
🌺
🌺
"Kamu belum tidur?" Galang tiba saat malam telah larut dan menemukan Amara masih terjaga ditempat tidurnya.
"Aku nunggu Kakak." jawab perempuan itu yang mengalihkan perhatian dari layar ponselnya.
"Papamu pulang jam berapa tadi?" Galang meletakkan tas kerja lalu melepaskan jas dan dasinya dan menyampirkannya di pegangan sofa, kemudian menghampiri istrinya.
"Jam berapa ya tadi …." Perempuan itu melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Jam tujuhan kalau nggak salah. Kirain Kakak bakal pulang cepet? Makanya aku suruh Papa pulang aja. " katanya, lalu kembali pada layar ponselnya.
"Hmm … tadi pertemuannya agak alot. Biasa kalau nego dengan orang Cina itu sedikit sulit." Galang menjelaskan keterlambatannya pulang hari itu.
"Kenapa bisa gitu?"
"Tidak tahu, mereka lebih teliti dan segala aspek ditanyakan. Berapa keuntungannya, bagaimana kerugiannya? Apa resiko yang akan didapatkan selama menjalankan proyek atau apa saja yang akan mereka dapatkan. Jadi ya .... Sedikit rumit."
"Tapi berhasil?"
"Berhasil dong, aku …."
"Hmm … mulai sombong."
Galang tertawa.
"Sudah makan?" Dia kemudian bertanya.
"Udah tadi sebelum Papa pulang."
"Bagus."
"Kakak udah?"
"Sudah barusan dengan Pak Dimitri. Tanggung juga, sekalian saja kami menjamu klien makan sebelum pulang."
"Syukur deh, jadi nggak harus minta Nania kesini untuk antar makanan."
"Sudah malam juga?" Galang melihat jam tangannya.
"Emang."
Pria itu kemudian bangkit dan dia bergegas ke kamar mandi.
***
Beberapa menit kemudian Galang keluar dengan mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggang.
"Kakak ih kebiasaan!" Amara mendongak saat ekor matanya menangkap pergerakan.
"Apa?"
"Ganti bajunya di kamar mandi dong, ini kan di rumah sakit? Gimana kalau ada orang kayak kemarin-kemarin?" omel Amara ketika pria itu menarik pakaian dari bufet di dekat pintu lalu mengenakan benda tersebut dihadapannya.
"Nggak akan."
"Misalnya Kakak!"
"Nggak mungkin. Kan aku sudah membuat aturan baru soal besuk. Dilarang besuk diatas jam tujuh malam! Jadi nggak mungkin ada yang datang. Kalau pun ada, staff rumah sakit akan memberitahukan terlebih dahulu apa aku mau terima atau tidak?"
"Masa?"Â
"Serius."
"Kayak yang punya rumah sakit aja Kakak yang bikin aturannya?"
"Ya anggap saja begitu." Galang mengusak kepalanya yang masih basah seraya menghampiri Amara setelah berpakaian.
"Emang bisa begitu ya?"
"Bisa lah."
"Enak bener?"
"Tentu saja." Pria itu terkekeh.
"Berasa jadi Kak Dim?"
"Begitulah."
"Dulu Kakak nggak begini?"
"Nggak berani. Tapi setelah dipikir-pikir, bagus juga memanfaatka kekuasaan selama itu tidak merugikan orang lain. Lagi pula itulah keistimewaannya jadi kaki tangan Pak Dimitri. Sebagai imbalan dari apa yang kita kerjakan."
"Tapi jam kerja Kakak nggak tentu."
"Benar, tapi juga bisa menggunakan waktu jika darurat dan sangat diperlukan. Seperti sekarang ini, aku bisa mengurusmu sebelum bekerja, dan mendampingimu seperti seharusnya."
"Iya juga sih, kayak Papa dulu."
"Nah kan?" Pria itu meneguk air mineral yang berada diatas nakas.
"Hhh …." lalu dia menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan seolah tengah melepaskan rasa lelahnya.
"Capek Kak?" Amara kembali berbicara.
"Lumayan, tapi sepadan juga kan?" Pria itu naik ke tempat tidur.
"Hmm …." Amara lagi-lagi kembali pada ponselnya.Â
Sesekali dia terkikik sambil menutup mulutnya lalu kembali serius menatap layar pada benda pipih berukuran hampir enam inci itu.
"Kamu nonton apa sih ketawa-ketawa terus dari tadi?" Galang mendekat lalu mencondongkan tubuh untuk melihat layar ponsel seperti Amara.
"Lagi baca." Perempuan itu mejawab.
"Baca apa?" Galang menatap tulisan yang memenuhi layar terang itu.
"Baca novel."
"Masa ada novel di hape?"
"Ada ihhh, novel online. Kakak kudet!"
"Hum?"
"Serius, ceritanya seru-seru. Ada sedih, lucu, kocak, konyol lagi. Ada juga yang mirip kita."
"Iyakah?"
Amara menganggukkan kepala.
"Apanya yang mirip?"
"Ceritanya."
"Hah, cerita pasaran."
"Nah iya, tapi relate juga sama dunia nyata. Hahaha."
Galang mencebikkan mulutnya.
"Jadi kalau aku kerja kamu begini ya?"
"Iyalah, apa lagi? Aku nggak bisa ngapa-ngapain. Selain lihat-lihat menu untuk kedai ya baca novel online."
"Hmmm …."
Lalu Amara tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"Ish, apa sih?" Pria itu merebut ponsel tersebut kemudian melemparnya ke belakang tubuhnya.
"Kakak ih, kenapa diambil?" Amara bereaksi.
"Kamu bikin risih, lihat hape sambil ketawa-ketawa?"
"Ya ka bacaannya lucu? Coba deh Kakak baca!"
__ADS_1
"Nggak mau!"
"Dih?"
"Apa sih lucunya sampai ketawa begitu? Cuma bacaan biasa kan?"
"Nggak tahu sih, makanya baca. Lucu tahu kak?"
"Lucunya di mana?"
"Udah aku bilang dari ceritanya. Mirip-mirip kita gitu."
"Mirip di sebelah mana nya?"
"Dari cerita malam pertamanya."
"Hah?"
"Mirip kejadian semalam. Udah masuk setengah eh ada tamu nggak di undang. Habis itu ketahuan lagi pas cel*na dal*mnya ketemu sama tamu. Haduh, malu-maluin." Amara tertawa lagi sambil menutup mulutnya.
"Nggak lucu." Namun reaksi Galang hanya datar-datar saja.
"Lucu tahu Kak?"
"Nggak."
"Ih, dasar nggak berperasaan. Masa kayak gitu dianggap nggak lucu? Orang aku sampai sakit perut karena saking lucunya. Aku curiga ini pengalaman pribadi penulisnya, makanya kayak nyata gini?"
Galang mendengus keras.
"Sebelah mana lucunya kegagalan malam pertama seperti itu? Yang ada malah bikin kesal? Huh aku saja sampai kesal kalau ingat itu."
Amara berhenti tertawa kemudian mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Sekarang, tidurlah sudah malam. Kamu harus banyak istirahat karena besok sore harus oprasi kan?" Galang mengingatkan.
Amara terdiam.
"Kenapa?" Galang membenahi letak bantal mereka agar nyaman untuk ditiduri.
"Huaaaaaa … Kakak bikin aku inget itu lagi!" Amara malah merengek.
"Duh?"
"Padahal seharian ini aku udah lupa kalau besok operasi gara-gara baca novel online. Tapi Kakak bikin aku ingat lagi. Huhuhu ...."
Galang mengerutkan dahi dengan mulut menganga.
"Aku takut kalau denger kata operasi, udahnya itu menyakitkan. Kakak nggak tahu gimana rasanya!" Dan drama itu pun dimulai.
"Umm … operasinya nggak seburuk yang kamu bayangkan." Galang menyanggah.
"Kita nggak tahu. Gimana kalau terjadi sesuatu? Gimana kalau setelahnya aku malah jadi cacat? Muka aku malah jadi jelek? Gimana?"
"Kamu berlebihan. Dokter Kirana bilang tidak seburuk itu!"
"Kita kan nggak tahu?"
"Memang, tapi kan Dokter Kirana lebih tahu?"
"Buktinya apa?"
"Umm … Apa ya? Ya aku nggak tahu, tapi Dokter Kirana tahu."
Amara terdiam.
"Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan soal itu."
"Dari mana Kakak tahu kalau Dokter Kirana tahu?"
"Dia kan ahlinya. Jadi sudah pasti tahu."
"Dari mana Kakak tahu kalau Dokter Kirana itu ahlinya? Kakak udah lama kenal dia?"
"Umm … Belum. Baru sekarang-sekarang waktu kamu mau operasi."
"Bohong."
"Kenapa Kakak percaya kalau dokter Kirana itu ahlinya?"
"Karena dokter Syahril merekomendasikannya, dan ternyata dia juga bertugas di sini."
"Tuh kan?"
"Apa lagi?"
"Kakak pasti udah kenal dia sebelumnya?"
"Astaga!" Galang menepuk keningnya sendiri.
"Iya kan? Dia dinas di sini, Kakak juga pegang rumah sakit ini."
"Memangnya kenapa kalau iya?"
"Tuh kan, Kakak udah kenal dia sebelum ada rencana operasi aku?" Amara meninggikan suaranya.
"Ini apa sih yang kita perdebatkan? Dari novel online kenapa malah jadi bersambung ke Dokter Kirana?"
"Karena dia sangat cantik." Amara mulai menangis.
"Apalagi ini?" Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan dia mulai frustasi.
"Di novel ada ceritanya yang gitu. Pas istrinya dirawat di rumah sakit, suaminya selingkuh sama dokternya."
"Astaga Tuhaaaaannn!" Kini kesabarannya mulai diuji.
"Eh, aku kok jadi kebawa halu ya? Itu kan cuma cerita." Amara kemudian menyeka matanya yang basah.
"Hmm … sudah, jangan baca novel online lagi! Baru berapa hari kamu jadi begini. Bayangkan kalau sampai berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan. Bisa hidup di dunia halu kamu!" Galang mengambil kembali ponsel milik Amara kemudian menghapus beberapa aplikasi.
"Umm …"
"Sekarang, tidur! Ingat besok kamu oprasi." Galang membantunya untuk berbaring.
"Kakak jangan ingetin itu terus, nanti aku mimpi buruk." Perempuan itu dengan suara yang parau.
"Memang begitu kenyataannya, besok oprasi!" Galang mengulang kata-katanya, kemudian dia pun merebahkan tubuhnya di samping perempuan itu.
"Kakak!"
"Cuma oprasi kecil di wajah. Memperbaiki kulit yang rusak, lalu mengembalikannya seperti semula. Apa yang kamu takutkan?"
"Nggak tahu. Kayak takut aja sakitnya kayak kemarin pas kaki sama tangan aku."
"Tidak akan sesakit itu Neng."
"Masa? Kakak nggak tahu sih rasanya kayak apa."
Galang kemudian mengulurkan tangannya sehingga dia dapat merangkul tubuh Amara.
"Tapi sepertinya nggak akan sesakit itu?"
"Kan nggak tahu?"
"Iya kan nggak tahu, jadi kenapa harus takut terhadap apa yang kita nggak tahu?"
Amara mendongak kemudian dia mengerutkan dahi, sementara Galang tersenyum.
"Tidur Neng, walaupun hanya operasi kecil tetap saja kamu harus banyak istirahat." Galang menempelkan kening mereka berdua, lalu mengecup bibir Amara sekilas.
Dia kemudian berusaha memejamkan mata meski detak jantungnya mulai terasa tak beraturan.
"Eh lupa belum kunci pintu." katanya, yang bangkit kemudiam mengunci pintu rapat-rapat. Lalu dia kembali ke tempat tidur dan memeluk istrinya.
"Eh, belum mematikan lampu." katanya lagi yang kembali turun dan mematikan lampu utama dan hanya membiarkan lampu kecil di dinding samping yang menyala.
Galang kembali lagi ke tempat tidur dan memejamkan mata sambil memeluk Amara dan menelusupkan tangan dibalik piyamanya, lalu memegang sebelah dadanya. Namun otaknya berputar mengingat apa lagi yang belum dia lakukan. Tapi tidak ada, dan sepertinya semuanya sudah.
Dan kedua matanya hampir benar-benar terpejam setelah beberapa saat ketika perempuan itu memanggilnya.
__ADS_1
"Kakak?" Amara setengah berbisik.
"Hmm …."
"Kakak udah tidur?"
"Hu'um."
"Aku nggak bisa tidur." katanya lagi.
"Nanti juga bisa."
"Susah. Aku inget soal operasinya terus."
"Hmm …." Galang hanya bergumam.
"Kakak?"
"Apa?"
"Aku baru ingat."
"Soal apa?"
"Aku belum datang bulan."
Galang tiba-tiba saja membuka matanya.
"Kayaknya aku lagi pms makanya tadi nangis-nangis karena ingat novel."
"Terus?" Galang mengangkat kepalanya sebentar.
"Nggak ada terusannya, paling sebentar lagi aku datang bulan."
"Maksudnya, kenapa kamu mengatakannya kepadaku?"
"Nggak ada maksud apa-apa, cuma ngasih tahu aja. Mungkin nanti juga aku bakalan begitu lagi kalau mau mens."
"Dulu waktu kita pacaran kamu nggak begitu?"Â
"Masa?"
"Iya. Kamu biasa saja waktu kita pacaran, aku bahkan jarang tahu kalau kamu lagi datang bulan?"
"Kenapa juga aku harus ngasih tahu kalau lagi datang bulan? Kan waktu itu Kakak bukan suami aku?"
"Umm … iya juga ya?"
"Ya udah, tidur lagi."
Lalu Galang pun kembali merebahkan kepalanya diatas bantal.
"Kakak?" Namun Amara kembali memanggil ketika pria itu sudah didera rasa kantuk.
"Apa lagi sih Neng? Kamu mau menyiksa aku ya?" Galang pun beraksi, dan dengan kesalnya dia meremat dada perempuan itu cukup keras.
"Umm … itu …."
"Tolonglah, aku tidak bisa melakukan apa-apa, jadi yang bisa kita lakukan hanya tidur. Jadi, jangan bicara terus!"
"Itu … aku cuma mau tanya, penyembuhan setelah operasinya lama nggak ya?" Namun Amara terus saja berbicara.
"Aku nggak tahu, kan operasinya baru mau besok atuh?" Galang terdengar kesal.
"Aku deg-degan Kak?"
"Aku lebih deg-degan lagi kalau kamu bicara terus."
"Mmm … Kakak?"
"Aduh, … naon deui? (apa lagi?)" Galang semakin dibuat kesal dengan kelakuan perempuan itu.
"Umm … nanti setelah operasi takutnya aku sakit lagi. Gimana kalau lama?"
Galang dengan sekuat hati menahan kesabaran.
"Jadi kayaknya … gimana kalau kita itunya sekarang?"
"Apa?"
"Ituuuuu …."
"Itu apa? Kamu jangan bikin aku kesal dong? Jangan juga menguji kesabaranku. Ini sudah sampai di titik paling tinggi tahu?"
"Umm itu, … ML."
"ML apa?"
"Ish, Kakak oon!"
"Duh? Sudah dua kali kamu sebut aku oon?"
"Emang Kakak oon!"
"Neng?"
"Make love!"
"Apa?" Galang mencoba meyakinkan pendengarannya meski kata itu dengan jelas Amara ucapkan.
"Make love Kakak, malam pertama."
"Eee …." Pria itu membeku. Dia memang benar-benar tidak mempercayai pendengarannya.
"Kalau nanti akunya keburu sakit lagi, terus penyembuhan. Lama lagi."
"Kamu sepertinya mengigau? Haha." Galang mencoba menepis pikiran kotornya.
"Masa ngigau bisa ngobrol kayak gini?" ucap Amara, meyakinkan.
"Ya habisnya ucapan kamu itu yang …."
Tiba-tiba saja Amara mengulurkan tangan untuk menarik lehernya. Yang membuat bibir mereka bertabrakan. Dia kemudian memagutnya begitu dalam dan dengan penuh perasaan.
"Kalau Kakak mau mencoba lagi, mungkin malam ini bisa?" Dia setengah berbisik.
"Kamu … tidak tahu betapa tersiksanya aku mendengar kata-kata seperti itu. Sementara kita berdua tahu kalau tangan dan kaki kamu …."
"Masih sakit."
Galang mengangguk. Meski hal itu tidak terlihat terlalu jelas karena ruangan tersebut agak gelap.
"Tapi … aku … maunya sekarang." ucap Amara lagi yang membuat Galang merasakan ada ledakan di dadanya.
"Ke-kenapa?" Pria itu tergagap.
"Nggak tahu. Aku cuma mikirnya kalau nanti nunggu aku sembuh bakalan lebih lama lagi."
"Kamu benar-benar mau menyiksa aku ya?" Galang terkekeh seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Amara.
"Nanti waktu kita melakukanya, kamu merasa sakit. Dan aku harus berhenti, jadi …."
"Aku tahan."
"Hum?"
"Akan aku tahan demi Kakak."
Galang menelan ludahnya dengan susah payah.
"Itu juga kalau Kakak mau, tapi kalau nggak mau nggak apa-apa sih." Amara pun bergeser.
Sementara Galang malah membeku ditempatnya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
Duh, tawaran menggiurkan Bang. Buruan sikaaatt!!!😂😂😂