
🌺
🌺
"Oke Kak, Mommy pulang dulu ya?" Dygta dan anak-anaknya bersiap untuk pergi. Sementara Amata menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Belum tentu besok atau lain harinya Mommy bisa kesini lagi. Kamu tahu sendiri adik-adikmu …."
"Nggak apa-apa Mom. Jangan terlalu sering kesini, aku udah nggak apa-apa kok. Cukup Papa aja yang bolak-balik, Mommy jangan. Apa lagi kalau sampai ninggalin adik-adik " ujar Amara.
"Iya, kamu cepat sembuh dong ya? Biar bisa pulang terus kita kumpul di rumah." sang ibu sambung kemudian memeluknya sebentarÂ
"Iya, doa in aja."
"Ya udah, kami pergi ya?" ucap Dygta lagi setelah ke empat anak lainnya melakukan hal yang sama.
Dan di saat yang bersamaan Galang pun tiba di ambang pintu.
"Hai Galang? Kamu baru sampai?" Dygta segera menyapanya.
"Umm … iya Bu."
"Apa di bawah kamu ketemu Papa Ara? Tadi mengajak pulang tapi …."
"Barusan ada di taman belakang Bu." Pria itu menjawab.
"Begitu ya?"
Galang mengangguk.
"Baiklah kalau begitu." Kemudian Dygta merogoh ponselnya yang berdering di dalam tas.Â
Dia memeriksanya ketika ada pesan masuk dari nomor suaminya.
"Hah, bukannya naik dulu ke sini!" Perempuan itu menggerutu sambil memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tas.
"Papa juga sepertinya mau pulang dulu Kak. Sekarang sudah menunggu di bawah." ucap Dygta kepada anak sambungnya.
"Oh ya?"
"Hmm … Galang tidak apa ditinggal sebentar ya? Paling Papanya kembali lagi ke sini nanti malam, seperti biasa." Lalu Dygta beralih kepada Galang yang masih berdiri di dekat pintu.
"Tidak apa-apa Bu."
Tapi kalau tidak kembali juga tidak apa-apa. Batinnya.
"Baiklah, kalau begitu pamit ya?" ucap Perempuan itu yang memberi isyarat kepada anak-anaknya yang lain untuk segera pergi.
Ruangan itu menjadi sepi sepeninggal Dygta dan keempat anak remajanya, dan kini tinggallah mereka berdua yang tersisa.
Amara berusaha mengistirahatkan dirinya sendiri yang memang mudah merasa lelah dalam keadaan seperti ini. Sementara Galang menutup pintu pelan-pelan kemudian dia melenggang ke dekat tempat tidur di mana gadis itu berbaring sudah hampir dua minggu belakangan.
Pria itu merasakan dadanya berdegup kencang dan rasa bahagia meluap memenuhi hatinya. Tentu saja, dirinya baru saja mendapatkan restu secara langsung dari pria yang selama ini dirasanya menjadi tembok penghalang hubungannya dengan Amara.
Rasanya ingin sekali Galang meluapkan suka cita ini dengan hal-hal yang biasanya dia lakukan. Entah itu memeluk atau mencium gadis pujaan hati yang menguasai dunianya beberapa tahun belakangan, dan sudah bisa dipastikan jika dirinya tidak akan lagi mampu berpaling darinya.
"Kakak kenapa? Habis dapat jackpot ya? Ceria amat?" Amara hampir saja memejamkan mata saat pria itu semakin mendekat.
Galang menggelengkan kepala sambil mengatupkan mulutnya untuk menahan senyum. Tapi wajahnya jelas sekali memancarkan kebahagiaan yang begitu kentara. Dia kemudian duduk di tepi ranjang seperti biasanya.
"Hari ini nggak lembur?" Amara kemudian bertanya.
"Tidak."
"Tumben?"
"Sedang cukup santai."
"Katanya Kakak hari ini ke rumah kantor polisi ya?" Gadis itu bertanya lagi.
"Iya, kok tahu?" Galang menjawab.
"Iya, soalnya tadi Papa jawabnya gitu pas aku tanya kenapa Kakak nggak kesini pas istirahat?"
"Apa?"
"Eh, nggak. Maksud aku …"
"Kamu tanya soal aku kenapa nggak datang tadi siang?" Galang dengan suaranya yang terdengar riang.
"Maksud aku itu … Mmm …"
"Kangen aku ya?" Pria itu bereaksi dan dia senang akan hal itu.
"Nggak ih kegeeran. Aku kan cuma tanya."
"Hmm …" Galang menusuk-nusuk lengan gadis itu dengan ujung jarinya, lalu tertawa.
"Dih? Kakak nggak jelas?" Amara mendelik.
"Kamu nggak tahu setidak jelas apa hatiku sekarang ini." Galang dengan tawanya yang renyah.Â
Kepalanya mendongak, dan kedua matanya terpejam erat hingga membentuk seperti bulan sabit.
"Dih? Baru dapat lotere ya? Gitu amat ketawanya?" Amara masih belum memahami reaksi itu.
"Ini bahkan lebih dari lotere sekalipun, atau apa pun yang kamu perkirakan." Pria itu menjawab lagi.
"Terus kenapa?"
Galang berhenti tertawa, namun tidak bisa menghilangkan senyumannya. Dan napasnya terengah-engah karena saking merasa bahagianya.
"Apa sih?" Amara mulai merasa kesal.
__ADS_1
Pria itu lantas meraih tangan kiri Amara yang tergolek di dekatnya. Lalu meremat jari lentiknya dengan lembut.
"Hari ini aku berbicara dengan Papamu." ucap Galang kemudian.
"Masa?"
"Iya."
"Bicara soal apa?"
"Soal kamu."
"Oh ya?"
"Hmm …" Galang menganggukkan kepala.
"Soal aku apa? Paling soal operasi lagi. Kalau itu tadi pagi juga Papa ngobrol sama aku. Terus soal terapi juga, kalau udah dua minggu katanya udah harus mulai."
"Oh ya? Tadi Papamu tidak bicara soal itu."Â
"Lho, katanya tadi ngobrol tapi nggak ngomongin soal itu, gimana sih?"
Galang terkekeh.
"Malah ketawa lagi? Lagian ini juga jangan pegang-pegang, nanti kelihatan sama Papa, habis Kakak di omel lagi." Amara menarik tangannya yang ada dalam genggaman Galang.
"Tidak akan. Apa kamu tidak dengar tadi Mommy mu bilang apa? Papamu akan ikut pulang. Setidaknya kita punya waktu sampai Papamu datang lagi malam nanti." Namun Galang kembali meraih tangan gadis itu.
"Waktu untuk apa?"
"Waktu untuk …." Galang menatap kedua bola matanya yang berkilauan ditimpa cahaya dari lampu di langit-langit kamar.
"Apaan ih Kakak bikin aku penasaran. Jangan yang aneh-aneh dulu deh, kan akunya masih sakit?"
Pria itu masih menatapnya sambil menggigit bibirnya dengan keras. Dia tak percaya bahwa hal ini benar-benar akan terjadi.
"Memangnya kamu mau yang aneh-aneh?" Galang terkekeh lagi.
"Nggak ih, nanti kalau ketahuan Papa Kakak bisa dihajar."
"Tidak akan, kan sudah aku bilang kalau Papamu ikut pulang?"
"Hmm … cari-cari kesempatan!"
"Memang. Hahahah."
"Ah, Kakak makin nggak jelas aja deh? Udah ah, aku mau istirahat. Rasanya aku capek habis ngobrol sama Mommy. Banyak bener yang Mommy bilang selama aku nggak di rumah."
"Eh, kan aku belum mengatakan apa yang baru saja aku dan Papamu bicarakan?" Galang segera menahannya untuk memejamkan mata.
"Hum?"
"Mau dengar nggak?"
"Papamu … "
"Iya?"
"Sudah mengizinkan kita untuk kembali."
"Hum?" Amara mengerutkan dahi.
"Tadi aku meminta izin kepadanya untuk membiarkan kita melanjutkan hubungan ini."
Amara menatap wajah yang tubuhnya membungkuk ke arahnya itu.
"Aku sudah meminta restu kepada Papamu." Pria itu memperjelas ucapannya, dan semakin membuat gadis itu terdiam.
"Aku … ingin kita kembali dan melanjutkan hubungan yang sempat terjeda. Tapi lebih serius."
"Lebih serius?" Amara membeo.
Galang menganggukkan kepala dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan gadis itu erat-erat.
"Maksudnya lebih serius?"
Bibir Galang tampak berkedut-kedut. Dia tak tahan untuk mengatakan segala yang menjadi niatnya kali ini.
"Ara?"
"Iya?"
"Ayo kita menikah?"
Gadis itu menahan napasnya sejenak.
"Aku tidak mau kita berpisah lagi. Dan aku mau semuanya diawali dengan hal baik sekarang ini. Dan nggak ada lagi yang aku pikirkan selain menikahimu."
Amara tidak tahu apa yang tengah dirasakannya saat ini. Tapi yang pasti kelopak matanya mulai memanas.
"Jadi … ayo kita menikah?" Galang mengulangi ucapannya.
"Ara?"
"Aku …
"Ayo kita menikah?" ucap Galang lagi yang sukses membuat Amara meneteskan air mata.
"Kenapa malah menangis?" Pria itu tertawa. "Aku mengajakmu menikah, bukan sedang mengajakmu berperang?"
Amara hanya menatap ke dalam matanya. Dia mencari celah ketidak seriusan dari sepasang netra sipit itu, namun tak menemukannya.
"Ara?" Tubuh Galang semakin merunduk dan wajahnya semakin mendekat.
__ADS_1
"Aku …."
"Ayo jawablah. Jangan takut, karena Papamu sudah mengizinkan aku untuk kembali kepadamu. Dan aku rasa itu artinya apa pun yang akan aku lakukan setelahnya dia pun akan merestuinya."
Bibir Amara tampak bergetar.
"Jadi … ayo kita menikah?" ajaknya lagi, dan kini perasaannya menjadi semakin yakin.
"Tapi sekarang aku cacat. Aku nggak bisa jalan, nggak bisa apa-apa, dan wajah aku …."
"Kamu tidak cacat. Kamu hanya sedang cedera, dan nanti juga akan pulih. Mungkin butuh waktu tapi kamu akan pulih, aku yakin. Dan soal wajahmu … kita akan memikirkan soal itu."
Amara terisak.
"Jangan menangis aku mohon!" Galang terkekeh dan dia menempelkan kening mereka berdua. Persis seperti yang selalu dia lakukan.
"Tapi aku nggak bisa apa-apa. Aku nggak bisa jalan, dan bahkan nggak bisa bangun kalau nggak dibantu. …." ucap Amara lagi, dan tiba-tiba saja dia merasa sedih.
"Nanti setelah pulih kamu akan bisa. Jangankan berjalan, berlari pun kamu bisa. Kamu akan kembali melakukan apa yang kamu sukai. Pergi ke kedai, memasak dan bertemu banyak orang."
"Tapi itu lama …."
"Tidak apa-apa, kita akan melaluinya bersama."
Amara semakin terisak.
"Tapi sebelum itu, kita harus menikah dulu agar aku lebih leluasa mendampingimu."
"Waktu Kakak akan terbuang sia-sia kalau menikahi aku. Pekerjaan Kakak akan terganggu kalau mendampingi aku, dan hari-hari Kakak akan terhambat karena mengurusi aku, jadi ...."
Galang menggelengkan kepala.
"Tidak ada hal yang sia-sia, semuanya sudah diatur sehingga menjadi seperti ini. Kita hanya harus menjalani semuanya dengan lapang dada. Dan untuk aku, ini adalah caraku membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh kepadamu."
"Coba dipikir lagi, mungkin bukan itu yang sebenarnya. Mungkin Kakak hanya kasihan karena keadaanku yang kayak gini, atau mungkin …."
Galang kembali menggelengkan kepala, lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di bibir Amara yang bergetar.
"Aku mencintaimu, Amara Paramitha Sanjaya. Dan tidak ada perasaan lain sebesar yang aku rasakan kepadamu selain ini. Jadi aku mohon, katakan ya untukku."
Gadis itu tergugu.
"Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjalani hari-hari tanpamu karena rasanya itu sangatlah sulit."
"Aku mohon, katakan ya." Kening mereka masih menempel setelah beberapa saat.
Namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Amara selain isak tangis. Dan perasaannya kini berubah menjadi rasa yang lain.
"Tapi nanti aku akan nyusahin Kakak." ucapnya lirih, namun tangan kirinya merayap ke leher pria itu.
"Hanya katakan ya, dan kita akan melaluinya bersama. Tidak peduli sesulit apa, sesusah apa, dan seberat apa. Asalkan tetap bersama kita pasti bisa melewatinya."
Amara malah terus menangis.
"Katakan, apa kamu mau menikah denganku?" Galang mengulangi pertanyaan yang sama.
Perasaannya meluap-luap dan dia tak ingin mengingat hal lainnya. Betapa harapan itu sungguh ada dan dia tak mau menyia-nyiakannya sedikitpun.
"Ara? Maukah kamu menikah denganku?" untuk ke sekian kalinya Galang bertanya.
Dan kemudian Amara menjawabnya dengan anggukkan.
"Apa?"
"I-iya …." jawab gadis itu dengan suara tercekat.
"Benarkah?"
Amara mengangguk lagi, membuat Galang kemudian tersenyum. Dan dia kembali mendaratkan ciuman yang kini lebih dalam dan lebih lama dari sebelumnya. Bahkan suara decapannya terdengar di udara.
"Saya bilang hanya katakan saja kepada Ara, bukan malah seperti ini!" Tepukan di belakang kepala Galang menyadarkan mereka dari cumbuan yang menggebu-gebu itu.
"Diberi izin malah kebablasan kalian ini!" ucap Arfan saat pria itu menegakkan tubuhnya.
"Umm … "
"Memangnya tidak bisa menunggu sampai nanti ya? Mengkhawatirksn!" Arfan berbicara lagi.
"Saya …."
"Kalau begitu, cepat suruh orang tuamu datang dan membicarakan masalah ini." Arfan menarik jaketnya yang tertinggal.
"Orang tua saya Pak?" Galang buka suara.
"Ya siapa lagi? Masa orang tua saya?"
"Umm …"
"Cepat!!"
Lalu Galang segera melaksanakan perintahnya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
aihhh ... beneran nih jadi?🙈🙈
kuy lah kita siap-siap?😂😂
__ADS_1