My Only One

My Only One
Minggu Pagi


__ADS_3

🌺


🌺


"Kakak mau ke mana pagi-pagi begini?" Amara membuka mata saat indra penciumannya menghirup aroma segar yang menguar memenuhi ruangan.


Dia mengucak kedua matanya dan menemukan Galang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang.


"Aku ke SUNMORI sebentar ya?" Pria itu mengambil pakaian dari dalam lemari dan bermaksud mengenakannya.


"SUNMORI? Mau ngapain?"


"Main sebentar." Dia melepaskan handuk lalu mengenakan boxernya, kemudian dilapisi oleh jeans hitam fit in seperti yang selalu dia kenakan saat berkendara.


"Umm …." Amara menatap suaminya tanpa berkedip. 


Tubuh pria itu tampak menggoda. Bahu lebar, punggung kokoh dan kedua lengannya yang cukup kekar. Juga jangan lupakan perut berototnya yang seperti pahatan seniman, dia sungguh-sungguh terlihat sempurna.


"Neng?" Galang memanggilnya saat perempuan itu tak menjawab pertanyaannya.


"Mm … ya?" Amara mengerjap.


"Aku tanya, kamu mau mandi sekarang atau nanti? Mumpung akunya belum pergi." Pria itu mengenakan kaus oblong berwarna putih setelah mengoleskan deodoran pada ketiaknya yang sedikit berbulu. Kemudian mengenakan krim wajah seperti biasa.


"Nggak mau, nanti aku muntah-muntah lagi." Amara bergidik. Baru membayangkannya saja dirinya sudah merasa mual.


"Terus mau apa?" Galang mendekat kemudian duduk di sisi janjang.


"Nggak mau apa-apa. Mau Kakak … eh nggak, maksud aku … itu … minum." 


Kemudian pria itu memberikan air minum yang selalu tersedia di nakas, dan Amara segera meneguknya cukup banyak.


"Haus Neng?" Galang tertawa menatap perempuan yang baru saja terbangun itu.


"Hu'um, semalaman mau minum tapi susah ngambilnya. Jadi males."


"Kenapa tidak membangunkan aku?" Galang kembali meletakkan gelas di atas nakas.


"Orang udah aku panggil-panggil semalam Kakak nggak nyahut? Kirain pingsan diluar?"


"Oh … Hahaha. Aku semalam ketiduran setelah nonton film dengan adik-adikmu."


"Dih! Kalau ada mereka Kakak jadi lupa sama aku?" Perempuan itu mendelik.


"Bukan lupa, Neng."


"Tapi Kakak kalau ada adik aku, terus aja sama mereka?"


"Ya masa ada mereka ke sini aku cuekin?"


"Ya nggak gitu juga."


"Sudah, jangan mempermasalahkan hal seperti itu. Nggak penting." Galang hampir saja bangkit, namun dia mengurungkan niatnya ketika Amara memeluknya dari belakang.


"Kakak mau pergi nya sekarang?" Perempuan itu bertanya.


"Aku mau lihat Arkhan dulu. Kalau dia sudah bangun ya berangkat." Dan dia benar-benar bangkit setelah melepaskan tangan istrinya.


Galang membuka pintu dan mengintip keluar.


"Masih sepi." katanya seraya kembali menutup pintu.


"Mungkin masih tidur?"


"Mungkin." Dan pria itu kembali ke dekat Amara.


"Kalau gitu aku mau sikat gigi sama cuci muka dulu." Perempuan itu merentangkan tangan dan Galang membantunya.


Dia membawanya ke dekat wastafel di bagian luar kamar mandi sebelum ruang berbilas mereka.


"Kalau cuci muka nggak mual?" Galang membantunya menyikat gigi, kemudian membasuh wajah setelahnya.


"Nggak." Amara menjawab setelah selesai berkumur lalu menatap wajahnya sendiri di cermin ketika pria itu membantu mengusapkan handuk kecil untuk mengeringkan airnya.


"Pipis." Lalu dia bergumam.


"Apa?"


"Mau pipis." Perempuan itu tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


Kemudian Galang membawanya ke dekat closset dan membiarkannya menyelesaikan urusannya sendiri.


"Kalau tetap begini kenapa nggak mandi aja sih? Sama-sama ganti baju kan?" Galang membantunya memakai cel*na d*lam, sementara Amara berdiri membelakanginya dengan sebelah tangan berpegangan pada bagian depan lemari.


"Udah dibilangin aku mual kalau inget mandi? Baru mikir mau mandi aja perut aku udah nggak enak." Perempuan itu menjawab.


Kini Galang membantunya mengenakan bra. Memastikan Amara memakainya dengan nyaman, lalu dia menautkan dua pengaitnya agar benda itu terpasang dengan benar.


"Sudah?" Lalu  dia bertanya.


"Udah. Makin kesini Kakak makin pinter aja bantu aku pakai baju?" Amara terkekeh sambil menatap cermin setinggi dirinya yang menempel di pintu lemari.

__ADS_1


Galang tak menyahut, namun dia menatap pantulan mereka di cermin. Dirinya yang sudah berpakaian dan Amara yang masih setengah telanjang, mengenakan paka*an dal*m berwarna biru muda itu.


Menatapnya dari belakang seperti ini membuat darahnya berdesir-desir tak karuan. Apalagi ketika dia maju dan melihat tampilan depannya lebih jelas. Perempuan itu tampak mempesona.


Dada yang ranum menggoda dan menjadi bagian tubuh perempuan itu yang paling disukainya untuk disentuh. Bokongnya yang indah, perut ratanya yang kini tengah tumbuh buah cinta mereka, dan bagian paling intim darinya yang hanya ditutupi sehelai kain mini yang sedikit transparan.


Pria itu menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja terasa kering.


"Kakak!" Panggilan Amara membuyarkan lamunannya.


"Ya?"


"Bajunya! Aku kedinginan!" ucap perempuan itu yang mengingatkan Galang pada sehelai kaus panjang miliknya.


"Umm …"


"Buruan ih, katanya mau pergi?" 


Galang lebih mendekat lagi hingga jarak diantara mereka hampir menghilang.


"Kedinginan, hum?" Galang berbisik di telinga Amara dengan kedua tangan yang merayap di perutnya.


"Mm … Kayaknya nggak lagi deh, soalnya …." Amara terhenyak ketika pria itu mengangkatnya dengan mudah lalu membawanya kembali ke tempat tidur.


"Katanya Kakak mau pergi?" Dia tertawa saat Galang malah merapatkan tubuh dan segera mencumbunya.


"Nanti Arkhan nungguin?" ucapnya lagi saat pria itu melepaskan pakaiannya.


"Hanya … menunggu sebentar." Galang yang napasnya menderu-deru, dan dia segera menarik lepas kain segitiga yang menempel di bagian bawah tubuh Amara.


"Nanti Arkhan ngambek Kak?" katanya, namun tangannya segera berpegangan ketika Galang hampir membenamkan miliknya.


"Ahhh!" Amara mend*sah kala tubuh mereka sudah bertautan.


"Jangan berisik!" Pria itu berbisik sambil terkekeh kemudian mengecup daun telinganya.


"Habisnya Kakak … mm …." Dia mulai menghentak tanpa menghentikan cumbuannya.


"Ugh, jangan keras-keras! Babynya kasihan!" Amara merengek, namun membuat Galang tergelak dalam hentakannya.


"Kakak, ahhh …." Dia mengerang dan mendekap tubuh yang sedang berpacu di atasnya.


Gairah mereka bergejolak dengan hebat dan rasanya memang luar biasa. Dan Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan erangan yang lebih keras. Mengingat ada ke empat adiknya di luar kamar mereka.


Sayup-sayup terdengar ketukan di pintu, menginterupsi pergumulan pada pagi itu. Membuat keduanya saling pandang kemudian menoleh.


Terdengar lagi ketukan yang kali ini diikuti suara panggilan. Terdengar seperti Asha.


"Kata Kak Ar jadi pergi nggak?" 


"Umm … Kak Ar sudah bangun?" Galang terus berpacu sambil menatap wajah Amara yang memerah. Perempuan itu bahkan menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara des*hannya sendiri.


"Udah, dari tadi. Udah mandi, nungguin Kakak kok lama?"


Galang mengeratkan rahang sambil memejamkan mata. Lalu dia menarik diri sehingga pertautan mereka terlepas. Pria itu meraih handuk dan mengenakannya, kemudian berjalan cepat ke arah pintu.


"Tunggu sebentar, kakak mandi dulu." Galang membuka pintu sedikit.


"Oo, oke. Baru bangun ya?" Asha tersenyum lebar.


"Ya. Dan bisakah kamu untuk menunggu di sana juga?" Galang dengan perasaan gemas.


"Iya Kak iya." Lalu anak itu pun berlalu.


Galang kembali ke tempat di mana Amara masih terdiam.


"Mau diterusin?" Dan perempuan itu bertanya dengan lugunya.


Galang tak menjawab, namun dia segera memiringkan tubuh Amara dan kembali menautkan inti tubuh mereka dari belakang.


Dia memacu dirinya dengan cepat dan setelah beberapa saat tubuh keduanya mengejang menerima pelepasan.


***


"Kan aku bilang juga apa? Kak Galangnya udah bangun, mau mandi. Kalau dari tadi tanya pasti sekarang Kakak udah berangkat?" Asha kembali ke kasur lantai di mana mereka tidur sebelumnya.


"Ish, aku malu. Lain kali jangan begitu, nggak sopan!" protes Arkhan yang sedang menyisir rambut ikalnya yang dia biarkan memanjang. Meski sudah beberapa kali mendapat peringatan dari guru dan sang ayah, remaja tampan itu belum berniat memotongnya sama sekali.


"Dari pada nunggu lama?"


"Nggak apa-apa lah."


"Lagian mau ke mana sih? Rapi amat?" Aksa menatap kakak laki-lakinya yang juga sudah mengenakan jaket.


"Ke …." Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan ketika pintu kamar Galang terbuka, dan pria itu keluar dengan cepat sambil mengenakan jaket kulitnya.


Rambutnya tampak masih sangat basah dan dia belum benar-benar rapi.


"Umm … kakak kalau belum siap nggak apa-apa, aku bisa nunggu." Arkhan menatap kakak iparnya yang tengah mengambil sepatu dari rak penyimpanan tak jauh dari mereka.


"Tidak, sudah siap kok. Kamu?" Galang duduk di sofa lalu mengenakan sepatunya.

__ADS_1


"Udah sih." Arkhan menjawab.


"Ya sudah, ayo?" ucap Galang yang bangkit kemudian meraih dua helm di bufet.


"Mau pada ke mana sih bawa helm? kok nggak ngajak-ngajak juga?" Asha buka suara.


"Ini urusan cowok, kamu nggak di ajak." Arkhan menjawab.


"Aku kan cowok, berarti diajak dong?" Aksa menyahut.


"Umm … ini urusan orang dewasa, anak kecil dilarang ikut." dia menjawab adiknya, seraua menarik ikat rambut milik Anandita kemudian bangkit mengikuti kakak iparnya.


"Arkhan! Sakit tahu?" Remaja perempuan itu protes.


"Pinjam dulu Ann, nanti aku balikin." Dan Arkhan segera mengikat rambutnya sendiri.


"Udah berapa puluh kamu ngambil ikat rambut aku?"


"Nanti aku ganti."


"Alah, kemarin-kemarin juga bilangnya gitu."


"Sekarang beneran Ann." Dia hampir menutup pintu.


"Kakak tunggu!!" Asha mengejar kedua laki-laki beda usia tersebut.


"Apa lagi sih?"


"Kakak perginya lama nggak?"


"Lumayan, memangnya kenapa?"


"Udah pesenin makanan? Kan aku lapar."


"Astaga!" Galang menepuk kepalanya sendiri. "Masih jam setengah tujuh Asha!"


"Tapi biasanya aku jam enam udah makan."


"Bangun tidur?"


"Hu'um." Asga menganggukkan kepala.


"Kamu order online saja lah, minta Kak Ann yang orderkan." Galang berujar, dan dia hampir saja pergi.


"Tapi Kak?"


"Apa lagi? Ada roti dan su*u di kulkas untuk mengganjal perut. Itupun kalau tengah malam nggak kamu makan." Galang dengan sedikit kesal.


"Bukan itu."


"Lah terus apa? Kamu lama banget deh, udah siang nih?" Arkhan malah lebih merasa kesal kepada adik bungsunya itu.


"Uangnya?" Anak paling kecil di keluarga Sanjaya itu menengadahkan tangannya kepada Galang.


"Kamu nggak bawa uang?"


"Aku kalau mau apa-apa biasanya papa beliin, jadi nggak pernah megang uang."


"Astaga!" Galang pun kembali sambil merogoh dompet di saku belakang celananya. Lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Yang banyak Kak, yang banyak!" Asha dengan girang.


"Nggak usah banyak-banyak, cuma untuk order makanan doang?" Arkhan menyela.


"Ihh … kan di dalam ada tiga orang lagi. Gimana kalau pas makanannya dateng Kak Ara bangun? Kan kasihan kalau nggak kebagian?"


"Ish!" Galang memberikan lembaran uang itu kepada adik iparnya tersebut.


"Cukup?" tanya nya.


"Cukup Kak, cukup." Asha tertawa, kemudian membiarkan mereka berdua pergi.


"Apa dia tidak akan bicara macam-macam kepada Papa?" Dua pria itu berjalan menuju lift.


"Apaan? Nggak mungkin."


"Yakin? Sepertinya Asha cukup mencurigakan?"


"Alah, kasih aja makanan yang banyak. Nanti juga dia lupa." Mereka masuk ke dalam kotak besi itu.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, namun kemudian tertawa saat mengingat kelakuan anak paling kecil di keluarga tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Selamat hari vote!😘😘

__ADS_1


__ADS_2