
🌺
🌺
"Pamit ya Bu?" Galang menutup pintu mobil setelah membantu Amara masuk.
Mereka berniat pulang ke Jakarta pada tengah hari setelah menghabiskan waktu bersama terlebih dahulu.
"Hati-hati." Sang ibu membiarkan anaknya mencium tangannya seperti biasa.
"Jangan lelah untuk bersabar. Capek karena pekerjaan, rutinitas atau apapun itu biasa. Tapi jangan pernah kehilangan kesabaran. Ingat, kamu punya istri yang sedang hamil dan tidak bisa dihadapi dengan cara kamu menghadapi orang biasa." Sang ibu berpesan.
"Iya Bu." Galang menjawab.
"Ara, yang sehat ya? Cucu ibu juga." Lalu Mayang mendekati menantunya. "Ara juga yang sabar, Galang harus sering diingatkan. Jangan bosan ya?" katanya, dan Amara menjawabnya dengan anggukkan.
Lalu suami istri itu membiarkan anaknya melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah mereka.
"Kakak?"
"Ya?"
"Mampir ke kampus boleh nggak?" Amara dengan ragu-ragu. Takut suaminya masih marah dan akan menolak permintaannya.
"Boleh. Mau apa?" Galang yang mulai fokus pada kemudi pun menjawab.
"Mau lihat aja, sekarang udah gimana."
"Oke." Lalu Galang menuruti keinginan perempuan itu.
Kampus menjadi tempat pertama yang mereka singgahi siang itu. Lebih dari dua tahun berlalu namun tak ada yang berubah selain tanaman yang dulu Amara ingat masih kecil, sekarang sudah besar.
Pelataran parkir masih seluas biasanya, dan selebihnya sama saja.
"Ini kan hari Minggu, Neng? Kampusnya sepi." Galang menepikan mobilnya di sekitar area parkir setelah meminta izin kepada penjaga keamanan untuk masuk.
Lalu dia menurunkan Amara dan memindahkannya ke kursi roda.
"Aku tahu."
"Terus kok mau ke sini?" Mereka menyusuri jalan sepi menuju ke beberapa bangunan besar di dalam area.
"Nggak apa-apa, aku lagi mengenang masa lalu."
"Apa? Masa lalu?" Galang mengerutkan dahi.
"Iya." Perempuan itu menatap keluar mobil.
"Masa lalu dengan siapa? Waktu kuliah di sini kamu kan pacaran dengan aku?" Galang berheti berjalan, dan dia sedikit tidak senang. Pikirannya langsung saja tertuju kepada seseorang yang tidak dia tahu yang mungkin pernah mengisi hari-hari Amara di sana.
"Ya sama Kakak lah, siapa lagi? Di sini kan tempat kita pertama ketemu. Waktu itu aku mau masuk, terus Kakak nggak sengaja nabrak aku sampai kotak makan aku jatuh." Amara menunjuk satu area di mana dia mengingat peristiwa itu terjadi.
"Oh, … aku pikir …. Hahaha … selamat, selamat." Galang mengusap dadanya sendiri sambil tertawa.
"Kenapa? Mau marah-marah lagi?" Amara berujar. "Segitu aja marah?" Amara mendongak.
"Nggak, Neng. Mana ada aku marah-marah sama kamu?"
"Semalam?"
"Itu karena aku merasa kamu sudah keterlaluan."
"Iya, tapi kan …."
"Ssttt! Nanti kita bertengkar." Galang menempelkan tangannya di bibir Amara.
"Sudah aku bilang jangan membahas hal yang tidak penting. Aku juga manusia, kadang punya batas toleransi akan suatu masalah. Dari pada itu menyebabkan kita bertengkar, lebih baik dihindari."
Amara terdiam.
"Atau kamu maunya kita begitu ya? Membahas sesuatu yang sudah tahu akan menjadi masalah dan menyebabkan kita bertengkar?"
"Ya nggak lah, masa mau bertengkar?"
"Makanya, sudah. Tutup masa lalu, dan mulai dengan lembaran baru. Biar itu hanya jadi urusanku, karena memang tidak ada hubungannya denganmu. Masa laluku dengan orang lain, tapi aku pastikan masa depanku denganmu. Perkara tempat liburan, aku bisa membawamu lebih jauh dari Bromo. Asal kamu sembuh dulu."
"Beneran ya?"
"Iya. Permintaanmu yang mana yang nggak aku laksanakan?"
"Ahhh … masih banyak."
"Hmm … sudah kamu pikirkan ya?"
__ADS_1
Amara menganggukkan kepala.
"Apa ini ada hubungannya dengan ngidam?" Pria itu bertanya.
"Mungkin."
"Jadi, ngidamnya bisa direncanakan ya?"Â
"Iya."
Galang memicingkan mata.
"Eh, maksudnya nggak. Itukan soal …."
"Nggak apa, hahaha …. Rencanakanlah, asal masih wajar."
"Nggak ih, maksud aku nggak gitu."
"Ya ya ya." Galang mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian tertawa.
"Beneran Kak, ini semacam hal yang nggak bisa diatur, tapi kita kayak mauuuuuu banget."
"Ya, baiklah."
Mereka berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Di sisi kiri dan kanannya tumbuh pohon besar yang sangat rindang. Pelatarannya lebih rapi dari saat terakhir kali mereka meninggalkannya. Tapi suasananya tetap sama seperti ketika mereka kuliah di sana.
"Sepi ya Kak?" Amara berujar.
"Iya, kan sudah aku bilang?" Galang berjongkok di depannya.
"Ini, nggak ada undangan reuni gitu dari temen-temen kita? Kok aku mau ketemu mereka ya?"
"Ohh … sebaiknya nggak usah." jawab Galang.
"Kenapa?"
"Bahaya."
"Bahayanya di mana?"
"Bisa menimbulkan hal-hal yang nggak baik. Hahaha."
"Nggak baik apanya? Seru tahu, ketemu temen-temen?"
"Emangnya kenapa? Kan bagus. Itu menunjukkan kalau kita mampu."
"Hmm …." Galang menggelengkan kepala.
"Kakak nggak mau pamer apa, kalau Kakak udah berhasil?"
"Berhasil apanya? Baru mulai."
"Masuk Nikolai Grup. Itu pencapaian yang bagus loh."
"Ya, biarkan hanya kita saja yang tahu. Orang lain nggak usah."
"Kenapa nggak usah?"
"Biar nggak ada yang deketin."
"Siapa? Cewek?"
"Macam-macam."
"Masa cowok juga?"
"Ya iya, yang mencari relasi bisnis biar usahanya lebih gampang?"
"Oo … kirain? Hehe."
"Apa?"
"Nggak." Amara menggeleng sambil tertawa. Dia merasa geli sendiri dengan pemikirannya.
"Apa sudah cukup? Bisakah kita pulang sekarang?" Galang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 1 lewat tengah hari.
"Maunya sih lebih lama." Amara terkekeh.
"Ngapain di kampus kosong lama-lama?"
"Biar bisa lama juga sama Kakak. Kalau udah pulang kan, nanti akan ada kerjaan, terus ada macem-macem lah."
Galang terdiam, namun kemudian dia tertawa.Â
__ADS_1
"Jadi ceritanya kamu sedang mau diperhatikan ya?" Lalu dia mendorong kursi roda kembali ke area parkir di mana mobilnya berada.
"Itu Kakak ngerti."
"Bisa, bisa. Tapi kita pulang dulu ya?" bujuk Galang.
"Hu'um." Dan Amara pun menurut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keduanya tiba di kediaman Arfan pada sore hari, menemukan rumah itu yang tidak terlalu ramai seperti biasanya. Hanya tiga anak saja yang menyambut kedatangan mereka.
"Mama dan Papa ke mana?" Galang segera bertanya. Karena biasanya, sang ayah mertua lah yang selalu berada di terasa begitu mereka tiba.
"Lagi jemput Arkhan ke rumah sakit." jawab Anandita.
"Arkhan di rumah sakit?"Â
"Iya." Aksa menyahut.
"Kenapa?"
"Tadi pagi pergi, izinnya mau jogging. Tapi sampai siang nggak pulang-pulang, tahunya ada yang nelfon ngasih tahu Kak Arkhan dibawa ke rumah sakit." Asha menjelaskan.
"Kecelakaan?"
"Iya."
"Kok bisa?" Amara ikut bertanya.
"Katanya jatuh dari motor."
"Jatuh dari motor?" Amara dan Galang saling pandang.
"Aku dengernya gitu tadi."
"Kakak ijinin Arkhan bawa motor?" Lalu Amara bertanya.
"Tidak."
"Tapi semalam?"
"Aku bilang kita nggak bisa ke SUNMORI. Tapi jangan juga pergi sendiri."Â
"Terus itu Arkhan pakai motor siapa?"
"Sebentar." Galang melakukan panggilan telfon.
Dia lantas menjauh untuk berbicara dengan orang yang dihubunginya, dan kembali setelah beberapa menit.
Pria itu menghembuskan napas berat.
"Kenapa?"
"Arkhan memang membawa motor yang hijau. Satpam apartemen sempat ketemu waktu dia keluar." katanya, kepada Amara.
"Kok bisa? Memang kunci motornya dia pegang? Atau dia bisa mask ke apartemen terus ambil kuncinya?"
Galang tak langsung menjawab.
"Kenapa dia begitu?"
"Aku yang memberikan kuncinya." ucap Galang, meski sedikir ragu.
"Apa?"
"Aku yang memberikan Arkhan kunci motornya. Aku bahkan memberikan dia motor yang hijau dan mengizinkan dia mengendarainya di hari minggu. Dengan aku."
"Kakak! Udah tahu Papa larang, kenapa Kakak malah kasih?"
"Cuma aku izinkan di hari libur, Neng."
"Sama aja. Ah, … masalah nih!" ujar Amara.
"Kamu masuk dulu lah, aku susul mereka ke rumah sakit." ucap Galang yang mengantarkan perempuan itu ke dalam rumah.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Selamat hari vote!!😘