
🌺
🌺
"Sekarang Bu Larra menghubungimu lagi?" Galang menjeda kegiatannya begitu ingat percakapan telfon mereka semalam. Ketika Clarra mengatakan soal ibunya yang terus menghubungi dengan nomor yang berbeda-beda.
Clarra menggelengkan kepala.
"Atau ada yang menemuimu, mungkin?"
"Tidak juga. Oh iya, kenapa dengan mobilmu? Dua hari ini kamu kembali memakai motor?"
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit bosan." bohongnya.
Tidak mungkin dirinya memberitahukan soal peluru yang bersarang di ban mobilnya pada insiden dua malam lalu kepada Clarra. Karena akan timbul spekulasi mengenai hal itu, dan bisa-bisa perempuan itu merasa panik karenanya.
"Bosan? Baru juga berapa hari memakai mobil sudah merasa bosan? Memang pemotor sejati kamu ini!"
"Hanya merasa kalau dengan motor itu akses jalan lebih mudah dan lebih cepat." Galang menjawab. "Kamu bisa menyelinap ke celah yang tidak bisa dilewati mobil dan menghindar dengan cepat atau mengejar sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan mobil."
Dahi Clarra tampak berkerut.
"Hey, kalau ada sesuatu katakan kepadaku ya? Jangan kamu simpan sendiri. Agar aku tahu bagaimana keadaanmu."
"Kamu ini kenapa? Tidak biasanya bicara seperti itu?"
"Hanya … mencoba untuk mengantisipasi sesuatu."
"Hmm …." Clarra menggumam.
"Baiklah, hari ini aku harus mendampingi Pak Dimitri kan? Apa dia sudah siap?" Galang bangkit dari kursinya.
"Tadi sepertinya sudah. Dan pertemuan hari ini berlangsng sampai sore ya? Ada beberapa pertemuan lain yang sudah aku kirim ke nomor mu. Agar besok kamu tidak usah masuk dan bisa pulang ke Bandung seperti biasanya."
"Begitu?"
"Ya."
"Tidak apa, karena sepertinya besok aku tidak akan ke Bandung dulu." Galang berujar.
"Tumben? Kenapa? Bukankah ibumu selalu khawatir kalau kamu tidak pulang?" Clarra sedikit terkekeh mengingat pria di depannya yang memang selalu diperhatikan oleh ibunya yang berada jauh di kota lain.
"Tidak apa, hanya … sepertinya aku harus membiasakan diri saja."
"Hum?"
"Harus pergi sekarang kan? Pasti jalan macet siang-siang begini." Galang beranjak dari tempatnya.
"Ya, … bukankah Jakarta setiap hari memang macet?"
"Itu maksudnya. Hahaha." Galang tergelak. Dan mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan itu.
***
Daryl tampak merengut sepanjang dia menikmati makan siangnya. Pasalnya, ada orang asing yang tak dia kenal di ruang masak kedai Amara. Dan mereka terlihat cukup akrab.
"Hey?" panggilnya ketika Nania melintas setelah mengantarkan pesanan.
"Ya Pak? Mau tambah?"
Pria itu menggelengkan kepala.
"Terus Bapak kenapa manggil saya?"
"Yang sopan kamu kalau bertanya." ketusnya kepada gadis itu.
"Ma-maaf Pak." ucapannya membuat Nania tergagap.
"Kalau ada yang memanggil, cukup kamu tanya ada yang bisa saya bantu?" Daryl sedikit memiringkan kepala.
"Bukannya malah balik bertanya." katanya dengan nada kesal.
"I-iya pak. Maaf."
"Apa yang kamu pelajari di sekolah? Masa begitu saja tidak mengerti?"
"Umm …."
"Kuliah kamu semester berapa?" tanyanya kemudian, dan akhirnya perhatiannya malah teralihkan.
"Kuliah?" Nania membeo.
"Iya, kuliah."
"Maksud Bapak itu, saya?" Gadis itu menunjuk hidungnya sendiri.
"Lalu siapa lagi? Memangnya ada orang lain yang berbicara dengan saya selain kamu?"
Nania tampak gemetar.
"Saya tanya, kuliah kamu semester berapa?"
"Sa-saya nggak kuliah Pak."
"Terus? Lulusan SMA?"
Nania menggelengkan kepala.
"Terus?"
"Saya lulusan SMP."
"What?"
"Maaf, saya banyak kerjaan." Nania hampir saja pergi.
"Eh, tunggu!" Dimitri bereaksi.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Itu yang di dapur siapa? Sepertinya saya baru lihat dia?" Lalu dia ingat dengan tujuan awalnya memanggil Nania.
"Itu … Piere?"
"Saya nggak tanya namanya. Tapi siapa dia? Kenapa ada di dapur dan memasak dengan Ara?" Pria itu kembali merasa kesal.
"Oh, … itu temannya Kak Ara. Katanya dari Paris."
"Dari Paris?"
"Ya, dan mulai sekarang dia juga kerja di sini."
"Really?" Daryl tergelak. "Jauh-jauh orang Paris datang ke sini dan bekerja di kedai kecil ini? Yang benar saja!" katanya, setengah tidak percaya.
"Ya tanya aja sama Kak Ara kalau Bapak nggak percaya." Nania melenggang dari hadapan pria itu.
"Ish! Kenapa sikapnya seperti itu? Sangat tidak sopan. Dasar anak SMP! Sama saja seperti badannya yang seperti anak SMP." Daryl menggerutu.
***
"Hey Ra?" Kemudian Daryl menghampiri pantry.
"Oh, hai Kak? Udah lama?" Amara yang tengah menata makanan yang sudah diolah.
"Sudah selesai makan." Daryl menjawab.
"Lho? Kok aku nggak tahu Kakak datang?" Gadis itu sibuk dengan masakan dan hiasannya.
"Mana bisa tahu? Kamu kan sibuk?" jawab pria itu lagi, dan sesekali dia melirik ke arah Piere yang sibuk dengan kompor dan penggorengan. Dia sedang memasak sesuatu.
__ADS_1
"Oh iya, maaf. Hari ini lumayan rame."
"Yeah, memang." Daryl melihat ke seluruh ruangan kedai.
"Jadi Kakak mau apa lagi? Mau minuman?" tawar Amara kepadanya.
"Tadinya mau pesan jus lagi, tapi kamunya sibuk."
“Umm ….” Amara mendongak mencari siapa saja di antara pegawainya yang tidak terlalu sibuk.
“Nania!” Lalu memanggil yang kebetulan melintas.
“Pesanan meja nomer sepuluh.” Dia menggeser pesanan ke depan sehingga Daryl membantu mengambil dan memberikannya kepada Nania.
“Kamu denger aku nggak sih?” ucap pria itu, agak kesal.
“Denger, tapi kan aku lagi kerja?”
“Sekarang ada pegawai baru ya?” Lalu Daryl mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh, …” Amara menoleh ke belakang di mana Piere tengah sibuk dengan pekerjaannya.
“Iya, itu Piere temen aku waktu kuliah.” katanya, memperkenalkan.
“Di Paris?” Daryl setengah mengejek. Dan tangannya tidak berhenti membantu Nania mengambilkan pesanan yang akan segera diantar.
“Iya.” Amara mengangguk.
“Serius? Masa orang Paris jauh-jauh datang ke sini cuma mau kerja?”
“Emangnya kenapa? Nggak boleh ya? Orang kita aja banyak yang kerja di luar negri kok.”
“Masa lulusan Le Cordon Bleu kerja di sini?” Daryl mencondongkan tubuhnya.
Amara menghentikan pekerjaannya sejenak.
“What?”
“Aku juga lulusan Cordon Bleu. Apa salahnya? Kan aku lagi memulai usaha sendiri.”
“Umm … Kakak juga, lulusan Lomonosov kerjanya di Jakarta. Bukannya di Moscow?” Amara membalikan perkataan pria itu.
“Nggak ada hubungannya Ra.” ucap daryl.
“Ya ada lah. Sama-sama dari luar negri tapi kerjanya di Jakarta.”
“Aku kerja di perusahaan keluargaku tahu?’'
"Tetep aja, intinya sama-sama kerja di Jakarta."
Daryl tampak mencebik.
"Kakak jangan berdiri di sana terus, itu Nania susah mau ambil pesanan." Amara menghentikan pekerjaannya.
Kemudian Daryl melirik kepada pelayan yang tampak kesulitan dengan nampannya.
"Padahal sudah aku bantu tadi?" ucapnya saat Nania pergi mengantarkan pesanan.
"Minggir lah!" ucap Amara yang memberikan piring terakhir kepada pegawainya itu.
"Nanti malam kamu free?" Daryl bertanya lagi.
"Nggak, kenapa?" Amar menjawab.
"Yah, tadinya aku mau mengajakmu pergi."
"Nggak bisa. Se nggaknya sampai hari minggu aku nggak bisa ke mana-mana."
"Kenapa?"
"Aku ada project untuk rumah sakit."
"Pesanan."
"Pesanan?" Daryl membeo.
"Ya."
"Banyak?"
"Lumayan."
"Untuk kapan?"
"Hari Minggu."
"Ooo …." Daryl mengangguk-angguk dengan mulutnya yang membulat membentuk hutuf O.
"Kakak masih mau makan?" Amara kemudian bertanya karena pria itu masih berdiri di depannya.
"Nggak."
"Terus kenapa masih berdiri di sana?"
"Memangnya kenapa?"
"Ya minggir, anak-anak susah mau ngasih kertas orderan."
Daryl mendengus keras, namun malah membuat Amara tertawa.
"Kakak kalau mau bisa kok bantu aku nanti malam minggu."
"Bantu apa?"
"Ya bantu apa aja. Kan hari minggu paginya pesanan udah harus diantar ke rumah sakit. Sekalian ajak Kak Darren juga biar lebih banyak yang bantuin."
"Apa? Kamu mau aku bantu menyelesaikan pesanannya, begitu?"
Amara menganggukkan kepala.
"Tidak mau!"
"Kenapa nggak mau?"
"Aku ini sekarang sibuk tahu? Bekerja dari hari Senin sampai Jum'at. Kadang lembur, makanya jarang main ke sini. Terus akhir Minggu harus membantu kamu juga? Aku capek lah, butuh istirahat." Pria itu mengadu.
"Dih, tadi mau ngajak pergi kalau akunya nggak sibuk? Aku tawarin kesini malah banyak alesan? Kan akunya yang ada kerjaan." Amara mencibir.
"Bukan begitu Ra, aku kan mau ajak have fun. Kalau bantu kamu di sini itu artinya kerja."
"Kemarin-kemarin mau bantuin?"
"Kemarin-kemarin nggak ada orang baru."
Amara memutar bola matanya.
"Iya, aku ajak Piere kerja di sini karena ada pesanan juga sih. Kan bagus, nanti kerjaan aku jadi lebih ringan."
"Hmm …." Daryl terdengar menggumam.
"Udah siang Kak, kayaknya harus cepetan balik ke kantor deh?" Amara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Yeah, right." Daryl mendelik.
"Dah Kak nanti balik lagi kesini ya?" Amara tersenyum lalu melambaikan tangannya.
"Nggak janji." Daryl memutar tubuhnya.
"Lho, kenapa? Biasanya kalau sore Kakak kan suka mampir?"
__ADS_1
Daryl tak menjawab, namun hanya melambaikan tangannya seraya bergegas keluar dari kedai tersebut.
Sementara Amara tertawa sambil menggelengkan kepala.
***
"She is save. Just Daryl talked to her." Arfan meletakkan ponsel nya di meja setelah membaca pesan berisi laporan dari Piere.
"Selesaikan makannya, jangan lihat hapel terus!" Dygta bereaksi melihat suaminya yang baru meletakkan benda pipih itu setelah beberapa lama.
"Ini aku selesaikan." Arfan menjawab.
"Tapi dari tadi kamu pegang hape terus. Ada masalah penting apa?"
"Memangnya kalau pegang hape harus ada masalah penting ya?"
"Ya kalau tidak ada hal penting kenapa kamu sering-sering pegang hape?"
Arfan hanya terkekeh.
"Sudah beberapa tahun ini kamu cukup santai. Tapi beberapa hari terakhir sepertinya ada sesuatu. Apa ada masalah?"
Pria itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku khawatir jangan-jangan kita akan menghadapi masalah?"
"Masalah apa?"
"Entahlah, aku merasa seperti kamu sedang menghadapi sesuatu?"
"Tidak ada, kamu sok tahu!" Arfan menjawab.
"Jujur sajalah, apa kita sedang dalam masalah?" Dygta mencondongkan tubuhnya.
"Tidak ada, masalah apa? Kamu berlebihan."
"Ya siapa tahu bisnismu sedang ada masalah, atau sesuatu terjadi?"
"Tidak ada Sayang, kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Tingkahmu aneh beberapa hari ini."
Arfan tergelak.
"Sayang!"
"Tidak ada apa-apa, percayalah. Bisnis kita baik, bahkan semakin baik setiap harinya. Dan kita patut bersyukur atas itu. Apa yang kamu khawatirkan?"
Dygta terdiam.
"Aku hanya memastikan keadaan Ara baik-baik saja. Dan dia ada di lingkungan yang aman."
"Soal Clarra ya?"
"Begitulah."
"Apa keadaannya gawat sehingga kamu harus menempatkan orang lain di dekat Ara?"
"Sejauh ini masih aman, tapi tidak ada salahnya kalau kita mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Kamu tidak tahu sebahaya apa Larra itu, dia bisa saja melakukan segala hal untuk mencapai tujuannya. Bahkan menarik orang yang tidak berhubungan langsung jika itu memang diperlukan. Dan hubunga antara Galang dan Ara jelas bisa menjadi kesempatan bagi perempuan itu untuk berbuat labih jauh."
"Sepertinya tidak bagus."
"Memang. Seharusnya waktu itu Pak Satria memenjarakannya saja, sehingga dia tidak akan berbuat macam-macam seperti ini. Tapi dia masih menghargainya sebagai mantan istri, sehingga apa yang seharusnya Larra dapatkan dia berikan kepada Clarra. Tapi tetap saja, itu jadi boomerang sekarang ini."
"Ada ya orang semacam Tante Larra itu?"
"Ada, itu buktinya."
"Apa dia pernah melakukan hal buruk kepada Mama setelah berpisah dengan Papi?"
"Tidak pernah. Tapi beberapa kali pernah mendekat."
"Berhasil?"
"Tentu saja tidak. Apa yang bisa dia lakukan kalau aku masih ada di Nikolai Grup?"
"Kamu mengendalikan semuanya ya?"
"Itu kamu tahu. Dan seharusnya Galang juga bisa begitu. Tapi sayang dia terlalu santai."
"Memangnya dia bisa seperti kamu?"
"Tentu saja bisa. Kalau jeli, dia bisa menggunakan kewenangannya sebagai asitennya Dimitri untuk melakukan apa saja. Tapi sayang dia hanya berpegang pada aturan baku di mana dia berperan sebagai bawahan Dimitri dan hanya bekerja jika diperintahkan. Bahkan untuk hal seperti ini dia masih bertanya kepada Andra."
"Maka beritahulah dia!"
"Sudah, kemarin. Kita hanya menunggu tindakannya saja. Semoga dia tidak lengah."
"Lalu Piere?"
"Aku hanya menugaskannya menjaga Ara. Kita tidak tahu apa yang akan Larra lakukan, tapi berjaga-jaga itu harus. Dia perempuan yang sangat berbahaya. Anaknya saja bisa dia perlakukan seperti itu apalagi orang lain."
"Apa Ara tidak akan curiga?"
"Aku rasa tidak. Mereka sudah lama berteman bukan? Dan hal terbaik dari pertemanan itu adalah Ara selalu mempercayai Piere, apa pun yang dia katakan. Jadi menggunakannya sebagai pengawal tanpa diketahuinya adalah ide yang sangat bagus."
"Hmm …."
"Aku hanya ingin anakku aman. Kalau saja bukan Larra, aku tidak akan se ekstrim ini menjaga Ara."
"Ya, aku tahu."
"Jadi tenanglah. Makan kita pun akan bisa menjalani hari-hari selanjutnya dengan tenang. Bisa mengurus adik-adiknya tanpa selalu merasa khawatir."
Dygta mengangguk-anggukkan kepala.
"Anak-anak pulang jam berapa sekarang?" Arfan melihat jam tangannya.
"Aksa dan Asha jam dua. Arkhan dan Ann jam tiga."
"Sibuk sekali anak-anak kita ya?"
"Lumayan. Ekstra kulikulernya sekarang kan banyak."
"Iya, tapi kasihan, pasti mereka sering kelelahan." ucap Arfan.
"Begitulah, tapi aku rasa lebih baik begini dari pada mereka keluyuran di jalan."
"Ya, kamu benar dalam hal ini."
"Makanya."
Lalu mereka melanjutkan acara makan siang itu diiringi percakapan lain seperti biasanya
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
apa sih yang luput dari pengawasan Kang Jahe? kayaknya semut di taman rumahnya juga dia awasi. apalagi anaknya😂😂
cuss atuh gaess, like komen sama hadiahnya dikencengin lagi biar terus naik. Otewe 1 jt view niihhh😍😍
jan lupa mampir ke y o u t u b e ya, ikutin novel emak di sana.
alopyu sekebon😘😘
__ADS_1