My Only One

My Only One
MOO Ekstrapart 1


__ADS_3

🌺


🌺


"Kayak jalan ke rumahnya Papi?" Amara menatap keluar mobil dan mengenali jalan yang mereka lewati.


Hari sudah sore saat mereka tiba, dan Galang segera membawa Amara keluar dari bandara. 


"Kok belok ke sini? Kan rumahnya papi masih di depan?" 


"Kita bukan mau ke rumahnya Pak Satria." Galang membelokkan mobilnya masuk ke sebuah pekarangan rumah bertingkat dua yang cukup besar.


"Terus? Rumah siapa ini?"


"Rumah kita," jawab pria itu yang kemudian menghentikan laju mobilnya di depan teras.


"Rumah kita?" Amara membeo.


"Ya, rumah kita." Lalu pria itu turun.


Galang kemudian berjalan memutar ke kursi penumpang dang membukakan pintu untuk Amara.


"Ayo?"


"Kakak beli rumah?" Perempuan itu malah bertanya.


"Nggak. Aku belum mampu, uangku belum cukup." Galang tertawa pelan.


"Terus ini? Kredit? Gede amat? Emangnya kita mampu? Berapa bayarnya sebulan? Kan udah aku bilang sementara kita tinggal sama Papa dulu. Atau kalau Kakak nggak mau di sana kita bisa balik lagi ke apartemen kok. Aku nggak apa-apa. Jangan maksain."


Pria itu hanya tersenyum.


"Kakak kok nggak jawab? Beneran kredit ya? Apa ngontrak? Kalau ngontrak jangan segede gini, sayang uangnya Kak!" 


"Kamu kok cerewet sih?" Galang membantunya turun setelah meletakkan kursi rodanya terlebih dahulu.


"Habisnya Kakak nggak jawab pertanyaan aku." Amara duduk, lalu Galang mendorongnya ke dalam rumah yang pintunya terbuka.


"Selamat sore Pak?" Seorang pria yang terlihat lebih tua darinya muncul.


"Sore." Galang menjawab.


"Semuanya sudah siap Pak." Pria itu menyerahkan beberapa hal kepadanya.


"Iya, terima kasih." Galang menerimanya dengan gembira.


"Kalau begitu saya permisi? Tugas saya sudah selesai. Atau Bapak membutuhkan hal lainnya?"


"Mm … tidak, terima kasih. Ini cukup. Mungkin hanya butuh satu atau dua orang pegawai saja untuk mengurus rumah." Galang menjawab.


"Baik, akan saya carikan."


"Terima kasih sekali lagi." Galang menganggukkan kepala.


"Saya pamit Pak?"


"Ya."


Kemudian pria itu pun pergi.


***


Amara duduk di sisi ranjang menatap keluar rumah yang lagit jingganya mulai menyemburat.


"Malah melamun? Lapar?" Galang keluar dari kamar mandi sambil mengusak rambut basahnya. Dia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan, kemudian duduk di samping Amara.


"Nggak semua yang melamun itu karena lapar Kak." Perempuam itu menjawab.


"Biasanya begitu. Ayam juga kalau lapar pada diam."


"Kakak nyamain aku sama ayam?"


"Iya."


Amara merengut.


"Ayam love you so much." Galang tertawa, lalu membingkai wajah istrinya sehingga dia bisa menciumnya sepuas hati.


"Lepasin eehhh!" Namun perempuan itu meronta.


"Kenapa sih?"


"Aku masih mikir soal rumahnya."


"Memangnya kenapa?"


"Kita balik aja ke apartemen yuk? Ngga enak ah di sini. Nanti kita berat nanggung pembayaran setiap bulannya, aku nggak mau."


"Itu lagi?"


"Ya iya dong, masa baru nikah tapi utang kita udah gede aja cuma karena pengen rumah?Tinggal di tempat gratis ajalah nggak apa-apa. Di apartemen juga bagus."


Galang malah tertawa, lalu dia meraih sesuatu di sofa.


"Emang sih, Kakak yang kerja. Yang nantinya hasil kerja itu bisa dipakai bayar bulanannya. Tapi hidup kita gimana? Belum apa-apa aku udah pusing mikirinnya?"

__ADS_1


Pria itu kemudian menyerahkan beberapa hal kepada Amara.


"Apaan lagi ini?"


"Surat rumah, kwitansi dan macam-macam," jawab Galang.


"Surat rumah?" Amara menerima benda tersebut.


Terdapat lembaran kertas di dalamnya dengan keterangan nama dan data kepemilikan rumah. Yakni tertera nama Galang dan Amara di dalamnya yang tertulis dengan jelas sebagai pemilik rumah tersebut.


"Ini punya kita?"


"Iya."


"Kok bisa? Kakak bilang …."


"Aku nggak beli, nggak kredit apalagi ngontrak." Pria itu menjelaskan. "Sayang sekali harus menghabiskan uang sebanyak itu untuk sebuah rumah."


"Terus?"


"Ini hadiah pernikahan dari Pak Satria."


"Masa?"


"Iya."


"Kok bisa?"


"Ya bisa. Dia kan pemilik Nikolai Grup."


Amara terdiam.


"Kamu nggak percaya ya?" Pria itu terkekeh.


"Masa ada orang nikah dikasih kadonya rumah? Kakak ngibul?"


"Ya kalau berhubungan dengan Pak Satria nggak ada yang mustahil. Kamu juga tahu kan?"


"Umm … iya sih. Tapi Kakak kan baru dua tahunan kerja di sana?"


"Ya karena aku sudah menikah. Coba aku menikahnya sepuluh tahun lagi, pasti nanti dapat rumahnya?"


"Begitu ya?"


"Hmm …."


"Semua staff Nikolai Grup dapat kado yang sama kalau nikah?"


"Staff utama, ya."


Amara terdiam lagi.


"Apaan?"


"Soal rumah. Jadi kita bisa fokus sama kesembuhan dan kehamilan kamu." Pria itu menyentuh perut Amara kemudian mengusap-usapnya dengan lembut.


Kedua sudut bibir perempuan itu perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman. 


"Jadi tidak usah khawatir, karena aku nggak akan membuat kamu pusing kalau soal rumah."


"Ada bagusnya juga Kakak kerja sama Papi. Kita dapat fasilitas yang bagus dan kemudahan kayak gini."


"Hmm … walau tujuan awalnya hanya mau memperbaiki kehidupan, tapi yang kita dapat lebih kan?"


"Tapi harus dibayar dengan waktu sama tenaga Kakak."


"Itu sepadan, karena nggak ada hal yang cuma-cuma di dunia ini. Tapi setidaknya masa depan keluarga kita terjamin. Asal kita bisa memanagenya dengan baik."


"Baru hamil dua bulan udah ngomong soal keluarga?" Amara tertawa.


"Memang nantinya kita akan punya keluarga kan? Di sini ada dua anak, belum lagi nanti bertambah." Galang kembali mengusap-usap perut perempuan itu dengan penuh perasaan.


"Apaan? Ini belum lahir uda mikir mau nambah? Yang bener aja Kakak ini!" Amara bereaksi.


"Misalnya, Neng."


"Nggak mau! Pikirin yang ini dulu lah, masa Kakak udah jauh aja mikirnya?"


"Aku bilang kan misalnya, siapa tahu."


"Nggak! Dua anak cukup. Segini aja kita nggak tahu bakal ke urus apa nggak, Kakak udah ada niat mau nambah anak aja?"


"Belum, kan aku bilang misalnya, Sayang!" Galang dengan gemas.


"Kalau udah kepikiran ya berarti udah niat."


"Nggak gitu."


"Orang Kakak jelas ngomong gitu kok."


"Ck. Memangnya kenapa kalau punya banyak anak? Kan bagus, keluarga kita jadi semakin besar!"


"Bagus apanya? Pusing Kak."


"Mommy kamu nggak kelihatan pusing? Padahal anaknya empat, mana kembar semua lagi?"

__ADS_1


"Ya nggak bakalan pusing, kan ada Papa."


"Kan kamu juga ada aku?"


"Kakak sama Papa itu beda."


"Ya memang beda, kata siapa sama?"


"Maksud aku, dari segi waktu sama segala macam gitu lho."


Galang mencebik.


"Lagian kenapa sih pake kepikiran soal itu juga? Kan ini yang diperut aku baru dua bulan?"


"Aku nggak tahu rasanya punya saudara. Aku kan anak tunggal. Ayah dan ibu nggak bisa punya anak lagi setelah aku lahir. Kalau ada apa-apa, aku sendirian menanggung keluarga." jelas Galang.


Amara menatapnya dalam diam.


"Rasanya kesepian karena nggak ada teman berbagi cerita. Bukannya untuk mengeluh, tapi setidaknya ada tempat kita untuk menceritakan segala hal soal keluarga."


"Kakak ngomong apa sih? Merasa kesepian, sendirian. Terus Kakak anggap aku ini apa?" Lalu Amara bereaksi.


"Kita kan bisa berbagi cerita masing-masing. Apa aku aja nggak cukup?"


"Bukan begitu."


"Kakak bilang, sebentar lagi kita juga akan punya keluarga. Jadi apa yang Kakak khawatirkan? Kakak bisa menceritakan semuanya sama aku."


Galang perlahan tersenyum.


"Tapi kalau mau nambah anak, mikirnya nanti aja. Kita urus yang dua ini dulu ya?" Amara merangkul pundak suaminya.


Pria itu terkekeh.


"Serius. Mana pertama lagi, kan aku belum tahu apa-apa."


"Hmm …."


"Emang sih aku bisa minta orang untuk kerja mengasuh anak kita, dan Kakak pasti mampu untuk membayar mereka. Tapi kan aku juga mau ngasuh mereka dengan benar."


"Kan cuma berandai-andai, Neng?"


"Tapi kayak yang mau beneran."


"Nggak lah. Mana aku belum kenyang lagi." Galang kemudian menempelkan kening mereka berdua.


"Mau kenyang gimana orang kita belum makan?"


"Umm … maksud aku … bukan soal makan."


"Terus apa?"


"Pacaran." Pria itu berbisik.


"Pacaran?"


Galang menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Lah, kita udah lebih dari pacaran. Nih hasilnya?" Amara menunjuk perutnya yang di dalamnya sedang tumbuh janin buah cinta mereka.


"Nah, itu maksud aku."


Amara sedikit menjengit.


"Nggak usah pura-pura nggak ngerti." Galang kemudian mendorong perempuan itu sambil menarik pakaiannya.


"Hmm … kesana maksudnya?" Amara menggumam.


"Iyalah, apa lagi?" Pria itu menyeringai.


"Tapi tunggu!" Namun Amara menahan tangan pria itu yang hampir melucuti pakaiannya.


"Kenapa?"


"Makan dulu aku lapar!" Dia pun bangkit dan kembali duduk seperti sebelumnya.


"Lagian kita baru aja pulang dari Paris, Kakak nggak kena jet lag apa? Kalau aku agak pusing." Perempuan itu menyentuh kepalanya.


"Mm … tadi kamu bilang nggak lapar?"


"Laparnya sekarang."


"Eee ...."


"Kakak nggak mau bikinin aku makan apa? Ini aku suka mual kalau telat makan. Kakak nggak tahu ya?" Lalu dia kembali berbaring meringkuk.


"Bisa tidak kalau nanti saja makannya?" Galang memberikan usul.


"Nggak bisa. Aku mau makan."


"Iya, nanti. Masalahnya aku …."


"Ah, order dulu makanan." Lalu Amara meraih ponselnya yang dia letakan di atas nakas.


"Neng?"

__ADS_1


"Babynya mau makan, baru nanti ketemu Papa." Perempuan itu tersenyum lebar.


🌺🌺🌺


__ADS_2