
🌺
🌺
Amara menatap foto hasil USG dua janin di dalam perutnya. Dia menyentuh permukaan dengan ujung-ujung jarinya, dan meyakinkan diri bahwa itu bukanlah mimpi.
Dua titik hitam berumur empat minggu itu benar-benar nyata dan kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.
"Jangan dilihat terus. Jangan juga terlalu dipikirkan. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Galang merebut foto tersebut dari tangan perempuan itu.
Dia meletakkan benda tersebut di atas nakas setelah menatapnya sekilas, kemudian merebahkan tubuh tingginya di samping Amara.
"Itu … dua." ucap Amara.
"Gen papamu lebih kuat ternyata ya? Hahaha." Galang tertawa.
"Dua loh Kak."
"Ya, terus?"
"Apa kita nggak akan kerepotan?"
"Kerepotan?"
Amara menganggukkan kepala.
"Baru ketahuan, tapi kamu sudah takut kerepotan?"
"Bukan takut kerepotan."
"Terus kenapa?"
"Aku takut nggak bisa mengurus mereka." Perempuan itu terkekeh.
"Masih delapan bulan lagi, dan kamu bisa belajar banyak. Baca buku, nonton video, atau mengobrol dengan orang-orang yang sudah berpengalaman. Mommy, ibu, mama … dan yang lainnya. Kita juga bisa memperkerjakan orang untuk membantumu mengasuh anak-anak."
Amara terdiam.
"Tapi ada yang lebih aku pikirkan sekarang ini dari pada kehamilanmu." Galang mengusap perutnya dengan lembut.
"Apa?"
"Papamu."
"Papa?"
"Ya."
"Kenapa Papa?"
"Dia akan semakin tidak menyukai aku."
"Hum?"
"Mungkin Papa akan sangat membenci aku."
"Papa nggak benci sama Kakak. Lagian kenapa juga Papa harus benci?"
"Karena aku membuatmu hamil di saat keadaanmu masih seperti ini. Dan ya, aku rasa papa memang tidak pernah menyukai aku."
"Kakak ngaco!"
Galang menggelengkan kepala.
"Buktinya selama ini papa tidak pernah bersikap ramah kepadaku? Ekspresinya selalu dingin dan datar."
"Orang papa udah gitu dari sananya? Kayak yang baru kenal aja deh? Bukannya pas masuk ke Nikolai Grup, Kakak diajarin sama papa ya?"
"Itu konteksnya beda Neng. Mau di Nikolai Grup atau pun diluar papa selalu begitu kepadaku."
"Kakak baperan." Amara mencibir.
"Bukannya aku baperan. Papamu memang begitu kepadaku."
"Sama semua orang juga gitu."
Galang mengerucutkan mulutnya.
"Jangan gitu, Kakak jadi jelek." Perempuan itu tertawa sambil meraup bibir suaminya.
"Kakak udah kasih tahu orang-orang belum?" Lalu dia bertanya.
"Soal apa?"
"Kehamilan aku."
"Belum. Tadinya mau sekarang, tapinya sudah malam." Galang menatap jam di atas nakas.
"Kalau gitu jangan dulu."
"Hah?"
"Jangan dulu kasih tahu siapa-siapa." ucap Amara kemudian.
"Kenapa?"
Perempuan itu terdiam untuk berpikir.
"Soal papa yang benci Kakak itu menurut aku sangat nggak mungkin. Tapi Papa pasti akan sangat khawatir."
"Jadi?"
"Kayaknya kita jangan dulu kasih tahu siapa-siapa sebelum aku sembuh."
"Apa?"
"Semua orang akan khawatir, apalagi papa yang pasti akan sangat protektif sama aku. Dan aku nggak mau itu. Aku maunya biasa aja, tapi papa nggak mungkin bisa biasa aja."
Galang mengerutkan dahi.
"Percaya deh."
"Tapi ini berita bahagia, Neng! Semua orang harus tahu."
"Iya, aku tahu. Tapi nanti kalau aku udah sembuh. Minimal udah bisa jalan lagi."
"Mungkin akan sangat lama." Galang bangkit kemudian duduk bersila.
"Kakak percaya aku nggak?"
__ADS_1
"Soal apa?"
"Kalau aku bisa sembuh? Kakak bilang aku pasti akan sembuh?"
"Iya, tapi nggak mungkin dalam sebulan terapi kamu sembuh kan?"
"Gimana kalau misalnya bisa?"
Galang tertegun.
"Kakak nggak percaya aku?"
"Bukan begitu, masalahnya …."
"Mulai besok aku mau terapi ya? Kata dokter kan aku udah bisa terapi?"
"Dalam keadaanmu yang sedang hamil?" Galang kembali menyentuh perut perempuan itu.
"Kita kasih tahu dokternya dulu. Pasti bisa."
"Kamu yakin? Terapi dalam keadaan hamil, belum lagi harus mengkonsumsi obat dan lainnya? Apa tidak akan berbahaya untuk anak kita?" Pria itu mengusap-usap perut Amara. Membuatnya terdiam sambil mengulum senyum.
Mengapa rasanya bahagia sekali saat mendengar suaminya mengucapkan kalimat itu?
"Sekarang kamu malah senyum-senyum?" protes Galang yang mulai merasakan kekhawatirannya.
"Aku seneng."
"Tentu saja seharusnya kamu merasa senang. Kita akan punya anak kan?"
"Bukan cuma itu."
"Terus apa lagi?"
"Pas denger Kakak nyebut anak kita."
"Hah?"
"Itu kedengarannya romantis." Amara terkekeh.
"Kamu ini ada-ada saja?" Galang mengacak rambut di kepalanya.
"Serius." Perempuan itu tergelak seraya menghambur ke pelukannya.
"Ayo bilang lagi!" katanya yang membenamkan kepala di dada suaminya.
"Bilang apa?"
"Anak kita." Amara terkikik geli.
"Apa sih kamu ini?"
"Udah aku bilang rasanya ini romantis."
"Dih?"
"Kakak! Ayo bilang lagi!" Amara dengan rengekan manjanya.
"Haih!" Galang memutar bols mata.
"Kakak!" Perempuan itu mendongak kemudian meraih wajahnya.
"Ish! Kakak nggak asik!"
"Kenapa kamu terdengar seperti Anya?"
"Iyakah? Apa aku lucu kayak Anya?"
"Hum?"
"Kalau anak kita nantinya kayak Anya lucu juga kali ya? Cerewet-cerewet nggemesin gitu?"
"Apa?" Galang bereaksi.
"Anak kita kayak Anya …."
"Tidak mungkin! Jangan sampai!"
"Lho? Kenapa kan Anya lucu?"
"Tidak boleh! Cukup Rania dan Anya saja yang mirip. Anak kita jangan!"
"Ih, … udah aku bilang Anya lucu."
"Iya lucu, tapi bikin pusing. Cukup mereka saja yang bikin pusing, jangan anak kita, Neng. Aku sudah kenyang menghadapi Rania sejak kecil, ditambah Anya. Kalau ditambah juga dengan anak kita aku pasti kewalahan."
Amara tersenyum lebar.
"Jangan bicara sembarangan. Anak kita harus mirip aku atau kamu."
"Apa aku lucu?" ucap Amara dengan konyolnya.
"Kamu lebih dari lucu."
"Aaaaa … Kakak gombal!" Dia tersipu dengan pipinya yang merona.
"Ish! Kamu berlebihan! Dengar aku bilang anak kita merasa romantis. Dengar aku bilang kamu lucu malah kegeeran?"
"Iya, perasaan aku kayaknya lagi bagus nih. Mungkin karena lagi hamil?"
"Hmm …."
"Jadi gimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Soal jangan kasih tahu orang-orang dulu?"
"Itu lagi!"
"Ya Kak ya? Jangan dulu. Tunggu dua apa tiga bulan lagi aja gitu? Minimal kalau aku udah bisa jalan."
"Tapi …."
"Bayangin gimana protektifnya papa. Nanti aku harus tinggal di rumah lagi, semuanya serba nggak boleh. Kakak mau kayak gitu?"
"Ya … tidak juga sih. Itu sebabnya aku membawamu tinggal di sini kan? Agar kita leluasa menjalani rumah tangga, tapi …."
"Nah! Kalau papa tahu, nanti kita nggak leluasa lagi. Udah aku bilang papa akan nyuruh kita tinggal di rumah kan?"
__ADS_1
"Umm …."
"Atau Kakak maunya gitu? Kita tinggal sama papa?"
"Tidak!"
"Makanya, nurut lah sama aku."
"Ah! Kamu bikin aku bingung!"
"Nggak akan bingung kalau Kakak nurut aja."
Galang mengusap wajahnya kasar. Pikirannya terbelah dua antara ingin berbagi kabar gembira kepada keluarga, dan perasaan tidak nyaman saat membayangkan sikap mertuanya akan seperti apa jika mengetahui kehamilan putri mereka. Terutama karena keadaannya yang belum pulih benar. Nyalinya tiba-tiba saja menciut apalagi membayangkan bagaimana ekspresi Arfan.
"Papamu pasti akan mengomel."
"Nah iya."
"Atau nanti akan marah-marah?"
"Makanya." Amara menambah ke was-wasan pria itu, padahal tadi dia meyakinkan jika sikap sang ayah adalah hal biasa.
"Jadi?"
"Kita rahasiain dulu ya?" Amara tetap pada pendiriannya.
"Kamu yakin?" Galang kembali bertanya.
"Yakin. Dan kalau Kakak percaya, aku juga yakin bisa jalan lagi."
Pria itu menghela napas dalam.
"Oke?" Amara menaik turunkan alisnya. "Nggak lama, cuma satu atau dua bulan aja. Kalau papa tahunya setelah aku bisa jalan pasti nggak akan apa-apa."
"Benar?" Galang meyainkan.
"Beneran."
"Kamu yakin bisa jalan dalam waktu satu atau dua bulan?"
"Harus yakin."
"Hmm …."
"Kakak?"
"Baiklah, baik! Tapi kalau nanti ada apa-apa sebelum dua bulan, aku akan beritahu semua orang tanpa persetujuan kamu!" Akhirnya Galang menyerah.
"Oke deal!"
"Kita seperti sedang negosiasi saja?"
"Anggap aja gitu, hahaha."
"Ck!" Galang berdecak kesal.
"Jangan gitu, Papa. Nanti gantengnya hilang!" Amara menyentuh pipi suaminya, yang seketika membuat pria itu terdiam.
"Kalau Kakak kesel nanti akunya nggak tenang." katanya lagi, lalu dia mengerling manja.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Jangan kesel."
"Bukan, sebelum itu?"
"Nanti gantengnya hilang?"
"Sebelumnya lagi."
"Umm … Papa?"
Satu sudut bibir Galang tertarik ke atas dengan pipinya yang merona. Hidungnya bahkan kembang kempis dengan perasaan bahagia yang tidak terkira.
"Apaan?"
"Kamu sebut aku Papa?"
"Ya, terus?"
"Baru ketahuan hamil?"
"Emangnya kenapa? Benar kan kalau kita akan jadi mama dan papa?"
Pria itu terkekeh gemas.
"Dih?"
"Aku nggak percaya kita akan jadi orang tua?"
"Tapi nyatanya bener kan? Nih, ada dua." Amara menunjuk perutnya, di mana kini telah hadir buah cinta mereka.
"Iya iya benar." Galang mengangguk kemudian tertawa.
"Mama dan Papa heh?" ucap pria itu lagi.
"Hmm …."
Kemudian Galang merangkul tubuh Amara sambil mengusap-usap perutnya. Mencoba merasakan apa yang kini telah hadir di antara mereka berdua. Dan dia merasa sangat bahagia karenanya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Duh, yang mau jadi Mama dan Papa girang bener deh? 😂😂😂
Jangan lupa like komen dan hadiahnya untuk terus dukung Neng Ara sama Kak Galang.
alopyu sekebon😘😘
Calon Mama dan Papa😍😍
__ADS_1