My Only One

My Only One
Kunjungan


__ADS_3

🌺


🌺


"Tidak apa-apa, ini reaksi umum setelah operasi. Apalagi obat penghilang rasa sakitnya sudah berkurang." Dokter Kirana menjelaskan.


"Tapi saran saya jangan dulu banyak menggerakkan area ini ya? Bahkan berbicara sedikit saja terkadang akan mempengaruhi hasil operasinya." ujar dokter cantik itu seraya menunjuk titik di mana dirinya membedah wajah Amara.


"Lalu berapa lama perbannya dipasang seperti ini?" Galang bertanya.


"Setidaknya rata-rata memerlukan waktu satu atau dua minggu untuk pemulihan."


"Dengan tetap menggunakan perban seperti ini?"


"Ya."


"Tidak bisa lebih cepat?"


"Tidak bisa pak Galang, itu sudah ditentukan sesuai standard."


"Begitu ya?"


"Ya, jadi saran saya memang harus tetap seperti ini sampai keadaannya dinyatakan baik. Agar hasilnya sesuai dengan apa yang kita inginkan."


Galang mengangguk-anggukkan kepala.


"Jadi semuanya sudah jelas ya? Saya harap apa yang saya katakan ini membawa dampak yang baik."


"Ya Dokter, terima kasih atas penjelasannya." ucap Galang.


"Baik kalau begitu, kalau tidak ada yang akan ditanyakan lagi saya pamit." ucap Dokter Kirana kemudian.


"Iya, terima kasih sekali lagi. Tapi nanti jangan bosan ya? Karena saya pasti akan sering bertanya soal ini." Galang mengantarkannya hingga ke depan pintu.


"Tidak apa Pak Galang, tanya saja jika memang dibutuhkan. Akan saya jawab sebisa mungkin."


"Iya Dokter."


"Baik, permisi?" Kemudian perempuan itu pun pergi.


"Akrab bener?" Amara terdengar menggumam saat suaminya kembali ke dekatnya.


"Apa? Kamu mengatakan sesuatu?" Galang berucap.


Namun Amara menggelengkan kepala.


"Kamu butuh sesuatu, atau mungkin kamu mau makan?" Pria itu kemudian bertanya.


Amara menggeleng lagi.


"Kamu geleng-geleng kepala terus sih?" Galang sedikit tertawa karena sikap istrinya sepeninggal Dokter Kirana dari ruangan mereka.


"Katanya nggak boleh banyak ngomong dulu?" Amara menjawab.


"Ohh … iya juga sih." Pria itu terkekeh lagi.


"Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


Dan disaat bersamaan muncul petugas biasa yang mengantarkan makanan untuk Amara.


"Apa ini?" Perempuan itu menatap beberapa wadah berisi makanan untuknya. 


Satu mangkok berisi bubur yang tampak begitu lembut. Satu lagi berisi semacam sup dengan wangi rempah yang sangat kuat, dan segelas jus berwarna orange.


"Kayak makanan bayi?" Amara menggumam.


"Ya anggap saja begitu." Galang duduk di kursi yang sudah dia siapkan lalu menarik meja berisi makanan itu ke dekat Amara.


"Ayo bayi, makan dulu?" Pria itu berniat menyuapinya seperti biasa.

__ADS_1


"Serius aku harus makan itu?" Amara menatap wadah-wadah itu dengan raut tidak suka.


"Iya. Agar lebih gampang dan kamu tidak harus mengunyahnya terlalu lama. Tidak bagus untuk hasil operasinya nanti." Galang menjawab.


"Huh, nggak ada makanan lain apa? Masa aku harus makan itu?" Amara menggerutu.


"Sekarang makan ini dulu, kamu kan selesai operasi. Nanti aku minta makanan yang lain ya?" Galang menyodorkan sendok ke dekat mulut Amara.


Perempuan itu terdiam.


"Neng? Makan." ucap Galang lagi dan dia menempelkan ujung sendok tersebut ke mulut Amara.


Yang akhirnya membuat perempuan itu menurut saja. Wajah sebelah kirinya masih terasa sakit tapi dia pun merasa lapar.


"Begitu dong?" Galang merasa senang akan hal tersebut.


Dan kegiatan itu tidak berlangsung cukup lama ketika setelah beberapa saat ada yang datang untuk menjenguk. Keluarga Satria yang datang sepagi itu dengan dua anak laki-lakinya, disusul Dimitri yang membawa anak dan istrinya. Membuat suasana pagi itu menjadi ramai.


"Hey, bagaimana keadaanmu?" Darren lebih dulu menyapa, tidak biasanya. Sementara Daryl hanya menatapnya dari belakang.


"Kaku Kak, aku nggak boleh ngapa-ngapain. Mau ngomong juga susah harus banyak nahan kayak gini." Amara berbicara dengan sedikit menahan rahangnya agar tidak terlalu bergerak.


Darren tertawa.


"Tidak apa, hanya sebentar. Nanti setelah ini kamu bisa ngomel-ngomel plus cantik lagi." katanya.


"Hmm …." Amara menggumam.


"Cepatlah sembuh." ucap Darren lagi, membuat Amara menganggukkan kepala.


"Kak Ara sekarang sakit apa? Kenapa mukanya ditutupin kaya gitu?" Anya yang sejak tadi diam kini mulai buka suara.


"Kak Aranya habis dioprasi Anya." Galang menjawab.


"Dioperasi apanya?" Anak itu bertanya lagi.


"Mukanya."


"Dioperasi itu di apain?"


"Emang mukanya Kak Ara rusak apa, jadinya harus diperbaiki?"


"Kan ada bekas luka."


"Oh, yang waktu kecelakaan itu ya?"


"Iya."


"Terus digimanain? Masa diganti sama muka yang lain?" ucap Anak itu lagi, dan membuat orang disekitarnya hampir saja tertawa.


"Astaga!" Galang bahkan bereaksi karenanya.


"Kak Ara mukanya diganti?" Anya mendekat.


"Bukan diganti, tapi di benerin lukanya, biar jadi lebih bagus." Galang menjawab.


"Oh, … jadi bekas lukanya hilang gitu?"


"Iya."


"Terus nanti mukanya Kak Ara berubah?"


"Nggak berubah, cuma jadi bagus lagi." Galang mulai kesal.


"Ohhh .... Terus abis ini …."


"Anya, ayo kita keluar?" Daryl yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.


"Keluar ke mana?" Membuat perhatian keponakannya itu teralihkan.


"Ke mana saja."

__ADS_1


"Mau jajan boleh?" Anya segera mendekat kepada pamannya itu.


"Jajan?" Daryl mengerutkan dahi.


"Beli makanan di mini market." Anya menjelaskan maksud perkataannya.


"Om tahu apa itu jajan. Hanya saja, masa jam segini kamu sudah minta jajan?" Pria itu melihat jam tangannya.


"Biarin Om."


"Memangnya mini market sudah buka ya?"


"Udah, kan ada yang nggak tutup?" jawab anak itu.


"Masa?"


"Iya, tanya aja Mommy. Kalau keluar malam-malam pulangnya suka bawa cemilan dari mini market. Kan Mommy?" Anya menoleh kepada ibunya.


"Eee … kadang-kadang." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Eh, pantesan anaknya minta jajan, ibunya suka jajan?" Sindir Daryl kepada Rania.


"Ayo Om! Cepetan kita jajan?" Anya mendekat, lalu meraih tangan pamannya itu.


"Ah, maksudnya Om tadi ngajak kamu keluar bukan untuk jajan lho?"


"Nggak apa-apa, sekali-kali Om jajanin aku."


Daryl mencebikkan mulutnya.


"Kenapa? Om nggak punya uang ya? Minta dulu sama Opa."


"Bercanda ya?"


"Habisnya Om nggak pernah jajanin aku sih? Nggak kayak Opa sering beliin aku jajan sama bawa jalan-jalan juga."


Rania menahan tawa yang hampir menyembur mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. Begitu juga yang lain.


"Ish! Menyebalkan sekali kamu ini?" Daryl menggerutu.


"Opa, minta uang mau ngajak Om Daryl jajan." Anya beralih kepada Satria yang tengah tertawa.


"Heh, apa itu?" Daryl pun bereaksi.


"Habisnya Om diem terus sih, tadi aja ngajak aku jajan?"


"Siapa juga yang ngajak kamu jajan, Om kan cuma ngajak kamu keluar?"


"Ya sama aja Om."


"Beda tahu?"


"Tapi aku maunya jajan."


"Ish!"


"Udah udah sana, bawa Anya jajan gih." Rania pun bereaksi. "Papi, kasih Anya uang biar dia diam." pintanya kepada Dimitri.


"Apa? Tidak usah, aku juga punya banyak." Daryl akhirnya menarik sang keponakan keluar dari ruangan itu.


"Aku ikuuutt!" Zenya pun mengejar mereka berdua.


"Hah! Satu saja pusing apalagi dua?" terdengar gerutuan pria itu setelah Daryl berada di luar. Namun tak urung juga dia membawa dua keponakannya tersebut keluar seperti yang dikatakannya barusan.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


Hadeh, semua orang dibikin kesel sama Anya 🤣🤣


like komen sama hadiahnya jangan lupa ya gaess 😉


__ADS_2