
🌺
🌺
"Mommy, hari ini aku baru selesai ujian. Jadi tinggal menunggu kelulusan sama wisuda nanti." Suara Amara terdengar riang di seberang sana.
"Benarkah? Syukurlah, semoga kamu lulus dengan nilai terbaik ya Kak?" Sang ibu sambung menjawab dengan gembira.
"Iya Mommy."
"Semuanya lancar kan? Kamu nggak mengalami kesulitan?"
"Nggak Mom, aku bisa."
"Bagus sekali. Nanti Mommy akan mengabari Papa."
"Iya, tadi aku nelfon Papa tapi nggak aktif. Makanya aku langsung menghubungi Mommy."
"Iya, Papa sedang pergi ke Puncak. Ada sedikit masalah di sana."
"Masalah apa? Longsor lagi?"
"Bukan. Hanya masalah pegawai."
"Oh, ...."
"Jadi wisudanya kapan Kak?" Dygta kemudian bertanya.
"Setelah kelulusan Mom. Kalau lancar sekitar satu atau dua bulan dari sekarang."
"Cukup lama ya?"
"Nggak juga. Semua tergantung fakultas sama jurusan kayaknya. Eh, tapi nggak tahu juga sih. Dulu Mommy berapa lama?"
"Berapa lama ya, lupa. Kan sudah lama juga Kak."
"Oh iya ya?" Amara tertawa.
"Hmm ... "
"Tapi sementara menunggu pengumuman kelulusan aku mau ambil pekerjaan di hotel dekat kampus."
"Kamu mau bekerja?"
"Iya. Sama temen aku Mom."
"Siapa? Teman yang mana?"
"Piere, Catherine, dan Abigail."
"Mereka sekelas, dan sama-sama bekerja denganmu?"
"Ya. Mereka bahkan sudah bekerja paruh waktu sambil kuliah Mom."
"Wow."
"Hebat kan mereka? Masih bisa membagi waktu antara bekerja dan kuliah."
"Ya, demi cita-cita apa pun harus di lakukan. Walau harus mengorbankan waktu sekalipun."
Amara terdiam. Tiba-tiba saja dia teringat pria yang berada jauh darinya. Yang selalu mengatakan hal yang sama seperti yang di ucapkan oleh ibu sambungnya. Entah mengapa, semakin hari dia semakin teringat kepadanya. Dan ini sudah beberapa minggu berlalu sejak Galang memblokir semua akses media sosialnya, yang membuat dirinya tak lagi bisa mengetahui bagaimana keadaan pria itu. Meski pada awalnya dia yang mencoba menutup akses tersebut, tapi semakin hari, ini rasanya malah menjadi semakin menyakitkan.
"Kak?" Dygta memanggil ketika dia tak mendengar Amara bersuara.
"Ya, Mommy?"
"Kamu sibuk setelah ini?"
"Umm ... sebentar lagi sepertinya aku harus bertemu teman-teman." Amara menjawab.
"Ya sudah, kalau begitu Mommy tutup dulu ya? Adik-adikmu juga harus mengerjakan tugas, dan Mommy harus menemani mereka."
"Oke Mommy."
"Beri tahu juga Mama Mytha soal ujian ini ya?" Dygta mengingatkan, seperti biasa. Agar segala hal sesuai pada porsi dan keharusannya.
"Iya."
__ADS_1
"Bye Kak. Jaga diri baik-baik ya?"
"Iya Mommy." Dan percakapan itu pun berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mommy!!" Zenya berlari menyongsong ibunya yang keluar dari gerbang kedatangan. Bocah itu sangat gembira begitu mengetahui soal kepulangan ibunya.
Rania tiba bersama Angga diikuti tim oficialnya, seperti biasa. Dengan membawa piala sebagai tanda keberhasilannya menjuarai ajang balap motor wanita dunia.
Beberapa orang menyambutnya, termasuk anak dan suami yang sejak dua jam lalu sudah menunggu di bandara. Dan segera saja, Dimitri merangkul perempuan itu yang sudah memeluk anak mereka.
"Selamat Mommy! Kamu hebat, seperti biasa." Pria itu berbisik.
Rania memeluk mereka bertiga dengan rasa rindu yang begitu membuncah. Empat hari terasa seperti berminggu-minggu tidak bertemu, dan dia jelas sedang melampiaskan hal itu.
"Uuhh, ... kangennya." Dia menciumi mereka bertiga secara bergantian.
Kemudian Dimitri dan beberapa orang yang Galang perintahkan menggiring mereka ke tempat di mana mobil sudah menunggu. Setelah mereka berbasa-basi kepada media yang turut hadir untuk menyambut kedatangan tim balap motor nasional itu.
"Mommy jadi champion? i saw you last night. Eh, ... apa kemarin ya?" Zenya dengan ekspresi imutnya yang menggemaskan.
"Hmm ... kamu nonton Mommy balapan?"
"Yeah, and its cool!" Bibir anak itu mengerucut.
"Aku beneran mau ikut Mommy balapan nanti. Ya Papi?" Anya menyahut seraya menoleh kepada ayahnya.
"Papi tidak akan janji dulu, tapi kita usahakan ya?" Dimitri menjawab.
"No, i want you to say promise! ( aku mau kamu/Papi berjanji)"
"No Anya. Papi takut tidak bisa menepati janji."
"Huh, Papi!" Anya dengan wajahnya yang cemberut.
"Hey, kenapa kalian jadi begini? Lupa sama apa yang Mommy bilang sebelum pergi ya?" Rania menyela percakapan antara anak dan suaminya.
"Nggak, aku nggak lupa. Aku good boy." Zenya menjawab.
"Iya dong, goodboynya Mommy." Rania mengusap puncak kepala putranya.
"Aku juga good girl! Aku nurut sama Enin dan Om Ega, juga sama Tante Amel dan Tante Adel."
"Bagus. Tapi kenapa sama Papi kayak gitu?"
Anya terdiam, lalu dia melirik kepada sang ayah.
"Anya tahu kalau itu nggak boleh? Tahu nggak kalau itu salah?"
"Tahu Mommy."
"Terus Anya tahu harus apa kalau salah?"
"Say sorry."
"Oke, terus?"
"I'm sorry Papi." ucap gadis kecil itu, membuat Dimitri tersenyum sambil mengusap pipi gembilnya.
"Lain kali nggak boleh gitu lagi ya?"
"Oke." Anya mengangguk.
"Promise?"
"Promise Mommy."
"Good girl!" Rania mengecup punca kepala putrinya.
"Kalau begitu ayo kita pulang? Mommy capek" Mereka pun menaiki mobil yag sejak tadi sudah menunggu.
"Si Oneng kok bisa gitu ya Om?" Galang berbisik kepada Angga yang sejak tadi diam saja menyimak percakapan keluarga kecil di depannya.
"Iya, saya merinding ini." Pria paruh baya itu mengusap tengkuknya sambil bergidik. Seolah dia baru saja menemukan hal paling mengerikan di dunia.
"Pak Dimi kayaknya berhasil mendidik dia jadi istri dan ibu yang baik. Huh, selamat, selamat." Galang malah mengusap-usap dadanya sendiri.
__ADS_1
"Maksud kamu saya nggak berhasil mendidik Si Oneng gitu?" Angga dengan nada tidak suka.
"Eee ... maksudnya nggak gitu Om, tapi ...."
"Sembarangan kamu? Mentang-mentang udah jadi asistennya si Dimi, belain dia terus?"
"Yaelah Om, malah bawa-bawa urusan kerjaan?"
"Kenyataannya begitu? Sejak kerja sama dia, kamu jadi calutak sama saya."
"Kata siapa? Nggak ih, Om mah baperan. Apa-apa jadi tersinggung? Lebih parah aku dong, tiap ketemu Om bully melulu."
"Bully apaan?"
"Banyak."
"Pundungan kamu!" Cibir Angga, kepada anak tetangga sekaligus sahabat putrinya itu.
"Om nyebelin."
"Kamu yang ...."
"Anom udahan, jangan berantem sama Om Galang. Mau ikut pulang nggak? Nanti kita tinggalin." Anya menjulurkan kepalanya lewat jendela mobil yang mereka tumpangi.
"Iya nih, kalian kebiasaan kalau ketemu pasti berantem?" Rania menimpali. Sementara Dimitri hanya tertawa.
"Tuh Om, mau ikut mereka atau ikut aku?" Galang menyenggol lengan Angga.
"Kamu bawa mobil atau motor?"
"Mobil kantor Om."
"Ikut kamu ajalah, biar bisa istirahat. Ikut mereka nanti malah di gangguin si Anya. Pusing denger suara dia." Pria itu berbisik.
"Lah itu cucunya siapa yang kayak gitu?"
"Cucunya Pak Satria." Angga menjawab.
"Nah kalau Om apanya dong?"
"Saya mah akinya si Jejen yang kalem kayak istri saya."
"Dih?" Galang menarik salah atu sudut bibirnya ke atas.
"Anom!" Panggil Anya lagi.
"Anom mau ikut Om Galang aja. Kalian duluan deh."
"Aku juga mau ikut Anom aja!" Anya hampir keluar dari mobilnya.
"Apa? Jangan! Kamu sama Momny Papi aja, Anom mau ke tempat lain dulu." Angga mendorong Galang ke arah mobil yang dia bawa.
"Ke mana?"
"Ke mana aja." Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan Galang segera menyalakan mesin.
"Om Galang?"
"Tancap gas Lang, kabur!!" Angga menepuk pundak pria di balik kemudi yang segera menuruti keinginannya. Dan mereka segera keluar dari area bandara, mendahului mobil yang di tumpangi oleh Rania.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Anom ih kayak gitu, Anya kan cucunya sendiri? 🤣🤣🤣
note : calutak \= ngelunjak
pundungan \= ngambek
hayu atuh gaess like komen sama kirim hadiahnya biar terus naek ceritanya kang Dudul.
Meet Anya sama Zenya
__ADS_1