
🌺
🌺
Mereka merasa begitu bersemangat, karena hari ini merupakan pembukaan kedai milik Amara. Segala hal telah disiapkan dengan begitu matang dan sempurna.Â
Ruangan yang begitu nyaman dengan segala pernak-pernik khas dan ornamen pemanis yang membuat suasana menjadi terasa begitu berbeda dengan tempat makan lainnya.
Tempat itu tidak terlalu luas, tapi bisa membuat orang-orang betah berada disana. Setidaknya itu yang dirasakan Arfan dan Dygta yang mendampingi Amara hari itu. Disusul Mytha yang tiba tak lama kemudian bersama suaminya.
"Mama Fia sama Papi masih di Moscow ya?" Amara bertanya kepada Dygta.
"Iya. Semalam nelfon dan minta maaf nggak bisa hadir. Wisudanya Darren dan Daryl juga hari ini." Perempuan itu menjawab.
"Oh ya? Jadi gelarnya apa sekarang?"
"S2."
"Wow. Mereka pecandu sekolah ya? Ngeriiii." Amara tertawa. "Terus nanti mau lanjut S3?"
"Nggak tahu. Kalau Darren sih nggak mau, tapi kalau Daryl lanjut ya pasti ikut lah. Mereka kan nggak mau dikalahkan."
"Harus selalu samaan ya mereka?"
"Begitulah, tahu sendiri kan?"
"Iya."
"Tapi Mama Fia sudah meminta Papi untuk menjual perusahaan di sana biar mereka mau pulang."
"Duh, main jual aja?"
"Habisnya mereka memilih tetap di sana dengan alasan mengurus perusahaan. Tapi bikin mama kesel." Dygta tertawa.
"Dua orang itu emang aneh."
"Dimitri hari ini juga sibuk, jadi nggak bisa datang. Paling Rania yang mampir setelah jemput anak-anaknya."
"Iya, nggak apa-apa Mom."
"Ini jam berapa pembukaannya Kak?" Mytha menyela percakapan di antara mereka.
"Sebentar lagi Ma. Begitu pelanggan pertama muncul." Amara menjawab.
"Tapi ini sudah hampir jam sepuluh." Arfan melihat jam tangannya.
"Sudah lebih dari jadwal kan?"
"Iya."
"Kenapa nggak dimulai saja kak?" Dygta menimpali.
"Sebentar lagi Mom. Aku maunya dibuka pas ada pelanggan pertama." ujar Amara.
"Baiklah, kita tunggu lagi."
"Pamflet dan selebarannya sudah disebar?" Arfan memastikan keadaan.
"Sudah habis satu kotak."
"Promo di media sosial?"
"Udah juga. Ramai yang komen kok."
__ADS_1
"Terus kenapa belum ada yang datang?" Mytha menatap jendela besar di depannya.
Mobil dengan berbagai macam merk dan tipe berlalu lalang di jalan utama kawasan perkantoran paling terkenal di Jakarta. Juga orang-orang dengan aktifitas mereka masing-masing.
Tempat itu juga cukup strategis untuk ukuran tempat makan. Berada di ujung blok yang menjadi persimpangan dari beberapa jalan penghubung antar blok. Yang seharusnya menjadikan tempat tersebut ramai di jam-jam seperti itu.
Tapi entah mengapa belum terlihat tanda-tanda hadirnya pelanggan pertama seperti yang diperkirakan oleh Amara sendiri.
"Mungkin belum." Dygta menatap ke arah yang sama seperti Mytha.
"Ya, mungkin. Belum tiba waktu makan siang juga kan?" ucap Mytha.
"Iya benar."
"Kenapa kamu menolak tawaran untuk mengundang koneksi Papa? Kan ada untungnya, nanti mereka bisa menarik pengunjung ke sini."
"Udah aku bilang nggak mau kayak gitu. Aku maunya ini dari nol. Dari bukan siapa-siapa." Amara menjawab sang ayah.
"Ya, kamu memang memulai dari nol. Lihat? Tidak ada pengunjung."
"Papa jangan matahin semangat aku dong, kepercayaan diri aku ada disini."
"Tapi kamu juga harus realistis. Kamu tidak bisa hanya melakukannya seperti ini. Tanpa promosi besar, tanpa koneksi sama sekali. Kamu seperti jalan di kegelapan tanpa penerangan."
"Papa nggak percaya aku ya?"
"Bukan Papa tidak percaya kamu. Tapi berpikirlah lebih logis."
"Papa pikir dengan menggunakan koneksi Papa aku akan berhasil?"
"Apa salahnya kalau kita coba?"
"Mungkin akan berhasil."
"Lalu kenapa tidak kita coba?"
Arfan menjengit.
"Memang bagus, tapi nggak terlalu membanggakan untuk aku. Sukses karena orang tua apa bagusnya?"
"Karena Papa mampu, Sayang!" Arfan menyentuh bahu putrinya.
"Tapi orang-orang akan tetap menyebut aku sebagai anak manja yang berlindung dibawah ketiak orang tua."
"Apa?"
"Usahaku berhasil karena bantuan Papa, bukan karena kerja kerasku sendiri. Selamanya aku akan ada di bawah bayangan Papa."
"Ara."
"Bukankah aku harus berdiri diatas kakiku sendiri? Papa juga yang selalu bilang kalau aku harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang aku mau. Dan inilah saatnya. Berhasil ataupun nggak, yang penting aku udah berusaha."
Semua orang bungkam mendengar perkataan gadis itu.
"Jadi biarkan semuanya berjalan seperti ini. Kalau hari ini nggak ada pelanggan, mungkin besok. Kalau besok nggak ada, mungkin lusa."
"Kalau lusa nggak ada?"Â
Mereka semua terdiam.
"Mungkin minggu depan." Wira baru buka suara setelah menyimak percakapan tersebut dalam diam. Namun kemudian, kata-katanya membuat mereka semua tertawa.
"Papa ini bikin aku jadi down aja?" Amara beraksi terhadap ucapan ayah sambungnya.
__ADS_1
"Bercanda." Pria itu merangkul pundaknya.
"Bercanda kalian nyebelin."
"Ada yang lebih nyebelin." Wira berujar.
"Apa?"Â
"Komen netizen."
"Hah?"
"Iya, nanti setelah kamu berhasil pasti akan banyak orang yang mencari tahu. Dari mana asalmu, siapa orang tuamu, dan bagaimana reputasi mereka. Lalu akan muncul ucapan, pantas atau tidaknya dirimu ada di posisi itu. Atau layak dan tidaknya kamu berbuat begitu."
"Masa?"
"Tentu saja. Tapi ingat, apa pun yang mereka katakan, dan apa pun yang kamu dengar semoga tidak akan pernah menggoyahkan pendirianmu untuk tetap ada di jalan yang benar."
Amara mengulum senyum.
Sekali lagi dia menemukan bukti, bahwa dirinya benar-benar beruntung. Semua orang mencintainya tanpa memandang bagaimana dirinya. Mereka tetap mendukung segala yang dia lakukan meski dirinya tidak tahu apa akan berhasil atau tidak. Dan apa pun yang mereka lakukan, itu merupakan cara untuk mencintainya.Â
Bukankah itu indah? Dan tidak ada yang seindah cinta orang tua terhadap anaknya bukan? Cinta yang tanpa syarat, tanpa keharusan melakukan apa yang diinginkan. Mereka melakukan segala hal hanya karena mencintainya.
Dan waktu pun terus bergulir hingga menjadi semakin siang. Namun masih tak ada siapa pun yang datang. Padahal selebaran kembali Nania dan teman-temannya sebar di jalan yang biasanya ramai.
Arfan bahkan ikut menyebarkan kertas berwarna dengan tulisan lucu yang dirancang sendiri oleh putrinya untuk mempromosikan kedai pertamanya. Kepada setiap orang yang melintas di kawasan itu hingga beberapa blok jauhnya.
"Sudah ada yang datang?" Pria itu kembali ke kedai setelah pamflet yang dibawanya habis diberikan kepada orang-orang.
Dygta menggelengkan kepala, membuat Arfan merengut kecewa. Dia ingin sekali membantu putrinya, tapi gadis itu pasti akan marah jika dia melakukannya. Jadi yang dia lakukan hanya menahan rasa kesal saja.
"Nggak apa-apa. Kita buka aja sekarang. Terus habis itu kita makan-makan?" Amara dengan raut ceria.Â
Meski kecewa, dia mencoba untuk tegar. Tidak mungkin dia menunjukkan kesedihan di depan orang-orang ini yang sudah berusaha keras untuk dirinya. Terutama orang tua yang selalu mendukung apa pun keputusannya.Â
Tidak sepadan saja dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Nania, ayo kita siapkan semuanya?" Dia hampir saja pergi ke ruang masak ketika pintu depan didorong dari luar.
Mereka yang ada di dalam tentu saja segera menoleh.
"Permisi? Apa kedainya sudah buka?" Dua orang perempuan hampir saja masuk.
Semua orang saling pandang.
"Sudah." Wira yang menjawab.
"Oh, syukurlah. Kami sudah sangat lapar. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan." Mereka segera masuk.
"Baik, silahkan." Nania segera menghampiri keduanya, dan dengan semangat dia menggiring mereka ke tempat duduk. Lalu menunjukkan buku menu yang ada di meja.
"Kedainya sudah buka?" Orang berikutnya masuk dan menanyakan hal yang sama.
"Sudah."Â
Kemudian muncul pula pengunjung berikutnya. Dan lama kelamaan tempat tersebut menjadi semakin ramai seiring waktu yang terus berjalan pada siang itu.Â
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
nggak ada usaha yang menghianati hasil. iya kan mak?😉