My Only One

My Only One
Kekhawatiran Amara


__ADS_3

🌺


🌺


Satu minggu kemudian …


"Aku dengar kalian akan menikah?" Clarra meyakinkan kabar yang didengarnya beberapa hari ini. Namun mereka baru bisa berhadapan sebab Galang yang jarang berada di kantor karena tugasnya diluar minggu ini lebih banyak.


Galang mendongak ke arahnya yang tengah membereskan dokumen di meja Dimitri selepas pria itu pergi.


"Ya, tiga hari lagi." Lalu dia menjawab.


Clarra terdiam sebentar, kemudian tersenyum.


"Selamat." katanya seraya menatap wajah Galang.


"Ya, terima kasih." Pria itu mengangguk dan balas tersenyum.


"Kamu … baik-baik saja  Cla?" Lalu dia berbasa-basi, sekedar untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba saja hadir.


"Ya, aku baik." Clara kembali tersenyum.


"Syukurlah, aku harap kamu bahagia."


"Iya Lang, terima kasih. Kamu juga." Lalu perempuan itu segera pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lututnya sudah kembali ke tempatnya, dan kita lihat retakan di sini juga berangsur membaik." Dokter menunjuk beberapa titik pada foto hasil ronsen Amara yang dilakukan beberapa saat sebelumnya.


"Sikutnya juga sudah lebih baik, tak separah sebelumnya. Kita hanya perlu melewati pemulihan selama beberapa minggu dengan sangat hati-hati. Tapi untuk keseluruhan semuanya sudah lebih baik."


Arfan dan Galang tampak lega, sementara Dokter Syahril yang sejak tadi mendampingi mereka tetap memperhatikan.


"Lalu untuk operasi wajahnya bagaimana?" Galang beralih kepada Dokter Syahril.


"Saya sudah mendapatkan kabar dari dokter bedah plastik, dan kalau Amara sudah siap itu bisa dilaksanakan minggu depan."


"Bisa dilakukan di sini?" Arfan memeriksa beberapa keterangan yang dia dapatkan mengenai kondisi kesehatan putrinya.


"Bisa. Beruntungnya fasilitas kita sudah lengkap. Atau kalau tidak, nanti bisa kita minta bantuan dari Nikolai Medical Center." Pria itu menerangkan.


"Ah, iya juga. Kalau soal itu kita bisa memanfaatkan asistennya Dimitri agar semuanya lebih mudah." Arfan menepuk pundak calon menantunya, kemudian tertawa.


"Betul Pak." Dokter Syahril mengamini.


"Bisa begitu Pak?" Galang menyela percakapan. 


"Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa? Sebagai orang kedua di Nikolia Grup kekuasaanmu hampir sama dengan Dimitri. Kalau mau kamu bisa menggunakan hal itu untuk kepentinganmu."


"Tapi tidak boleh digunakan sembarangan, harus untuk hal-hal darurat dan sangat penting. Kalau soal Ara, saya masih bisa."


"Kalau itu akan membuat semuanya lebih cepat, kenapa tidak Pak? Saya akan menggunakannya jika diperlukan." tawar Galang kemudian.


"Tidak. Soal Ara saya masih mampu." tolak Arfan, kemudian dia kembali kepada Dokter Syahril.


"Jadi apa yang akan dilakukan untuk wajahnya Ara? Apa operasinya akan mencakup perubahan wajah, mengganti jaringam kulit atau apa?" Arfan mulai menyelidik.


"Ada beberapa hal yang akan dilakukan kepada Ara. Prosedurnya mencakup perbaikan jaringan kulit yang rusak, menutup luka, dan memperbaiki jaringan pembuluh darah kecil yang sempat terganggu karena pecahan kaca yang masuk. Untuk hal ini ada dua orang dokter spesialis yang akan menangani."


"Dua?"


"Ya, nanti kita akan berkonsultasi terlebih dahulu pada ahli bedah luka dan onkoplasti, juga dengan konsultan bedah mikro."

__ADS_1


"Berarti banyak yang harus dilakukan agar wajah Ara bisa pulih?"


"Ya, tentu saja."


"Apa akan ada perubahan pada wajah Ara?" Galang setelah menyimak percakapan di depannya.


"Tentu saja tidak. Operasi ni hanya memperbaiki kulitnya yang rusak karena luka. Jadi selebihnya tidak ada."


Galang mengangguk-anggukkan kepala.


"Baik, kita bertemu lagi besok untuk pemeriksaan lanjutan Amara. Malam ini saya harus menyiapkan beberapa hal." Dokter Syahril berujar.


"Ya, kami juga harus kembali ke kamarnya Ara." Arfan menjawab. 


Lalu ketiga pria itu keluar dari ruangan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amara menatap langit kelabu di luar jendela kamar rawatnya. Petang sudah menjelang dan ibu sambungnya masih berada di sana menemani. 


Setelah membicarakan banyak hal bersama Mytha sebelum akhirnya perempuan itu pulang terlebih dahulu ketika Wira dan putra mereka datang menjemput.


"Aku takut Mommy." Gadis itu berujar, namun pandangannya masih menatap cakrawala.


"Apa yang kamu takutkan?" Dygta kembali mendekat kepadanya.


"Semua hal."


"Soal operasinya?" Dygta duduk di tepi ranjang.


"Ini hanya operasi wajah Kak. Mereka hanya akan memperbaiki bekas lukanya agar menghilang dan kamu kembali seperti semula."


"Tetap saja. Semuanya nggak akan seperti sebelum aku kecelakaan. Belum lagi ini." Amara menyentuh gips yang melindungi tangan dan kaki kanannya.


"Mungkin sangat lama sampai aku benar-benar sembuh." Gadis itu beralih menatap wajah ibu sambungnya.


"Memang. Tapi yakinlah." Dygta menyentuh tangan gadis itu.


Amara terdiam.


"Banyak orang yang mendukungmu, jadi apa yang kamu khawatirkan?"


"Hanya takut kalian kelelahan dan bosan." Satu sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman getir.


"Tidak akan, apa yang kamu bicarakan?"


"Dan Kak Galang …."


"Ssstt … jangan berpikiran macam-macam. Kami sedang mengusahakan kesembuhanmu sekarang ini, apa tidak cukup? Apa kamu juga tidak melihat usaha Galang untuk tetap berada di sisimu sejak hari pertama kamu di sini? Dia bahkan memutuskan untuk meminangmu padahal kamu sedang ada di titik terendah."


Lalu pintu terbuka dan dua orang pria masuk berurutan. Dygta menoleh dan menemukan suaminya bersama calon menantu mereka yang kembali setelah berkonsultasi dengan dokter soal keadaan Amara.


"Bagaimana?" Perempuan itu segera bertanya.


"Semuanya baik, dan operasinya bisa dilakukan minggu depan. Asalkan Ara siap dan kondisinya tetap sebaik ini." jawab Arfan setelah jarak mereka cukup dekat.


"Syukurlah. Dengar itu? Kamu harus sehat, sehingga semuanya akan berjalan lancar." Dygta kembali kepada Amara.


"Mommy, aku mau pulang. Aku capek." Asha muncul diikuti ketiga kakaknya setelah menghabiskan waktu di area bawah rumah sakit.


"Mau pulang sekarang?" Dygta beralih kepada si bungsu.


"Iya. Mana tugas aku banyak lagi, belum dapat bahannya juga." Anak itu bergelayut manja pada lengan ayahnya.

__ADS_1


"Kalau aku sih udah dapat, sambil nunggu dibawah tadi cari di internet. Banyak." sahut Aksa yang kemudian duduk di sofa mengikuti kedua kakaknya.


"Nah, Aksa sudah dapat. Kenapa kamu belum? Tinggal cari di internet kan?" Arfan merangkul anak paling kecil di keluarga mereka itu.


"Asha males." Arkhan tertawa, namun perhatiannya tidak dia lepas dari ponsel miliknya.


"Paling nanti nyontek lagi sama Aksa." Anandita ikut menimpali, lalu ketiga anak itu tertawa bersamaan.


"Asha, jangan begitu. Itu kebiasaan buruk." Sang ayah bereaksi.


"Nggak ih mereka bohong. Aku nggak nyontek, cuma lihat aja terus ikutan nyari. Biar jawabannya sama." Asha membela diri.


"Sama aja tahu?" Anandita menjawab.


"Beda Kak."


"Sama." Arkhan dengan tawa renyahnya.


"Papa, aku nggak nyontek. Cuma mastiin jawaban aku sama atau nggak sama Aksa." Asha merengek, merasa tidak terima dengan jawaban ketiga kakaknya.


"Hah, selain kang nyontek Asha jadi kang ngadu juga." Arkhan rupanya tidak puas setelah mengejek adik bungsunya itu.


"Papa, Kak Arkhannya gitu?"


"Nah kan?"


"Sudah, jangan dibahas. Kalian sama-sama suka nyontek dari internet. Apa bagusnya itu?" Arfan menghentikan perselisihan di antara ke empat anaknya.


"Kalau begitu ayo kita pulang? Bisa-bisa kalian terlambat mengerjakan tugas malam ini." Dygta turun dari tempat tidur.


"Baik, ayo."


"Papa juga mau pulang?" Amara buka suara setelah menyimak percakapan keluarganya itu.


"Tentu saja, siapa yang akan mengantarkan Mommy dan adik-adikmu? Menunggu sopir datang pasti lama." Arfan pun menjawab.


"Lagi pula Papa juga mau istirahat malam ini, paling besok pagi kembali." 


"Hmm …."


"Ayo anak-anak?" Pria itu menggiring istri dan ke empat anak mereka untuk keluar dari ruangan itu.


"Pergi dulu Kak." Dan mereka pun segera berpamitan.


"Tidak apa-apa kan kamu jaga sendirian?" ujar Arfan kepada Galang sebelum dia keluar melewati pintu.


"Tidak apa Pak, tenang saja."


"Baik." Kemudian Arfan melenggang mengikuti anak dan istrinya yang sudah lebih dulu berada di luar.


"Ingat Galang, jangan macam-macam." Pria itu memberi peringatan sebelum akhirnya menutup pintu.


"Umm …" Mereka berdua tertegun, dan Galang bahkan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


uhuk, ingat jan macam-macam! 😂😂

__ADS_1


like komen sama hadiahnya lagi dong. jan lupa mampir di youtube 😘😘


__ADS_2