
🌺
🌺
Amara mengenakan seragamnya begitu tiba di hotel. Dia baru saja kembali bekerja setelah mengurus rencana kepulangannya ke tanah air. Namun satu kabar yang cukup mengejutkan menghentikan niatnya semula.
"Hah, ... kenapa bersamaan seperti ini?" gumamnya dengan pandangan teruju pada layar ponsel.
Ketika sebuah kabar dari kampus yang menyatakan bahwa acara wisuda akan di adakan di akhir minggu.
"Kalau pulang sekarang tanggung juga, hanya buang-buang waktu." katanya, dan dia segera melakukan panggilan.
"Ya Kak?" suara sang ayah yang menjawab.
"Papa udah baca chat aku kan?"
"Ya. Ada masalah?"
"Tadinya aku mau pulang dulu sebelum wisuda, tapi ...."
"Papa kira tidak usah Kak, nanti saja sekalian. Kalau kamu sudah menyelesaikan semuanya kita urus kepulanganmu."
"Tapi Pah, tadinya aku mau ...."
"Tanggung Kak. Waktu hanya terbuang begitu saja. Lagi pula acaranya di akhir minggu ini kan? Kalau saja wisudanya sekitar satu bulanan lagi mungkin lain ceritanya."
"Oh, ... ya sudahlah."
"Memangnya kamu benar mau pulang?"
"Kayaknya gitu."
"Tidak mau bekerja dulu di Paris?"
"Ini kan lagi kerja, dan aku rasa cukup."
"Benar?" Arfan meyakinkan.
"Iya, usaha kita juga butuh aku."
Arfan terkekeh.
"Kenapa Papa ketawa?"
"Papa hanya senang karena kamu akan pulang."
"Umm ... gimana keadaan di sana?" Amara kemudian bertanya.
"Baik-baik saja."
"Mommy ke mana?"
"Ada."
"Adik-adik?'
"Mereka sedang istirahat. Sekolah hari ini cukup sibuk."
"Yang lainnya?"
"Yang lainnya apa?"
"Ya ... yang lainnya."
"Maksud kamu ini apa?" Arfan tertawa lagi. Dia tahu maksud pertanyaan putrinya ditujukan untuk siapa.
"Umm ... udah ah, aku harus kerja dulu, nanti di marahin manager."
"Tidak mau bicara dengan Mommy dulu?"
"Nggak usah, Mommy juga kayaknya lagi istirahat. Kasihan."
"Sudah mengabari Mamamu?"
"Udah."
"Sudah di tanya juga apa dia mau pergi menghadiri wisudamu?"
"Udah. Tapi katanya Mama nggak bisa pergi. Paris kejauhan."
"Baiklah. Mungkin hanya Papa dan Mommy juga adik-adikmu, tidak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, sama aja kan?"
"Baik kalau begitu, Papa akan menyiapkan semuanya ya?"
"Oke, aku juga mau kerja."
"Ya, hati-hati Kak."
"Iya Pah."
Dan percakapan itu berakhir.
__ADS_1
"Sudah menghubungi keluargamu?" Piere pun sudah mengganti pakaiannya dengan seragam hotel.
"Sudah."
"Kepulanganmu dibatalkan?"
"Ya, sepertinya begitu. Tidak mungkin aku bolak-balik Jakarta-Paris minggu ini. Waktunya sangat sedikit."
"Jadi kau akan pulang setelah wisuda?"
"Ya, dan setelah semuanya selesai jadi tidak ada lagi yang aku tinggalkan di sini."
"Apakah itu artinya kau tidak aka kembali ke Paris?"
"Mmm ... mungkin."
"Kau bilang mau bekerja dan mencari pengalaman di sini?" Pria itu mengingatkan ucapan Amara beberapa minggu sebelumnya.
"Ya, tapi setelah dipikir-pikir lagi sepertinya aku harus pulang saja. Usaha papaku membutuhkan aku, dan ...."
"Kau juga harus mengejar cintamu."
Amara terkekeh.
"Benar kan? Berjuanglah, itu memang harus dilakukan jika kau memang mencintainya. Jangan sampai terlambat."
"Aku harap tidak, Piere."
"Kau yakin?"
"Ya, dua tahun aku pergi tapi dia masih menemukan aku. Meski sekarang masih terpisah aku harap setelah ini tidak lagi. Dan aku harus berjuang untuk itu bukan?"
"Kau benar."
"Yeah, jadi mari kita bekerja lagi?" Amara dengan semangatnya.
"Baik. Banyak sekali kamar yang harus kau dan Abigail rapikan sekarang."
"Hmmm ... Berapa kamar?" wajah gadis itu masih tampak bersemangat.
"Kita mulai dengan sepuluh."
"Apa? Sepuluh kamar?"
"Ya, hari ini tamu yang check in sebanyak itu. Dan sepertinya ada pesta semalam."
"Pesta apa?"
"Pesta anak muda." Piere tertawa.
"Tidak lagi!!!" Kemudian dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Terbayang kekacauan yang akan dia hadapi hari ini.
"Ayo cepat, kamar-kamar itu tidak akan rapi dengan sendirinya nona."
"Huaaaa, ... Kak Galang, sekarang aku mengerti maksud Kakak. Aku mau pulang!! Tunggu aku sampai selesai wisuda!!" Katanya, ketika Piere mendorongnya untuk menjalankan tugas hari itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarra memasukkan cup yang sudah kosong itu ke tong sampah terdekat dari tempat duduknya. Sore itu seperti biasa dia memilih untuk menjeda perjalanan pulangnya dengan mampir terlebih dahulu ke taman kota.
Membeli satu cup minuman dingin untuk kemudian menikmatinya di salah satu kursi taman yang tersedia. Lalu memutuskan untuk pulang setelah minumannya habis dan hanya menyisakan bongkahan es batu yang mulai meleleh. Seperti yang selalu dilakukannya beberapa bulan belakangan.
"Ugh!" Seorang anak perempuan berlari lalu menabraknya hingga dia jatuh terpental.
"Awww!!"
"Hey, hati-hati. Kamu tidak apa-apa?" Perempuan itu membangunkannya.
Anak kecil itu mendongak, dan seketika kedua matanya membulat dengan sempurna ketika mengenali wajah Clarra.
"Tante Clarra!" Dia berteriak, kemudian menghambur untuk memeluknya.
"Syahnaz?"
"Tante masih ingat aku?" Gadis kecil itu tak mau melepaskannya.
"Kamu sedang apa di sini? Dengan siapa?" Clarra menariknya agar pelukannya terlepas.
"Sama Papa." Syahnaz menoleh ke belakang, dan tampaklah pria itu berlari menghampiri mereka.
"Sudah Papa katakan jangan lari-lari!" Dokter Syahril berjongkok di depan mereka.
"See? Benerkan yang aku bilang? Ini tuh Tante Clarra, tapi Papa nggak percaya!" Anak itu berujar.
Syahril menatap wajah Clarra.
"Aku tuh udah lihat tante dari tadi, tapi Papa bilang bukan." Anak itu beralih kepada Clarra.
"Aku memang mengira bukan kamu." ucap pria itu seraya bangkit, lalu menarik sang putri ke sisinya.
"Umm ... sedang apa kalian di sini?" Clarra berbasa-basi.
"Hanya jalan-jalan."
__ADS_1
"Habis dari rumah sakit." namun Syahnaz menyela.
"Dari rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu?" Clarra menunduk kepada anak itu.
"Bukan." Syahnaz menggelengkan kepala.
"Terus siapa?"
"Nenek." Dia menunjuk ke arah belakang di mana seorang perempuan berusia sekitar 60 tahunan berjalan ke arah mereka.
Clarra mengalikan pandangan, dan raut wajahnya berubah seketika setelah menyadari keberadaan perempuan itu.
Dadanya bergemuruh, dan matanya mulai memanas ketika dia mengingat kembali apa yang pernah dia ucapkan.
Anak tidak jelas,
tidak diketahui asal usulnya.
Dia hanya anak adopsi.
Kita tidak tahu bagaimana keturunannya, dan akan melahirkan keturunan seperti apa untuk keluarga kita.
"Selamat sore, Bu?" Clarra terpaksa menyapanya.
"Sore, Clarra." jawab perempuan itu, datar.
"Umm, ... maaf saya harus segera pulang. Permisi?" pamitnya kemudian.
"Tante?" Syahnaz meraih tangannya yang hampir meninggalkan mereka.
"Kenapa Tante nggak pernah datang lagi ke rumah? Aku nungguin setiap hari. Tante sibuk ya?"
Clarra merasa tenggorokannya seperti tercekat. Manatap wajah polos anak itu yang juga sedang menatapnya.
"Tante pulang dulu ya? Nanti kalau ada kesempatan kita ketemu lagi." Perlahan dia melepaskan tangan Syahnaz.
"Tante?"
"Bye Syahnaz, Permisi Dokter? Permisi Bu?" Dan dia segera berlalu tanpa menoleh lagi.
***
Clarra merasakan dadanya begitu sesak. Sesuatu seperti di tekan ke dadanya, membuatnya hampir tak mampu bernapas.
Dia mempercepat langkahnya agar segera pergi dari sana, namun yang ada malah berhenti beberapa kali untuk menarik napas dan menyeka air mata yang mulai mengalir di pipi.
It's oke Cla, bukan salahmu menjadi seperti ini. Bukan juga salahmu karena lahir dari rahim perempuan itu. Dan tak ada yang salah dengan dirimu. Yang salah hanya mereka yang selalu memandang keadaan dari satu sisi, tanpa mempertimbangkan sisi lainnya.
Kamu berharga, dan kamu layak.
Berkali-kali dia menarik napas untuk melegakan hati, dan meyakinkan diri bahwa apa yang terjadi kepadanya bukan karena kesalahannya. Namun tetap saja, perasaannya tak bisa dibohongi bahwa dirinya merasa sakit hati.
Lalu dia tertegun ketika pandangannya menangkap sosok yang dikenalinya berada di depan sana.
Galang yang menghentikan laju motornya di dekat lampu merah yang menyala. Dan dia yakin itu adalah rekan kerjanya. Dilihat dari Kawasaki Ninja hijau yang di kendarainya, dan postur tubuhnya yang memang khas.
Clarra mempercepat langkah sehingga dia mencapai Galang, lalu menepuk pundak pria itu yang tengah menunggu.
"Clarra? Kamu sedang apa di sini?"
Bibir perempuan itu terlihat bergetar.
"Ada sesuatu?"
"Kamu mau ke mana?" Clarra malah balik bertanya.
"Pulang ke Bandung." Galang menjawab. "Ada apa?" Dia tahu ada yang tak beres dengan perempuan ini.
"Ada yang mengganggumu? Siapa? Di mana?" Dia mengedarkan pandangan setelah mematikan mesin motornya.
Namun Clarra menggelengkan kepala.
"Lalu ada apa?"
"Galang, ayo kita ke Bromo?" Perempuan itu berujar.
"Ap-apa?"
"Aku rasa waktunya pas. Ini Jum'at sore, dan kita menempuh perjalanan malam. Besok kita sampai di sana dan punya waktu seharian untuk liburan. Lalu hari Minggunya kita pulang. Semuanya aman, dan kita ...."
"Tunggu-tunggu!!" Galang menghentikan racauannya. "Ada apa denganmu?"
"Aku mau pergi ke Bromo, denganmu. Bukankah kamu janji akan membawaku pergi jalan-jalan?"
"Apa? Kapan?"
"Waktu itu ... jadi ... ayo kita pergi?" Perempuan itu setengah memaksa.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
anu ... ikuuuuuutttt ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤