My Only One

My Only One
Kunjungan Clarra


__ADS_3

🌺


🌺


"Retakannya sudah hilang, dan semua yang sempat bergeser sudah kembali ke tempatnya." Dokter menunjuk beberapa titik pada gambar hasil scan beberapa saat yang lalu setelah gips yang melindungi tangan dan kaki Amara dibuka.


"Secara keseluruhan pemulihannya berjalan baik dan cukup cepat, mengingat insidennya yang lumayan parah." Dokter mengalihkan perhatian kepada tiga orang yang duduk di seberangnya, termasuk Arfan  yang tiba beberapa saat sebelum pemeriksaan.


"Jadi tidak apa-apa walau tidak memakai gips lagi?" Galang bertanya.


"Sebenarnya masih perlu, sekedar untuk membuatnya agar tetap terjaga, dan menghindarkan pasien dari pergerakan yang membahayakan, tapi …."


"Aku nggak mau, pakai gips tangan sama kaki aku berasa kaku." Amara segera menyela percakapan.


"Tapi itu lebih aman." sergah Galang yang menoleh kepadanya.


"Apa berbahaya jika pasien tidak menggunakan gips?" Arfan ikut berbicara.


"Tidak juga jika pasien bisa menjaga dirinya, dan berjanji tidak akan melakukan kecerobohan." jawab dokter yang juga beralih menatap Amara.


"Aku nggak akan aneh-aneh. Asal gipsnya nggak dipasang lagi. Janji deh." Amara meremat tangan Galang yang sedang menggenggamnya, meminta dukungan.


"Baiklah, asal bisa berhati-hati kami tidak akan memasangkannya lagi."


"Baik dokter."


Lalu setelah beberapa saat mereka beralih ke unit bedah plastik. Sengaja berkonsultasi mengenai operasi wajah yang akan dilaksanakan dalam tiga hari kedepan. 


Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk melihat kesiapan Amara dan mengetahui bagaimana kondisinya sekarang ini. Termasuk keadaan fisik dan mental yang sama pentingnya demi kelancaran operasi tersebut.


"Kondisinya baik, dan operasi bisa dilakukan sesuai jadwal." Dokter cantik bernama Kirana itu menjelaskan hasil pemeriksaannya.


"Asal kondisinya dijaga tetap sebaik ini semuanya pasti berjalan lancar." katanya lagi yang menuliskan beberapa hal pada catatannya.


"Nanti yang akan kita perbaiki adalah di sini, di sini, dan di sini." Perempuan itu menunjuk beberapa titik pada bekas luka Amara yang masih kentara.


"Dokter, operasinya sakit nggak?" Amara bertanya.


"Prosesnya tidak akan menyakitkan karena kita akan menggunakan anestesi lokal di sini. Mungkin di proses pemulihannya saja yang akan sedikit terasa sakit."


"Mm …."


"Jangan khawatir, hanya sedikit." Dokter Kirana tersenyum manis sambil menepuk pundaknya pelan-pelan.


"Oke."


"Tidak usah tegang, ini hanya operasi kecil. Hanya memperbaiki jaringan kulit yang rusak agar kembali seperti semula. Selebihnya hanya prosedur biasa saja." Perempuan itu meyakinkan Amara.


"Ya Dokter."


"Baiklah, kalau begitu Anda bisa istirahat lagi setelah ini. Ingat untuk istirahat dan makan yang bergizi. Obatnya juga harus dimakan agar kondisi semakin baik ya?"


"Baik Dokter."


"Ya, sampai bertemu tiga hari lagi?"


Kemudian ketiga orang itupun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.


🌺


🌺


"Aku pikir hari ini kamu tidak masuk?" Clarra menyambutnya ketika Galang tiba di lantai dua puluh pada hampir siang.


"Tidak mungkin. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum cuti kan?" Pria itu berhenti tepat di depan meja Clarra.


"Yeah, benar."


"Hmm … barusan pemeriksaan terakhir sebelum operasi tiga hari ke depan." jelas pria itu, dan dia memeriksa jadwal kerjanya yang diberikan oleh sang sekretaris.


"Operasinya lusa?" Clarra bertanya.


"Ya, jika keadaannya tetap stabil bisa dipastikan sesuai jadwal. Semoga saja."


"Semoga semuanya lancar." ucap Clarra.


"Ya, terima kasih."


Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Lalu siapa yang menemaninya sekarang? Bukankah kamu sudah memindahkannya ke NMC?"


"Ada Pak Arfan. Hari ini dia juga menemani kami melakukan pemeriksaan." Galang menjawab.


"Pak Arfan masih memperhatikan anaknya ya? Padahal sudah menikah?"


"Yeah, sepertinya itu hal yang tidak bisa dihindari. Lagi pula mereka memang sangat dekat, jadi sepertinya akan sulit untuk merubah kebiasaan itu."


"Tidak usah dirubah, bagus juga jika dekat dengan orang tua, kita tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Akan selalu ada tempat mengadu dan berbagi apa pun. Dan itu bagus." 


"Ya, aku rasa kamu benar Cla, cukup bagus juga untuk meninggalkannya sementara aku harus bekerja." Galang mengamini.


"Hmm …."

__ADS_1


"Jadi, pekerjaanku apa hari ini? Apa ada pertemuan diluar atau semacamnya?" Galang mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak, untuk hari ini kamu membantu Dimitri menyelesaikan pekerjaannya. Dan untuk pertemuan sepertinya besok dan lusa siang. Atau kalau kamu tidak bisa mendampingi Dimitri, bisa aku serahkan kepada Pak Andra?"


"Umm … tidak usah. Untuk besok atau lusa sepertinya aku masih bisa. Jadi biarkan aku saja yang menyelesaikannya." Galang menerima beberapa dokumen untuk dia kerjakan.


"Kamu yakin?"


"Yakin sekali."


"Baik kalau begitu, mungkin nanti sore atau malam aku kirimkan jadwalnya kepadamu dan Dimitri?"


"Baik." Lalu Galang pun melenggang ke dalam ruangan Dimitri untuk menyerahkan beberapa laporan dan mengerjakan bagiannya.


***


"Kamu sudah memindahkan Ara ke NMC?" Dimitri membubuhkan tanda tangannya pada dokumen yang diserahkan oleh Galang. 


"Iya Pak."


"Bagaimana keadaan di sana? Apa bagus?"


"Bagus pak. Sudah siap digunakan jika memang diperlukan."


"Syukurlah. Jadi kita dan karyawan akan lebih mudah mendapat akses kesehatan. Tidak perlu asuransi atau semacamnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Hanya terdaftar sebagai pegawai Nikolai Grup, dan mereka akan mendapatkannya."


"Ya, dan saya rasa ini sangat berguna. Tidak membutuhkan banyak prosedur, pasien akan langsung ditangani tanpa menunggu urusan administrasi di awal. Dan itu sangat bagus."


"Hmm .... Proyek yang cukup berhasil aku rasa." Dimitri menganggukkan kepala.


"Tentu Pak. Dan ide yang bagus juga."


"Yeah, … Rania yang punya ide, dan aku hanya mewujudkannya. Setidaknya akan lebih mudah untuk pegawai kita."


"Tapi bagus Pak. Sebagai pasien pertama setelah proyeknya rampung, saya merasa puas dengan pelayanannya." Galang berujar.


"Tentu saja puas, memangnya di mana lagi kamu akan mendapat pelayanan kesehatan dengan fasilitas hotel sebaik itu? Hanya di NMC. Ada pun rumah sakit lain yang memiliki fasilitas yang sama, pasti harus mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya. Sedangkan di NMC, kamu hanya perlu menunjukkan bukti sebagai karyawan Nikolai Grup."


Galang terkekeh.


"Om Arfan pasti mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak kemarin untuk merawat Ara di rumah sakit. Sedangkan kamu? Beruntung sekali NMC sudah selesai dibangun."


"Ya Pak, benar sekali." Lalu pria itu tertawa.


🌺


🌺


"Galang?" Clarra memanggilnya saat pria itu hampir masuk ke ruang perawatan Amara pada hampir malam.


"Hey? Kamu ke sini?" Galang pun memutar tubuh.


"Ya, mampir untuk menjenguk Ara." jawab Clarra setelah jarak mereka cukup dekat.


"Oh, baiklah." Galang melirik kepada pria yang berada di samping perempuan itu.


"Mari?" Lalu dia membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


Tampak Amara yang duduk setengah berbaring di tempat tidur menatap layar televisi, dan Arfan yang masih berada di sana dengan laptop dan ponsel menyala. Bekerja dari jauh sambil menemani putrinya yang sedang dalam perawatan.


"Selamat sore Pak?" Clarra segera menyapa.


"Oh, sore? Kalian datang?" Arfan pun menjawab. Dia kemudian menghentikan pekerjaannya yang hampir rampung.


Sementara Amara menyambut kedatangan suaminya dengan suka cita.


"Bagaimana keadaanmu?" Galang merangkul perempuan itu lalu mengecup puncak kepalanya.


"Aku oke. Cuma ininya masih sakit." Amara mengadu sambil menunjukkan tangan dan kaki kanannya yang masih berbalut verban yang cukup tebal.


"Masih lebih baik dari pada memakai gips kan?"


"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.


"Lihat siapa yang datang?" Pria itu kemudian bergeser saat Clarra dan dokter Syharil mendekat.


"Hai Ra, apa kabar?" Clarra menyapanya, sedangka Dokter Syahril mengagguk satu kali.


"Hai Kak? Udah mendingan." Amara sedikit mendongak kepada suaminya untuk meminta penjelasan.


"Syukurlah. Aku harap kamu cepat pulih." ucap Clarra yang lebih mendekat lagi kepada perempuan itu.


"Iya, makasih. Ini juga udah lebih baik, cuma belum bisa apa-apa." Amara dengan lugunya.


"Memangnya mau apa? Istirahat sajalah." Clarra sedikit tertawa karenanya.


"Umm … maksudnya … belum bisa ngapa-ngapain. Makan masih disuapin, mandi masih dimandiin, apalagi kalau mau keluar. Harus pakai kursi roda."


"Tidak apa-apa, agar Galang ada tugas tambahan lagi sepulang kerja." Clarra kemudian duduk di kursi yang galang tarik ke dekat mereka, sementara Dokter Syahril memilih mendekati Arfan yang melanjutkan pekerjaannya.


"Mm … hehe." Amara kemudian tertawa pelan.


Dia merasa suasana ini sedikit aneh, di mana dirinya yang kini sudah menjadi istri dari Galang bertemu dengan mantan kekasih suaminya itu yang baru diputuskan tak lama sebelum mereka menikah. Dan mereka bisa seakrab ini. Tapi, bukankan ini lebih baik?

__ADS_1


"Aku sekalian mau minta maaf Ra." ucap Clarra kemudian.


"Minta maaf?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Minta maaf untuk apa?"


"Untuk semua yang aku katakan sebelum kamu mengalami kecelakaan, dan untuk apa yang Mamaku lakukan."


"Apa?"


"Aku tidak tahu akibatnya akan sefatal ini, tapi itu memang kenyataannya kan?"


Amara kembali mendongak ke arah suaminya yang duduk disampingnya. Lalu dia mengingat saat terakhir sebelum terjadi kecelakaan di mana Clarra menemuinya dan mengatakan banyak hal.


"Aku … berpikir bahwa mungkin ada kata-kataku yang ikut andil dalam peristiwa itu sehingga membuat keadaan menjadi seperti ini, so …."


Amara menggelengkan kepala.


"Nggak ada hubungannya." katanya kemudian.


"Itu cuma pembicaraan biasa kan? Lagian waktu itu apa yang Kakak bilang emang bener. Kalau Kak Galang nggak menemui aku, mungkin pemukulan itu nggak akan terjadi."


"Apa?" Galang bereaksi.


"Tidak. Aku salah telah mengatakan hal seperti itu. Seharusnya itu tidak menjadi urusanku karena datang atau tidaknya Galang ke kedai, pemukulan itu akan tetap terjadi. Karena masalahnya bukan pada apa yang terjadi sebelumnya, tapi Mamaku."


"Mama? Maksudnya?" Amara tampak bertanya-tanya.


"Mama kandungku."


Perempuan itu mengerutkan dahi.


"Intinya ada masalah serius yang menyebabkan mamaku menyerang Galang. Dia tidak senang karena aku menolak menemuinya dan mengira Galang ada dibalik semua penolakanku, jadi … ya. Begitulah akhirnya."


Amara berusaha mencerna segala yang Clarra ucapkan.


"Dan yang paling fatal dari semua itu adalah dia juga menyerangmu. Padahal kamu tidak tahu apa-apa dan tidak ada hubungannya dengan masalah apa pun. Hanya karena kamu anaknya Pak Arfan." Clarra melirik kepada dua pria di depannya.


"Sekali lagi aku minta maaf, untuk apa pun yang aku ucapkan dan yang telah kamu alami. Itu semua benar-benar diluar kendaliku." ucap Clarra lagi dengan berbesar hati.


"Umm … oke. Kayaknya nggak ada yang bisa aku bilang soal itu. Lagian aku nggak ngerti masalahnya apa. Yang aku tahu aku cuma kecelakaan dan … ya udah, itu aja. Soal urusan sama Kakak aku malah nggak ingat. Hahaha." Amara malah tertawa.


"Jadi … semuanya sudah jelas kan? Aku minta maaf, dan kamu memaafkan aku?" Clarra mencoba menjelaskan situasinya.


"Ya, kenapa juga nggak aku maafin? Kita nggak ada masalah sebelumnya kan?" Amara pun menjawab, membuat Clarra bernapas lega.


Setelah berminggu-minggu sejak peristiwa kecelakaan itu pikirannya menjadi tidak tenang. Dan dia meyakini bahwa jalan satu-satunya adalah berbicara kepada Amara untuk meminta maaf dan menjelaskan keadaan. Yang ternyata tidak seberat yang dia bayangkan.


"Terima kasih." Clarra menghambur untuk memeluk Amara.


"Sebentar-sebentar." Galang menginterupsi setelah menyimak percakapan dua perempuan ini.


"Ini maksudnya pembicaraan yang mana? Kenapa aku tidak tahu?" katanya yang berusaha mengingat banyak hal tapi tetap dia tak menemukan jawabannya.


"Nggak ada, cuma obrolan biasa." Amara memberi isyarat kepada Clarra untuk tutup mulut.


"Masa? Kok serius begitu?"


"Nggak, biasa aja. Iya kan Kak?"


Clarra menganggukkan kepala.


"Tapi aku kok …."


"Udah, ini urusan perempuan. Kakak nggak usah tahu." Amara menepuk paha suaminya.


"Tapi aku dengar barusan." Galang menjawab.


"Ya udah, cukup dengar aja nggak usah tahu yang lainnya."


"Tapi kan …."


"Heh, udah. Bukan urusan Kakak!" ucap Amara lagi yang membuat pria disampingnya itu bungkam seketika. Sementara Clarra hanya tertawa melihat kelakuan pasangan itu.


"Baik, kalau begitu aku pamit ya?" Clarra kemudiam berujar. Dia bangkit setelah memeluk Amara sekali lagi.


"Buru-buru amat?"


"Iya, harus menjemput Syahnaz."


"Syahnaz?" Amara membeo seraya melirik ke arah dokter Syahril yang sudah bangkit.


"Ya. Takutnya dia menunggu terlalu lama, nanti mengomel." jelas Clarra, meski tetap tidak membuat Amara mengerti dengan situasi yang satu ini.


"Kami pamit." ucap Clarra lagi, dan mereka pun segera pergi setelahnya. 


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


ayooo kirim hadiahnya dulu. mau doble up niiihh


__ADS_2