
🌺
🌺
Galang sudah siap dengan stelan jas berwarna abu-abu. Dia begitu rapi dengan wajah yang tampak bersinar. Rambutnya klimis dan penampilannya memang seperti calon pengantin pada umumnya.
Setelah mengadakan acara syukuran pada dua malam sebelumnya, mereka juga sempat mengadakan acara kecil-kecilan esok harinya dan menerima kedatangan banyak orang yang ikut berbahagia atas pernikahan tersebut, akhirnya hari yang paling dinanti pun tiba.
Beberapa orang yang akan ikut mengantar sudah siap di depan rumah. Keluarga Angga dan Maharani termasuk Rania dan Dimitri di dalamnya, begitu juga ketiga anak remaja mereka.
Ditambah beberapa orang sesepuh yang berasal dari keluarga Arif dan Mayang sebagai perwakilan saja.Â
"Cieee, si Dudul mau nikah cieee …." Rania menyambut sahabatnya yang keluar dari dalam rumah.
"Awas ada yang lupa Dul." katanya lagi.
"Apaan?"
"Bacaan akadnya kamu udah hafal? Udah latihan belum?"
"Emang harus latihan?"
"Ya harus lah Dudul, biar lancar. Kalau nggak lancar entar nikahannya nggak sah, terus harus diulang-ulang. Lebih dari tiga kali nikahannya harus dibatalin." Rania berujar.
"Masa sih?"
"Suwer."
"Apa benar Pak?" Pria itu beralih kepada Dimitri yang muncul sesaat kemudian.
"Bohong." jawab sang atasan. "Mereka akan membantumu agar prosesnya lancar, tidak usah khawatir. Akad nikah tidak sesulit itu." ucap Dimitri lagi, yang kemudian membuat Rania tertawa.
"Dasar Oneng!" Galang mendelik, sementara Rania hanya tertawa.
Arif menghampiri putranya beberapa saat sebelum mereka pergi.
"Dengar, ayah tidak akan mengatakan banyak hal kepadamu." Pria itu menepuk pundak putranya.
"Setelah ini, kamu akan menjalani hidup baru. Menjadi seorang suami dan pemimpin keluargamu sendiri. Bijaklah dalam menghadapi segala hal, dan pikirkan apa pun dengan matang. Tidak boleh bertindak gegabah, dan selalu pikirkan perasaan istrimu."Â
Galang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Semuanya tidak akan sama seperti saat kamu sebelum menikah. Banyak hal yang berubah dan kamu harus pandai-pandai menempatkan diri di mana pun berada. Dan selebihnya, jalani saja hidupmu dengan baik."
"Iya Yah."
"Oke, apa semuanya sudah siap? Kita bisa pergi sekarang?" Angga muncul setelah memastikan semuanya beres.
Tiga mobil untuk keluarga ditambah satu mobil milik Dimitri yang akan mengantarkan Galang ke Jakarta untuk acara pernikahan sederhananya bersama Amara.
Semua orang kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah siap dan segera pergi menuju Jakarta.
Angga mengemudikan mobil yang ditumpangi Galang dan kedua orang tuanya, sementara yang lain menumpangi mobil yang sudah disediakan.
Ponsel Galang berbunyi nyaring dan tampak di layar tertera nama Amara yang menelfon.
"Ya?" Panggilan dalam mode video call pun berlangsung.
"Kakak udah pergi belum?" Wajah gadis itu memenuhi layar.
Galang tertegun menatap wajah yang sudah bermake up itu. Amara tampak berbeda dari biasanya, riasan yang tidak terlalu mencolok namun membuatnya terlihat begitu mempesona.
"Kakak?" panggil Amara lagi.
"Hum?"
"Udah pergi belum?" Gadis itu bertanya lagi.
__ADS_1
"Umm … ini sudah dijalan." Galang pun menjawab.
"Ohh …."
"Kenapa?"
"Nggak, cuma tanya aja." Amara tersenyum.
"Hmm …."
"Ya udah." Kini Amara yang tertegun.
"Aku … ganti baju dulu ya?" katanya kemudian.
Galang menganggukkan kepala, lalu percakapan itu pun berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara meletakkan kembali ponselnya di sisi ranjang, lalu Dygta melanjutkan untuk merias wajahnya. Sementara Mytha merapikan pakaian yang akan dikenakan oleh putrinya.
Sebuah gaun berwarna putih yang terlihat begitu cantik Mytha pilihkan, yang kemudian mereka membantu Amara untuk mengenakannya.
"Apa kalian sudah selesai?" Arfan masuk setelah memeriksa beberapa hal. Memastikan semuanya akan berlangsung sesuai rencana.
"Sudah." Dygta meletakan alat make upnya setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.
Â
Pria itu mendekat sambil menatap Amara yang hari itu tampak benar-benar berbeda. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Hey?" Arfan memindai wajah putrinya yang tampak cantik. Meski masih terlihat bekas luka samar, namun itu tak mengurangi pesonanya sama sekali.
"Hari ini kamu akan menikah." Pria itu berujar.
Amara tersenyum.
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Setelah ini semuanya akan berubah. Akan ada yang bertanggung jawab atas kehidupanmu, dan dia memiliki hak sepenuhnya atas dirimu."
"Tapi Papa harap tidak akan ada yang berubah dengan hubungan keluarga ini. Kamu bisa datang kepada Papa kapan pun kamu mau. Dan apa pun yang terjadi, jangan menjauh."
Amara mengangguk lagi.
"Papa jangan sedih ya kalau nanti aku tinggalin?"
Arfan terkekeh.
"Bagaimana Papa akan sedih kalau melihat kamu bahagia seperti ini? Kebahagiaanmu lebih penting dari apa pun, dan Papa hanya bisa mengusahakannya sebaik yang Papa bisa."
Ayah dan anak ini saling berpegangan tangan untuk waktu yang cukup lama, dan mereka memanfaatkan waktu seolah tak ada hari esok untuk dilalui. Bercengkrama dan membicarakan banyak hal sehingga tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat.
"Galang sudah datang Pak." Piere berdiri di ambang pintu.
"Oh ya?" Arfan melihat jam tangannya, dan waktu memang telah beranjak siang.
Bersamaan dengan itu, rombongan yang ditunggu pun tiba, diikuti penghulu yang memang telah dijanjikan datang pada hari itu. Bahkan Satria dan Sofia pun hadir untuk menyaksikan acara pernikahan tersebut.
Suasana berubah khidmat, dan keadaan menjadi cukup menegangkan bagi Galang yang duduk di samping tempat tidur di mana Amara berada. Dan acara segera dimulai tanpa banyak basa-basi lagi.
Arfan menjabat tangan pria yang sebentar lagi akan menjadi suami dari putrinya. Dia menatap wajahnya yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Saudara Galang, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Amara Paramitha Sanjaya Binti Arfan Sanjaya dengan mas kawin 25 gram emas dibayar tunai." Arfan segera menyentakkan tangannya yang kemudian membuat Galang menyambung ucapan ijab kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Amara Paramitha Sanjaya Binti Arfan Sanjaya dengan mas kawin tersebut tunai."
"Sah sah sah!!" Angga yang duduk disamping Galang pun menyahut, dan semua orangpun mengucap syukur atas kelancaran prosesi tersebut.
__ADS_1
Penghulu melafalkan doa, dan semua orang mendengarkan dengan khusyuk. Terutama Arfan yang sesekali menyeka sudut matanya yang basah. Tanggung jawab dipundaknya berkurang satu, tapi dia merasa kehilangan.
Dygta mengusap pundak suaminya. Dia tahu ini merupakan hal yang sangat berat bagi pria itu, tapi memang sudah tiba waktunya dan tak ada seorang pun yang mampu menghalangi.
Sementara Galang tersenyum lega karena telah berhasil menjalani proses ini. Ucapan selamatpun dia terima dari orang-orang yang hadir pada hari itu.
"Nah, sekarang tanggung jawab untuk menjaganya saya serahkan kepadamu. Semuanya menjadi hak dan kewajibanmu sekarang. Jaga dia sebaik kami menjaganya, dan perlakukan dia dengan selayaknya." ucap Arfan kepada Galang yang kini telah sah menjadi menantunya.
"Ya Pak, terima kasih." Hanya itu yang mampu Galang ucapkan.
Lalu dia beralih kepada Amara yang tengah menyeka pipinya yang basah.
"Hey, kita sudah sah." Pria itu setengah berbisik.
Amara mengangguk sambil terisak, namun Galang malah tergelak.
"Mommy, ini nikahannya udah?" celetuk Annya yang berada dipangkuan ibunya.
"Udah." Rania menjawab.
"Kok cuma sebentar?"
"Ya ngapain lama-lama?"
"Terus habis ini apa?"
"Nggak ada apa-apa."
"Om Galang pasti pacaran terus. Kemarin-kemarin aja gitu." Bocah itu terus berbicara.
"Ssstt! Anya jangan ngomong sembarangan."
"Emang beneran, nanti kalau udah nikah kan barengan terus. Kayak Mommy sama Papi."
Rania segera menutup mulut Anya dengan tangannya, mencegah sang anak mengucapkan hal yang tidak terduga.
"Om Galang juga pasti sama kayak gitu." Anak itu menarik tangan ibunya.
"Eh, ayo kita keluar cari es krim?" Rania segera mengalihkan perhatian putrinya.
"Emang ini hari Minggu?"
"Umm … ya."
"Beneran?"
"Iya." Rania menurunkan Anya dari pangkuannya.
"Mommy nggak lagi ngerayu aku kan?"
"Nggak, siapa bilang?"
"Ya siapa tahu Mommy lagi ngerayu aku."
Rania memutar bola matanya.
"Zen, come." Lalu perempuan itu mengajak anak laki-lakinya.
Dia kemudian menggiring kedua anaknya keluar dari ruangan tersebut.
"Om Galang, jangan pacaran terus. Nanti dimarahin Papa Arfan lho." ucap Anya sebelum mereka keluar, yang membuat ruangan menjadi hening untuk beberapa saat, namun kemudian mereka yang ada di tempat itu tertawa bersamaan.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...