya Papa lah, siapa lagi? Padahal hapenya sama kayak punya papa. Tapi udah aku otak-atik juga tetep nggak ketemu masalahnya?"


Galang menahan tawa.


"Pantas."


"Kenapa ya bisa gitu? Paling jauh aku buka Yout Tube doang. Tapi normal-normal aja sih." Arkhan tertawa lagi.


"Memangnya mau buka apa? Buka yang aneh-aneh ya?"


"Nggak ih, maksud aku …."


"Mau cari yang lain ya?"


"Nggak, minimal yang kayak temen-temen aku lah."


"Yang bagaimana?"


"Umm …."


Tawa Galang pecah seketika melihat ekspresi polos adik iparnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bingungnya Arkhan dengan fasilitas yang dimilikinya. Mengapa bisa seperti yang dikatakannya barusan.


"Intinya, karena kamu anaknya Arfan Sanjaya, maka hidupmu akan seperti itu. Lain lagi ceritanya kalau kamu anaknya otor atau reader. Ya bisa bebas lah, jangankan soal internet, soal motor aja kamu pasti bisa dapat."


"Hmm …." Arkhan mengerucutkan mulutnya.


"Sudah mau malam, ayo pulang? Kakakmu sudah menelfon! Nanti dia ngomel lagi kalau lama-lama sendirian di apartemen?" Pria itu bangkit.


"Lagian Kak Ara nggak asik. Diem dulu kenapa? Kan baru ini kita pergi sama-sama kan?"


"Hmm .... Nggak tahulah. Kakakmu sedang sangat manja sekarang ini. Makanya dia begitu."


"Manjanya dari dulu kali Kak? Apalagi udah Nikah sama Kakak, makin jadi deh manjanya?"


Galang hanya tertawa, lalu keduanya kembali mengendarai motor mereka.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2