My Only One

My Only One
Operasi #2


__ADS_3

🌺


🌺


"Ceria sekali kamu seharian ini?" Dimitri berujar setelah mereka berdua masuk ke dalam mobilnya dan Galang yang berada di balik kemudi.


Keduanya baru saja menghadiri pertemuan penting terakhir dengan beberapa pengusaha dari luar negeri untuk mengadakan kerjasama yang cukup menjanjikan.


"Biasa saja Pak." Galang menjawab.


"Habis menang lotere ya? Aura wajahmu itu beda sekali." Sang atasan masih saja memperhatikan bawahannya.


"Baiklah terserah Bapak." Galang memutar bola matanya, namun dia tak lagi ingin menggubris atasannya itu.


Pasti keponya ketularan si Oneng. Batinnya.


"Bukankah operasinya Ara hari ini?" Dimitri berbicara lagi.


"Ya, seharusnya sebentar lagi." Galang melirik jam tangannya.


"Kalau begitu cepatlah, apa kamu mau melewatkannya?"


"Macet Pak." ucap Galang yang menghentikan laju Mercedes Benz Pullman hitam itu ketika mobil di depannya berhenti.


"Ah, aku lupa kalau ini Jakarta." Dimitri menempelkan kepalanya pada sandaran kursi.


"Yeah, dan hal inilah yang menyebabkan saya lebih menyukai menggunakan motor dari pada mobil." jawab Galang yang juga melakukan hal yang sama.


"True, true." Dimitri pun mengamini.


Kendaraan-kendaraan itu bergerak sangat lambat. Bahkan ada saatnya ketika mereka tidak bergerak sama sekali selama hampir setengah jam lamanya. Dan itu cukup membuat frustasi.


Berkali-kali Galang melihat jam yang semakin lama menunjukkan waktu yang semakin sore dan hampir mendekati pada waktunya Amara operasi.


Lamunannya buyar ketika ponsel miliknya berdering, dan nama kontak Arfanlah yang memanggil.


"Kamu belum selesai?" Pria itu segera bertanya ketika Galang menjawab panggilan.


"Saya masih di jalan Pak. Macet."


Arfan terdengar mendengus.


"Apa operasinya sudah harus dilakukan?" Galang balik bertanya.


"Ara sudah siap, dan dokter pun juga. Mereka hanya tinggal menunggu kedatanganmu." Sang mertua menjawab.


Galang menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Kalau saya tidak bisa mendampingi Ara tidak apa-apa Pak?" Galang memberanikan diri.


"Kamu tidak bisa cepat pulang?"


"Saya tidak tahu. Jaraknya cukup jauh ke NMC, sementara lalu lintasnya tersendat di sini." Galang menjawab.


"Hmm … Jadi keputusanmu bagaimana?"


"Apa bisa dimulai saja tanpa saya? Karena jika menunggu, saya tidak tahu akan tiba jam berapa."


"Baiklah." ucap Arfan yang mengakhiri panggilan tak lama setelahnya.


Pria itu kemudian terdiam.


"Kamu biarkan mereka memulai operasinya?" Dimitri bereaksi.


"Ya. Agar lebih cepat selesai." jawab Galang yang kembali menjalankan mobil yang dikendarainya dalam diam.


Lalu lintas pada sore itu memang cukup padat, dan mereka terpaksa melewatinya karena sudah terlanjur, dan memang tak ada pilihan lagi selain itu.


Sementara suasana di Nikolai Medical Center pun cukup tenang. Meski beberapa orang telah hadir untuk memberikan dukungan moral kepada Amara yang sore itu akan menjalani operasi pada wajahnya, tapi mereka berusaha untuk tidak menimbulkan kegaduhan.


Terlebih, ini bisa dibilang hanya merupakan operasi kecil, tapi mereka tetap ingin menunjukkan perhatiannya kepada perempuan itu.


"Kak Galang nggak bisa datang ya?" Amara dengan raut kecewa. Mengetahui mungkin suaminya tidak dapat mendampingi seperti yang dia katakan sebelumnya.


"Dia mengatakan untuk segera memulainya saja. Agar operasinya cepat selesai. Tidak usah menunggu." Arfan mendekat kepada putrinya.


"Tuh kan? Dia masih sibuk? Padahal dari kemarin udah janji?"

__ADS_1


"Jalanan macet Kak." Arfan mengusap punggungnya.


"Ya udah tahu kan kalau Jakarta macet setiap hari? Kenapa nggak dari tadi coba?"


"Dia itu bekerja, bukan sedang jalan-jalan." 


"Dia itu orang kedua di Nikolai Grup. Katanya wewenangnya sama kayak Kak Dim, masa kayak gitu aja nggak bisa nyuruh orang untuk gantiin?"


"Tanggung jawab Galang itu besar, tidak bisa seenaknya memberi perintah."


"Kemarin-kemarin katanya bisa? Orang bikin aturan untuk NMC aja bisa."


"Itu beda. Pekerjaannya dengan Dimitri memang harus dia lakukan sendiri, tidak bisa digantikan oleh orang lain karena memang sudah tugasnya." Arfan menjelaskan.


"Kalau bisa dia pasti akan datang." Dygta menimpali. 


"Jadi, tidak apa-apa ya kalau kita mulai operasinya sekarang saja? Siapa tahu begitu selesai Galang sudah pulang?" Arfan dengan semangatnya.


Namun Amara terdiam.


"Kak, ini bukan hal yang seharusnya dibesar-besarkan. Galang tidak mungkin tidak berusaha untuk menyelesaikan urusannya dengan cepat. Tapi ingat, dia juga manusia yang punya keterbatasan. Yang mungkin tidak bisa melakukan segala hal yang tepat waktu."


Amara mendongak kepada ayahnya.


"Kehadiran kami seharusnya sudah cukup bagimu, dan biarkanlah suamimu menyelesaikan urusannya."


"Papa benar. Jadi sebaiknya kita mulai prosedurnya sekarang ya? Agar kamu cepat pulang ke rumah dan kita bisa berkumpul lagi seperti biasa." Dygta pun ikut membujuknya.


"Mama juga setuju. Galang sudah melakukan bagiannya, menandatangani surat persetujuan, mengurus kebutuhanmu, dan melakukan segala yang diperlukan untuk membuatmu mendapatkan yang terbaik. Jadi apa salahnya kalau kita melakukan bagian kita?" Mytha pun maju ke hadapan putrinya.


"Kalian bela Kak Galang."


"Bukan membela Galang. Memang kenyataannya begitu?" ucap Mytha.


"Jadi bagaimana?" Arfan memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Ya udah." Dan Amara menjawab.


"Apanya yang sudah?" Mytha bereaksi.


"Ya udah, operasinya sekarang aja." Amara memperjelas kalimatnya.


"Iya."


"Tidak harus menunggu Galang datang?" Sang ibu meyakinkan.


"Iya."


"Yakin?"


"Yakin Mama."


"Baik kalau begitu." Lalu Mytha menoleh kepada Arfan, dan mantan suaminya itu mengerti dengan isyaratnya. Mereka kemudian menghubungi dokter dan staff rumah sakit yang segera bersiap.


"Jangan tegang, kamu hanya harus berdoa agar prosesnya lancar." Arfan mendorong kursi roda putrinya ke arah ruang operasi. Diikuti oleh Myta dan Dygta yang tidak berhenti memberikan dukungan. Juga beberapa petugas medis di belakang mereka.


"Jangan takut juga, karena ini bukan hal besar. Kamu akan pulih dengan cepat dan semuanya akan kembali seperti semula. Kamu dengar?" ujar pria itu lagi menguatkan putrinya.


Amara hanya menganggukkan kepala.


Dan setelah beberapa menit mereka pun tiba di depan ruang operasi. Dokter Kirana sudah siap menyambut diambang pintu dengan pakaian khususnya.


"Selamat datang?" sapanya dengan senyum ramah.


"Sudah siap?" tanya nya kepada Amara.


"Udah." Sang pasien menjawab.


"Baik, kalau begitu kita bisa masuk sekarang?" 


Amara menganggukkan kepala.


Seorang petugas medis segera mengambil alih dari sini. Dia mendorong kursi roda Amara dan hampir saja membawanya masuk ke ruang operasi ketika terdengar suara teriakan di lorong.


"Tunggu!" Galang berlari sejak dia keluar dari dalam lift, diikuti Dimitri dari belakang.


"Kakak udah selesai?" Amara dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Sudah, hanya saja tadi sempat terjebak macet." jawab Galang dengan terengah-engah. Dia sampai membungkukkan tubuhnya untuk membuatnya tetap seimbang.


Amara melirik kepada Mytha yang kemudian tersenyum. Ekspresinya seperti menerangkan jika ucapannya benar.


"Maaf aku terlambat. Lain kali tidak akan lagi." ucap Galang lagi yang mendekat kepada istrinya.


Amara menggelengkan kepala sambil tersenyum, lalu dia mengulurkan tangan kirinya. Dan pria itu segera merangsek sehingga mereka berpelukan.


"Jangan takut, ini hanya operasi kecil. Ingat wajahmu akan bagus lagi dan semuanya kembali seperti semula." Pria itu berbisik.


"Ucapan Kakak kayak Papa." Amara terisak.


"Benarkah?"


"Hu'um." Perempuan itu mengangguk seolah Galang dapat melihatnya dengan jelas.


"Pasti Papa yang ajarin ya?" lanjut Amara seraya mengeratkan rangkulan tangannya di pundak pria itu.


Galang terkekeh dan dia melirik kepada Arfan yang berada di belakang istrinya.


"Semuanya diajarin." katanya lagi, lalu dia menarik diri saat merasakan Amara melepaskan tangannya.


"Semuanya?" Dia membeo, dan Galang menjawab dengan anggukkan.


"Itu juga?"


"Apa?" Galang berjongkok di hadapannya.


"Modusnya?"


"Modus apa?" Pria itu mengerutkan dahi.


"Modus pas mau ml?"


Mata Galang terbelalak lalu dia menutup mulut Amara dengan tangannya, menghentikan dia dari apa pun yang akan dikatakannya.


"Jangan bahas itu sekarang! Aku bisa kena omel nanti." Pria itu berbisik.


"Ups!"


"Ehmm!" Galang berdeham kemudian berdiri.


"Nah, sekarang masuklah. Jalani operasinya dengan tenang sementara aku menunggu di sini." ucapnya kemudian.


Amara mengulurkan tangan yang segera digenggam oleh Galang.


"Tunggu aku ya? Cuma sebentar kok." Mereka saling berpegangan dengan erat.


Galang menganggukkan kepala.


"Oke. Aku masuk?"


"Iya." Lalu mereka melepaskan genggaman itu.


Petugas medis kembali mendorong kursi roda Amara hingga akhirnya mereka masuk ke dalam ruang operasi tersebut.


***


Amara merasakan hawa yang begitu dingin di tempat itu. Ruangan besar dengan segala peralatan medisnya yang sangat lengkap.


Dia sudah dibaringkan diatas meja operasi dengan pakaian khususnya pula. Tidak lupa penutup kepala perawat pakaikan kepadanya untuk membuat rambutnya tetap aman dari jangkauan.


"Rileks ya?" Dokter Kirana mendekat kemudian menandai bagian pipi yang akan dia bedah sesuai luka yang sudah ada.


Amara mengangguk.


"Ini hanya akan berlangsung sebentar saja." ucap dokter cantik itu yang sudah memegang alat suntiknya yang sudah diisi obat.


Amara memilih memejamkan mata saat dokter Kirana mengarahkan ujung jarum suntik ke wajahnya.


Beberapa detik kemudian dia merasakan sesuatu menembus kulit pipinya, dan hal itu berulang hingga beberapa kali.


Amara merasakan begitu kedinginan dan seluruh wajah hingga lehernya terasa kebas. Lalu rasa kantuk juga menyerangnya dengan segera.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


Bersambung ...


__ADS_2