
🌺
🌺
"Dokter Kirana?" Darren berjalan pelan menghampiri perempuan itu yang sedang menunggu mobilnya diantar seorang vallet.
"Pak Darren? Apa kabar?"Â
"Baik."
"Syukurlah. Obatnya tidak lupa diminum kan?" Dia berkelakar.
"Tidak, Dokter. Mama saya yang mengingatkan setiap waktunya minum obat." Darren tertawa pelan.
"Ah, iya. Bagus sekali." Kirana melirik ke arah Sofia yang datang menghampiri. Kali ini dengan suaminya, Satria yang terkenal itu.
"Selamat malam? Apa mau pulang sekarang?" Lalu dia menyapanya.
"Betul, Bu."
"Baik. Terima kasih sudah menghadiri pestanya Ara ya?" ucap Sofia.
"Sama-sama, Bu."
"Dokter pulang sendiri?"
"Iya."
"Bawa mobil sendiri?" Sofia melirik kendaraan roda empat yang tiba di depan mereka.
"Iya."
"Sangat mandiri!"
Kirana hanya tersenyum.
"Maaf Bu, Pak. Kalau begitu saya pamit?" Perempuan itu berujar.
"Oh, iya. Silahkan." Sofia mengangguk-anggukkan kepala.
"Mari Pak Darren?" Lalu dia berpamitan kepada Darren.
"I-iya."
Lalu Kirana masuk ke dalam mobilnya.
"Jangan lupa minum obatnya sampai habis ya?" Perempuan itu terkekeh pelan kemudian melajukan mobilnya masuk antrian.
Darren menatap kendaraan itu yang bergerak perlahan, lalu dia menoleh pada kedua orang tuanya. Sejurus kemudian dia memutar bola matanya.
"Apa?" Sofia bereaksi.
"Kalian mengacaukannya." Dia bergumam.
"Mengacaukan apa?"
"Tadinya aku mau mengajaknya kencan. Tapi Mama lebih banyak bicara kepadanya. Kan aku jadinya gagal."
"Apa?"
"Ah, kalau begini terus jodohku nggak akan datang!" Darren berjalan ke arah mobil miliknya.
Satria dan Sofia tertawa bersamaan.
"Baru segitu kamu sudah menyerah? Apa kabar kami yang terpisah selama belasan tahun?" Sang ibu mengikutinya.
Darren tak merespon.
"Padahal dia masih ada di sini, dalam antrian kendaraan ya, Pih? Masih bisa dikejar lho?"
Sang anak terdiam. Dia hampir saja membuka kunci mobilnya.
"Kalau Mama yang ada di mobil itu, apa yang akan Papi lakukan?" Sofia bertanya kepada Satria.
"Ya dikejar. Mumpung masih sendiri, tidak ada tanggungan, dan yang terpenting dia juga sepertinya menunggu." jawab Satria yang menatap ke arah mobil Kirana yang melaju sangat pelan.
Darren pun menoleh.
"Ayo cepat kejar! Tunggu apa lagi?"
"Aku menyukainya." ucap Darren seraya menatap waja orang tuanya.
"Itu bagus."
"Aku mau mengenal dia lebih jauh."
"Begitu juga baik."
"Bagaimana kalau aku ingin menikahinya."
"Itu lebih baik." Sofia dengan mata berbinar.
"Tapi dia lebih tua dariku."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa kalau seandainya kami berjodoh?"
"Tidak."
Darren terdiam.
"Apa kalian tidak akan menentang apa yang aku inginkan?" lalu dia bertanya.
"Apa selama ini kami pernah menentang keinginanmu? Selama itu baik, apa pun akan kami dukung." Satria yang menjawab.
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa menurut kalian, Kirana itu baik?"
"Ya, dia juga berasal dari keluarga baik-baik. Menjaga diri dan kehormatan. Tidak pernah pergi ke manapun selain bekerja atau menghibur dirinya sendiri di tempat favoritnya, dan lagi …."
"Papi …." Sofia menghentikan ocehan suaminya.
"Papi menyelidiki dia?" Darrenbereaksi.
"Umm …."
"No way!" Lalu dia menggumam. Sementara sang ayah hanya tertawa.
"Lalu tunggu apa lagi? Cepat kejar sebelum terlambat!!" ujar Sofia yang menyemangati putranya.
Darren tertegun.
"Go!" sahut Satria.
__ADS_1
Lalu tak ada lagi yang Darren lakukan selain segera berlari mengejar mobil Dokter Kirana yang hampir keluar dari area parkir.
"Dokter! Tunggu!" katanya, dan dia segera meraih pintu mobil.
"Ya, Pak Darren? Apa ada masalah?" Kirana berhenti lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Umm … ya. Sebenarnya .. Di sini … saya … eee …." suara klakson di belakang memekakan telinga.
"Bisakah kamu menepi?" Darren melirik ke belakang.
"Apa?"
"Atau …." Pria itu berpikir, sementara mobil di belakang sudah tidak sabar.
"Bergeserlah! Biar aku yang membawa mobilnya!" kayanya kemudian.
"Maaf Pak?"
"Cepat! Atau kita akan membuat pengendara lain marah!" Darren membuka pintu mobil da menyeret Kirana hingga perempuan itu terpaksa bergeser ke samping kiri.
Darren lantas melajukan mobil keluar dari area pantai tempat pesta resepsi Galang dan Amara diadakan.
"Begini, um … kita harus bicara. Tidak! Maksudku, aku perlu bicara kepadamu." Darren memulai percakapan.
Dadanya terasa berdebar dan kedua tangannya tampak bergetar.
"Ya, tapi hati-hati. Jangan membawa mobilnya terlalu kencang, Pak. Berbahaya!" Kirana merasa ngeri dengan keadaan ini.
"Stop calling me Pak!" sahut Darren yang kemudian memelankan laju mobil tersebut.
"Berhenti memanggilku begitu!" dia mencoba untuk tenang.
"Baik, lalu apa yang anda mau?" Kirana sedikit terkekeh.Â
Baru kali ini dia menemukan pria sepanik Darren ketika bertemu dengannya.
"Umm …."
"Hati-hati Pak!" Perempuan itu menyentuh lengannya yang bertumpu dibalik kemudi, mengingatkannya untuk memelankan kendaraan.
Darren mendelik, tak suka mendengar kata sapaan perempuan itu kepadanya.
"Maksud saya … Darren?"
"Mm … bisakah … kita … pergi sesekali? Atau … ke suatu tempat dan … mmm … bisakah aku mengenalmu lebih jauh dari ini?" Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya.Â
Dan Darren lebih memelankan laju mobil yang dikendarainya seraya menenangkan debaran gila di dadanya.
Kirana tak segera menjawab. Namun seulas senyum terbit di sudut bibirnya.
"Kirana! Jawablah!" Darren menoleh sekilas.
Perempuan itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Kirana? Bolehkan aku hanya menyebutmu Kirana? Karena aku … sangat menyukaimu." lagi, pria itu berucap.
"Kirana?"
"Ya!" Kirana pun menjawab.
"Ap-apa?"
"Kamu … boleh menyebutku begitu, … Darren." lanjut Kirana sambil tersenyum.
"Benarkah?"
"Ya."
"Mungkin kita juga bisa pergi sesekali, dan ke suatu tempat yang kamu maksud, jadi …."
"Really?" Pria itu tampak kegirangan.
"Ya, dengan satu satu syarat."
"What?"
"Harus dengan sepengetahuan orang tuaku."
Darren menoleh, dan di saat yang sama Kirana menatap wajahnya.
"Hati-hati, kamu akan membuat kita kecelakaan kalau tidak fokus pada jalanan!"
"Eee …." Darren pun kembali berkonsentrasi.Â
Meski pada kenyataannya, dadanya bergemuruh dan hatinya bersorak gembira setelah mendengar jawaban perempuan itu.
"Terima kasih, telah mengantarkanku sampai rumah dengan selamat." Mereka tiba di depan kediaman Kirana.
Rumah bertingkat dua yang tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat nyaman.
"Iya." Darren baru buka suara setelah terdiam sepanjang perjalanan.
"Kamu sendiri bagaimana mau pulang?" Mereka belum turun dari mobil.
"Itu … bisa diatur."
"Hmm …."
"Ya, tidak usah khawatir."
"Tentu saja aku tidak akan khawatir. Memangnya siapa yang akan berani mengganggu anggota keluarga Nikolai?" Dokter Kirana terkekeh.
"Kamu tahu itu."
"Ya, reputasi keluargamu tidak bisa diragukan lagi, Pak."
"Baiklah, aku turun saja kalau begitu, sudah malam dan sebaiknya aku juga pulang." Darren menatap jam tangannya.
Waktu memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan rumah itu juga sudah terlihat sepi.
"Terima kasih, Pak. Mm … Darren?" Keduanya lantas turun dari mobil.
"Ya, sama-sama. Aku … pamit." Pria itu mundur ke belakang.
"Iya. Hati-hati." Kirana menatapnya dari dekat mobil.
"Yeah, tentu. Memangnya apa yang akan terjadi? Hehe." Pria itu berkelakar.Â
Kirana hanya tersenyum.
"Bye." Pria itu melambaikan tangan, dan Kirana pun balas melambai.
Hingga akhirnya dia tiba di luar pagar, dan menatap pujaan hatinya yang masuk ke dalam rumah. Darren menyentuh dada kirinya yang berdebar kencang.
"Aih! Aku menjadi semakin gila saja!!" Dia tertawa.
Lalu sebuah mobil yang dikenali sebagai miliknya tiba begitu dia memutar tubuh.
__ADS_1
"Haih, tahu saja aku ada di mana?" gumam pria itu yang juga mengenali pria yang mengemudikan mobilnya.
"Pulang ke rumah! Aku sudah tidak sabar memberi tahu Mama dan Papi soal ini." katanya.
"Baik Pak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kakak, aku capek!" Amara meringkuk di tempat tidur setelah mereka membersihkan diri.
Pesta resepsi usai, dan sebagian besar orang-orang sudah pulang. Dan hanya sebagian saja yang masih tinggal di rumah itu dan beberapa villa di dekatnya. Mereka adalah keluarga yang berasal dari luar Jakarta, yang berencana pulang pada esok paginya.
"Aku juga, makanya kita harus istirahat biar besok nggak terlambat pergi." Galang mengeluarkan beberapa koper yang sudah dia siapkan semalam.
"Dari tadi Kakak bilang pergi-pergi terus. Tapi nggak ngasih tahu kita mau pergi ke mana?"
"Namanya juga kejutan." Galang duduk di tepi ranjang.
"Apa ke tempat yang aku tahu?"
"Kira-kira begitu."
"Tapi bukan Bromo kan? Aku ngambek kalau Kakak bawa aku ke sana."
Galang tertawa.
"Aku serius."
"Iya Neng. Ke tempat yang kamu tahu tapi bukan ke Bromo."
"Terus ke mana?"
"Kalau aku kasih tahu bukan kejutan dong?"
"Ah, Kakak nggak asik!"
"Dih? Kamu kedengaran seperti Anya."
"Nggak apa-apa, Anya kan lucu."
"Iya, Anya nya lucu. Tapi kelakuannya nggak lucu."
"Siapa bilang? Semuanya lucu tahu!"
"Hiii …." Galang bergidik mengingat anak dari sahabatnya itu.
"Kakak jangan gitu."
Pria itu tertawa lagi.
"Kakak! Ayo kasih tahu kita mau ke mana?" Amara bergelayut pada lengan suaminya.
"Kejutan, Neng."
"Ah, Kakak mah!"
"Besok juga tahu kan?"
Amara mengerucutkan mulutnya.
"Dari pada Anya, kamu lebih lucu tahu?" Lalu Galang meraup mulut perempuan itu dengan gemas.
"Diamlah, jangan gombal!" Namun Amara menepis tangan pria itu.
"Aku nggak gombal. Ini beneran lho!"
Perempuan itu mencebikkan mulutnya.
"Nah, apa lagi kalau begitu? Kamu lebih menggemaskan!" Galang meraup dagu Amara, menariknya, lalu mengecup bibirnya beberapa kali.
"Ish! Diamlah!"Â
"Jangan gitulah, Neng!"
"Habisnya Kakak nyebelin."
"Nyebelin-nyebelin juga suami kamu? Papanya anak-anak." Galang tertawa lagi, dan dia segera memeluk perut perempuan itu.
"Dih!?"
"Ayo, kita memulai malam pertama?" Dia mendongak seraya menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Malam pertama apaan?"
"Malam pertama setelah resepsi."
"Ogah!"
"Lho? Kok begitu? Biasanya kamu ngajak aku?"
"Sekarang aku lagi nggak mood!"
"Masa?"
"Aku capek. Plus Kakak nggak mau ngasih tahu kita akan pergi ke mana."
"Kan itu kejutan, Neng!"
"Ya udah. Malam pertamanya setelah resepsinya ditunda dulu sampai nanti aku tahu kita pergi ke mana."
"Besok juga kita pergi."
"Ya udah besok aja." Amara merebahkan kepala di atas bantal.
"Tapi aku mau ketemu si kembar."
"Besok aja."
"Neng?" Galang menyentuh bahunya.
"Nggak mau!"
"Malam ini nggak akan ada yang mengganggu. Mereka tahunya kita capek." Galang merayu.
"Ya emang aku capek."
"Ayolah Neng!"
"Nggak!" Lalu Amara menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1