My Only One

My Only One
Orang Dewasa


__ADS_3

🌺


🌺


"Semalam mamamu menelfon Cla." Vita menyesap teh hangatnya setelah makan malam mereka selesai.


Clarra terdiam.


"Kamu tidak menemuinya lagi?" Fahmi ikut bicara.


"Aku nggak sempat. Kan sudah aku bilang dapat tugas dadakan ke Bandung." Anak perempuan mereka menjawab.


"Tidak sempat walau hanya sebentar?"


"Tidak Ma."


"Hmm ...."


"Dia marah-marah lagi kepada Mama dan Papa?" Clarra menatap kedua orang tuanya secara bergantin.


"Tidak, hanya mengatakan jika kalian tidak jadi bertemu." Vita menjawab.


"Tumben?"


"Bagus kan? Mungkin mamamu sudah berubah."


"Ya, tiga puluh tahun itu lama, aneh sekali jika dia tidak berubah." Sang anak menjawab.


"Cla?" Fahmi menyela.


"Stop Ma, Pa. Jangan diteruskan lagi, nanti kita bertengkar. Padahal dari dulu keluarga kita baik-baik saja, tapi akhir-akhir ini kadang aku mau pergi dari rumah setiap kali Mama dan Papa membicarakan soal dia."


"Dia itu mamamu Cla, bagaimanapun keadaannya."


"Aku tahu, nggak akan ada yang bisa merubah itu. Sekuat apa dia menolakku dulu, bahkan sampai meninggalkanku di rumah sakit tidak akan menghilangkan aliran darahnya di dalam tubuhku."


"Clarra, maafkan Mama. Seharusnya kami tidak usah menceritakan bagian itu kepadamu. Kami tidak tahu kamu akan menjadi semarah ini, terutama kepada Mamamu."


Clarra menggelengkan kepala.


"Mama juga Papa nggak salah. Kalian hanya menceritakan kenyataan yang seharusnya aku tahu. Aku nggak marah."


"Tapi kamu jadi membenci Lara."


"Aku nggak benci dia, hanya saja aku nggak mau bertemu lagi dengannya. Cukup sesekali saja aku bertemu, dan mengetahui dari mana asal usulku. Setelah tahu bahwa kalian bukan orang tua kandungku." Dia mengingat di usia 18 tahun, saat pertama kali di pertemukam dengan perempuan yang kini di kenali sebagai ibu kandungnya.


Dan pertemuan-pertemuan berikutnya terjadi setiap satu tahun sekali. Namun sejak lima tahun belakangan Lara tak lagi menemuinya karena dari kabar yang dia dengar, bahwa perempuan itu telah menikah dengan seorang pengusaha asal Batam, dan pindah ke kota di Kepulauan Riau itu. Dan itu cukup membuatnya lega karena tak harus merasa tertekan ketika tahu akan bertemu dengan ibunya tersebut.


Tapi kini tahu-tahu Lara kembali dan meminta bertemu. Membuatnya merasakan depresi yang sama, yang pernah di hadapinya semasa kuliah. Dan itu cukup menyiksa. Yang membuatnya merasa rendah diri dan membuatnya menjauh dari pergaulan.


Keadaannya yang sekarang merupakan perjuangan kerasnya bersama Vita dan Fahmi. Yang tanpa lelah mengembalikan kesehatan mental dan kepercayaan dirinya agar putri mereka dapat menghadapi dunia dengan tegar.


"Untukku, Mama dan Papa lah orang tuaku. Yang mengusahakan segalanya sejak dia meninggalkan aku di rumah sakit tanpa belas kasih. Jadi jangan paksa aku lagi untuk menerimanya."


"Kami tidak memaksamu sayang, hanya saja merasa bahwa Lara juga memiliki hak yang sama untuk mengenalmu." Vita merangkul tubuh putrinya.


"Tapi aku tidak mau mengenalnya. Kalian saja cukup bagiku."


"Iya, Papa tahu. Maaf jika kami terlalu memaksa." Fahmi memutuskan untuk mengalah. Dan dia pun memberi isyarat kepada istrinya untuk tak lagi membahas hal tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang memutuskan untuk mampir ke tempat biasa dia menghabiskan waktu sepulang bekerja. Di kawasan pantai yang cukup terkenal di kota Jakarta.


Dia duduk di kursi taman di pinggir pantai, menikmati suasana sepi yang sangat dia sukai akhir-akhir ini.


Empat kaleng minuman dingin sudah Galang habiskan, dan ponselnya yang menyala sebagai teman mengisi sepi.


Tidak dapat di pungkiri, bahwa ingatan dan perasaannya masih dikuasai sosok Amara dengan begitu kuat. Meski dirinya tak tahu apa yang membuatnya begitu mencintai gadis itu, dan mengetahui mungkin saja, nun jauh di sana, gadis itu telah melupakannya dan menemukan orang lain yang lebih baik, Galang masih bertahan untuk tetap mencintainya. Dia menolak untuk melupakannya.


Setidaknya untuk saat ini, dia memutuskan untuk menerima dan menikmati keadaan ini sendirian.


Pantai memang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang menikmati suasana remang nan syahdu, di bawah cahaya lampu hias yang teruntai di beberapa bagian. Mendengarkan deburan ombak di kejauhan, dan angin semilir yang mulai menelusup hingga ke tulang.


Galang mengerutkan dahi ketika dia melihat seorang perempuan berjalan pelan ke arah anjungan. Wajahnya tudak jelas karena jaraknya yang cukup jauh, di tambah lagi dengan pencahayaan yang minim di sekitar area tersebut. Selain lampu hias kecil berwarna-warni, tak ada sumber cahaya lainnya.


Namun Galang bangkit ketika perempuan itu terus berjalan semakin jauh menuju ujung. Yang dia tahu merupakan batas daratan dan bagian pantai yang lebih dalam. Instingnya berbicara lain, dan di kepalanya seperti berdenging sinyal bahaya.


Seseorang akan melakukan hal buruk saat ini. Begitu pikirnya.


Kemudian Galang memutuskan untuk mengejarnya, siapa tahu perempuan itu sedang membutuhkan bantuan?


Dan benar saja, Galang mengejarnya hingga cukup jauh dari tempat dia melihatnya tadi. Benar-benar di ujung anjungan, hampir menjorok ke laut. Hingga mereka bisa mendengar riak air yabg diterpa kencangnya angin malam.


"Hey?" Galang berteriak.


Perempuan itu mempercepat langkahnya.


"Hey? Nona?" Pria itu berteriak lagi, dan perempuan itu pun semakin mempercepat langkahnya.


"Hey! Di sana gelap. Apa yang akan kamu lakukan?"


Perempuan itu bergeming.


"Nona?" Galang pun berlari. Dia yakin perempuan tersebut akan melakukan hal yang buruk. Mungkin dia akan bunuh diri?


"Hey, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menarik lengannya saat jarak mereka sudah dekat. Namun perempuan itu menolak dan meronta.


"Tempat ini bisa saja berbahaya dan kamu akan ...." Namun keduanya tertegun setelah pandangan mereka bertemu.


"Clarra?" Galang membuka matanya lebar-lebar agar pandangannya lebih jelas.


"Ga-Galang?" Perempuan itu tergagap.


"Apa yang mau kamu lakukan di sini?" Dia belum melepaskannya.


"Aku ... hanya ...."


"Kamu mau apa?" Pria itu meninggikan suaranya.


"Ha-hanya ... ingin menenangkan diri." Akhirnya Clarra menjawab.


Galang menatapnya dengan dahi berkerut, lalu segera menariknya ke tempat yang dirasa aman.


"Menenangkan diri dari apa?" Pria itu menggiringnya hingga Clarra berada jauh dari pinggiran anjungan.


Perempuan itu tak menjawab.

__ADS_1


"Kita pindah ke tempat terang, nanti kena grebek satpol pp kalau di sini."


***


"Sekarang, bicaralah." Kini mereka pindah ke sebuah kafe tak jauh dari pantai. Tempat yang suasananya agak berbeda dari sebelumnya.


"Tidak ada yang harus di bicarakan." Clarra menyesap minuman yang dipesankan pria itu untuknya.


"Masa?" Galang meicingkan mata.


"Serius. Nggak ada apa-apa, aku hanya ingin menyepi." Clarra meyakinkan.


"Menyepi katamu?"


"Iya Lang, aku hanya bosan di rumah."


"Kalau bosan itu ambil cuti, pergi liburan. Bukannya malah pergi ke tempat gelap seperti itu? Kalau ada setan lewat gimana?"


"Aku nggak takut setan."


Galang mencebikkan mulunya.


"Setan nggak akan bisa menyakiti manusia. Tapi manusia bisa menyakiti sesamanya lebih dari setan." lanjut perempuan itu.


"Duh?"


"Lagi pula sejak SMA aku sudah terbiasa pergi ke sana setiap kali merasa bosan atau perlu menenangkan pikiran. Dan selama itu nggak pernah mengalami hal buruk, apalagi di ganggu setan. Big no! Jadi pikiranmu itu terlalu jauh."


"Serius?"


"Iya."


"Kalau begitu aku lega." Galang tergelak.


"Pikiranmu konyol!"


"Bukan konyol. Aku hanya merasa kalau perempuan berjalan sendirian di tempat sepi itu sangat berbahaya. Bisa saja seseorang sedang mengawasimu dan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat hal buruk kepadamu. Meski di tempat yang kamu anggap aman sekalipun. Ini Jakarta Cla, dan bisa saja terjadi di manapun."


Perempuan itu memutar bola matanya.


"Apa semua perempuan dewasa seperti itu ya?" Sambung Galang setelah menyesap minuman kalengnya.


"Hum?"


"Atau karena kamu terlalu mandiri? Membuatmu merasa berani pergi ke mana saja tanpa memikirkan apa itu aman?"


"Ngomong apa sih, kamu nggak nyambung." Clarra mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.


"Serius, aku pikir kamu terlalu berani, atau mungkin nekat? Kamu pikir semua bisa kamu lakukan tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Karena aku mampu."


Galang menatap wajah perempuan yang rambutnya di kuncir ke belakang tersebut untuk beberapa saat.


"Apa perempuan dewasa sepertimu tidak lagi di atur orang tua?"


"Apa?"


"Sehingga kamu bisa bebas pergi ke mana saja yang kamu mau?"


"Apa perempuan dewasa sepertimu ...."


"Stop mengatakan perempuan dewasa seperti aku!"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu mau menyebutku tua ya?"


"Apa?"


"Dengan menyebut perempuan dewasa seperti aku, kamu seperti sedang menyebutku tua." Clarra menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Aku nggak bilang begitu." jawab Galang.


"Tapi kamu seperti sedang menyebutku begitu."


"Bukan aku, kan kamu yang bilang begitu? Kenapa sih kalian orang dewasa selalu marah dengan ucapan seperti itu?"


"Bukannya marah, hanya saja ...."


"Apa?"


"Ah, sudahlah. Anak-anak sepertimu nggak akan mengerti." Clarra kembali pada minumannya.


"Anak kecil katamu? Aku ini sudah 25 tahun tahu!"


"Benarkah? Tapi kelakuanmu seperti baru 15 tahun."


"Itu tandanya aku awet muda tahu?"


"Dalam arti lain kekanak-kanakkan."


"Terserah padamu!" Galang dengan gusar.


"Kamu sendiri sedang apa di sini? Bukannya pulang malah keluyuran?"


"Suka-suka aku lah."


"Nah, aku juga begitu. Suka-suka aku lah." Clarra meniru ucapanya.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati suasana yang semakin lama menjadi semakin ramai. Dan kehidupan malam di tempat itu mulai menggeliat.


"Kamu tahu kenapa kemarin aku memaksa untuk ikut ke Bandung?" Clarra meulai kembali percakapan begitu dia ingat pembicaraan Galang dan ibunya di rumah sakit.


"Kenapa?" Dan pria itu merespon setelah meletakkan ponselnya di meja.


"Untuk menghindari pertemuan dengan ibu kandungku."


"Apa?" Galang mengerutkan dahi.


"Kamu tidak tahu ya, kalau aku ini hanya anak angkat?"


Kenapa dia mengatakan hal seperti itu ya?


"Anak angkat yang beruntung di pelihara oleh dua orang paling baik di dunia. Yang tidak memandang latar belakang dan asal usul perempuan yang melahirkan aku."


Galang menutup mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


Dia pasti lagi curhat.


"Sudah beberapa kali, perempuan yang mengaku sebagai ibu kandungku meminta bertemu. Tapi nggak pernah aku temui."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau."


"Kenapa tidak mau?"


"Nggak ada alasannya."


"Kamu marah, dan benci kepada ibu kandungmu?"


Clarra menggelengkan kepala.


"Lantas kenapa kamu tidak mau menemui dia?"


"Hanya tidak ingin."


"Jadi selama ini kamu nggak pernah bertemu dengan Ibu kandungmu?"


"Dulu pernah, beberapa kali. Tapi lima tahun belakangan dia tidak datang. Dan baru muncul lagi kemarin."


"Dan kamu bahkan nggak punya keinginan untuk bertemu dia?"


Clarra menggelengkan kepala.


"Dan memilih untuk pergi denganku?" Galang terkekeh.


Lalu Clarra menganggukkan kepala.


"Aneh sekali."


"Tidak aneh, hanya mencari alasan untuk menghindar."


"Menghindar? Seperti anak kecil saja." Galang bergumam.


"Suka-suka akulah."


Pria itu kembali mencebikkan mulutnya.


"Jadi jangan salah faham dengan sikapku kemarin." Clarra berujar.


"Apa maksudmu?"


"Ya siapa tahu kamu salah faham dan berpikir yang tidak-tidak karena aku ikut kamu pulang ke Bandung?"


"Ke geeran kamu?" Galang mendelik.


"Aku mau pulang lah." Clarra menyesap habis minumannya.


"Sekarang?"


"Iya lah, mau kapan lagi?"


"Memangnya pikiranmu sudah tenang ya?"


"Apa?" Perempuan itu merapatkan jaketnya.


"Tadi kan kamu bilang datang ke tempat ini karena mau menenangkan pikiran?"


"Oh, ... itu? Sudah."


"Serius?"


"Memangnya kenapa?" Clarra bangkit dari duduknya.


"Ada yang menenangkan pikiran seperti kamu? Datang ke tempat sepi, diam sebentar, terus pulang? Dimana letak ketenangannya?"


"Memangnya kalau mau menenangkan pikiran harus pergi ke tempat jauh selama berjam-jam atau berhari-hari ya?"


"Ya setidaknya ...."


"Aku nggak ada waktu diam berlama-lama. Bisa kewalahan nanti. Kalau sudah begitu, siapa yang akan mengatur pekerjaanmu dan staff Nikolai Grup lainnya?"


"Astaga, masih ingat pekerjaan?"


"Ya apa lagi? Hidupku kan di sana?"


"Benar-benar staff sejati ya kamu ini?"


"Itu perbedaannya orang dewasa dan anak-anak."


"Apa?"


"Kami akan selalu mempertanggung jawabkan apa yang telah kami pilih. Meski itu harus mengorbankan hal lainnya. Karena hidup itu pilihan." Perempuan itu kemudian tertawa.


"Terima kasih jusnya, lain kali aku akan benar-benar mentraktirmu." Lalu dia memutuskan untuk pergi.


"Hey, Clarra. Tunggu!" Galang pun bangkit setelah meletakkan selembar uang pecahan lima puluh ribu. Dan dia setengah berlari untuk mensejajari langkah perempuan itu.


"Pulang sana."


"Iya ini juga mau. Kamu mau aku antar?" Galang menawarkan.


"Nggak usah, aku bawa mobil." Namun Clarra menolak.


"Baiklah kalau begitu." Lalu keduanya mengendarai kendaraannya masing-masing dan pergi dari tempat itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


like komen hadiahnya seperti biasa ya? 😉😉


Walaupun kata orang sebagai rider dia nggak macho, nggak apa-apa. Dia kan sweet😆 karena yang macho udah ada Kang Jahe. Yang Garang ada Kang Korma. Apalagi yang galak udah di borong sama Papa bear dan Bang Arya. Sementara yang hot udah ada Papa Angga sama kak Hardi 😂😂


Papi Dimi? Dia mah anu😅😅


ini Kang Dudul versiku,


__ADS_1


__ADS_2