
🌺
🌺
“Memangnya Kakak setega itu sama Kak Clarra?” Amara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Mereka memutuskan untuk berbicara setelah keadaan benar-benar tenang. Terutama Galang.
“Jangan cepat-cepat mengambil keputusan, apalagi dalam keadaan seperti ini. Kakak sendiri sudah merasakan bagaimana akibatnya.” Gadis itu mengingatkan.
Galang terdiam.
“Gimana kalau ternyata Kak Clarra itu jodoh Kakak? Gimana kalau ternyata dia adalah orang yang tepat? Dan gimana kalau dia adalah yang terbaik yang Tuhan kirim untuk Kakak, dan sebaliknya, arti Kakak untuk Kak Clarra juga begitu?”
“Waktu Kakak bilang minta waktu untuk berpikir, aku memilih untuk menunggu. Dan kita lihat gimana hasilnya kan?”
“Mungkin kita memang nggak jodoh, jadi ….”
“Ra!” Galang memotong kata-katanya.
“Aku cuma mencoba untuk lebih realistis di sini. Semua yang terjadi dengan kita awalnya memang karena emosi. Dan aku harap kita nggak mengulanginya kali ini. Atau penyesalan yang lebih menyakitkan akan kita rasakan.”
“Aku nggak tahu apa yang membuat Kakak memutuskan untuk menjalin hubungan sama Kak Clarra, tapi aku yakin keputusan itu Kakak buat bukan tanpa sebab, apa lagi sembarangan. Kak Clarra itu perempuan dewasa yang pastinya juga punya perhitungan kenapa menerima Kakak. Kalau bukan karena ada perasaan di antara kalian, nggak mungki hubungan itu terjadi kan?”
Galang berpikir.
Pada awalnya memang tidak apa-apa selain hanya hubungan profesional. Hanya saja, semakin sering mereka berinteraksi, dan semakin sering mereka membicarakan banyak hal maka muncul juga perasaan lain kepada Clarra.
Dia dengan depresinya, dan segala permasalahan hidup yang tak orang lain tahu. Namun juga dengan sikap dan segala kemandiriannya. Pembawaan yang tenang dan ternyata menyenangkan yang juga tak pernah ditunjukkan di depan orang lain, menjadikan Clarra memiliki satu tempat di hatinya.
Perasaannya?
Ah, tidak tahu. Tapi Galang selalu merasa ingin melakukan hal penting untuk perempuan itu. Membuatnya merasa nyaman, menyenangkan hatinya, juga menyelamatkan harga diri nya ketika sekelompok orang tengah membicarakan hal buruk tentangnya.
“Mungkin perasaan Kakak yang sekarang karena keberadaan aku di sini sekarang. Mungkin sebenarnya, perasaan Kakak sama Kak Clarra itu besar tapi karena aku datang jadinya Kakak kayak gini.”
“Berpikir yang tenang. Tanya lagi hati Kakak gimana sebenarnya. Karena antara rasa sayang dan rasa bersalah bisa aja kelihatan sama.”
“Seperti yang Kakak bilang, kalau kita nggak ada janji apa-apa. Jadi nggak ada kewajiban apa-apa juga di antara kita untuk kembali bersama lagi. Mungkin waktu itu hanya aku yang terlalu percaya diri yang pulang membawa harapan kita bisa bersama lagi. Tanpa aku sadar mungkin sebenarnya perasaan Kakak udah nggak kayak dulu lagi.”
Galang membuka mulutnya untuk menyanggah ucapan Amara, tapi gadis itu sudah mendahuluinya.
“Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang lain.” Amara terkekeh. “Rasanya nggak sepadan aja.” Lalu dia menggelengkan kepala.
__ADS_1
Dan gadis itu benar.
“Sekarang pulanglah, udah malam juga.” Amara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu lewat tengah malam.
“Apakah aku boleh datang ke sini sesekali?”
“Boleh, kenapa nggak boleh? Bawa Kak Clarra juga. Karena kalau Kakak datang sendiri nanti aku lupa kalau Kakak sudah jadi milik orang lain?” Gadis itu terkekeh lagi, lalu dia bangkit dan meraih gelas kosong bekas minuman mereka.
“Apa kita akan baik-baik saja setelah ini?” Galang menarik pergelangan tangannya.
Amara terdiam sebentar.
“Kalau misalnya kita tidak kembali, apa hubungan kita akan baik seperti ini?” Galang memperjelas kalimatnya.
‘Ya, kenapa nggak? Awalnya juga hubungan kita baik kan?” Amara menjawab.
“Benarkah?”
Gadis itu menganggukkan kepala, sementara Galang menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Amara memang benar, kini yang harus dilakukannya adalah bagaimana menyelesaikan urusan dengan Clarra. Tapi setidaknya mereka sudah berbicara dengan benar, tanpa emosi dan tanpa prasangka. Membuat Galang sedikit merasa lega. Mungkin juga Amara.
“Kamu sudah bahagia ya?” Pria itu belum juga menyudahi percakapan tersebut.
“Bahagia itu pilihan. Bukankah bagus kalau aku bahagia? Kakak nggak akan merasa bersalah kalau misalnya kita benar-benar nggak bisa kembali bersama.”
“Dan aku memilih untuk bahagia saja dari pada harus meratapi kehilangan. Apalagi sekarang, ada orang-orang yang bergantung sama aku. Pegawai-pegawai aku butuh kerjaan, dan itu mereka temukan di kedai ini. Coba Kakak bayangin kalau misalnya aku terpuruk, gimana dengan mereka?”
“Jadi kamu nggak membutuhkan aku lagi?”
“Bukan soal membutuhkan atau tidak, tapi ada prioritas yang harus kita dahulukan. Meski itu harus mengorbankan hati kita sendiri.”
Galang terkekeh getir.
“Lihat? Kamu bahkan sudah bisa mengatakan hal semacam itu sekarang. Dan di mana aku selama ini?”
“Disini.” Amara menekan dadanya sendiri. “Kakak nggak akan pernah hilang dari hatiku. Sejauh apa pun aku pergi, semua tentang Kakak pasti akan selalu aku bawa.” Amara merasakan tenggorokkannya seperti tercekat.
“Sekarang pulanglah, aku harus istirahat.” ucapnya kemudian. Dia harus mengusir pria itu dari pada nanti akhirnya mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan perasaan dan akan menyebabkan sesuatu hal terjadi. Ditambah air mata yang sepertinya sedang mencoba untuk keluar, yang sudah bisa dipastikan akan menambah drama percintaan gagal ini.
Dan Galang pun akhirnya mengalah. Dia bangkit dari kursinya dan berniat untuk pergi. Tapi sebelum itu, dia kembali ke hadapan Amara dan segera menariknya ke dalam pelukan.
“Harus kamu tahu, kalau perasaanku juga sama kepadamu. Apa pun yang terjadi kamu akan selalu ada di hatiku.” Dia berbisik.
Amara menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Aku pergi.” Pamitnya setelah puas meluapkan perasaannya.
Pria itu bergegas keluar dari kedai dan segera mengendarai mobilnya. Dia melirik sebentar bersamaan dengan Amara yang melambaikan tangannya dari balik jendela. Kemudian dia memacu kendaraannya, meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan satu hati yang remuk redam, yang entah harus disebut apa.
***
Dan Galang pun tiba di apartemennya setelah berkendara beberapa saat dari kedai Amara. Membawa perasaan yang meski lega karena telah mengungkapkan perasaannya dengan benar, namun kehampaan jelas memenuhi hatinya sekarang.
Tidak apa, yang penting sudah bicara. Masalah lainnya bisa dipikirkan nanti kan? Gumamnya dalam hati.
Dia keluar dari dalam lift dan melenggang menuju apartemennya yang sepi. Pantas karena waktu memang sudah menunjukkan hampir jam dua dini hari, dan itu waktu termalamnya dia pulang selama dua tahun bekerja di Nikolai Grup.
Namun Galang tertegun ketika mendapati seseorang yang duduk tertunduk di depan pintu unitnya. Dan tampaknya, dia mengenalnya?
“Cla?” panggil Galang kepada perempuan yang duduk memeluk lututnya sendiri.
Orang yang dimaksud pun mengangkat kepala. dan sosk Galang mendominasi pandangannya.
Clarra mengembuskan napas lega, akhirnya pria itu pulang setelah berjam-jam dia menunggunya.
“Kenapa kamu ada di sii? Sejak kapan?” Galang segera menyongsongnya, dan bersamaan dengan itu Clarra pun bangkit.
“Akhirnya kamu pulang.” ucap Clarra yang merentangkan tangannya, dan dia hampir menangis.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Galang.
“Akhirnya kamu pulang, aku tidak tahu harus ke mana. Aku ….” Perempuan itu segera menghambur ke dalam pelukannya.
“Ada apa?” tanya pria itu lagi.
“Aku tidak tahu harus ke mana, aku sendirian. Aku aku tidak mau kembali ke sana.” Clarra meracau tak karuan.
“Maksud kamu apa? Kenapa bicara begitu? Apa terjadi sesuatu kepadamu?” Galang terus bertanya.
Namun Clarra tidak menjawab, dia hanya menangis sesenggukkan di dada pria itu. Seolah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menangis.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1
minta anu nya boleh?
eh, like komen hadiah sama vote maksudnya. 😂😂