
🌺
🌺
"Kamu sudah selesai?" Clarra mendekat setelah mengetahui Galang menghentikan kegiatan sarapannya.
Pria itu menganggukkan kepala.
"Tidak kamu habiskan?" Clarra menatap makanan yang masih utuh.
"Aku sedang tidak selera." Pria itu menempelkan punggungnya pada bantal yang ditumpuk di belakang tubuhnya.
"Hmm …"
"Aku masih ngantuk, jam berapa kita pulang?" ucap Galang.
"Sebentar lagi setelah pemeriksaan terakhir. Jelas saja kamu masih ngantuk, semalam tidur jam berapa? Aku ke kamar mandi jam dua kamu masih bolak-balik saja?" Clarra mengambil nampan makanan kemudian meletakkannya di nakas.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Sakitnya masih terasa?"
"Tidak, bukan soal sakitnya."
"Terus kenapa?"
Galang terdiam sebentar.
"Perasaanku tidak enak. Rasanya aku gelisah semalaman."
"Gelisah kenapa?"
"Aku tidak tahu."
"Mungkin kamu gugup karena hari ini pulang." Clarra sedikit terkekeh.
"Hmm … bisa jadi karena aku bersemangat ya?"
"Mungkin."
"Tidak pernah merasa sesemangat ini ketika tahu aku akan pulang."
"Ya, terkadang kita akan sangat merindukan rumah ketika sudah pergi terlalu lama."
"Hum?" Galang beralih menatapnya dengan dahi berkerut.
"Nanti ibu dan ayah ikut ke apartemen kamu?" Mayang muncul setelah merapikan diri.
"Iyalah, memangnya mau ke mana lagi?" Galang menjawab.
"Ke mana lagi? Ya pulang lah. Masa di sini terus."
"Masa langsung pulang? Ibu tega mau meninggalkan aku sekarang?" Galang bereaksi.
"Alah, biasa juga sendiri."
"Kan aku sedang sakit Bu?"
"Cuma memar-memar, masih bisa jalan. Jangan cengeng."
"Ibu kok begitu?"
"Memangnya ibu harus bagaimana? Menggendongmu seperti bayi? Atau memanjakanmu seperti anak kecil? Pilih yang mana?"
"Ck!" Galang berdecak kesal.
Arif terdengar terkekeh di belakang, membuat anak dan istrinya menoleh secara bersamaan.
"Cukup Bu bercandanya. Sepertinya anak kita ini mau diurus oleh orang tuanya. Apa salahnya kalau kita menginap lagi satu atau dua hari?" Sang ayah berujar.
"Kita sudah kelamaan di Jakarta Yah, ibu nggak sanggup."
"Nggak sanggup apanya? Ibu di sini nggak kerja?"
"Justru itu, ibu kebanyakan diam jadinya jenuh."
"Sekali-sekali bu santai."
"Santai apanya? Ibu nggak biasa santai-santai."
Kemudian percakapan itu berhenti ketika seorang dokter dan perawatnya masuk.
"Selamat pagi? Bersemangat untuk pulang hari ini?" ucap sang dokter.
__ADS_1
"Ya, tentu saja dokter." Galang menjawab dengan riang.
"Baik, kalau begitu kita periksa lagi ya?" Dan sang dokter pun melakukan pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ran?" Galang menyapa Rania yang baru saja masuk di lobby. Dia hampir saja keluar setelah menyelesaikan serangkaian prosedur rumah sakit.
"Hey, udah mau pulang?" Rania berhenti di hadapannya.
"Kamu mau apa? Akunya mau pulang nggak usah jenguk lagi." Pria itu terkekeh.
"Kegeeran. Orang aku mau jenguk yang lain Kok."
"Oh ya? Memangnya siapa yang sakit?" Mayang muncul.
"Itu …."
"Sudah Zai? Aku barusan tanya Om Andra, mereka sudah di lantai tiga." Dimitri pun muncul sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jas setelah melakukan panggilan.
"Oh, oke."
"Pak?" Galang pun menyapa atasannya, namun dengan kening berkerut. Dia heran mengapa orang-orang ini berada di rumah sakit.
"Hey, kamu pulang sekarang?" Dimitri menjawab sapaan bawahannya itu dengan pertanyaan.
"Ya Pak."
"Syukurlah. Kalau begitu kami pamit ke atas dulu ya? Ayo Zai?" Pria itu meraih tangan Rania.
"Tunggu, siapa yang sakit? Kenapa aku tidak tahu?" Clarra pun bertanya.
"Oh, kalian nggak tahu ya? Atau belum ada yang ngasih tahu?" Rania berucap.
"Soal apa?" Galang yang hampir memeriksa ponselnya.
"Soal Ara."
"Ara?"
"Iya, kemarin sore dia kecelakaan. Mobilnya ditabrak orang nggak dikenal sampai mental jauh. Dan sekarang dia dirawat di lantai atas. Belum sadar pasca oprasi semalam." Rania menerangkan.
"Apa?" Empat orang di depannya bereaksi bersamaan.
"Iya, ini belum tahu gimana keadaannya. Papi sama Mama susah dihubungi, sementara Om Andra juga kurang merespon."
"Lumayan. Katanya tulang tangan sama kakinya cedera parah. Wajahnya kena serpihan kaca. Orang tabrakannya keras banget ya pasti parah, nggak mungkin lecet-lecet doang kan?" Rania menjawab lagi.
"Ayo Zai." Dimitri kembali mengajaknya pergi.
"Pamit ya? Semoga kamu cepet sembuh Lang." ucap Rania yang segera mengikuti suaminya.
"Apa yang ribut-ribut semalam ya?" Arif bergumam sambil menatap kepergian dua orang barusan.
"Ayah tahu?"
"Semalam setelah dari luar ayah memang lihat ada yang ribut-ribut di IGD. Katanya dua orang korban kecelakaan. Mungkin Ara?"Â
Galang merasakan hatinya mencelos, ini rasanya bahkan lebih sakit dari pada ketika dia dipukuli malam itu. Membuatnya merasa tak tahan lagi. Ponselnya bahkan sampai terjatuh karena pikirannya yang sudah melayang entah ke mana.
"Mereka bilang di lantai berapa tadi?" Suaranya terdengar bergetar.
"Lantai tiga atau berapa ya tadi?" Arif menjawab.
Lalu tanpa berkata-kata, Galang segera berlari mengikuti Rania dan Dimitri ke arah lift, membuat semua orang yang ada di dekatnya terkejut.
"Galang!" Mayang bahkan sampai berteriak karena saking terkejutnya.
Namun putranya itu tidak mendengar. Dia bahkan berlari mendahului Rania masuk ke dalam lift ketika benda itu terbuka.
"Kamu mau ke mana?" Rania pun beregas masuk, diikuti Dimitri tentunya.
Galang tak menjawab, namun dia terus menekan tombol naik di dinding lift sampai pintunya tertutup dan kotak besi itu bergerak ke atas.
"Oh, cepatlah sialan!" Pria itu menatap pintu lift. Perjalanan ke lantai tiga rasanya begitu lambat dan dia langsung merasa tak tahan.
"Cepatlah!" Dia meremat rambut di kepalanya dengan frustasi, sementara dua orang di dekatnya saling pandang.
"Aku mohon cepatlah!" Tubuh Galang sampai melorot dan dia berjongkok dengan kedua tangan masih di kepala. Semakin lama merasa semakin frustasi.
Hingga lift berhenti dan pintunya terbuka, Galang segera bangkit dan kembali berlari.
"Dimana?" Dia berhenti sejenak.
__ADS_1
"Di mana kamarnya Ran?" Lalu Galang bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area yang terlihat.
Lalu dia menemukan sosok Satria yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Galang pun kembali berlari, dan beberapa orang menyambut saat menyadari kedatangannya.
"Lang?" Andra yang pertama menyapa.
"Kenapa tidak ada yang memberi tahu?" ucapnya dengan suara parau.
"Kenapa kalian tidak memberi tahu?" katanya lagi, dan dia memelankan langkah ke arah pintu di mana dia melihat Mytha baru saja keluar.
"Bagaimana .... Bagaimana keadaannya?" Dia terus maju. Dan tanpa menunggu lama, dia pun segera mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
Hatinya tentu saja terasa hancur ketika melihat pemandangan di dalam sana. Di mana Amara terbaring lemah dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Sebagian besar tubuhnya dibalut verban tebal, juga penyangga leher yang menopang wajahnya sehingga tetap dalam posisi stabil.
"Ara?" Langkahnya gontai, dan pria itu tidak memikirkan apa pun saat ini selain Amara.
"Ara, kamu kenapa?" katanya, dan dia hampir menangis.
"Ara kamu kenapa?" Galang mendekat ke tempat tidur dan menemukan gadis itu yang terlelap begitu dalam.
"Ara, apa yang terjadi?" Dia menunduk dengan kedua tangannya yang membingkai wajah Amara.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu begini?" ucapnya, dan dia menempelkan kening mereka berdua.
"Ara?" Galang sesenggukkan.
"Berani-beraninya kau datang kemari?" Arfan yang sejak semalam tidak beranjak dari ruangan itu segera menghampiri Galang lalu menarik pria itu menjauh dari putrinya.Â
"Jauhkan tanganmu dari putriku! Dan menyingkirlah!" Dia mendorongnya hingga Galang terhuyung dan jatuh ke lantai.
Arfan kemudian kembali menariknya, dan dengan sekuat tenaga dia mencengkeram pakaian pria muda itu dan mendorongnya hingga Galang tersudut di belakang pintu.
"Sudah aku katakan untuk tidak menemuinya lagi, tapi kau tidak mendengar. Sekarang lihat apa yang telah kau perbuat kepadanya?" Arfan mencengkeram leher Galang.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini hah? Apa yang akan kau lakukan?" Pria itu berteriak.
"Papa! Stop! Jangan begini. Lepaskan!" Dygta seperti biasa, selalu berusaha menjadi peredam atas kemarahan suaminya yang sewaktu-waktu meledak setiap kali ada pemicu.
"Pecundang ini, menyebabkan anakku dalam bahaya. Sudah aku katakan untuk tidak menemui Ara tapi dia tidak mendengar!" Arfan menekan leher Galang semakin kuat sehingga pria dalam cengkeramannya itu kesulitan bernapas.
"Stop Sayang! Jangan begini. Jangan lagi, aku mohon. Ara tidak akan tiba-tiba sembuh hanya karena kamu melampiaskan kemarahanmu dengan cara seperti ini. Aku mohon." Dygta berusaha melepaskan tangan suaminya dari Galang.
Sementara Arfan mengetatkan rahangnya, dengan kedua tangan masih mencengkram leher pria muda itu.
"Sayang? Aku mohon, aku mohon." Dygta terus berusaha meredam amarah suaminya.
"Nanti Ara akan sedih kalau tahu Papanya seperti ini, dia tidak akan memaafkan kita kalau terjadi sesuatu."
"Papa, aku mohon!"
Lalu Arfan melonggarkan cengkeraman dengan sendirinya. Membuat tubuh Galang melorot ke lantai. Dengan terbatuk-batuk dia merangkak menjauh saat Dygta mendorong mundur suaminya.
"Keluar, aku tidak ingin melihat wajahmu disini?" geram Arfan yang berusaha mati-matian meredam amarahnya. Sementara Dygta menghadangnya dari apa yang mungkin akan dia lakukan lagi.
"Keluar kataku!" Pria itu berteriak.
"Sssttt, Papa!" Dygta memegang pundaknya.
"Aku tidak sudi melihat wajahmu sampai kapanpun! Kau yang menyebabkan ja*lang itu mengincar anakku!" Pria itu berteriak lagi.
"Papa!" Dygta terisak.
Galang tertegun, dan dia berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Meski sesekali masih terbatuk, tapi dia berusaha untuk bangkit.
Hingga akhirnya beberapa orang masuk karena mendengar keributan di dalam sana.
"Pak?" Andra segera menghampiri Arfan dan membisikkan sesuatu di telinganya. Sementara Satria membantu Galang bangkit dan menariknya ke sofa yang tersedia.
"Kau beruntung karena mereka telah menemukannya. Jika tidak, maka kau yang akan aku bunuh!" geram Arfan lagi setelah mendengar apa yang Andra katakan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
silahkan komen, silahkan berpendapat. Tapi ingat, bijaklah dalam menggunakan kata-kata, jangan sampai membuat orang lain tersinggung. Kamu nggak tau sesulit apa agar sebuah tulisan menjadi enak di baca dan kalian bisa menikmati karya ini dengan gratis.
__ADS_1
jangan lupa like sama hadiahnya juga ya, kalian reader paling luar biasa di dunia pernovelan online.
Terima kasih atas dukungannya, alopyu sekebon😘😘