
🌺
🌺
Galang mempercepat langkah begitu tiba di unit apartemennya. Apalagi setelah mendengar suara isak tangis dari dalam kamar dan itu adalah Amara.
"Ada apa?" tanyanya, dan dia duduk di tepi ranjang.
"Aku lapar, kenapa Kakak lama banget perginya? Kemana dulu? Katanya cuma jemput Arkhan doang?" Dia dengan suara parau.
"Cuma … dibawah sebentar." Galang menjawab.
"Ngapain? Kan udah aku bilang jangan lama-lama!" protesnya, lalu dia mendelik ke arah adiknya yang berdiri diambang pintu.
"Iya, maaf. Mau makan apa? Aku masakkan. Atau mau beli? Suruh Nania antar?" Pria itu memiringkan kepala.
"Umm … mau es boba sama rattatouille." katanya, dan dia berhenti menangis.
"Apa?"
"Rattatouille, suruh Nania bikinin. Sekalian sama es bobanya!"
"Sudah malam masa minum es boba? Dingin."
"Maunya itu. Perut aku lagi nggak enak!"
"Bukannya kamu nggak enak badan dari pagi ya? Seharusnya nggak minum es boba juga kan?"
Amara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ucapan Galang seperti sebuah penolakan baginya, dan itu terasa menyakitkan.
"Eee … iya iya, aku telfon Nania sebentar." Pria itu segera melakukan panggilan.
"Ada lagi selain rattatouille dan es boba? Ayam geprek level 25 mungkin? Atau risotto? Ramen super pedas atau yang lainnya?" Galang berucap asal.
"Umm … Kakak mau ngeracun aku ya pakai nawarin ayam geprek level 25 segala? Aku kan gak terlalu suka pedas. Kalau nggak mau aku suruh ya bilang aja, kenapa malah nawarin aku kayak gitu?"
"Duh?" Galang mengerutkan dahi.
"Ini mana aku mau pipis lagi dari tadi susah banget mau bangun? Datang-datang sikap Kakak kayak gitu." Amara hampir menangis lagi.
"Lah, malah nangis?" Arkhan bereaksi.
"Aku mau pipis, Kakaknya malah diem aja?"
"Astaga!" Galang mengusap wajah kasar.
Dia lantas bangkit kemudian mengangkat tubuh Amara dan segera membawanya ke kamar mandi.
***
"Terima kasih." Arkhan menutup pintu setelah menerima bungkusan makanan yang diantar oleh Nania.
"Nanianya nggak mampir?" Amara yang tengah menikmati camilan di depan televisi sementara Galang sibuk dengan laptopnya.
"Nggak mau, udah aku tawarin juga." jawab sang adik yang segera membuka makanan yang mereka pesan.
“Makan Kak?” tawar Arkhan yang mengambil satu porsi rice bowl berisi nasi dan potongan ayam tepung yang kemudian dia taburi sambal berwarna pekat.
Amara bergeming.
“Katanya tadi lapar? Udah ada makanannya malah diem aja?” ucap sang adik yang memindahkan semua makanan ke dalam wadah yang sudah tersedia.
“Belum ada yang ngasih.” Amara pun menjawab.
Arkhan tertegun kemudian melirik ke arah Galang yang masih sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
“Makan gih!” Sang adik menyodorkan piring berisi pesanannya, namun perempuan itu tak menghiraukan.
“Kayak bocah deh?” Arkhan menggerutu, sementara Amara melirik kemudian mendelik kesal.
“Kakak?” Lalu dia memanggil Galang.
“Ya?”
“Ini bayi gedenya mau makan.” katanya, lalu dia tertawa.
Galang lantas menghentikan pekerjaannya, lalu dia beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Amara.
“Aku nggak mau itu.” ucapnya ketika Galang menyodorkan sendok berisi makanan yang sudah mereka pesan ke dekat mulut istrinya.
“Ini kan tadi yang kamu mau Neng?”
“Tapi aku nggak mau.”
Galang terdiam.
“Ini rattatouille.” ujar pria itu, dan dia menunjukkan piring yang isinya masih utuh.
“Iya tapi nggak mau!”
“Kan ini yang kamu pesan tadi?”
“Udah aku bilang nggak mau.” Amara berguman tidak senang.
“Terus maunya apa?”
Amara melirik ke arah adik laki-lakinya yang tengah melahap makanan dari mangkok kertas, dan dia tampak sangat menikmatinya.
“Mau itu.” jawabnya, dan dia tampak begitu menginginkannya.
Galang menoleh kepada Arkhan yang asyik dengan makanan miliknya.
“Rice bowlnya cuma satu ya?” tanya Galang yang dijawab Arkhan dengan anggukkan.
“Kenapa mintanya cuma satu? bukannya dilebihin? Disinikan ada tiga orang, masa nggak ingat?" Amara memprotes hal tersebut.
“Dih? Aku nggak tahu, orang nemuinnya cuma satu doang. Kirain Kakak nggak mau soalnya udah ada itu?” ucap sang adik yang melanjutkan acara makannya.
“Kakak ih, kenapa pesennya cuma satu? Nggak inget kalau di sini ada tiga orang? Cuma minta ginian doang?" Kini Amara beralih kepada suaminya.
“Kan kamu nggak minta, Neng?” Pria itu menjawab.
“Terus karena aku nggak minta Kakak pikir aku nggak mau gitu?”
“Umm ….”
“Kalau gitu, lain kali nanya dulu sebelum pesen. Siapa tahu aku mau atau harus pesan lebih apa gimana. Bukannya langsung minta aja!” ujar Amara, dan dia terlihat sangat kesal.
“Tadi … aku kan tanya pas order kepada Nania. Aku tanya lagi siapa tahu kamu mau tambah?” Galang mengingatkan.
“Orang Kakak cuma tanya apa aku mau ayam geprek level 25, ramen super pedas atau risotto. Aku nggak mau itu?”
Galang menarik dan menghembuskan napas pelan.
Perempuan ini kenapa lagi duh? batinnya, dan mulai merasa frustasi.
Amara kemudian meraih cup berisi minuman dingin yang permukaannya mulai berembun, dia lalu menyesapnya pelan-pelan.
“Ah … es bobanya udah encer gini, nggak enak!” Dia kemudian menyerahkannya kepada Galang seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa.
“Jelas aja encer, orang esnya udah cair kok? Dari tadi malah dianggurin.” Arkhan menyahut.
__ADS_1
“Kakak sih, ngajak aku ngomong terus? Sampai lupa kan sama es bobanya. Padahal dari tadi maunya minum itu. Di bayangan aku kayaknya enak, manis dan dingiiiiiin gitu disini.” Perempuan itu menyentuh kerongkongannya sambil memejamkan mata.
“Tapi jadi nggak enak karena esnya udah cair.” Lalu dia kembali menggerutu.
“Jadi maunya bagaimana?” Galang yang menjejalkan makanan itu pada mulutnya sendiri.
“Ya udah lah, itu juga nggak apa-apa. Terpaksa aku makan karena udah lapar.” ucap Amara kemudian.
Galang kembali meraup makanan dengan sendok yang segera dia sodorkan ke mulut Amara. Perempuan itu melahap lalu mengunyahnya.
“Nggak mau lagi ah, udah dingin!?” Amara menolak di suapan kedua.
“Masih hangat kok?” Galang tidak merubah posisi tangannya.
“Nggak, udah dingin! Kakak coba aja sendiri?” jawab perempuan itu, dan dia menepis tangan suaminya untuk menjauhkan sendok berisi makanan tersebut dari depan mulutnya.
“Astaga Neng!” Pria itu kembali menjejali mulutnya sendiri.
Kali ini dia benar-benar kesal.
“Ini masih hangat tahu?” lanjutnya, dan dia melahap apa yang tersisa di piringnya.
“Ya udah, Kakak habisin aja.” Amara menjawab.
“Terus kamu mau makan apa?”
“Nggak makan apa-apa, aku udah nggak selera!”
“Lho, terus bagaimana nanti mau minum obat?”
“Udah aku bilang nggak mau minum obat lagi. Baunya bikin aku mual.”
“Tapi tadi siang kamu nggak minum obat lho?” Galang kembali mengingatkan.
“Orang akunya udah nggak mau!”
“Bagaimana kamu akan sembuh kalau obatnya tidak diminum?”
“Minum obat juga nggak sembuh-sembuh?”
“Belum.”
“Iya lama!”
“Apalagi kalau kamu nggak minum obat.”
“Pokoknya aku nggak mau. Kakak nggak tahu sih rasanya gimana? mulut akutuh udah pahit karena setiap hari minum obat sebanyak itu. Terus perut aku kayak diaduk-aduk. Bikin pingin muntah, nggak enak tahu!”
Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Jangan dipaksa Kak, nanti bayinya nangis lagi. Kerepotan nyari obatnya?” ucap Arkhan, kemudian tertawa.
“Terus maunya bagaimana?” Galang akhirnya mengalah.
“Aku mau tidur aja, sebel sama Kakak yag nggak ngertiin aku!” Amara mencoba bangkit, namun kemudian dia tersadar bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.
“Ayolah anterin aku ke kamar.” katanya, dan dia merangkul pundak pria itu.
Dan tak ada yang bisa Galang lakukan selain menuruti keinginan istrinya yang hari ini tiba-tiba saja berulah.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ....
Nah luu ... Kenapa ya? 😆😆😆