
🌺
🌺
Galang tak dapat lagi memejamkan mata setelah mengalami mimpi yang cukup aneh dalam tidurnya. Meski seluruh tubuhnya terasa remuk akibat mengendarai motor selama berjam-jam karena mengikuti keinginan Clarra yang ingin mengunjungi tempat di kawasan timur pulau Jawa itu, namun tetap tak membuatnya bisa tidur dengan mudah.
"Kok kamu masih melek Lang? Katanya tadi capek?" Mayang muncul setelah memeriksa keadaan karena mendengar suara televisi menyala di ruang tengah mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat tengah malam, dan dia menemukan putranya yang masih terjaga.
"Tadi bangun bu. Terus nggak bisa tidur lagi." Galang yang berbaring di sofa panjang itu menjawab.
"Kenapa? Ada masalah?" Sang ibu duduk di sofa kecil tak jauh dari tempat putranya merebahkan tubuh.
"Nggak ada."
"Nggak biasanya kamu begini?"
Galang tak menjawab.
"Perjalanan Malang-Jakarta-Bandung itu jauh lho. Lama pula. Harusnya kamu istirahat. Ini malah leyeh-leyeh di sini?"
"Nggak ngantuk Bu."
"Kenapa? Banyak pikiran ya? Masa udah healing malah jadi banyak pikiran? Harusnya refresh dong?"
"Iya, kalau perginya sendiri."
"Lah, terus kenapa kamu malah ngajak Clarra?" Perempuan itu tahu perihal kepergian putranya dengan Clarra karena memang pria muda itu bercerita kepadanya.
"Bukan aku yang ngajak Clarra, tapi dia yang ngajak aku."
"Huh, kebiasaan kamu!" Mayang menepuk pundak putranya.
"Pasti perempuan dulu yang ngajak. Kenapa sih nggak pernah punya inisiatif?"
"Maksud ibu apa?" Galang mendongak.
"Iya itu. Mesti perempuan dulu yang ngajak pergi, dan kamunya iya-iya aja." Sang ibu tertawa.
"Tadinya nggak ada niat mau pergi kan, eh pas di jalan mau pulag ke sini ketemu dia. Tiba-tiba aja gitu ngajak pergi. Tahunya dia lagi sedih."
"Sedih kenapa?"
"Ketemu sama mantannya di jalan."
"Apa?"
"Mantan calon suami yang mutusin hubungan secara sepihak." Pria itu bangkit kemudian duduk dengan kedua kaki ditekuk.
"Kenapa begitu?"
"Gara-gara dia anak adopsi."
"Hah?"
"Iya, ibunya ninggalin dia di rumah sakit, bapaknya nggak tahu siapa. Kalau bukan karena Pak Satria sama sepupunya, mungkin dia tumbuh di panti asuhan?"
"Kok bisa? Ada hubungan apa dengan Pak Satria?"
Galang tertegun untuk mengingat.
"Katanya ibunya Clarra mantan istri Pak Satria."
"Duh? Kamu tahu dari mana?"
"Dari Clarra kemarin. Dia cerita sambil nangis kejer di hotel."
"Terus Clarra anak siapa? Bukan anak Pak Satria?"
"Ya bukan, makanya ibunya di cerai. Mana setelah lahiran dia kabur lagi."
"Astaga!"
"Makanya, kasihan kan dia Bu? Tambah lagi pas mau rencanain nikah emaknya datang, ya terpaksa dia jelasin keadaan yang sebenarnya sama calon suami dan calon mertuanya. Ya ambyar, calonnya mundur."
Galang menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia lantas menghembuskan napas keras setelah bercerita cukup panjang kepada ibunya.
"Dia gagal nikah?" Mayang bertanya.
"Iya. Pantes aja dia galak, orang hidupnya sekacau itu. Kasihan."
"Hmm ...." Sang ibu menggumam.
"Terus kamu sendiri?" Lalu dia bertanya.
"Apa?"
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Apa yang membuat kamu menjadi seperti ini? Mejauhi segala hal, semua orang selain teman satu komunitasmu? Apa hal yang sama seperti Clarra juga kamu alami?"
"Hah?"
"Hubungan kamu dengan Ara gimana?"
"Nggak gimana-gimana. Kan putus." Suara pria itu melemah.
"Terus?"
"Nggak ada terusannya."
"Udah, gitu aja?"
"Ya. Ibu tahu sendiri kan?"
Mayang mengangguk-anggukkan kepala. Dan ini adalah pertama kalinya mereka membicarakan hal ini lagi setelah dua tahun. Saat terakhir kali Galang bercerita kepadanya bahwa hubungannya dengan Amara sudah berakhir.
Mereka memang sedekat itu. Dan sebagai anak tunggal, Galang memang selalu mengatakan apa pun kepadanya. Entah itu masalah pribadi, atau pun masalah pekerjaan. Dan tak ada yang berubah meski putranya itu kini telah dewasa. Cara bicaranya bahkan masih tetap sama seperti dia masih remaja.
"Mau ibu bikinin minum nggak?" tawar Mayang seraya bangkit dari kursinya.
"Boleh. Es boba ada?"
"Bercanda ya? Jam berapa ini?" dia melenggang ke arah dapur.
Galang tertawa.
Kemudian Mayang kembali setelah beberapa saat, membawa dua gelas coklat panas yang uapnya mengepul menguarkan aroma yang khas.
"Ayah tidur Bu?" Galang menerima satu gelas yang disodorkan oleh sang ibu.
"Kalau udah minum obat, ayah itu tidurnya kayak orang pingsan."
Mereka berdua tertawa.
__ADS_1
"Ibu juga kenapa bangun? Bukannya tidur." Galang menyesap cokelat panasnya pelan-pelan.
"Karena mendengar tivi menyala, ya ibu periksa. Tahunya kamu masih belum tidur?" Mereka dusuk bersisian.
"Ada aku berisik ya?"
"Nggak juga."
"Harusnya ibu istirahat."
"Setiap hari ibu istirahat, nggak seperti dulu waktu kamu masih kuliah."
"Begadang terus ya bu? Cari duit tambahan?" Galang terkekeh.
"Tahu sendiri kan?"
"Sekarang udah nggak?"
"Nggak lah, ngapain? Kamu udah kerja ini."
"Tapi ibu masih bikin ranginang?"
"Ya itu nggak bisa ibu tinggalin. Kan hidup kita sebagian dari jualan ranginang? Selain gajinya ayah di pabrik."
"Harusnya nggak usah, kan aku kirim uang setiap bulan?"
"Udah kebiasaan, ibu nggak bisa diam. Sayang juga kalau ada yang tanya. Apalagi kalau mau lebaran sama musim hajatan. Jualan ibu pasti rame."
"Hah, ibu mata duitan!"
"Ya apa lagi?"
"Jangan capek-capek bu. Nanti sakit."
"Nggak, ibu sehat kok. Bikin ranginang kan biar ibu tetep gerak. Kayak olah raga."
"Dih, padahal sering ngeluh sakit pinggang."
Mayang tertawa.
"Tapi ibu masih sehat, masih bisa kalau gendong cucu. Apa lagi kalau gendong cucunya sekarang-sekarang. Masih kuat."
"Ibu apaan sih?" Galang memicingkan mata.
"Serius. Kamu itu udah pantas lho kalau punya istri, apa lagi punya anak."
Galang terbatuk saat menyeruput coklat panasnya.
"Aku udah kelihatan kayak bapak-bapak?" Dia bereaksi.
"Nggak, maksud ibu kamu udah pantas aja."
Kemudian Galang tertawa.
"Ibu ngelantur. Mana bisa punya anak? Istrinya aja belum punya, terus jodohnya juga belum kelihatan?"
"Karena kamu memilih untuk begitu."
"Males lah Bu, belum waktunya."
"Terus kapan?"
"Apanya?"
"Waktunya?"
"Kamu nggak cari tahu."
"Buat apa? Males."
"Kok males? Umur kamu udah cukup kok."
"Sekarang ini prioritas aku bukan itu." Galang berujar.
"Terus apa?"
"Ibu sama ayah." Pria itu menoleh kepada ibunya kemudian tersenyum.
"Kamu tahu, jangan terlalu memikirkan kami."
"Siapa bilang? Ya harus lah. Kalau bukan aku mau siapa lagi memangnya?"
"Lang ...."
"Ibu jangan ngomong gitu kenapa? Nanti aku sedih."
Mayang menatap wajah tegas putranya. Dia yang begitu baik dan penurut sejak kecil. Tidak pernah menuntut apa-apa seperti remaja laki-laki pada umumnya. Dan putranya itu bahkan mendapatkan segala yang di milikinya sekarang dengan usahanya sendiri. Sementara dia dan Arif suaminya hanya mendukung dari belakang.
Mereka memang berusaha begitu keras untuk membesarkannya, namun Galang juga melakukan usahanya sendiri agar keduanya tidak terlalu terbebani. Dan dia memang sudah terbiasa begitu sejak kecil. Maka, tidak heran jika kini Galang mampu mencapai apa yang menjadi tujuannya dan berhasil melakukannya.
Terbukti dari berhasilnya dia masuk ke tempatnya bekerja sejak dua tahun belakangan, dan mampu menguasai banyak hal.
"Ibu cuma khawatir Lang."
"Nggak usah khawatir, aku baik-baik aja."
"Tetap saja ibu ...."
"Ssttt, nanti ibu nangis lagi." Pria itu tertawa.
Lalu dia kembali menyesap minumannya yang sudah tak sepanas tadi.
"Bu?" Galang bicara lagi setelah terdiam cukup lama.
"Hum?"
"Kalau misal, aku menemukan orang lain sekarang, atau nanti, apa aku tipe laki-laki tidak setia?" Pria itu menatap cokelat yang mulai mendingin.
"Maksudnya?"
"Kalau aku ... ketemu orang lain, lalu menjalin hubungan, setelah itu misalnya menikah, apa aku ini nggak setia?" Galang memperjelas kata-katanya.
"Orang lain ... selain Ara?"
"Ya."
Mayang terdiam sebentar.
"Katanya kamu sudah putus denga Ara?"
"Iya."
"Apa setelah putus kalian sudah ada janji untuk saling menunggu? Atau nanti ada niatan untuk kembali bersama?"
Galang menggelengkan kepala.
"Atau kamu menjanjikan akan menunggu sampai dia kembali, dan kalian akan bersama?"
__ADS_1
Galang menggeleng lagi.
"Atau mungkin dia yang memintamu untuk menunggunya agar setelah dia menyelesaikan kuliahnya kalian akan bersama lagi?"
"Nggak. Ibu tahu ceritanya seperti apa. Bagaimana kami putus dan apa penyebabnya." Galang mengingatkan.
"Lalu masalahnya di mana?"
"Aku sempat ketemu dia waktu di Paris kemarin, ...."
"Masa?"
"Ya."
"Terus?"
"Aku sempat berharap kalau mungkin kami akan kembali, tapi sepertinya itu mustahil."
"Mustahilnya di mana?"
"Sepertinya dia sudah menemukan orang lain."
"Terus?"
"Aku marah." Galang tergelak.
"Kenapa harus marah?"
Pria itu terdiam.
"Bukankah kalian sudah putus? Sudah haknya untuk bersama siapa pun yang dia mau. Terlepas dari harapan kita untuknya. Kalau memang tidak ada janji apa pun sebelumnya, maka relakanlah. Meski kamu masih mencintainya, dan dia pun sama, bukan berarti kalian nggak setia. Tapi realistis."
"Kalian masih saling menunggu? Itu baik, hak kalian juga. Tapi jika setelahnya malah menemukan orang lain juga ya nggak apa-apa. Bukan berarti kalian nggak setia. Itu namanya melanjutkan hidup. Maka biarkanlah seperti itu."
Galang kembali merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Mungkin kalian nggak jodoh." Mayang pun melakukan hal sama.
"Mungkin jodohmu orang lain."
"Aku begitu menginginkan dia sampai-sampai tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Maka berjuanglah untuk mendapatkannya."
"Tapi dianya nggak mau diperjuangkan."
"Maka lepaskanlah."
Galang tertegun.
"Masa anak ibu kayak gini?" Mayang mengusap dada putranya.
"Jadi laki-laki itu harus tegas. Mau bertahan atau melepaskan? Kalau bertahan, maka berusahalan sekuat yang kamu bisa agar apa pun yang menjadi tujuanmu berhasil tercapai. Tapi kalau mau melepaskan ya sudah. Kenapa harus ada alasan lain lagi? Jangan jadi penghambat hidup orang lain, apa lagi menghambat dirimu sendiri. Rugi kamu kalau begitu."
Galang menyandarkan kepala pada pundak ibunya.
"Kalau mau move on ya move on sekalian, jangan mengingat-ingat dia lagi. Kasihan nanti jodoh baru kamu."
"Kasihan kenapa Bu?"
"Ya kasihan, raganya ada sama dia, tapi hatinya ke orang lain. Mantannya pula? Huh, nggak enak tahu. Udah capek-capek menerima taunya cuma jadi pelampiasan doang?"
"Nggak gitu juga Bu."
"Ya makanya, ambil keputusan yang benar. Mau tetap begini atau mau move on?"
"Aku udah move on."
"Masa?"
"Tadi bilangnya begitu?"
"Begitu gimana? Cuma tanya aku kalau ketemu orang lain masih bisa di sebut setia atau nggak?"
"Ya kalau ketemunya dalam keadaa jomblo, nggak punya pasangan atau janji ssma orang lain nggak akan bikin kamu jadi peghianat kok."
Galang terdiam lagi.
"Memangnya sudah menemukan orang lain ya? Tapi masih bingung karena belum bisa lupain Ara?"
"Belum Bu."
"Belum apa?"
"Belum menemukan orang lain."
"Lah, terus kenapa tadi tanya gitu?"
"Cuma takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku akan mengecewakan karena nggak setia."
"Nggak setia sama siapa? Mantan pacar?" Mayang tertawa.
"Memang kalau mantan itu harus ditungguin ya? Kita nggak boleh move on sementara dia bahagia sama pasangan barunya?"
Galang menoleh dengan dahinya yang berkerut tajam.
"Berpikirlah yang logis."
"Ibu kok bisa ngomong gitu?"
"Ya bisa lah. Menemukan pasangan baru itu bukan soal kita setia atau tidak. Tapi keadaannya yang menentukan. Kita masih bersama orang lain atau sendiri?"
"Sekarang tidurlah, bukannya kamu harus berangkat subuh?"
"Aku tidurnya disini aja lah."
"Nanti badan kamu sakit."
"Kalau di kamar takut kebablasan."
"Itu kebiasaan." Mayang bangkit dari duduknya. Kemudian dia kembali ke kamarnya, dan membiarkan sang putra mencoba berdamai dengan perasaannya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77.
semoga semuanya lebih baik, dan kita lebih bahagia, terutama lebih merdeka dalam segala hal.
__ADS_1